
"Tora, ini adalah kakak tertuamu, namanya Lan. Kalau yang putih cantik ini adalah kakak keduamu, namanya Cuwee. Kau harus akur-akur ya dengan mereka. Kalau tidak, kau akan di bully sampai bulu di tubuhmu rontok semua," ucap Elea dengan sabar menasehati peliharaan barunya.
Saat ini Elea tengah bersantai di dekat danau dengan di temani oleh ketiga binatang kesayangannya. Jangan lupakan juga dengan belasan buaya besar yang tengah berjemur sambil membuka mulut menantang matahari. Seandainya pemandangan ini dilihat oleh orang lain, di jamin orang tersebut pasti akan jatuh pingsan karenanya. Bagaimana tidak! Seorang wanita yang tengah hamil muda duduk bersama dua ekor harimau berukuran besar kecil dan juga seekor kuda putih dengan di kelilingi oleh belasan buaya bergigi tajam. Pemandangan ini benar-benar sangat memacu adrenalin bukan?
"Sayang?"
"Ya. Ada apa?"
Elea langsung menoleh ke belakang saat mendengar suara Gabrielle yang memanggilnya. Dia kemudian tersenyum begitu melihat suaminya sedang berjalan mendekat.
"Ayah dan Ibu datang berkunjung. Sebentar lagi mereka akan segera sampai," ucap Gabrielle begitu sampai di dekat Elea. Dia lalu menatap sinis ke arah tiga ekor binatang yang tengah menatapnya dengan tampang polos seperti tak punya dosa.
Awas saja jika kalian sampai merebut semua perhatian Elea dariku. Aku bersumpah akan menggunduli kalian semua. Huh.
"Wahhh, Ibu pasti membawakan mie goreng yang tadi aku minta. Asikkk, akhirnya aku makan lagi," sahut Elea kegirangan.
"Hmmm, senang sekali. Memangnya kau belum kenyang setelah makan cemilan bersama Ibu?" tanya Gabrielle gemas melihat Elea yang begitu riang saat menyebut nama makanan kesukaannya.
"Sebenarnya tadi sudah kenyang, Kak. Tapi kan aku itu sedang mengandung tiga ekor anak. Jadi sekarang semua makanan yang tadi aku makan sudah habis di sedot oleh mereka. Lihat, aku sampai terlihat seperti orang cacingan karena kelaparan," jawab Elea.
Gabrielle tertawa kencang begitu mendengar perkataan Elea. Setelah itu dia mengelus perutnya yang memang masih terlihat datar. "Bern, Karl, Flow. Tolong bagi-bagilah makanan yang ada di dalam perut Mommy-mu. Kasihan, Mommy kalian sampai cacingan karena menahan lapar."
Grrrrrrrr
"Astaga, kapan-kapan Lan melahirkan?" pekik Junio dengan kuat saat kedatangannya di sambut suara geraman yang keluar dari mulut seekor harimau kecil berwarna putih.
__ADS_1
"Namanya Tora, Paman Junio," ucap Elea memperkenalkan siapa Tora dengan gembira. "Nah, Tora, pria itu adalah suami kakakku. Kau boleh menerkamnya jika mau!"
Semua orang menelan ludah, tapi sedetik kemudian mereka tertawa. Jangan di tanya seperti apa raut wajah Junio sekarang. Sambil menggendong baby Cio, Junio bersembunyi di belakang tubuh ayahnya Gabrielle untuk menghindari kalau Tora benar-benar akan menerkamnya.
Ck, inilah kenapa aku sangat malas menemui Elea. Selalu saja aku menjadi korban kejahilannya. Bisa-bisanya ya dia mempersilahkan seekor harimau untuk menerkamku. Di pikir aku ini daging sapi apa. Dasar adik ipar tidak ada akhlak. Huh.
Gabrielle dan Liona tersenyum samar saat mendengar apa yang Junio pikirkan tentang Elea. Seperti biasa, Junio adalah orang pertama yang menjadi korban dari kejahilan ibu hamil itu. Dan mereka berharap setelah ini bukan salah satu dari mereka yang akan menjadi korban selanjutnya.
"Ibu, apa Ibu membawakan mie goreng yang aku minta?" tanya Elea sambil berjalan menghampiri ibunya.
"Tentu saja Ibu membawakannya, sayang," jawab Yura dengan semangat menunjukkan rantang makanan di tangannya. "Oh ya, Elea. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa sudah lebih baik?"
Elea mengangguk. Setelah itu dia memeluk ayah dan ibunya secara bergantian. Kemudian beralih memeluk sang kakak dengan penuh sayang.
