Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Mengancam Keselamatan


__ADS_3

Gabrielle mengerutkan keningnya ketika melihat foto yang di berikan oleh Ares. Terlihat di sana ada empat orang wanita yang sedang melakukan perawatan di salah satu salon langganan para model ternama. Tiga dari wanita tersebut Gabrielle bisa mengenalinya, tapi tidak dengan wanita berperut besar yang tengah berbaring dengan mata tertutup irisan buah mentimun. Yang Gabrielle tahu rombongan Elea rata-rata masih hamil muda di mana perut mereka masih belum mengalami perubahan, kecuali Cira. Karena dia adalah ibu hamil generasi pertama. Tapi saat ini Cira tidak ikut pergi bersama dengan Elea dan gengnya. Lalu siapa wanita itu? Di mana mereka memungutnya?


"Wanita ini ... siapa?" tanya Gabrielle penasaran.


"Wanita itu adalah Nona Nania, Tuan Muda. Dia adalah adik bungsunya Lusi," jawab Ares.


"Whaaattt? Nania?"


Mata Gabrielle sampai membelalak lebar setelah tahu kalau wanita itu ternyata adalah Nania. Sungguh, ini sebenarnya apa yang sedang terjadi. Bagaimana bisa gadis ingusan sepertinya sudah hamil besar mengalahkan rombongan Elea? Ada yang salah. Ya, ada sesuatu yang tidak beres di sini.


"Res, bukankah Nania itu masih berusia dua belas tahun ya? Bagaimana bisa dia sudah hamil sebesar ini? Kapan-kapan dia menikahnya. Aneh," tanya Gabrielle heran sekaligus bingung.


"Tuan Muda, Nona Nania tidak sedang hamil. Perutnya membesar seperti itu karena ada kain di dalamnya," jawab Ares memberitahu apa yang sebenarnya terjadi. "Menurut laporan yang tadi saya terima, Nyonya Elea-lah yang telah memberi saran pada Nona Nania untuk berpenampilan seperti itu. Gadis belia itu merasa tak nyaman karena hanya dia sendiri yang tidak hamil. Jadi Nyonya menyumpalkan kain ke dalam pakaian Nona Nania agar terlihat sama seperti yang lain. Sayangnya kain yang di masukkan terlalu banyak, jadi Nona Nania malah terlihat sebagai ibu hamil yang paling tua di sana."


Gabrielle cengo. Sungguh, saat ini otaknya seperti berhenti beroperasi. Dia tidak mengerti kenapa Elea bisa sepintar itu dalam menipu Nania. Dan yang lebih membuat tidak mengerti lagi adalah sikap Nania yang mau-mau saja menuruti ide sesatnya Elea. Gadis itu bodoh atau bagaimana sih? Kepala Gabrielle sampai berdenyut gara-gara memikirkan ulah kedua perempuan itu.


"Tuan Muda, sepertinya setelah dari salon itu Nyonya dan gengnya akan langsung pergi menuju salah satu gedung pusat perbelanjaan. Hari ini menjelang weekend, keadaan di sana pasti sangat ramai. Apa anda ingin saya mengosongkan gedung itu? Cuaca sedang tidak bagus, Tuan Muda. Saya khawatir ada banyak virus yang bisa menular pada Nyonya Elea!" ucap Ares langsung siaga dua belas. Dia tidak mau sampai kecolongan.


"Hmmm, mengosongkan tempat itu ya?" beo Gabrielle sembari mengusap-usap dagu bawahnya. Dia ragu.

__ADS_1


Pagi ini mood Elea sedang tidak baik. Kalau sampai dia tahu aku mengacaukan kesenangannya, dia pasti akan sangat marah padaku. Bagaimana ya? Ah, lebih baik aku telpon Ibu saja. Siapa tahu Ibu punya saran yang baik untuk mencegah hal buruk agar tidak terjadi.


Segera Gabrielle menghubungi sang ibu untuk membicarakan hal penting tersebut. Sedangkan Ares, dia hanya diam mendengarkan. Ares menebak kalau ada sedikit permasalahan yang terjadi antara Tuan Muda-nya dengan sang nyonya. Jika tidak, banteng pencemburu ini pasti akan langsung bereaksi cepat begitu di beritahu ada bahaya yang bisa mengancam keselamatan Nyonya Elea dan juga bayi-bayinya.


"Ayo angkat telponku, Bu. Ini sangat penting," ujar Gabrielle ketika panggilannya tak kunjung di jawab oleh ibunya.


