
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
Bern memperhatikan Karl yang terlihat tidak tenang dalam duduknya. Tadi saat mereka berada di ruang meeting, Karl beberapa kali kedapatan sedang melamun. Bern yang tidak pernah melihat adiknya bersikap seperti inipun merasa heran. Alhasil dia mengakhiri meeting lebih awal kemudian mengajak Karl dan juga Andreas pergi ruangannya. Dan sesampainya mereka di sini Karl masih saja masih belum fokus akan perubahan sikapnya. Tak tahan melihatnya, Bern memutuskan untuk bertanya.
“Dari kita meeting sampai sekarang aku perhatikan kau begitu tidak tenang. Ada apa, Karl? Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Bern dengan nada suara yang begitu rendah.
Andreas yang paham kalau kedua saudara kembar ini ingin membicarakan sesuatu yang sifatnya pribadi, memilih untuk pamit keluar saja. Andreas tak mau mengganggu mereka.
“Beberapa waktu lalu aku sempat melihat Amora sedang berada di mall bersama Flow. Apa kau yang sengaja membiarkan mereka pergi keluar bersama, Kak?” sahut Karl malah balik bertanya. Dia kini sedang mati-matian menyembunyikan topengnya agar Bern tidak merasa curiga.
Sebelah alis Bern terangkat ke atas saat mendengar pertanyaan Karl. Agak sedikit kaget, tapi Bern berusaha untuk tetap tenang. Bern merasa memiliki hak untuk tidak menceritakan perlakuan istimewa yang dia berikan pada Amora. Toh Karl yang bilang kalau sekarang Amora miliknya. Jadi mendengar Karl yang tiba-tiba bertanya seperti ini membuat Bern merasa aneh. Dia tidak menduga kalau Karl ternyata memata-matainya.
“Jangan salah mengira kalau aku sedang memata-matai hubunganmu dengan Amora, Kak. Aku hanya tidak sengaja saja melihat mereka saat aku sedang menemani Ibu pergi berbelanja,” ucap Karl dengan cepat memberi penjelasan saat menyadari ada raut berbeda yang menghiasi wajah Bern. Dia tahu Bern sedang berpikiran buruk tentangnya.
“Apa hal ini yang membuatmu terlihat begitu gelisah?” tanya Bern memastikan. “Memang benar akulah yang membiarkan Flowrence membawa Amora pergi jalan-jalan. Harusnya ini tidak menjadi masalah untukmu ‘kan?”
“Tentu saja tidak. Sudah gila apa.”
Karl tersenyum. Dia lalu menoleh menatap Bern, menelisik apakah hatinya masih memiliki keinginan untuk menghancurkan hidupnya atau tidak. Jujur, sampai di detik ini bisikan-bisikan sialan itu masih belum mendatangai Karl lagi. Dan hal ini membuat perasaan Karl menjadi sangat tidak karu-karuan. Karl frustasi sendiri memikirkan segala rencana yang telah dia persiapkan untuk menghancurkan hidup kedua saudaranya.
“Kau kenapa, Karl? Apa kau sedang cemburu karena aku tidak memperlakukan Amora seperti yang kau ajarkan waktu itu?”
__ADS_1
“Omong kosong!” sergah Karl sedikit kasar. Dia lalu berdehem untuk menormalkan nada suaranya yang sempat meninggi. “Kau jangan berpikiran yang tidak-tidak tentangku ya, Kak. Ya, aku akui kalau aku memang sedikit kecewa melihatnya, tapi bukan berarti itu mengharuskanku untuk merasa cemburu. Aku sendiri yang menghadiahkan Amora untukmu, sudah gila apa aku cemburu pada kalian.”
“Kalau memang kau tidak cemburu, bisakah kau menjelaskan kenapa sejak tadi kau terlihat begitu gelisah? Mustahil jika tidak ada penyebabnya, Karl!” desak Bern.
“Ini hanya tentang keputusan, Kak. Kau dan Amora tidak ada hubungannya dengan masalahku. Sungguh,” kilah Karl dengan santainya.
Drrtt drrttt
Ponsel di saku Karl bergetar. Sambil menarik nafas panjang Karl mengambil ponselnya dari dalam saku celana kemudian melihat siapa yang mengirim pesan padanya.
“Selamat siang, Tuan Muda Karl. Saya Tina Lin, kakak Amora. Bisakah kita bertemu sebentar? Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan anda.”
“Siapa?” tanya Bern penasaran. Dia terus memperhatikan perubahan ekpresi di wajah Karl yang langsung terlihat marah setelah membaca pesan yang masuk ke ponselnya.
“Tina Lin, kakaknya Amora. Dia meminta untuk bertemu denganku, Kak,” jawab Karl. Dia lalu menatap Bern dengan pandangan yang sangat dingin. “Apa pendapatmu?”
Tidak-tidak, mereka tidak boleh mengambil Amora dariku. Aku tidak akan membiarkan mereka membawa Amora pergi jauh dari hidupku. Tidak akan.
