Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Ciuman Jarak Jauh


__ADS_3

Gabrielle terlihat begitu bersemangat ketika sedang membicarakan masalah pekerjaan dengan para bawahannya. Bagaimana tidak! Tepat di depannya, ada satu panggilan video yang terhubung dengan seorang wanita cantik yang sedang sibuk dengan sesuatu di tangannya. Siapa lagi kalau bukan Elea, si bidadari bermulut badas yang selalu mengguncang permentalan orang-orang di sekelilingnya.


"Tuan Muda, dari bagian keuangan ada laporan kalau perusahaan mengeluarkan dana yang lumayan besar untuk mendanai lomba di salah satu fakultas desain. Jika boleh tahu apakah benar ini atas persetujuan anda?"


"Ya, itu aku yang menginginkannya. Dan fakultas yang akan mengadakan perlombaan tersebut adalah fakultas tempat istriku kuliah. Kenapa memangnya? Kau keberatan?" tanya Gabrielle dingin.


"T-tidak, Tuan Muda. Saya hanya ingin memastikan kalau hal ini bukan penggelapan dana yang coba dilakukan oleh karyawan di sini. Maaf jika pertanyaan saya tadi membuat anda tersinggung," jawab si karyawan panik.


Gabrielle mengangguk. Dia lalu melihat ke layar ponsel, tersenyum ketika mendapati istrinya yang masih sibuk dengan pensil gambarnya.


"Sayang, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Gabrielle penasaran. Dia tak mempedulikan keberadaan para pegawainya di sana.


"Mencuci baju, Kak."


"Pfffttttt," ....


Ruangan kembali sunyi saat Gabrielle melayangkan tatapan membunuh pada karyawan yang tadi sempat tertawa. Dia mendengus. Sebenarnya bukan salah karyawannya juga sih kalau tidak bisa menahan tawa gara-gara mendengar jawaban nyeleneh istrinya. Karena Gabrielle pun sebenarnya juga ingin melakukan hal yang sama. Jelas-jelas kalau Elea itu sedang menggambar, tapi dengan bobroknya dia malah menjawab sedang mencuci baju. Benar-benar sangat pandai menjungkir-balikkan suasana hati orang.


"Kalau masih ingin tetap bekerja di perusahaan ini tolong diam dan dengarkan saja. Berpura-puralah kalau kalian ini adalah patung yang tidak kasat mata!" tegur Ares pada semua karyawan yang ada di sana.


Kali ini Ares selamat karena tidak hanya dia saja yang menjadi korban kebucinan Tuan Muda-nya. Sejak si nyonya kecil menelpon, ruangan ini langsung berubah seperti sebuah taman yang di penuhi bunga-bunga bermekaran. Bagaimana tidak! Di sela-sela bekerja, Tuan Muda-nya dengan begitu santai mengajak si nyonya untuk berpacaran. Banteng pencemburu ini bahkan seolah tak peduli kalau di ruangan tersebut tidak hanya ada dia seorang. Melainkan ada sembilan karyawan yang juga memiliki jabatan lumayan penting di Group Ma. Tapi ya sudahlah. Sekali lagi kita kembali ke dunia dimana si pria ber-uang terbucin-bucin sampai mendarah daging pada wanita yang mulutnya sangat luar biasa mematikan.


"Ekhmmm, sayang, bukannya kau itu sedang menggambar ya? Kenapa jawabannya tidak sinkron dengan apa yang sedang kau lakukan, hm?"


"Kak Iel ini bagaimana sih. Memangnya layar ponsel milik Kakak tidak bisa membedakan mana orang yang sedang mencuci baju dan mana orang yang sedang menggambar ya? Bisa-bisanya masih bertanya padaku."


Gabrielle meringis saat mendapat omelan dari istrinya. Benar juga ya. Harusnya kan dia tidak bertanya apa yang sedang dilakukan oleh istrinya itu. Haisshhhh.

__ADS_1


"Ya sudah aku minta maaf karena salah bertanya. Sekarang coba kau perlihatkan ke kamera agar aku bisa melihat gambar apa yang sedang kau kerjakan. Boleh tidak?" tanya Gabrielle. Dia sangat penasaran pada gambar yang sudah menyita perhatian istrinya ini.


Ares yang kebetulan berdiri di samping Tuan Muda-nya ikut melirik ke arah ponsel saat sang nyonya memperlihatkan hasil gambarannya. Dia terkesima. Sebuah gaun kecil yang di apit oleh dua potongan jas ukuran anak-anak tergambar dengan begitu indahnya di atas kertas putih. Tiba-tiba terbersit satu pemikiran di benak Ares mengenai pewaris yang sedang di nanti-nantikan oleh keluarga besar Ma. Mungkinkah ini adalah suatu pertanda kalau Tuan Muda-nya dan Nyonya Elea akan segera memiliki tiga pewaris sekaligus? Ah, Ares jadi tidak sabar menantikannya.


"Wooowww,, luar biasa. Apakah pakaian-pakaian itu untuk BKF?" tanya Gabrielle takjub akan karya tangan Elea. "Hiasan yang ada di gaun itu terlihat seperti embun, sayang. Sangat indah."


