Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Kekhawatiran Levi dan Reinhard


__ADS_3

Di lain tempat, Levi dan Reinhard tengah sibuk memberi arahan pada tukang dekor yang sedang menghias halaman salah satu restoran yang mereka sewa. Malam ini rencananya mereka akan mengundang semua orang untuk datang kemari guna membagikan kabar bahagia mengenai kehamilan Levita.


"Sayang, aku perhatikan sejak tadi kau terus saja tersenyum. Ada apa?" tanya Reinhard sembari mengelus bahu Levita.


"Aku sedang sangat senang, Rein," jawab Levita tanpa menghilangkan senyum di bibirnya.


"Karena kau hamil, begitu?"


Levita mengangguk. Dia kemudian mengelus perutnya yang masih datar. "Hehe, akhirnya posisi kehamilanku tepat di belakangnya Elea. Dia menjadi ibu hamil generasi ketiga, sementara aku menjadi ibu hamil generasi yang ke empat. Ini sangat lucu kan, Rein? Saat besar nanti anak-anak Cira, Lusi, aku dan juga Kayo akan tumbuh bersamaan dengan ketiga anak Elea. Momen seperti ini benar-benar sangat langka bukan?"


Reinhard mengangguk mengiyakan perkataan Levita. Sungguh, baik dia maupun Levita, mereka sama-sama tidak menyangka akan mendapat anugrah yang begitu besar tepat ketika mereka hendak memeriksakan diri untuk mengikuti program kehamilan. Reinhard bahkan masih merasa kalau ini adalah mimpi. Mimpi di mana dia yang sebentar lagi akan segera menjadi seorang ayah.


Haih, tapi untunglah kau hamil hari ini, sayang. Karena jika tidak, malam nanti kau pasti akan kembali merengek meminta agar aku bisa secepatnya menghamilimu. Kadang jika di pikir-pikir aku sampai tidak bisa mengerti kenapa kau selalu saja memiliki hal yang sama seperti yang dimiliki oleh Elea. Apakah mungkin di masa lalu kalian berdua sebegitu dekatnya sampai-sampai kedekatan kalian terbawa di masa sekarang? Jadi penasaran aku.


"Permisi, Tuan, Nona. Bunga-bunga ini ingin di taruh di sebelah mana?" tanya salah seorang pekerja dekor sembari menunjukkan bunga-bunga aneh yang di pilih oleh pasangan ini.


"Em, letakkan di sana saja. Buat bunga ini seperti taman agar nanti kami para ibu hamil bisa mengambil foto sepuasnya. Jangan lupa tambahkan air mancur ya?" jawab Levita dengan penuh semangat.


"Baiklah. Akan tetapi jika menambahkan hiasan seperti itu akan di kenakan biaya tambahan, Nona."


"Tidak masalah. Turuti saja apa yang di inginkan oleh istriku. Mau sebanyak apapun biayanya nanti pasti akan kami bayar. Cash," sahut Reinhard. Dia lalu mencium pinggiran kepala Levita. "Istriku sedang hamil anak pertama kami. Dan nanti malam kami akan mengundang keluarga dan juga para sahabat untuk membagikan kabar bahagia ini. Jadi tolong kalian turuti semua yang dia inginkan ya? Aku tidak mau bayi kami sampai menangis karena keinginan ibunya tidak terpenuhi."


"Waahhhh, kalau begitu kami akan melakukan yang terbaik, Tuan. Selamat atas kehamilan anda, Nona. Semoga Nona dan bayi Nona selalu sehat sampai hari melahirkan tiba."


Reinhard dan Levita merasa sangat terharu begitu mendengar doa baik yang di ucapkan oleh pekerja dekor ini. Merasa terberkati, Reinhard dengan segera mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompetnya kemudian memberikannya pada pekerja tersebut.

__ADS_1


"Terima kasih sudah mendoakan yang terbaik untuk istri dan calon anakku. Ini ada sedikit rejeki, silahkan di terima dan bagilah dengan teman-temanmu yang lain," ucap Reinhard tulus.


"Terima kasih banyak, Tuan. Kalau begitu saya permisi."


"Iya."


Setelah si pekerja berlalu, Levita langsung melihat ke arah Reinhard. Dia merasa sangat bangga mempunyai suami yang begitu dermawan.


"Kenapa, hm?" tanya Reinhard.


"Anak kita pasti akan sangat bangga mempunyai ayah sepertimu, Rein," jawab Levita.


