Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Kebersamaan Terakhir


__ADS_3

“Woww, amazing!”


Oliver terbengang takjub melihat kemunculan seorang bidadari cantik yang tengah berdiri sambil tersenyum kepadanya. Sesuai dengan permintaan Flowrence yang ingin mereka pergi berkencan, malam ini dia benar-benar mengabulkan keinginannya itu. Dan siapa yang akan menyangka kalau gadis ini akan berpenampilan sebegitu memukau hingga membuat air liurnya seperti akan menetes keluar.


“Kak Oli, bagaimana? Apa aku cantik?” tanya Flow begitu sampai di dekat kekasihnya. Dia kemudian tersenyum malu saat Oliver menganggukkan kepala sambil menatap tak berkedip.


“Kau sangat luar biasa cantik, sayang. Bahkan seribu kali lebih cantik dari semua wanita yang ada di dunia ini,” jawab Oliver jujur.


“Sungguh?”


“Tentu saja. Kecantikan kekasihnya Oliver Dishi siapa yang mampu mengalahkan?”


“Istriku!”


Flow dan Oliver kompak menoleh saat mendengar sebuah suara ikut menimbrung percakapan mereka. Dan begitu tahu siapa orang tersebut, Oliver dengan sopan langsung menyapa.


“Paman Gabrielle, Bibi Elea. Selamat malam,”


“Selamat malam juga, Oliver. Bagaimana kabarmu hari ini, Nak?” sahut Elea seraya tersenyum manis. Dia kemudian menoleh saat merasakan pelukan di pinggang semakin mengerat. Seperti biasa, suaminya cemburu dan tidak suka melihatnya bicara dengan pria lain. “Salahkah jika aku bicara dengan calon mantu sendiri?”


“Tidak salah. Yang salah adalah karena Oliver berjenis kelamin laki-laki. Kau tahu bukan kalau aku tidak suka kau bicara dengan pria selain aku?” tanya Gabrielle tak ragu mengungkapkan ketidaksukaannya meski ada Oliver ada di sana.


“Maaf kalau begitu. Jangan marah. Oke?” bujuk Elea dengan sabar.

__ADS_1


“Aku mana mungkin bisa marah padamu, sayang.”


“Benarkah? Lalu sikap yang barusan itu apa?”


“Itu cemburu namanya.”


Oliver hanya tersenyum saja menyaksikan kemesraan orangtua Flowrence. Sedangkan Flowrence sendiri, dia hanya terdiam dengan pikiran kosong. Andai saja ada yang tahu kalau sekarang adalah detik-detik dia akan kehilangan semua ingatan manis bersama Oliver dan seluruh keluarga, kehangatan seperti ini pasti tidak akan terjadi. Namun karena tak mau sang ayah mengetahui apa yang sedang mengganggu benaknya, Flowrence berusaha menahan diri untuk tidak memikirkan apa-apa. Biarlah semua pesakitan ini dia yang menanggungnya sendiri. Flowrence ikhlas.


“Paman, Bibi. Karena hari sudah semakin malam sebaiknya aku dan Flowrence segera pergi saja. Aku izin membawa Flowrence untuk makan malam di luar ya?” ucap Oliver tak mau mengganggu kemesraan dua sejoli yang cintanya tak lekang di makan waktu dan usia. Cinta yang sukses membuat banyak orang merasa iri. Dia salah satunya.


“Baiklah. Kalian hati-hati,” sahut Gabrielle mengizinkan. Dia lalu mengedipkan sebelah mata saat Flowrence melambaikan tangan.


“Baik, Paman. Kalau begitu kami permisi. Selamat malam!”


Oliver dengan gentel menggandeng tangan Flowrence saat mereka akan keluar. Elea yang melihat hal itu nampak tersenyum samar. Berharap kalau kebahagiaan Flow dan Oliver bisa bersemi selamanya.


“Sayang, sekarang kau tutup mata dulu ya,” ucap Oliver setelah mobil berhenti tak jauh dari dermaga. Dia lalu mengluarkan kain hitam dari saku jasnya.


“Kau adalah belahan jiwaku. Aku harap kau akan suka dengan kejutan yang telah kusiapkan.”


“Ummmm, kau romantis sekali, Kak Oli. Aku jadi semakin cinta padamu,” sahut Flowrence sebelum menutup mata. Dia lalu terkekeh saat pria ini menoel ujung hidungnya.


Dan mungkin ini adalah hal romantis terakhir yang akan kita rasakan, Oliver. Maaf. Karena setelah ini kita akan menghadapi takdir yang tidak seindah sekarang. Aku hanya bisa berharap semoga perasaan dan hatimu tidak berubah saat badai itu datang. Aku mencintaimu, dan sangat ingin bersamamu sampai di akhir hayat.

__ADS_1


“Sudah siap?" tanya Oliver selepas menutup kedua mata Flow dengan kain hitam. Gemas melihat gadis cantik ini menganggukkan kepala, Oliver pun mencium bibirnya. Dia lalu tertawa melihat Flowrence tersipu malu lengkap dengan semburat merah menghiasi pipinya yang putih mulus. “Ah, aku jadi malas membawamu keluar dari sini, sayang. Kita batalkan saja makan malam ini ya?”


