Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Anabelle


__ADS_3


📢 JANGAN LUPA BOM KOMENTARNYA YA BESTIE 💜💜💜


📢 OH YA BESTIE. AKHIR BULAN INI AKAN DI UMUMKAN SIAPA PEMENANG GIVEAWAY DI NOVEL MY DESTINY ( CLARA & ELAND). JANGAN LUPA RAMAIKAN LAPAK MEREKA JUGA YA 💜


🎗🎗🎗🎗🎗🎗🎗


Di salah satu kantin yang berada dalam lingkungan sekolah elit, terlihat ada tujuh orang siswa yang sedang duduk bersama. Ke tujuh siswa ini duduk mengelilingi meja dengan ekpresi yang berbeda-beda.


"Dengar, siang ini kita harus menjemput Flow di sebuah kedai mie yang tak jauh dari sekolah bututnya itu. Salah satu temannya ada yang berulang tahun," ucap Cio sambil mengedarkan pandangan pada ke enam saudaranya.


"Lalu?"


Bern menyahut dengan begitu santai. Dia abai ketika Cio menatapnya dengan pandangan kaget.


"Lalu kau bilang? Yak, Bern. Kau lupa atau bagaimana hah kalau adikmu itu adalah biang dari segala biangnya masalah. Tahu tidak. Gara-gara adikmu itu, Ibuku sampai mengancam akan mengirimku pergi ke yayasan jika tidak ikut pergi menjemputnya!" omel Cio dengan begitu menggebu-gebu.


"Itu deritamu," sahut Bern sambil tersenyum tipis. "Aku sama sekali tidak masalah jika hanya diminta untuk menjemput Flow saja. Malah aku senang karena dengan begitu Ayah akan memberiku uang saku lebih. Iya kan, Karl?"


Karl yang masih mendendam pada kakaknya hanya diam tak menyahut. Biar saja, siapa suruh kakaknya bersikap acuh ketika dia sedang di intimidasi oleh ayah mereka. Jadi ya sudah, lebih baik dia balas dendam saja sekarang daripada di pendam lalu jadi penyakit. Benar tidak kawan?


"Sepertinya ada yang baru saja bertengkar semalam," ledek Andreas sambil mengaduk minuman di gelasnya. Dia lalu menatap bergantian ke arah Bern dan juga Karl, sepasang kembar indentik yang sama-sama tampan dan juga kaya raya.


Bern acuh, sedangkan Karl dia tampak mengangguk saat merespon ledekan Andreas. Mungkin di antara ke tujuh pria remaja ini, Andreas lah yang paling waras. Sikapnya yang paling mirip manusia jika di bandingkan dengan ke enam saudaranya yang lain. Cio Morigan Stoller, di kenal sebagai playboy cap kapak yang sukanya menebar pesona pada gadis yang lebih tua darinya. Reiden Aldevaro, seorang remaja yang terlihat kalem tapi sebenarnya dialah penjahat yang sebenarnya. Reiden akan menjadi anak manis di hadapan orangtuanya, tapi akan berubah seperti iblis begitu berada di luar rumah. Reiden dan Cio satu seperguruan di mana keduanya suka sekali membuat masalah di jalanan. Oliver Dishi dan Russell Eiji Wang, dua beruang kutub yang hanya tunduk pada Flowrence, si peri mini kesayangan semua orang. Oliver dan Russell mempunyai hubungan yang sedikit kurang baik, entah apa alasannya Andreas tidak tahu. Dan yang terakhir adalah Bern dan Karl, sikembar identik yang sikapnya sangat bersebrangan. Jika Karl adalah remaja nakal yang begitu menggemari hal-hal dewasa, lain halnya dengan Bern yang pendiam dan tidak banyak tingkah. Bern bahkan hampir tak pernah bicara jika tidak ada yang menegurnya lebih dulu. Hidupnya sangat lurus, dan saking lurusnya hingga lupa kalau dia hidup berdampingan dengan manusia lainnya.

__ADS_1


"Sudah, kita jangan membicarakan hal yang tidak penting lagi. Sekarang mari kita bahas tentang apa yang akan kita lakukan saat menjemput Flow nanti!" ucap Reiden menengahi. Kepalanya seperti mau pecah saat sang ibu menelpon dan mengatakan kalau dia harus menjemput Flow dari sekolahnya. Benar-benar uji nyali.


"Kalau kalian sibuk biar aku saja yang menjemput Flow. Lagipula sampai dua minggu ke depan Flow akan tinggal di rumahku, jadi biar sekalian kami pulang bersama saja," ucap Russell.


Sriinngggg


Jakun Russell langsung bergerak-gerak saat di tatap dengan begitu tajam oleh ke enam saudaranya. Setelah itu dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil meringis canggung.