"Aku pernah mendengar seseorang berkata kalau kita membagi rejeki pada orang yang sudah mendoakan keselamatan istri yang tengah mengandung, maka amal dari yang kita lakukan akan berdampak pada calon bayi yang sedang di kandungnya. Dan barusan aku melakukannya atas nama anak kita. Aku yakin kalau do'a dari pekerja tadi benar-benar sangat mujarab. Dia tulus mendoakan keselamatanmu dan calon anak kita, sayang."


Mata Levita sedikit berkaca-kaca. Hatinya begitu tersentuh setelah mendengar perkataan Reinhard. Dia yang sebagai wanita saja tidak terpikir ke arah sana, tapi Reinhard malah sebaliknya. Dalam hatinya, Levita sangat amat bersyukur memiliki suami seperti laki-laki ini. Dia bangga.


"Itu terserah kau saja, sayang. Buatku yang terpenting kau dan anak kita sehat dan selamat. Sudah, itu saja," jawab Reinhard seraya membelai-belai rambut panjang istrinya.


"Kau ingin anak laki-laki atau perempuan?"


"Apa saja. Yang penting kau dan anak kita sehat."


"Kalau anak kita terlahir b*nci?"


"Hmmm."

__ADS_1


Levita memperlihatkan cengiran khas di bibirnya saat Reinhard hanya berdehem menyikapi perkataannya. Sesaat kemudian Levita terpikir akan Elea. Dan tiba-tiba saja bulu kuduknya berdiri semua.


"Rein, nanti Elea akan melahirkan tiga orang anak sekaligus bukan?" tanya Levita dengan perasaan campur aduk.


"Iya. Bayinya kembar tiga. Kenapa memangnya?" jawab Reinhard.


"Ini gawat, Rein."


Kening Reinhard mengerut.


"Apanya yang gawat?"


"Coba kau pikirkan baik-baik, Rein. Jika anak kita terlahir laki-laki, itu artinya masa depan anak kita akan terancam bahaya besar jika Elea sampai melahirkan anak perempuan. Dia pasti akan memaksa agar anak kita di jodohkan dengan anaknya itu. Tapi jika kita mempunyai anak perempuan, maka batinnya pasti akan sangat tertekan jika di sukai oleh salah satu anaknya Elea. Bagaimana ini. Posisi anak kita benar-benar sangat terjepit sekarang. Ini darurat," jawab Levita resah sendiri. Dia mengenal Elea dengan sangat baik, jadi Levita sudah bisa menebak kalau anaknya nanti pasti akan menjadi tumbal dari salah satu anak Elea. Mengerikan bukan?


"Astaga, sayang. Kau ini bicara apa sih. Bisa saja kan anak kita dan ketiga anak Elea itu berjenis kelamin laki-laki? Jangan resah beginilah. Toh anak-anaknya Elea itu sangat terjamin jelas ukuran bibit, bebet, dan juga bobotnya. Jadi kita tidak akan merugi jika seandainya salah satu anak Elea menikah dengan anak kita. Iya kan?"


"Tapi Rein, kasihan kejiwaan anak kita. Kalau anak yang menyukai anak kita menuruni sikap bodoh dan polosnya Elea bagaimana? Memangnya kau mau setiap hari harus berhadapan dengan menantu yang membuat tensi darah kita naik? Tidak kan?" tanya Levita jengkel.


Reinhard terdiam. Benar juga yang di katakan oleh istrinya. Sekarang saja Elea selalu membuat banyak orang kalang kabut dan hampir mati berdiri. Apa jadinya nanti dengan sikap anak-anaknya yang sudah terkontaminasi dengan kegilaan Gabrielle? Sepertinya Reinhard harus sudah mulai waspada dari sekarang. Masa depan anaknya benar-benar sedang berada di ujung tanduk.


"Sayang, lalu kita harus bagaimana sekarang? Tidak mungkin kan tidak memberitahu Gabrielle dan Elea tentang kabar kehamilanmu ini?" tanya Reinhard mulai resah.


"Apanya yang bagaimana sih, Rein. Kita akan tetap melakukan sesuai rencana awal, hanya cerita ahirnya saja yang sedikit di rubah. Pokoknya aku tidak kau tahu, di masa depan nanti kita tidak boleh berbesan dengan pasangan bucin itu. Tidak mau. Titik!" jawab Levita sambil menghentak-hentakkan kaki ke tanah.


Levita dan Reinhard tidak tahu saja kalau nanti anak mereka akan terjebak oleh pesona seorang gadis mungil yang suka sekali membuat onar di mana-mana. Siapa lagi kalau bukan baby Flow. 😅

__ADS_1


*****


__ADS_2