Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Kecil-Kecil Cabe Rawit


__ADS_3

Mata Elea berkaca-kaca saat dia membaca nama panti asuhan yang menyimpan banyak kenangan buruk di hidupnya. Jujur, rasanya sangat sesak saat Elea terkenang hari terakhir sebelum dia di usir pergi dari tempat ini. Kata-kata kasar tersebut masih menggema dengan sangat jelas di telinganya. Membuat Elea serasa di bawa untuk merasakan rasa sakit yang dia terima waktu itu.


"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Gabrielle cemas melihat mata istrinya yang tergenangi air mata.


"Hiksss, aku baik-baik saja, Kak. Tapi hatiku tidak," jawab Elea yang akhirnya menangis. "Aku ingat kejadian terakhir sebelum aku di usir pergi dari sini. Aku pembawa sial, aku adalah noda yang tidak seharusnya terlahir ke dunia ini. Aku tidak di terima oleh siapapun, Kak. Itu yang di katakan ibu pemilik panti kepadaku. Rasanya masih sangat sakit sampai detik ini."


Terdengar gemeletuk gigi di mulut Gabrielle setelah dia mendengar aduan istrinya. Dia kemudian melayangkan lirikan membunuh ke arah Nun. Gara-gara saran darinya, sekarang istrinya jadi menangis. Gabrielle jadi sangat ingin mencekik lehernya Nun saat ini juga. Dia kesal sekali.


"Maaf menyela, Nyonya. Saya paham bagaimana perasaan anda waktu itu. Akan tetapi dari pengakuan pemilik panti, dia terpaksa mengusir anda keluar dari panti itu karena sudah tidak tega melihat ketidakadilan yang anda terima dari istri mendiang Tuan Karim. Dia merasa amat sangat berdosa karena telah berkata kasar dan juga bersikap jahat kepada anda, jadi memutuskan untuk membiarkan anda pergi dengan harapan kalau anda akan menemukan kehidupan yang jauh lebih baik daripada yang anda terima di panti asuhan waktu itu. Dan saya yakin anda sebenarnya juga tahu kalau mereka tidak benar-benar ingin menyakiti anda. Benar kan, Nyonya?" tanya Nun ikut terenyuh mendengar pengakuan sang nyonya.


"Benar sekali, Pak Nun. Tapi tetap saja kata-kata itu sangat menyakiti hatiku. Aku ini hanya manusia biasa, aku juga bisa merasakan sakit meskipun aku tahu kalau mereka di paksa untuk melakukannya. Aku bukan dendam, aku hanya merasa sesak saja saat membaca nama panti asuhan ini," jawab Elea sambil berusaha menghentikan tangisannya.


"Saya mengerti, Nyonya. Jika memang Nyonya belum siap untuk datang ke sana, bagaimana kalau kita pergi berkeliling dulu. Biarkan hati Nyonya sedikit relaks, baru setelahnya Nyonya bisa merasa tenang menemui mereka."


Elea menggeleng.


"Langsung pergi ke sana saja, Pak Nun. Ada Kak Iel bersamaku. Semuanya pasti akan baik-baik saja."


"Sayang, kau yakin siap untuk bertemu dengan mereka? Aku tidak masalah kalau kau ingin pergi ke tempat lain dulu. Hatiku sedih melihatmu menangis seperti ini. Aku tidak suka," tanya Gabrielle seraya menyeka sisa air matanya di wajah cantik istrinya. Setelah itu dia menatap tajam ke arah Nun. "Semuanya ini gara-gara saran darimu, Nun. Lihat, istriku jadi sedih kan sekarang. Bagaimana sih."


"Maafkan saya, Tuan Muda. Saya lalai karena tidak mempertimbangkan hal ini dulu sebelum memberi saran," sahut Nun dengan legowo meminta maaf. Biar cepat selesai, begitu pikirnya.


"Aku tidak menerima permintaan maaf."


"Kalau begitu saya bersedia menerima hukuman atas kelalaian yang saya lakukan."


"Huh, dasar menyebalkan."


Merasa tak bisa memberi hukuman pada Nun, Gabrielle memilih untuk mengalihkan emosinya dengan menciumi rambut Elea. Dia jadi serba salah sekarang. Bukannya membuat Elea tersenyum bahagia, saran dari Nun malah membuat istrinya terkenang dengan luka masa lalunya. Di sini ya bodoh itu Nun atau dia sih? Heran.

__ADS_1


"Kak Iel, Pak Nun, ayo kita keluar. Huffttt, semangat. Ayo kita berbagi kebahagiaan dengan mereka!" ucap Elea tiba-tiba.


"Sayang, tap ....


