
Dengan di bantu oleh tim penyelamat, Andreas mencoba menyelamatkan teman Flowrence yang tergantung terbalik dalam kondisi tidak sadarkan diri. Sesekali juga terdengar suara umpatan dari dalam mulutnya saat tanah yang di pijak Andreas gugur sedikit demi sedikit. Medan di jurang ini terlalu miring, mengharuskannya untuk ektra hati-hati karena jika tidak, besar kemungkinan Andreas akan jatuh terperosok menyusul Russel yang entah bagaimana keadaannya sekarang.
"Andreas, hati-hati. Akar yang melilit tubuh gadis itu sudah hampir putus. Jangan terlalu kuat saat menariknya!"
"Ya Tuhan, bagaimana ini, Paman. Jaraknya terlalu jauh, kalau tidak di tarik kita tidak akan bisa menyelamatkan gadis itu!" sahut Andreas panik. Tangannya sampai gemetaran karenanya.
"Kau tarik perlahan-lahan saja. Atau jika tidak kau coba panggil gadis itu. Kalau dia sadar, itu akan mempermudah pekerjaan kita. Coba kau panggil dia!"
"Aku tidak tahu namanya, Paman!"
"Sisil, namanya Sisil!"
"Owh, oke."
Sebelum memanggil Sisil, Andreas memastikan terlebih dahulu kalau posisinya sudah aman. Mau bagaimana lagi. Di sini hanya Andreas-lah yang paling memungkinkan untuk menolong Sisil karena ukuran tubuhnya sedikit lebih kecil ketimbang tim penyelamat.
Sementara itu Russel yang akhirnya tersadar langsung menyingkirkan anak ular yang sedang duduk manis di atas perutnya. Sambil memegangi kepalanya yang terus berdenyut, Russel berusaha untuk duduk. Dan beruntunglah dia karena ternyata Russel terjatuh cukup jauh dari lokasi sarang ular. Jadi nyawanya bisa sedikit aman meski tidak bisa di anggap aman sepenuhnya.
"Ugghhh, sialan. Kenapa aku bisa pingsan sih!" gerutu Russel. Dia kemudian mendongak, menarik nafas panjang begitu melihat keadaan temannya Flowrence yang masih tergantung di sana. "Gadis itu cukup baik. Semoga saja dia tidak mati!"
Dari bagian atas samar-samar Russel seperti mendengar orang yang sedang berbicara. Dia lalu menatap sekeliling, mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk memberi tanda tentang keberadaannya. Dan ketika Russel melihat kayu kemudian ingin menariknya, tiba-tiba saja dia mendengar suara desisan ular yang cukup kuat. Hal ini membuat Russel diam mematung. Sepertinya induk dari anak-anak ular itu datang.
Sial. Apa yang harus aku lakukan? Ular-ular ini cukup berbisa, aku bisa mati kalau sampai di keroyok oleh ibu mereka.
Di saat yang bersamaan, Andreas yang terus memanggil nama Sisil akhirnya berhasil menyadarkannya. Mata Sisil perlahan-lahan mulai mengerjap, dia lalu merintih kesakitan.
"Ughh, pusing," cicit Sisil sambil membuka dan menutup matanya. Dia tidak mengerti kenapa pandangannya seperti terbalik.
"Sisil, Sisil. Cepat ulurkan tanganmu!" teriak Andreas.
__ADS_1
Sisil menoleh ke arah sumber suara. Hanya ada kaki, tidak ada kepalanya. Sisil bingung, dia lalu mulai menangis ketakutan.
"Astaga, dia malah menangis. Bagaimana ini, Paman? Akar yang melilit kakinya sudah hampir putus, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Andreas panik.
"Terus bujuk gadis itu untuk mengulurkan tangannya. Cepatlah! Kita masih harus menolong Russel di bawah sana. Jangan membuang waktu lagi, Russel bisa mati di sarang ular itu!"
Dan begitu mendengar nama Russel, tangis Sisil tiba-tiba berhenti. Barulah dia tersadar kalau posisinya masih di dalam jurang, sedangkan Russel terjebak di dasar jurang yang di penuhi anak-anak dari binatang melata itu. Tak ingin pujaan hatinya sampai kenapa-napa, Sisil berusaha untuk mengulurkan tangan ke arah kakaknya Flowrence. Namun karena luka di tangannya lumayan serius, membuat Sisil hampir saja pingsan karena tak kuat menahan rasa sakitnya.
Jangan mati dulu, Sisil. Kau harus menyelamatkan si pangeran. Kapan-kapan saja matinya.
Mungkin jika ada orang yang mendengar apa yang baru saja Sisil pikirkan, orang itu pasti akan tercengang heran. Anak ini dengan konyolnya bernegosiasi dengan kematian hanya karena ingin menyelamatkan pangeran yang di sukainya. Aneh sekali bukan?
"AAARKKHHHHHHHH!"
Suara teriakan kencang dari dasar jurang membuat Sisil dan Andreas kaget setengah mati. Mereka lalu sama-sama melongok ke bawah, itu Russel.
"Paman, itu suara Russel. Apa jangan-jangan dia di patuk ular? Bagaimana ini?" teriak Andreas kalang kabut. "RUSSEL, APA YANG TERJADI PADAMU? RUSSEL!!!"
