
Sesampainya di perusahaan, Ares dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Tuan Muda-nya. Dia kemudian melirik ke arah para penjaga dan dua sekretarisnya yang sedang berdiri sambil menundukkan kepala di dekat pintu masuk.
"Selamat pagi, Tuan Muda."
"Selamat pagi," sahut Gabrielle sembari merapihkan jas yang dia pakai.
Semua orang langsung mengikuti langkah Gabrielle yang sedang berjalan masuk ke dalam perusahaan. Para karyawan yang melihat kedatangan bos besar mereka pun segera menundukkan kepala seraya memberikan sapaan hormat. Rahang semua orang yang ada di sana langsung terbuka lebar hingga hampir menyentuh lantai saat sapaan mereka di balas dengan senyuman manis yang jarang sekali mereka lihat di bibir si pewaris Group Ma. Ini adalah suatu keajaiban yang sangat jarang terjadi. Di tambah lagi sekarang wajah bos mereka terlihat begitu berseri-seri, membuat semua orang menjadi sangat penasaran pada gerangan apa yang terjadi.
"Hei, kira-kira angin apa ya yang sudah membuat bos tampan kita tersenyum seperti tadi? Aaaa, aku kan jadi iri pada Nyonya Elea. Sungguh, tadi Tuan Muda terlihat sangat tampan saat tersenyum. Hatiku sampai meleleh di buatnya."
"Iya, kau benar. Haih, sayang aku laki-laki. Jika aku wanita, aku pasti akan mengejar cinta Tuan Muda sampai ke lubang semut sekalipun. Dia benar-benar sangat tampan hari ini. Aku yakin sesuatu yang baik telah terjadi sebelum Tuan Muda datang kemari. Benar tidak?
"Benar, aku setuju dengan perkataanmu. Pasti ada sesuatu yang terjadi yang mana membuat wajah Tuan Muda kita jadi berseri-seri. Auh, semoga saja hari ini kita semua kejatuhan durian runtuh ya. Kan biasanya jika suasana hati Tuan Muda sedang senang beliau suka memberikan bonus tambahan untuk para karyawannya. ihh, aku jadi tidak sabar."
Ares hanya bisa menghela nafas dalam-dalam saat mendengar gunjingan para karyawan yang ada di sana. Tapi memang benar sih kalau Tuan Muda-nya suka sekali memberikan hadiah jika suasananya hatinya sedang bagus. Dan hari ini wajah Tuan Muda-nya sedang sangat cerah karena sejak di mobil tadi majikannya ini tidak berhenti tersenyum.
Saat sampai di depan lift, Ares dengan sigap menekan tombol agar pintunya terbuka. Setelah itu dia menyusul masuk kemudian berdiri tepat di belakang pria yang masih betah senyum-senyum sendiri.
"Res, apa wanita itu sudah datang?" tanya Gabrielle bertepatan dengan pintu lift yang terbuka. Dia kemudian melangkah keluar.
"Belum, Tuan Muda. Janji temunya akan berlangsung lima belas menit lagi. Mungkin sekarang Nona Altez sudah hampir sampai di perusahaan," jawab Ares sembari melihat jam yang melingkar di tangannya. Dia berharap Nona Altez datang tepat waktu agar tidak menimbulkan masalah.
"Nanti tolong kau siapkan makan siang kesukaanku dan Elea ya. Aku ingin mempertemukan wanita itu dengan pawangku."
Gabrielle menyeringai lebar saat membayangkan betapa serunya pertemuan antara Elea dengan Altez. Gabrielle sudah cukup lama tidak melihat keposesifan Elea, jadi dia memutuskan untuk sedikit bermain hari ini. Sekaligus meminta Elea mengusir ulat bulu tersebut agar tidak terus-terusan mencari celah untuk mendekatinya. Sebenarnya Gabrielle bisa saja menyingkirkan Altez dengan mudah. Akan tetapi akan lebih berkesan jika Elea yang turun tangan langsung. Ya anggap saja Gabrielle memberikan cobaan kecil-kecilan untuk rumah tangganya sendiri. Lucu kan?
"Tuan Muda, apa tidak apa-apa membiarkan Nona Altez tahu siapa Nyonya Elea?" tanya Ares.