Belum sempat Gabrielle menyelesaikan perkataannya, Elea sudah lebih dulu keluar dari dalam mobil. Namun ketika Gabrielle hendak menyusul Elea keluar, dia di tahan oleh Nun. Marah, itu sudah pasti. Tapi setelah mendengar alasan Nun menahannya agar jangan keluar dulu, Gabrielle langsung terdiam seribu bahasa. Lagi-lagi dia kalah satu langkah dalam memahami apa yang di inginkan oleh istrinya.


"Biarkan Nyonya Elea mencari ketenangan terlebih dahulu, Tuan Muda. Saya yakin Nyonya tidak akan langsung masuk ke dalam panti."


"Kenapa begitu?"


"Sebaiknya anda pahami saja sendiri, Tuan Muda. Akan sangat lancang bagi saya jika terlalu dalam ikut campur tentang apa yang akan dilakukan oleh Nyonya Elea," jawab Nun dengan sabar.


Dan ternyata benar. Elea yang saat itu sudah berada di luar mobil nampak menengadahkan wajahnya menatap langit. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Yang pasti, terlihat dengan sangat jelas betapa beratnya Elea saat ingin melangkah maju untuk masuk ke dalam panti.


Lupakan, Elea. Semua kisah kelam itu sudah usai, kau tidak akan lagi di usir dari tempat ini. Ingat Elea. Mereka tidak bersalah, mereka hanyalah korban dari orang-orang yang tidak menginginkanmu hadir di dunia ini. Mereka tidak salah apapun.


"Haaaahhh ... kuat, Elea. Ada Kak Iel yang akan selalu mendukungmu. Kau tidak boleh sampai kalah pada kesakitan di masa lalu. Ayo Elea, berbahagialah. Temui mereka seolah tidak pernah terjadi apapun di hidupmu dulu. Yakin!" ucap Elea menyemangati dirinya sendiri sambil menepuk dadanya pelan.


Tok tok tok


"Kak Iel, kenapa kau tidak keluar? Apa kau dan Pak Nun sedang melakukan sesuatu di dalam mobil?"


"A-apa?"


Sekali lagi. Gabrielle dan Nun di buat sesak nafas oleh tuduhan tidak manusiawi yang di lontara oleh Elea. Sebelum keluar dari dalam mobil, Gabrielle masih menyempatkan diri untuk mengomeli Nun.


"Ini gara-gara kau yang menahanku agar tidak keluar menyusul Elea, Nun. Sekarang kita jadi di tuduh sedang berbuat yang tidak-tidak kan?"


"Maaf, Tuan Muda. Saya tidak tahu kalau Nyonya akan berpikiran seperti itu pada kita berdua."

__ADS_1


"Tidak kepikiran? Nun-Nun, memangnya kau sudah lupa ya siapa Elea? Otaknya itu selalu di penuhi dengan kata-kata yang sulit untuk di pahami nalar orang normal. Bagaimana sih!"


Nun hanya bisa pasrah saat dirinya di salahkan atas sesuatu yang tidak dia perbuat. Kadang dia sampai bingung sendiri menghadapi sikap Tuan Muda-nya yang tak pernah peka akan diri sang nyonya. Padahal sudah sangat jelas kalau si nyonya kecil membutuhkan sedikit waktu untuk menata hatinya. Tapi ya sudahlah, percuma juga di jelaskan. Di kepala Tuan Muda-nya, semua orang selalu salah. Karena yang benar hanyalah sang nyonya, dan itu adalah prinsip mutlak yang tidak bisa di tawar dengan apapun lagi.


"Mana Pak Nun, Kak?" tanya Elea sambil mengeratkan pegangan tangan di lengan suaminya.


"Dia sedang mengirim pesan pada pelayan di rumah," jawab Gabrielle beralasan.


"Oh, begitu. Ya sudah, ayo kita masuk ke panti. Aku sudah siap bertemu dengan mereka."


"Kau yakin sudah tidak apa-apa?"


Elea mengangguk. Dia berjinjit kemudian mencium pipi suaminya lama. Semacam mencari ketenangan begitu.


"Haih, jangan sekarang, sayang," ucap Gabrielle sambil mengelus bekas ciuman di pipinya. Hatinya meleleh.


"Ilih, hanya ciuman kecil pun," sahut Elea sambil terkikik pelan. Suaminya ini mudah sekali terpancing n*fsu. Kan dia jadi gemas.


"Kecil-kecil tapi cabe rawit. Hehehehe."


Sambil bersenda gurau, Gabrielle membawa Elea menginjakkan kaki ke tempat dimana dulu nestapanya di mulai. Sebisa mungkin Gabrielle menempatkan diri agar Elea tidak merasa sendirian. Dia siaga, juga berharap semoga di dalam nanti Elea tak lagi menitikkan air mata. Gabrielle ingin istri kecilnya tertawa bahagia. Itu yang dia mau.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...

__ADS_1


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2