Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Rumput Tetangga Lebih Hijau


__ADS_3

Di rumah sakit, saat ini semua orang tengah bersuka cita menyambut kelahiran anak pertama Lusi dengan Gleen. Dan di sudut ruangan kamar rumah sakit ada banyak sekali hadiah yang di dapat dari rekan kerja Gleen dan teman-temannya Lusi. Namun di antara tumpukan kado-kado tersebut, ada satu pemandangan yang cukup aneh. Nania, gadis beracun yang baru saja menyandang gelar sebagai seorang bibi muda nampak sibuk mengintip satu-persatu isi kado yang di peruntukan bagi keponakannya. Jiwa kepo-nya terlalu kuat memaksa hingga membuatnya nekad melakukan hal tersebut di tengah-tengah banyaknya orang yang datang menjenguk kakak dan keponakannya.


"Hei, Nania. Aku perhatikan sejak tadi kau sibuk mengintip isi dari semua kado-kado itu. Apa menariknya?" tanya Elea sambil menusuk pelan puncak kepala Nania. Perutnya besar, jadi dia tidak bisa berjongkok ataupun duduk di sofa yang ukurannya pendek.


"Elea, kau tahu tidak. Semua hadiah yang ada di dalam kado ini ternyata adalah barang-barang yang sangat mahal. Aku mengetahuinya dari mesin pencari, dan beberapa di antaranya di beli dari toko ternama. Ini hebat," jawab Nania dengan begitu heboh.


"Benarkah?"


Elea tersenyum. Mood sekali rasanya jika Elea bertemu dengan gadis cantik satu ini. Dia merasa seperti menemukan belahan jiwanya yang telah lama hilang.


"Kira-kira semua barang mahal itu bisa di uangkan tidak, Nania? Kalau bisa, bagaimana kalau kita curi saja semuanya. Kan lumayan untuk kita bagi dua hasilnya!"


Nania langsung melayangkan tatapan aneh pada Elea setelah mendengar niat buruknya. Sebenarnya tadi Nania juga sempat terfikir untuk mencuri kemudian menjual semua barang-barang mahal ini. Akan tetapi begitu dia sadar kalau kado-kado tersebut adalah untuk keponakannya, Nania langsung insaf. Tapi baru saja dia berdamai dengan hatinya, datanglah Elea yang mengajaknya untuk melakukan hal serupa. Sudah pasti hal ini membuat Nania jadi perang batin. Susah baginya untuk menolak sesuatu yang berbau uang.


"Elea, bukankah menjadi istrinya Tuan Muda Gabrielle kau sudah bergelimang harta ya? Kenapa kau malah mengajakku untuk mencuri dan menjual barang-barang milik keponakanku? Memangnya kau tidak punya uang?" tanya Nania memastikan.


"Punyalah. Suamiku kan orang paling kaya di negara ini, belum lagi dengan orangtua dan mertuaku. Mustahil aku hidup kekurangan," sombong Elea dengan sengaja. Dia ingin melihat seberapa matrealistis seorang Nania.


"Lalu apa maksud ajakanmu tadi?"

__ADS_1


Nania menatap lekat ke arah Elea. Dia sangat penasaran akan alasan wanita hamil ini melancarkan ide sesat.


"Ck, kau ini bagaimana, Nania. Polos sekali. Memangnya kau tidak tahu ya tentang pepatah yang mengatakan kalau rumput tetangga itu jauh lebih baik. Maksud kenapa aku mengajakmu menjual barang-barang milik anaknya Kak Lusi adalah karena aku suka dengan uang yang aku hasilkan dari mengambil milik orang. Sekarang kau paham 'kan?"


Krriiikkk krriiikkk


Begitu Elea selesai bicara, ruangan kamar berubah menjadi sangat hening. Kini semua mata tertuju ke arahnya, terutama Gleen. Pria yang baru saja menyandang gelar sebagai seorang ayah itu menatap tak percaya pada adik ipar dan juga sahabat istrinya yang dengan begitu gamblang membicarakan rencana pencurian barang milik anaknya. Andai kalian yang ada di posisinya Gleen sekarang, apa yang akan kalian lakukan kepada dua orang itu. Membiarkannya, atau malah kalian mengusirnya pergi. Membuat orang frustasi saja.


"Gleen, aku sarankan kau sebaiknya segera menyimpan hadiah-hadiah itu sebelum Elea dan Nania mencurinya. Lihat, gelagat mereka sangat mencurigakan!" ucap Junio mengingatkan.


"Ck, kau pikir aku segila itu sampai harus mengurusi mereka apa. Anak dan istriku jauh lebih membutuhkan aku ketimbang hilangnya kado-kado itu. Biar saja kalau memang benar mereka mau mencurinya, nanti aku tinggal membuat bon lalu meminta ganti rugi pada Gabrielle. Beres 'kan?" jawab Gleen tak mau ambil pusing dengan kelakuan si kembar beda ayah dan beda ibu. Masalah Lusi saja masih belum beres sampai sekarang. Bunuh diri namanya kalau Gleen sampai mengurusi hal-hal seperti begitu.