"Hehehe ... ini memang untuk BKF, Kak. Saat nanti usia mereka menginjak tujuh tahun, aku ingin mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan ulang tahun mereka. Mereka pasti akan terlihat sangat menggemaskan jika memakai pakaian ini."


Para karyawan saling bertanya-tanya siapakah BKF yang sedang di bicarakan oleh bos mereka. Gabrielle yang melihat karyawannya saling berbisik pun mengambil inisiatif untuk memperlihatkan apa yang ada di layar ponselnya.


"Istriku adalah calon desainer besar. Dan ini adalah gambar pakaian yang akan dia buat untuk anak-anak kami nanti," ucap Gabrielle dengan bangganya.


"Wooaaahhhh Nyonya Elea, gaunnya manis sekali. Jas-jas kecil ini juga terlihat sangat imut dan menggemaskan. Tuan dan Nona Muda kecil pasti akan langsung menjadi bintang di perusahaan ini nantinya."


"Terima kasih banyak, kakak-kakak. Do'akan saja ya supaya aku dan Kak Iel bisa segera memiliki anak. Dan supaya nanti dia tidak selalu menempel padaku seperti sekarang."


"Santai saja. Dia bicara seperti itu karena sedang merindukan aku. Jangan takut," ucap Gabrielle menahan sesak di dada.


Kalau tadi para karyawan yang merasa ketar-ketir, kini giliran Gabrielle yang merasa khawatir. Belum hamil saja Elea sudah mempunyai pemikiran seperti itu, lalu apa jadinya nanti kalau si tiga biji lobak sudah hadir di tengah-tengah mereka? Mungkinkah Gabrielle akan tersingkir dan di asingkan? Atau yang lebih buruk dia akan di minta untuk tidur di ruangan lain karena Elea tak ingin di ganggu ketika sedang merawat anak-anak mereka. Omaigot, yang benar saja. Gabrielle jadi bingung apakah harus bersyukur atau malah prihatin dengan kehadiran si BKF nanti. Sungguh meresahkan.


"Tuan Muda, pekerjaan masih belum selesai kita bahas!" ucap Ares mengingatkan semua orang yang sedang berlarut memuji hasil gambar sang nyonya.


"Astaga, aku sampai lupa!" sahut Gabrielle sambil menepuk keningnya. "Sudah-sudah, jangan ganggu istriku lagi. Sekarang kembali ke pekerjaan."


Dari layar ponsel terlihat Elea yang mengirimkan kiss jauh ketika Gabrielle hendak berbicara. Sontak saja hal itu membuat si Tuan Muda langsung meleleh sambil memegangi dada. Dia baru saja terkena lemparan anak panah yang menancap tepat di hatinya.


Ya Tuhan, mereka kumat lagi.

__ADS_1


"Ekhm, lanjutkan pembahasan yang tadi," ucap Gabrielle tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


Andai saja bisa, ingin rasanya Gabrielle masuk ke dalam sana kemudian memakan bibir Elea yang tidak henti-hentinya mengirimkan ciuman jarak jauh. Seluruh tubuhnya mendadak terserang tremor yang bahkan mampu menggetarkan organ tubuhnya sampai ke tulang belulang. Ah entahlah, Gabrielle selalu saja meleleh setiap Elea melakukan hal-hal manis seperti ini. Hatinya terlalu lemah untuk bertahan agar tidak mencair.


Ares hanya bisa menarik nafas dalam-dalam ketika Tuan Muda-nya saling berbalas ciuman jauh dengan sang nyonya. Mendadak dia jadi ingin melakukan hal yang sama pada Cira. Tapi apakah mungkin istrinya yang terlalu normal itu mau melakukan sesuatu yang menggelikan seperti banteng pencemburu ini? Sepertinya tidak. 🀧


"Tuan Muda, semuanya sudah selesai kita bahas. Apakah kami sudah bisa kembali ke ruangan kami untuk menyelesaikan pekerjaan yang lain?" tanya salah satu karyawan yang bingung harus bagaimana lagi ketika laporan mereka di abaikan begitu saja oleh si bos besar.


"Terserah!" jawab Gabrielle tak peduli.


"Kalian kembalilah bekerja. Situasi sekarang sedang tidak kondusif untuk kita membahas pekerjaan. Nanti setelah badainya lewat kita baru akan kembali membicarakan hal ini," ucap Ares menjawab rasa kebingungan para karyawan tersebut.


"Baiklah. Kalau begitu kami permisi Tuan Ares, Tuan Muda."


Gabrielle benar-benar tidak menggubris para karyawannya lagi. Dia hanya terfokus pada Elea yang kini sedang memakan cemilan di tangannya.


"Haihh, hanya melihat dia makan saja aku sudah segila ini. Aku jadi ingin berubah menjadi cemilan itu supaya bisa di makan juga oleh Elea," gumam Gabrielle lirih yang mana membuat Ares bergidik geli.


Amit-amit, Tuhan. Tolong jangan turunkan kegilaan ini pada anak dan cucuku kelak. Amin πŸ™


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...

__ADS_1


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2