
📢 JANGAN LUPA BOM KOMENTARNYA DI NOVEL My Destiny (Clara & Eland) 💜
Oliver dan Flow hanya bisa menggeliat sambil menjulurkan lidah mereka ketika ada dua manusia dewasa tengah menatap mereka dari atas. Mata bening mereka seolah menyiratkan agar kedua orang dewasa ini berhenti melakukan hal tersebut karena itu sangatlah mengganggu dan merusak pemandangan. Sedangkan si dua orang dewasa, keduanya sama sekali tidak peka akan apa yang dirasakan oleh kedua bayi tersebut. Mereka terus menatap bergantian sambil sesekali berdecak pelan.
"Elea, ini sudah hampir satu bulan sejak Flow dilahirkan. Tapi kenapa ukuran tubuhnya tidak mengalami perubahan? Apa jangan-jangan anakmu mengalami kelainan ya?" tanya Levita penuh keheranan.
"Kalaupun Flow memang ada kelainan, dia akan tetap menjadi istrinya Oliver. Jadi kau jangan khawatir, Kak," jawab Elea lain dari apa yang di tanyakan oleh Levita.
Sial. Harusnya aku tidak menanyakan hal seperti ini pada Elea. Huhh, sungguh sangat simalakama sekali Ibumu ini, Nak. Tolong kau jangan marah pada Ibu ya jika saat dewasa nanti kau mengetahui kalau Ibu telah menerima dp yang di berikan oleh calon ibu mertuamu. Sungguh, Ibu sedang khilaf saat menerimanya.
Elea menoleh ke samping saat mendengar Levita menggerutu tidak jelas. Setelah itu dia tersenyum samar, maklum akan apa yang tengah di khawatirkan oleh pelakor ini. Memang benar kalau Florence mengalami sedikit kendala dalam masa pertumbuhannya. Jika Bern dan Karl menggemuk dan memanjang dengan sangat cepat, lain halnya dengan yang terjadi pada baby Flow. Peri mini ini sepertinya akan tumbuh menjadi seorang gadis yang pemalas karena tak mengalami perubahan apa-apa. Flow seakan tak peduli kalau saat ini dia terlihat seperti boneka barbie ketika di sejajarkan dengan Oliver. Sungguh kasihan, tapi ini adalah baby Flow.
"Kalau Oliver besar nanti apa dia tidak akan syok ya mempunyai calon istri sekecil Flow? Masih bayi saja mereka sudah terlihat aneh, apalagi setelah mereka besar. Aku yakin orang-orang pasti akan mengejek Flow habis-habisan. Benar tidak?" ucap Levita mulai mengkhawatirkan nasibnya Flow.
"Kau tenang saja, Kak Levi. Nantinya Flow itu akan di jaga oleh tujuh pangeran yang tampan dan kaya raya. Memang benar sih kalau ukuran tubuhnya yang sedikit kerdil akan mengundang para manusia lain untuk membully-nya. Akan tetapi jika hal tersebut sampai dilihat oleh ke tujuh saudaranya mereka tidak akan mungkin diam saja 'kan?Terlebih lagi Oliver," sahut Elea dengan begitu santai. Flowrence adalah putrinya, tidak akan mungkin ada orang lain yang bisa melakukan bully padanya karena nanti Elea akan memberikan les khusus pada putrinya ini. Dia ibu yang sangat kreatif bukan?
"Hei, bisa tidak kau jangan selalu melibatkan Oliver dalam urusan Flow. Kasihan, nanti Oliver merasa tertekan!" protes Levi sambil menatap kesal pada Elea.
"Bagaimana mungkin Oliver tidak dilibatkan, Kak Levita. Dia itu sudah menjadi jodohnya Flow sejak Oliver masih berbentuk embrio. Jadi sudah sewajarnya Oliver ada di semua permasalahan yang di buat oleh Flow. Kau ini bagaimana sih, Kak. Tidak professional sekali sebagai calon ibu mertua!"
Levita tergelak syok saat Elea menyebutnya sebagai calon ibu mertua yang tidak professional. Sungguh, hanya makhluk kecil ini saja yang mampu mengeluarkan kosa-kata aneh seperti ini. Benar-benar tidak ada lawan.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian datanglah nani bersama dengan baby Karl di gendongannya dan baby Bern di gendongan neneknya. Kedua bayi tampan tersebut baru saja selesai melakukan spa setelah mengantre cukup lama akibat baby Flow yang menangis kencang gara-gara tidak mau berhenti di pijat. Bayangkan, masih bayi saja si peri mini sudah berani membuat ulah dengan membully kedua kakaknya. Lalu apa jadinya nanti ketika baby Flow sudah remaja? Sepertinya seorang Flowrence Wufien Ma akan tumbuh menjadi seorang pembully besar. Benar tidak?
"Elea, apa Flow tidur?" tanya Liona.