Oh ya, mungkin di antara kalian ada yang penasaran dengan kondisi Lusi setelah di tinggal melarikan diri oleh Gleen. Saking kesalnya Lusi pada Gleen, di detik-detik terakhir bayinya akan lahir dia mengumpat dengan kalimat yang cukup kasar hingga membuat tim dokter yang menangani persalinannya ternganga syok. Bayangkan. Di saat Lusi sedang bertaruh nyawa untuk melahirkan anaknya Gleen, suaminya itu malah minggat entah kemana ketika diminta untuk tetap berada di sampingnya. Wanita manalah yang tidak kesurupan setan reog jika mempunyai suami sejenis Gleen. Giliran membuat adonannya saja mulut Gleen tak henti-hentinya berkata hal manis. Yang katanya akan menemaninya di ruang bersalinlah, yang katanya tidak akan pernah pergi dari sisinya lah, semua itu bohong. Pada kenyataannya di waktu Lusi melahirkan dia harus rela berjuang sendirian di ruang bersalin. Dan akibat dari mulut besarnya Gleen sekarang Lusi menolak untuk bicara padanya. Dia benar-benar sangat kesal padanya.


"Memangnya seberapa banyak uang yang bisa menantuku dapatkan dari menjual semua barang-barang itu sih?" tanya Liona sambil menatap sinis ke arah Gleen dan Junio yang baru saja menggunjingkan menantu kesayangannya. "Kalian tahu tidak. Hanya dengan satu jentikan jari, Elea bisa membuat kalian berdua menjadi gembel. Dia tidak semiskin itu asal kalian tahu!"


Patricia dan Lusi langsung melayangkan tatapan membunuh kepada suami masing-masing setelah mendengar amukan ibunya Gabrielle. Sungguh, berani sekali kedua laki-laki ini mencari masalah dengan menyinggung wanita mengerikan ini. Sudah tahu kalau Elea adalah menantu emasnya, mereka malah menggunjing ketika yang bersangkutan ada di ruangan ini. Sudah pasti ibunya Gabrielle merasa tak terima Elea di tuduh hendak mencuri kado-kado untuk si baby.


Gleen, kau ini kenapa suka sekali membuat masalah sih. Jika di bandingkan dengan kemarahan Bibi Liona, aku lebih memilih membiarkan barang-barang itu di jual oleh Elea dan Nania. Apa kau tidak ingat kalau Elea adalah satu-satunya pewaris dari ratu mode yang kekayaannya meleleh di mana-mana? Belum lagi dengan keluarga Ma dan keluarga Young. Nyawa kita dan anak kita bahkan bisa di beli cash oleh mereka. Tapi kenapa kau malah memantik api begini? Astaga!

__ADS_1


"Bibi Liona, bawa saja Gleen dan Junio ke kandangnya Tora. Sedari Tora datang sepertinya dia belum pernah berolahraga dengan mereka!" ucap Levi memanaskan keadaan. Dia tadi sudah mau mengomel, tapi Bibi Liona sudah lebih dulu membuka suara. Alhasil sekarang dia menjadi kompor meleduk saja supaya Gleen dan Junio jera.


"Ck, Levi. Kau jangan asal menguap saja ya. Aku dan Junio tidak bermaksud buruk tadi. Kami ... kami hanya kaget saja mendengar rencana Elea dan Nania. Makanya Junio sampai terpikir memintaku untuk mengambil hadiah-hadiah itu dari tangan mereka. Begitu!" sahut Gleen berusaha menjelaskan tanpa mengumpankan Junio. Bulu kuduknya berdiri semua mendengar kata-kata ibunya Gabrielle. Sangat mengerikan.


"Halah, alasan saja kau. Selama ini kan kau dan Junio memang tak pernah suka pada Elea. Iya 'kan?"


Gleen menyikut lengan Junio yang hanya diam tanpa berani membalas perkataan Levi. Dia kesal karena sahabatnya ini terkesan cuci tangan dari masalah yang ada. Padahal jelas-jelas Junio lah yang memulai provokasi ini, sekarang dia malah pura-pura amnesia. Sungguh sialan.


Di saat Gleen dan Junio sedang panik menghadapi kemarahan ibunya Gabrielle, di sisi lain Elea dan Nania sedang sibuk dengan pembicaraan mereka. Topik yang mereka bahas bukan lagi tentang kado, melainkan tentang jenis kelamin anak-anaknya Elea.


"Apa kau sudah tahu jenis kelamin ketiga anakmu, Elea?" tanya Nania penasaran.


"Sudah. Satu telur dan dua belut. Hebat 'kan?" jawab Elea dengan bangganya.


"Wooaahhhhh, keren sekali. Kenapa Tuhan bisa terpikir untuk membuat kombinasi bayi seperti anak-anakmu itu ya? Apa sebelumnya kau ada membuat permintaan khusus pada Tuhan?"


"Kalau itu sudah pasti ada, Nania. Kak Iel juga rutin menciptakan gaya baru setiap kami membuat adonan. Nanti kalau kau sudah menikah, minta suamimu untuk berguru pada Kak Iel. Di jamin tokcer!"


Mata Nania langsung berbinar terang mendengar tawaran baik dari Elea. Pikirannya mulai melayang-layang membayangkan seperti apa rupa suaminya nanti.

__ADS_1


Kak Jovan lumayan tampan dan dia adalah calon CEO nantinya. Apa aku nikahi dia saja ya supaya aku tidak perlu susah payah lagi memikirkan biaya hidup? Kan seru kalau aku mempunyai suami seorang bos. Kak Gleen adalah pembisnis, sementara Kak Fedo ... dia adalah kerabat Tuan Muda Gabrielle yang kekayaannya tidak perlu di ragukan lagi. Hidupku pasti akan sangat bahagia sekali nantinya. Hahahaha.


*****


__ADS_2