Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Pagi Yang Manis


__ADS_3

Cuwee menatap heran ke arah seorang pria yang tengah berdiri di hadapannya. Dia yang sedang dalam posisi duduk sambil mengunyah makanan tampak tenang-tenang saja ketika pria tersebut datang mendekat.


"Kau ... baru pertama kali ini aku menyesal telah membeli barang. Kalau saja aku tahu kau akan menjadi sainganku, aku tidak akan pernah mau membelimu meski Elea merengek di bawah ketiakku. Dasar ....


"Cuwee, Tuan Muda!" sambung Nun ketika melihat majikannya seperti kebingungan.


"Ya, itu pokoknya," sahut Gabrielle. "Nun, kapan kira-kira binatang ini akan menghilang dari pandangan mataku? Aku sudah sangat muak terus melihatnya ada di sekitar Elea."


Nun terdiam bingung ketika mendapat pertanyaan seperti itu. Karena jelas-jelas ini adalah jenis pertanyaan yang menjebak. Bagaimana tidak! Cuwee adalah kuda kesayangan sang nyonya. Jika Nun menjawab sesuatu yang bisa mendatangkan kesedihan si nyonya kecil, sudah bisa di pastikan kalau dia akan langsung di sembur oleh pria yang level kecemburuannya sudah tidak ada obat. Akan tetapi jika dia tidak menjawab, Tuan Muda-nya pasti akan menuduh kalau dirinya telah bersekongkol dengan Cuwee. Sungguh sangat tidak enak jika kalian ada di posisinya Nun sekarang.


"Jangan bilang kau mendukung keberadaan Cuwee di rumah ini, Nun!" tuduh Gabrielle sembari melayangkan tatapan membunuh pada binatang yang baru saja meringkik pelan.


"Maaf Tuan Muda, kali ini saya tidak bisa memberi jawaban pasti. Cuwee adalah kuda kesayangan Nyonya Elea, sedangkan anda adalah majikan saya. Setulus apapun saya menjawab, semuanya pasti akan salah di mata anda. Maaf jika jawaban saya sedikit lancang, Tuan Muda!"


Wajah Gabrielle langsung masam begitu mendengar jawaban Nun. Memang benar sih kalau dia pasti akan langsung menyalahkan apapun jawaban Nun. Hmm, rupanya mutan ini cukup pandai juga dalam menyelamatkan diri.


"Oh iya Tuan Muda, menu pagi untuk sarapan Nyonya Elea apakah masih sama dengan beberapa hari yang lalu? Saya sedikit kasihan padanya," ucap Nun.


Saat ini waktu masih menunjukkan pukul lima pagi. Tapi Gabrielle sudah bangkit dari pembaringannya sejak pukul empat gara-gara kaki Elea yang terus saja menyebrangi daerah terlarang. Bukannya apa, Gabrielle hanya takut tak bisa menahan diri. Pahamlah, dia kan sudah berpuasa sejak beberapa bulan yang lalu semenjak ginjal Elea bermasalah.


"Di rubah saja, Nun. Tapi pastikan masih dalam standar yang di atur oleh Reinhard dan Jackson. Aku tidak mau mendengar ocehan kedua dokter tidak laku itu!" jawab Gabrielle sembari memicingkan mata ke arah Cuwee. Binatang itu seolah sedang mengejek Gabrielle karena tidak berhasil mengusirnya pergi dari rumah ini.


Saat Gabrielle tengah sibuk memusuhi Cuwee, dari dalam rumah Elea muncul dengan kondisi tubuh terbalut selimut tebal. Jalannya sedikit sempoyongan karena matanya yang masih mengantuk.


"Kak Iel,"


Gabrielle, Cuwee, dan juga Nun langsung menolehkan kepala saat mendengar suara serak dari arah belakang mereka. Bukannya langsung datang menghampiri Elea, Gabrielle malah sibuk melemparkan rumput ke wajah Cuwee agar berhenti menatap istrinya.


"Dasar kuda mesum. Mati saja kau sana!" umpat Gabrielle dengan suara tertahan.


"Kak Iel," panggil Elea lagi saat suaminya tak kunjung memberi pelukan.


"Iya sayang. Tunggu sebentar, aku bereskan dulu urusanku dengan binatang ini."

__ADS_1


Nun tanggap. Dia segera menarik tali yang mengikat leher Cuwee kemudian membawanya pergi menjauh. Entahlah, dia benar-benar sangat bingung dengan kelakuan Tuan Muda-nya yang cemburu pada binatang selucu ini. Padahal tidak ada yang memintanya untuk membeli Cuwee sebagai hadiah utama untuk sang nyonya. Eittsss tunggu, hadiah utama? O-ho, bahkan sampai detik ini misteri tentang mana hadiah utama yang sebenarnya tidak pernah terpecahkan. Baik Nun maupun Ares, mereka sama-sama lupa hadiah apa yang pertama kali di beli oleh Tuan Muda mereka karena saking banyaknya barang yang berdatangan.