"Itu, Ayah. Aku mual melihat Kak Ning. Wajahnya terlihat begitu menyeramkan seperti monster. Makanya aku hampir pingsan saat tidak sengaja berpapasan dengannya di pintu masuk kantin," jawab Elea memberitahu apa yang terjadi saat di kampusnya tadi. "Biasanya Kak Iel yang membuatku merasa mual, Ayah. Tapi hari ini sepertinya anak-anakku sedang baik hati. Mereka sama sekali tidak usil saat Kak Iel ada di dekatku."
"Benarkah?"
Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Gabrielle saat mata semua orang melihat ke arahnya. Dan dengan berat hati dia akhirnya menganggukkan kepala.
"Aku berhutang budi pada Kak Ning hari ini. Secara tidak langsung dia telah menyelamatkan aku dari perpisahan sementara dengan Elea."
"Kalau begitu beri Kak Ning hadiah, Kak. Sering-sering saja minta dia untuk muncul di hadapanku supaya Kak Iel bisa terus berada di dekatku," celetuk Elea tanpa menyadari resiko apa yang akan terjadi padanya jika terus melihat keberadaan monster mengerikan itu.
"Sayang, tidak begitu juga konsepnya. Kasihan bayi-bayi kita kalau kau terus-terusan muntah," ucap Gabrielle berusaha sabar menanggapi perkataan konyol istrinya.
__ADS_1
"Gabrielle benar, Elea. Kalau bisa kau hindari saja sesuatu yang bisa membuatmu merasa tidak nyaman. Perutmu pasti sakit kan kalau terus tertekan menahan mual?" tanya Liona. Dia sedikit syok mendengar celetukan menantunya ini. Benar-benar membuat jantung seperti akan berhenti berdetak.
"Baiklah."
Setelah itu Liona mengajak semua orang untuk duduk di kursi yang ada di taman. Sementara Lan, Tora dan juga Cuwee, ketiga binatang tersebut hanya bisa menatap pasrah ketika tidak di ajak serta oleh majikan mereka. Ketiganya merasa terabaikan.
"Bibi Liona, kalau boleh tahu kapan Tora datang ke rumah ini?" tanya Patricia sambil menatap gemas ke arah Tora yang jatuh terpelanting karena di seruduk Lan.
"Baru beberapa jam yang lalu," jawab Liona sambil tersenyum lucu melihat kelakuan para binatang yang saling menyeruduk mencari perhatian. "Kenapa? Apa kau juga menginginkan harimau untuk menjaga Cio?"
"Maaf menyela, Bibi Liona. Aku sangat tidak mengizinkan Cia memelihara binatang mengerikan seperti itu di rumah kami. Melihat Tora dan Lan sudah sudah hampir membuat jantungmu berpindah tempat, apa jadinya nanti kalau Cia sampai memeliharanya di rumah. Bisa mati muda aku!" sela Junio dengan tegas menolak tawaran ibunya Gabrielle. Sudah gila apa.
"Wahhh, ternyata Paman Junio adalah seorang penakut ya," celetuk Elea sambil menikmati mie goreng buatan ibunya. Dia kemudian mengajak keponakannya untuk menggibah. "Cio, saat kau besar nanti tolong jangan tumbuh seperti ayahmu ya. Dengan harimau saja ayahmu takut, tapi pada wanita yang jelas-jelas emosinya bisa seperti dewi perang dia tidak takut. Sikap seperti itu sangat tidak patut untuk di contoh. Jadi saat kau besar nanti tolong ikuti apa yang Bibi katakan ya? Demi kebaikanmu. Oke?"
Mulut Junio terbuka lebar saat Elea dan bayinya membicarakannya secara terang-terangan. Wahhh, ini tidak bisa di biarkan, Junio tidak bisa menerima. Namun ketika Junio hendak membalas perkataan Elea, dia langsung di buat kicep saat di kakinya ada binatang yang tengah mengendus. Junio menelan ludah, rasanya dia seperti akan kencing di celana.
"Kau kenapa, Jun?" tanya Gabrielle dengan usilnya. Dialah yang telah meminta Lan untuk menakut-nakuti Junio agar tidak mengomeli Elea. Dan hasilnya ... kalian bisa bayangkan sendiri bukan?
"Gabrielle, tolong usir jauh-jauh binatang mengerikan ini dari kakiku. Cepat, atau tempat ini akan di penuhi bau pesing," jawab Junio penuh nada ancaman.
Krik krik krik
Gabrielle, Elea, Patricia, Liona, Greg, Yura, dan juga Bryan di buat syok oleh perkataan Junio barusan. Benarkah hanya karena kakinya di endus oleh Lan Junio sampai ingin kencing di celana? Oh my God, lawakan macam apa ini. 🤣🤣🤣
*****
__ADS_1