"Tidak, Ibu. Malah matanya Flow membulat besar seperti jengkol saat di sandingkan dengan Oliver. Sepertinya dia tahu kalau Oliver adalah belahan hatinya," jawab Elea berkelakar.
"Kau ini. Mereka masih bayi, tidak baik mengatakan yang tidak-tidak," tegur Liona sambil tersenyum. Dia kemudian mengangkat Bern lalu mencium pipi gembulnya. "Lihat, Elea. Bern sangat mandiri, dia sama sekali tidak menangis saat tubuhnya dipijit oleh mereka. Ibu bangga sekali padanya!"
"Woaahh, benarkah?"
"Tentu saja,"
"Lalu Karl? Apa dia membuat kegaduhan?"
Nani yang menggendong Karl langsung mendekat ke arah Elea kemudian menganggukkan kepala. Dengan sopan dia menjelaskan alasan mengapa majikan kecilnya ini bisa menangis ketika sedang dipijat.
"Haih, Karl-Karl. Dipijit adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Adikmu saja sampai tertidur lelap karena keenakan mendapat servis di badan. Kenapa kau malah menangis. Aneh," sahut Elea sambil mencubiti pelan pipinya Karl yang sedang diam sambil menatapnya.
"Kalau begitu lakukan spa tiap hari saja supaya Karl terbiasa, Elea," celetuk Levi dengan mata berbinar terang.
Liona langsung berdehem begitu mendengar celetukan Levita. Sudah, niatnya sudah begitu jelas terlihat kalau pelakor ini sedang berniat mengambil keuntungan untuk bayinya. Ingin marah, tapi yang baru saja bicara adalah pelakor kesayangan menantunya. Jadi Liona sama sekali tidak bisa berkutik sekarang. Dia hanya bisa menggelengkan kepala ketika Levita terus memperlihatkan senyum aneh pada Elea.
"Kak, aku tahu sebenarnya kau menyimpan tujuan tersendiri dengan memintaku agar mendatangkan tukang spa ke rumah setiap hari. Iya 'kan?" tuduh Elea tanggap akan keinginan sang pelakor.
__ADS_1
"Hehehe, tahu saja kau, Elea. Kan lumayan mengirit uang belanjaku kalau Oliver melakukan spa gratis di sini. Memangnya kenapa? Kau keberatan kalau calon menantumu ikut menikmati spa seperti calon istrinya?" tanya Levita.
"Ya tidaklah," jawab Elea. "Ya sudah, nanti aku akan berbicara dengan mereka. Boleh kan, Bu? Nanti Ibu tinggal transfer saja pada mereka sebagai pembayaran awal untuk kebutuhan spa para bayi. Oke?"
"Ya ya ya, terserah kalian baiknya bagaimana. Kalau perlu nanti Ibu akan mempekerjakan mereka sebagai spa khusus yang akan menangani cucu-cucu Ibu," sahut Liona pasrah. Sudah Liona duga kalau dia pasti akan ikut terkena getahnya.
"Jangan lupa dengan Oliver juga, Bibi," ucap Levita sambil tersenyum lebar pada ibunya Gabrielle.
"Baiklah,"
Levi dan Elea langsung melakukan high five setelahnya. Baby Bern dan baby Karl yang melihat hal itupun tanpa sengaja tersenyum tipis seperti triplek.
"Oh ya, Elea. Tumben sekali Gabrielle berangkat ke kantor. Ini kan hari pertama anak-anak melakukan spa, kenapa dia tidak mengawasinya? Biasanya kan Gabrielle overprotective, kenapa hari ini dia malah pergi?" tanya Levita penasaran.
"Keuangan kami mulai menipis, Kak Levi. Jadi mau tidak mau Kak Iel harus kembali bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami berempat," jawab Elea dengan tampang memelas.
Ya Tuhan, kenapa aku bisa mempunyai menantu seperti Elea?
Liona menghela nafas. Padahal ....
"Permisi, Nyonya Elea. Tuan Muda mengirimkan berkas yang harus segera anda tangani karena sekarang masing-masing dari Tuan dan Nona Muda telah mempunyai pabrik diapers sendiri!" lapor seorang penjaga sambil membawa berkas di tangannya.
"Oh, cepat sekali. Ya sudah, kalau begitu tolong letakkan berkas itu di ruang kerjanya Kak Iel ya. Akan aku berikan lagi padamu setelah di tanda tangani," sahut Elea kegirangan. Dia seakan lupa kalau baru saja memberitahu sang pelakor tentang keuangan keluarganya yang mulai menipis.
__ADS_1
Levita langsung cengo begitu mendengar kalau Gabrielle baru saja memborong tiga pabrik diapers untuk ketiga anak-anaknya. Ini gila, benar-benar sangat gila. Baru saja Elea mengatakan kalau sedang kekurangan uang, lalu ini apa? Oh my God, Levi tak tahu lagi harus menyebut Elea apa.
*****