“Ihhh, mana boleh seperti itu, Kak. Akukan sudah bilang kalau cinta di antara kita akan mengering karena sudah jarang berbagi kebersamaan yang hangat. Jadi apapun alasannya malam ini haruslah menjadi malam paling spesial di dalam hubungan kita. Titik!” protes Flowrence tak mau jika kebersamaan mereka malam batal dilakukan. Mau bagaimana lagi. Hanya ini satu-satunya kesempatan yang bisa Flowrence rasakan sebelum dia mengorbankan ingatannya demi kebahagiaan Amora dan sang kakak.


Kenapa aku merasa ada yang aneh ya dengan sikap Flowrence. Sejak kemarin dia terus saja bersikap seolah ingin pergi jauh meninggalkan aku. Ini hanya perasaanku saja atau memang ada sesuatu yang tidak kuketahui tentangnya? Karena sampai detik ini aku selalu menyimpan satu dugaan kalau Flowrence tidak selugu dan tidak sepolos yang aku lihat. Dia berbeda.


Mendengar apa yang tenga di fikirkan oleh Oliver tanpa sadar membuat bibir Flowrence gemetar. Andai … andai saja pria ini bisa melihat masalalu pahit yang terjadi pada nenek moyang mereka, Flowrence berani jamin kalau Oliver pasti akan mengerti bahwasanya ada pesakitan yang sangat luar biasa besar yang membuat mereka harus mau meneruskan tentang kisah sakit tersebut. Perjuangan tentang seorang wanita yang rela menjalani siksaan berat demi agar bisa bersama sang kekasih, harus mereguk pahitnya pengkhianatan akibat rasa serakah dan juga keegoisan si pria. Dan Flowrence hanya bisa berharap semoga nanti hati dan perasaan Oliver tidak berubah ketika badai itu datang.


“Kak Oli, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Flowrence lirih.


“Tentu saja boleh, sayang,” jawab Oliver tersentak kaget saat Flowrence tiba-tiba bertanya. Dia yang tadinya sedang melamun seketika berdehem pelan sembari menatap lekat wajah cantik gadis ini yang entah mengapa terlihat seperti sedih. “Kau ingin bertanya apa, hem?”


“Jika suatu hari nanti aku melupakan tentang kita berdua, mungkinkah kau akan berjuang untuk terus menyayangiku? Aku tahu aku memiliki banyak sekali kekurangan, sedang kau sendiri adalah laki-laki yang sempurna dalam setiap hal. Mungkinkah kau akan tetap mencintaiku jika seandainya nanti aku di takdirkan menjadi gadis yang cacat?”


Oliver terhenyak kaget. Dia tidak mengira kalau Flowrence akan kembali menanyakan tentang hal ini. Pertanyaan yang tadinya Oliver anggap hanya terpengaruh film, tiba-tiba saja berubah seperti menjadi nyata. Ya, dia kini mengerti kalau pertanyaan yang keluar dari mulut Flowrence bukan berasal dari film, melainkan akan benar-benar terjadi dalam hubungan mereka. Tak mau kehilangan, di rengkuhnya tubuh gadis ini ke dalam dekapan. Takut. Oliver ketakutan.


“Sayang, tolong jangan pernah bertanya seperti ini lagi padaku ya. Karena apapun yang terjadi nanti, sedetikpun aku tidak akan pernah mau melepaskanmu. Tak peduli meski kau menjadi gadis cacat, Flowrence hanya akan menjadi milik Oliver seorang. Jadi aku mohon jangan membuatku merasa takut. Aku sungguh tidak bisa jika tidak ada kau bersamaku!” ucap Oliver dengan mata yang sedikit memanas.


“Bisakah aku memegang kata-katamu?” tanya Flowrence dengan suara tercekat.


“Aku bahkan lebih memilih mati jika kau sampai pergi dari hidupku!” jawab Oliver. “Kau milikku. Tuhan sudah menakdirkan kita menjadi satu sejak masih berada di dalam perut. Tolong yakinlah kalau aku tidak akan pernah menerima kehadiran wanita lain selain dirimu. Aku sangat mencintaimu, Flowrence. Selamanya akan tetap seperti ini!”


Suasana yang harusnya terasa bahagia mendadak jadi berubah penuh kesedihan saat Flowrence tiba-tiba terisak di pelukan Oliver. Sakit sekali. Kata-kata pria ini bagaikan salam perpisahan sebelum dia melupakan semuanya. Kenangan yang terkumpul sejak mereka masih kanak-kanak kini datang silih berganti menghiasi ingatan. Sangat menyakitkan. Sungguh.

__ADS_1


Oliver, tolong terus cintai aku seperti ini. Jangan pernah lepaskan genggaman tanganmu meskipun nanti aku sangat ingin pergi dari kenangan kita. Aku mencintaimu. Dan aku sangat bergantung pada ketulusanmu. Aku mohon jangan sekali kau melepaskan genggamanmu. Tolong ....


***


__ADS_2