"K-Kak, jatuhkan bom saja ke bawah sana. Kalau tidak, nanti Kak Russel bisa jadi siluman ular seperti apa kata Flow. Jatuhkan bomnya sekarang!"
Andreas? Jangan di tanya lagi. Dia sampai tidak bisa berkata-kata lagi saking syoknya mendengar perkataan Sisil. Namun begitu teringat dengan keadaan Russel, akal sehat Andreas kembali bekerja lagi. Dia langsung tanggap dengan meminta tim penyelamat melemparkan tali ke bawah. Andreas harus turun untuk menyelamatkan sepupunya.
"Iyas, itu sangat berbahaya!"
"Aku tidak peduli. Sepupuku berada di ambang kematian, aku tidak akan membiarkannya mati di sarang ular itu. Cepat bantu aku turun ke bawah, Paman!" sahut Andreas nekad.
Tim penyelamat dilema. Mereka lalu memikirkan cara bagaimana agar tidak ada yang celaka dalam insiden ini. Salah satu dari mereka kemudian memberikan sebotol obat yang gunanya sebagai penawar racun ular. Mungkin ini akan menjadi alternatif sementara untuk menyelamatkan nyawa Russel.
"Minta Russel untuk menelan dua butir pil itu, Yas. Dan kau ... tolong berhati-hatilah. Biasanya induk ular akan menjadi sangat agresif setelah anaknya menetas. Berusahalah tenang dan jangan turun terlalu ke bawah, itu sangat beresiko, kalian berdua bisa tidak selamat. Oke?"
__ADS_1
"Baik, Paman!" sahut Andreas seraya mengencangkan tali pengaman di tubuhnya. Dia lalu menatap Sisil, gadis itu masih tersadar dan sedang merintih kesakitan.
"Paman, Sisil ....
"Kami yang akan urus. Kau cukup perhatikan saja langkahmu dan segera selamatkan Russel!"
Andreas mengangguk. Sungguh beruntung Andreas di didik oleh sang ayah agar selalu siap dalam kondisi apapun. Karena jika Andreas tidak mendapatkan pendidikan yang keras, dia tidak mungkin seberani ini menuruni dinding jurang yang sangat terjal. Apalagi di bawah sana sudah ada bahaya besar yang menanti, yaitu serangan dari klan ular. Hal ini tentu saja menjadi pengalaman pertama Andreas yang lumayan mendebarkan. Bayangkan saja. Sekalinya bertugas, Andreas langsung di hadapkan pada medan yang sangat sulit. Tapi tidak apa-apa. Dengan begini Andreas bisa membuktikan pada ayahnya kalau dia bisa di andalkan. Ayahnya pasti akan sangat bangga padanya.
Sementara itu di bawah jurang, Russel sedang mati-matian mempertahankan kesadarannya. Di tangannya ada bekas gigitan ular, dan inilah yang membuatnya berteriak.
"RUSSEL, tangkap dan minum dua pil dari dalam botol ini!"
Russel mendongak. Dia kemudian tersenyum, saudaranya datang.
"Lemparkan!"
Dan hap, botol berhasil mendarat dengan baik di tangan Russel. Segera dia mengambil dua butir pil kemudian menelannya. Kepala Russel pusing dan sekujur tubuhnya seperti kesemutan. Sepertinya efek bisa ular itu mulai menjalar di tubuhnya.
"Russ, aku tidak bisa turun terlalu bawah. Sekarang bisakah kau mengikatkan tali ini ke tubuhmu?" teriak Andreas sambil menatap penuhi khawatir ke arah Russel yang sudah pucat pasi. Wajahnya sudah di penuhi darah, dan tak jauh dari posisinya ada banyak sekali ular-ular kecil yang sedang berkumpul.
Ya Tuhann, ini benar-benar mengerikan.
"Yas, tanganku ... tidak bisa di gerakkan. Induk ular itu menyerangku tadi!" sahut Russel putus asa saat dadanya mulai terasa sesak.
"Kau pasti bisa, Russel. Ingat, Flowrence membutuhkan kita. Kau tidak boleh menyerah begitu saja. Ayo berusahalah!"
Begitu nama Flowrence di sebut, Russel seperti mendapatkan kekuatan dari Tuhan. Dalam keadaan yang sudah hampir lumpuh, Russel berusaha meraih tali yang diberikan Andreas lalu perlahan-lahan mulai mengikatkan ke tubuhnya. Sangat sulit, tangannya benar-benar mati rasa. Namun Russel tak ingin menyerah. Dia tidak mungkin membiarkan Flowrence menjalani hari-hari tanpa pengawasannya.
Setelah berhasil mengikat tali dengan kuat, Russel segera menganggukkan kepala ke arah Andreas. Dia akhirnya bisa bernafas lega ketika tubuhnya mulai di tarik ke atas, meninggalkan segerombolan anak ular yang sedang sibuk melata ke sana kemari dengan di awasi oleh induknya yang galak itu.
__ADS_1
Terima kasih, Tuhan. Kau pasti tahu kalau Flowrence masih membutuhkan aku. Terima kasih atas kesempatan ini.
*******