Tanpa sadar sudut bibir Karl berkedut samar saat dia mendengar suara hatinya Bern yang sangat ketakutan akan ditinggal oleh Amora. Dalam sepintas sisi jahat di hatinya kembali muncul, Karl ingin mempermainkan perasaan Bern. Sambil membolak-balikkan ponselnya, Karl bertanya pada Bern mengapa dia begitu tidak ingin Karl pergi menemui Tina Lin.
“Kak, sepertinya kau begitu tidak ingin aku pergi menemui kakaknya Amora. Kenapa? Apa kau takut aku akan membiarkannya membawa Amora pergi darimu? Kau … sudah jatuh cinta padanya ya?”
“Jangan bicara sembarangan, Karl. Kita sudah memberikan uang yang sangat besar untuk Tuan Kendra, tidak masuk akal kalau kita harus menyerahkan Amora yang jelas-jelas telah mereka relakan sebagai jaminan untuk kesepakatan perusahaan kita. Kau paham bukan apa maksud ucapanku?”
“Baiklah. Kalau memang itu yang kau mau, aku tidak akan menemuinya,” sahut Karl seraya tersenyum tipis. Setelah itu Karl mengirim pesan balasan pada Tina dengan mengatakan kalau dia sedang sibuk dan tidak memiliki waktu untuk bertemu dengannya. “Sudah beres, Kak. Sekarang kau bisa tenang karena aku tidak akan membiarkan mereka mencuri Amora-mu. Oke?”
__ADS_1
Bern langsung menarik nafas perlahan karena Karl tidak mencurigainya lagi. Kalian mungkin penasaran mengapa Bern tidak jujur pada Karl kalau dia sebenarnya sudah jatuh cinta pada Amora, bahkan mereka sudah pernah tidur bersama. Dan alasannya adalah karena Bern selalu merasa kalau Karl seperti sedang merencanakan sesuatu dengan mengirim Amora datang ke rumahnya. Bern tidak sepenuhnya bodoh. Dia juga mengerti kalau kejenakaan Karl hanyalah sebuah topeng untuk menutupi sisi emosinya yang sampai saat ini tak pernah Karl tunjukkan. Bern juga tahu kalau selama ini Karl seringkali melakukan tindakan intimidasi untuk menekan para musuh agar tidak menghalangi kesuksesan bisnis mereka. Kendati demikian, Bern memilih mengalah dengan caranya sendiri. Karl saudaranya,dan dia menyayanginya.
“Haihhhh, untuk menghabiskan waktu luang alangkah baiknya kalau aku membaca-baca berita yang sedang trending di media sosial. Mari kita lihat kegaduhan seperti apa yang sedang terjadi di sana,” ucap Karl sambil membuka akun media sosialnya.
Di detik pertama Karl terlihat mengomel tidak jelas saat membaca berita tentang perselingkuhan artis. Bern yang mendengar omelan itu hanya diam membiarkan saja. Namun beberapa detik kemudian Bern di buat berjengit kaget saat Karl tiba-tiba mengumpat dengan begitu kasar.
“k*parat. Apa-apaan wanita tua ini. Dia sinting atau bagaimana!” teriak Karl sambil memelototkan mata ketika sebuah berita muncul di dalam pencarian akun media sosialnya.
“Karl, wanita tua mana yang kau umpat?” tanya Bern terheran-heran.
Sial, aku lupa Bern ada di sini. Argggghhhhhh, apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh Nenek? Kenapa dia membuka bazar amal sampai sebegini besarnya? Dia sinting ya. Kalau kegiatan sialan ini tidak segera dihentikan maka itu akan sangat merugikan rencanaku. Semua kekayaan di keluarga Ma hanya boleh menjadi milikku saja. Mereka tidak berhak untuk melelangnya ataupun memberikannya secara cuma-cuma pada orang lain. Ini tidak bisa dibiarkan. Jendral k*parat itu harus secepatnya di hentikan. Harus.
“Karl, ada apa?” tanya Bern lagi.
“Kak, Nenek menjual beberapa gedung dan juga aset berharga lainnya. Dan Nenek juga membuka bazar amal selama satu bulan namanya. Kita harus segera menghentikannya sebelum kita semua jatuh miskin,” jawab Karl dengan menggebu-gebu. Dia mencoba membujuk Bern agar mau menuruti perintahnya. “Ayo, Kak. Kita harus secepatnya menemui Nenek dan menanyakan kenapa dia melakukan ini semua. Ayo!”
“Karl,” ….
Bern menghela nafas pelan. “Barkan saja Nenek ingin melakukan apa pada kekayaannya. Kita tidak punya hak untuk menghentikannya. Lagipula kita juga tidak mungkin jatuh miskin hanya karena Nenek membuka bazar amal. Kau itu sudah sangat kaya, Karl. Jangan serakah.”
“Tapi Kak, aku ….
“Sudahlah. Biarkan Nenek ingin melakukan apa. Lebih baik sekarang kau kembali bekerja saja. Oke?”
Jangan di tanya bagaimana marahnya hati Karl sekarang. Emosinya langsung naik ke ubun-ubun setelah Bern untuk pertama kalinya menolak keinginannya. Sungguh sangat sialan sekali.
__ADS_1
***