"Sorry,"


"Russell, kau berniat mengirim kami semua pergi ke meja pancung atau bagaimana hah? Bisa-bisanya kau ingin mencari keselamatan sendiri!" tegur Cio tak habis pikir.


"Aku setuju," timpal Oliver.


"Cihh, alasan. Bilang saja kau ingin mendapat hadiah paling besar dari Bibi Elea. Iya 'kan?" tuduh Reiden.


Bern menatap lama ke arah Russell. Dia tidak bodoh. Antara Russell dan Oliver, ada persaingan cinta di sini. Dan itu terlihat sangat jelas di mata Bern setiap kali menyaksikan sikap kedua saudaranya ini yang selalu berbeda pendapat, terlebih lagi jika sudah berhubungan dengan Flowrence. Sebagai seorang kakak, Bern tentu ingin yang terbaik untuk adiknya. Dan dia tidak akan membiarkan persaingan ini berjalan mulus karena di antara Russell dan Oliver, keduanya masih anak bau kencur yang belum mengerti apa-apa. Bern khawatir adiknya akan terluka.


"Kita akan menjemput Flow bersama-sama dengan memakai mobil masing-masing. Nanti dia biar duduk di mobilku saja," ucap Bern.


Kini semua mata ganti beralih menatap galak ke arah Bern. Dan yang di tatap malah bersikap acuh sambil menikmati cemilan di atas meja.


"Aku kakaknya Flow. Mau apa kalian?"


"Ah, benar. Aku lupa kalau Flow adalah adikmu Bern," sahut Cio sambil menggeplak keningnya. "Mau bagaimana lagi. Fisik kalian sangat berbeda jauh. Kau dan Karl seperti batang bambu, sedangkan Flow seperti kurcaci perempuan. Aku kadang berpikir apa saat masih di dalam kandungan kalian telah membully Flow atau bagaimana. Masa iya dia terlahir dengan bentuk seperti itu. Dan setiap kali kita berjalan di belakangnya, aku merasa seperti sedang menggembala boneka hidup seperti yang ada di film-film. Emmm, siapa ya nama boneka itu?"

__ADS_1


"Anabelle," sahut Reiden.


"Ya benar, Anabelle."


Jika tadi yang merasa tak terima adalah Bern, kini giliran Karl yang merasa kesal karena adiknya di sebut sebagai boneka Anabelle. Dia dengan marah mengambil segenggan popcorn lalu melemparkannya ke wajah Cio dan Reiden.


"Hei, apa-apaan kau Karl. Sudah gila ya!" omel Cio sambil memasukkan popcorn ke dalam mulutnya.


"Entah dia ini kenapa. Makanan itu jangan di buang-buang, Karl. Mubadzir," lanjut Reiden mengikuti jejak Cio memakan popcorn yang menempel di wajahnya.


"Mubadzir kepalamu itu, Rei. Kalian sebenarnya tahu tidak apa itu boneka Anabelle?" tanya Karl sambil mendengus marah.


Cio dan Reiden kompak menggeleng. Dan hal itu membuat Oliver dan Russell ikut melemparkan popcorn ke arah mereka.


"Anabelle itu adalah boneka setan bodoh!" ucap Karl tak habis pikir. "Coba jika kalian berani bicaralah seperti itu di hadapan Bibi Levita dan Bibi Kayo. Lalu setelahnya kita lihat akan jadi apa kalian nanti di tangan mereka. Berani-beraninya mengatai adikku seperti boneka setan. Kalian sudah gila ya?"


Tepat setelah Karl selesai memarahi Cio dan Reiden, bel tanda jam istirahat telah habis berbunyi. Segera para siswa yang ada di kantin bergegas kembali ke kelas masing-masing, termasuk juga dengan Bern cs.


"Hari ini aku mempunyai janji makan es krim bersama Flowrence. Jadi dia akan pulang bersamaku," ucap Oliver saat akan masuk ke dalam kelas. Dia dan Russell tidak berada dalam satu ruangan yang sama, tapi kelas mereka bersebelahan.


Russell diam tak menyahut. Dia melenggang masuk tanpa memberikan respon apapun pada Oliver. Dan tanpa di sadari oleh keduanya, sebenarnya Bern tengah mengawasi mereka dari belakang.


Apa ini alasan Ibu membiarkan Paman Jackson mengadopsi Flowrence? Tapi masa iya Ibu bisa melihat masa depan di mana Ibu tahu kalau Russell menyimpan rasa untuk saudarinya sendiri. Haih, lagipula ada-ada saja si Russell. Sudah tahu Ayah dan Bibi Kayo adalah saudara, masih saja dia berharap bisa mendekati Flowrence. Apa matanya tidak bisa melihat kalau di luaran sana ada banyak sekali gadis yang jauh lebih cantik dari Flowrence? Astaga, cinta itu ternyata rumit sekali.


*******

__ADS_1


__ADS_2