Gelisah hanya duduk menunggu, Gabrielle akhirnya berdiri kemudian berjalan mondar-mandir dengan telepon masih menempel di telinga kirinya. Tepat ketika putaran yang ke sepuluh, barulah Gabrielle mendengar suara ibunya dari seberang telepon.


"Halo, Gabrielle. Ada apa?"


"Bu, aku butuh saran terbaik sekarang juga!" jawab Gabrielle. Dia lalu berjalan mendekat ke arah jendela kemudian menempelkan kepalanya di sana. Gabrielle stres. "Ares bilang cuaca di luar sedang tidak bagus karena ada banyak virus yang berkeliaran. Dan sekarang Elea dan gengnya ingin pergi berbelanja ke salah satu mall untuk memborong kebutuhan para bayi mereka. Menurut Ibu perlu tidak untuk menutup tempat itu dari umum sampai Elea selesai berbelanja? Aku khawatir dia akan tertular virus, Bu."


Meski ibunya tak bisa melihat Gabrielle tetap menganggukkan kepalanya. Dia lalu menarik nafas, menunggu hal mengejutkan apa yang akan di katakan oleh sang ibu tentang adiknya Lusi.


"Apa Nania melakukan sesuatu yang membahayakan keselamatan Elea dan si kembar tiga, Bu?"


"Tidak sama sekali, Iel. Yang ada Ibu beserta Levi dan Lusi lah yang di buat hampir mati berdiri oleh kelakuan mereka berdua. Kau tidak mungkin belum menerima kabar tentang Elea yang mendandani Nania seperti orang yang sedang hamil enam bulan kan? Tadi mereka juga membahas tentang kunjunganmu yang hampir setiap malam menjenguk baby BKF. Ini gila tidak menurutmu? Ibu saja hampir hilang kewarasan gara-gara mereka. Haih ... Elea dan Nania seperti kembar siam. Sama-sama cantik, memiliki karisma yang unik, juga mampu membuat orang lain sesak nafas secara beruntun. Ibu jadi penasaran jangan-jangan di masa lalu mereka itu adalah saudara kembar. Mereka mirip hampir 70% . Gila kan?"


"Aku tidak tahu harus bicara apalagi tentang mereka, Bu. Asal tidak membahayakan keselamatan Elea, aku mungkin akan membiarkan Nania tetap berteman dengannya. Ya walaupun nyawaku jadi taruhannya," ucap Gabrielle sangat amat memaklumi keresahan yang di rasakan oleh ibunya. "Ya sudah kalau begitu Ibu istrahat saja. Emosi Ibu pasti banyak terkuras menghadapi Nania dan Elea tadi. Ya?"

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu kau bekerjalah dengan hati-hati. Jangan lupa istirahat dan makan siangmu ya?"


"Iya, Ibu."


Klik. Dan panggilan pun terputus.


"Res, kira-kira apa yang akan kau lakukan jika berhadapan dengan kembarannya Elea?" tanya Gabrielle sambil berjalan menuju kursi kerjanya.


"Saya mungkin akan memilih untuk diam saja, Tuan Muda. Menghadapi Nyonya Elea saja sudah cukup membahayakan keselamatan saya, apalagi Nona Nania. Saya belum ingin mati sekarang," jawab Ares yang dengan tidak sadar mengatakan tentang kekurangan nyonya kecilnya.


"Aku tidak salah dengar kan, Res? Beraninya ya kau menjelekkan nama Elea di hadapanku. Bosan hidup atau bagaimana?"


"Maaf, Tuan Muda. Saya khilaf."


"Khilaf gigimu!" kesal Gabrielle. Tapi sedetik kemudian dia terkekeh pelan, yang mana membuat Ares menatapnya heran. "Kau benar, Res. Berada di dekat Elea terkadang memang bisa mengancam keselamatan kita. Dan kali ini aku setuju dengan pemikiranmu. Hehehe."


Setelah berkata seperti itu Gabrielle dan Ares sama-sama tertawa lebar. Mereka sudah tidak tahu lagi harus membicarakan apa tentang wanita polos bin mengerikan itu. Pokok intinya hanya satu, berbahaya. Sudah, itu saja. Dan kami yakin teman-teman sekalian pasti juga merasakan hal yang sama bukan seperti yang di rasakan oleh Gabrielle dan Ares? Jawab di sini 👉 😅


Maaf ya gengs.. agak terlambat up karena baru lolos review sejak kemarin 😇

__ADS_1


*****


__ADS_2