"Kenapa bangun, hm? Apa yang membuatmu merasa tidak nyaman?" tanya Gabrielle setelah mencuci tangan. Dia lalu merengkuh erat tubuh istrinya yang terbalut selimut.


"Ranjang di sebelahku terasa dingin. Jadi aku memutuskan pergi keluar untuk mencarimu," jawab Elea dengan mata sedikit terbuka dan terpejam.


"Rindukah?"


"Emmm."


"Manis sekali sih istriku ini. Hehehe."


Elea tertawa sambil menahan geli saat bibir suaminya menciumi bagian leher. Andai saja dia tidak sedang dalam kondisi sakit, Elea pasti akan meminta hal yang lebih pada suaminya ini.


"Hayo, jangan berpikiran mesum di pagi-pagi begini ya?" ledek Gabrielle saat tak sengaja mendengar apa yang sedang di pikirkan oleh sang istri.


"Hehehe, sedikit Kak. Masa tidak boleh?" sahut Elea dengan santainya. Padahal dia bisa merasakan ada sesuatu yang mengeras di bawah sana. "Em, Kakak tadi bangun jam berapa?"


"Sudah jawab saja jam berapa Kak Iel bangun tadi."


"Jam empat,"


Bulu kuduk Gabrielle tiba-tiba meremang saat dia melihat smirk aneh di bibir Elea. Di jamin, setelah ini dia pasti akan mendengar kata-kata ajaib dari mulut istrinya ini.


"Kak Iel, Kakak tahu tidak kalau jam empat pagi itu adalah waktunya untuk para jamur bangun dari tidur," ucap Elea penuh maksud.


"Jamur bangun? Maksudnya apa sayang?" tanya Gabrielle tak paham.


"Hehehe," ....


Bukannya menjawab, Elea malah menunjuk ke arah bawah dimana jamur suaminya sudah bangun sejak tadi. Dan maksud dari pertanyaan Elea barusan adalah untuk menyindir si suami yang terbangun akibat ulah sang jamur yang berdiri tidak memandang waktu. Lucu memang karena suaminya tidak menyadari maksud dari ucapannya barusan.


"Jamur bangun dan kau menunjuk ke arah junior. Jangan bilang kau ....

__ADS_1


Jeda beberapa saat. Gabrielle langsung mencubit bokong Elea dengan gemas begitu mengetahui kalau jamur yang dimaksud olehnya adalah si junior. Benar-benar, hanya perkara jamur mood Gabrielle langsung membaik dengan begitu sempurna. Dia lalu memutar-mutarkan badan dengan cepat yang mana hal itu membuat Elea berteriak ketakutan.


"Aaaaa... awas jatuh, Kak Iel. Aku belum punya anak!"


"Tidak akan, sayang. Aku memegangi tubuhmu dengan kuat!" sahut Gabrielle dengan usil.


"Kak Iel, apa kau sedang balas dendam padaku?" jerit Elea saat suaminya tak kunjung berhenti berputar.


Gabrielle terbahak-bahak saat Elea hampir terlepas dari gendongannya. Sungguh, siapa yang tidak bahagia jika memiliki istri yang pandai menghibur hati seperti Elea. Dunia serasa milik berdua jika Gabrielle sudah bermanja waktu seperti ini. Mungkin di mata orang lain ini terlihat berlebihan, tapi Gabrielle tidak peduli. Baginya tidak ada hal lain yang jauh lebih membahagiakan selain menghabiskan waktu bersama Elea dan juga keluarganya. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa kalian rasakan lagi jika di antara mereka sudah kembali ke rumah Tuhan.


"Sayang, kau sadar tidak kalau pagi ini ucapan yang keluar dari mulutmu terdengar begitu manis. Jauh lebih manis dari yang biasanya," ucap Gabrielle setelah puas berputar-putar.


Sebelum menjawab, Elea terlebih dahulu menstabilkan nafasnya. Jujur saja, dia tadi begitu kaget dengan tindakan gila yang dilakukan oleh suaminya. Untung saja tubuh suaminya ini sangat kokok sekokoh pintu surga 🀣🀣, jadi dia bisa sedikit tenang karena tak khawatir akan jatuh terlempar ke tanah.


"Mengawali sesuatu dengan yang manis-manis bukankah sesuatu yang baik ya Kak?"


"Benar sekali. Dan aku akan mengawalinya dengan memberi kecupan di tempat yang paling manis,"


Gabrielle dan Elea sama-sama tersenyum sebelum bibir mereka saling menyatu. Indah, benar-benar sangat indah romantika cinta mereka. Ciuman panjang itu seolah menyambut munculnya sinar sang mentari pagi yang akan menyebarkan cahaya pada banyak makhluk hidup yang tinggal di bumi ini.


"Cau An, xingan πŸ’œ.... (Selamat pagi, sayang)


"Cau An, laogong πŸ’œ.... (Selamat pagi, suami)


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote like, dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...


...πŸ€Fb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2