__ADS_1
"Kenapa memangnya?" sahut Gabrielle balik bertanya. Dia kemudian duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya sambil melayangkan tatapan penuh tanda tanya ke arah Ares.
"Nona Altez tidak tahu kalau Nyonya Elea adalah istri anda. Saya hanya khawatir kalau kabar pernikahan anda berdua akan terpublikasikan ke media sebelum waktu untuk mengungkap tiba."
Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Gabrielle saat dia mendengar jawaban Ares. Sedikit masuk akal, tapi Gabrielle tidak peduli. Toh sebentar lagi pernikahannya dengan Elea akan segera di ketahui juga oleh semua orang yang tinggal di negara ini.
"Aku paham akan apa yang kau khawatirkan, Res. Memang benar kalau wanita itu tidak tahu jika Elea adalah istriku. Tapi semua orang di negara ini tahu kalau Elea adalah cucu dari Nyonya Clarissa Wu dan juga anak dari Bryan Young. Nanti aku tinggal menyebutkan saja kalau kami adalah pasangan kekasih jika wanita itu mulai penasaran tentang hubungan kami berdua. Beres kan?"
Ares mengangguk. Dia kemudian menoleh ke arah pintu saat ada yang mengetuk dari luar.
"Ada apa?" tanya Ares setelah sekretarisnya masuk ke dalam ruangan.
"Tuan Ares, Nona Altez sudah datang dan beliau sedang menunggu untuk di persilahkan masuk kemari."
"Kalau begitu kau antarkan dia ke sini. Bilang padanya kalau Tuan Muda sudah menunggu."
Gabrielle mengetuk-ngetuk kaca meja dengan ujung kukunya setelah bawahannya pergi untuk menjemput Nona Altez di luar.
"Ada apa, Tuan Muda?" tanya Ares sambil terus memperhatikan gelagat tidak mengenakan di wajah Tuan Muda-nya.
"Rasanya aku seperti akan sesak nafas saat terbayang dengan aroma parfum yang di pakai wanita itu kemarin, Res. Aku rasa sebelum pergi ke restoran dia berendam dengan air parfum agar seluruh tubuhnya bau harum. Haih, ya kali ingin memikatku dengan aroma parfum murahan seperti itu. Mau dia t*lanjang sekalipun aku tidak akan bern*fsu jika dia bukan Elea. Rakus sekali!" jawab Gabrielle sambil bergidik geli. Dia merasa mual saat tidak sengaja mencium aroma wangi yang sangat tajam, bersamaan dengan suara ketukan pintu. "Nah Res, wanita beraroma bunga bangkai itu datang. Bersiaplah untuk sesak nafas."
Dan benar saja. Begitu Altez masuk ke dalam ruangan, Gabrielle dan Ares sama-sama menahan nafas saat aroma bunga bangkai tersebut menusuk ke indra penciuman mereka.
"Selamat pagi Tuan Muda. Selamat pagi, Tuan Ares," sapa Altez ramah seraya menebar senyum manis sejuta watt. Dia sempat bleng untuk beberapa detik ketika menyaksikan betapa tampan nan rupawannya diri pria yang kini tengah duduk di sofa.
Oh My God, Gabrielle benar-benar sangat tampan. Dia seperti Dewa Yunani yang di kirim Tuhan untuk menjadi pasanganku. Aaaa ... apapun yang terjadi nanti aku harus bisa menjadi Nyonya Ma. Aku harus menjadi istrinya Gabrielle. Harus.
__ADS_1
"Selamat pagi kembali, Nona Altez. Silahkan duduk!" sahut Ares sopan.
"Terima kasih."
Jika saja yang memuji adalah Elea, Gabrielle pasti akan langsung terbang ke awang-awang. Tapi ini? Wanita yang baru saja memujinya di dalam hati adalah sekuntum bunga bangkai yang membuatnya sesak nafas. Kalau saja Gabrielle tidak memiliki niat terselubung, dia pasti sudah meminta Ares untuk menghilangkan aroma menjijikkan ini dari ruangannya. Jadi biarlah. Demi agar dirinya bisa melihat keposesifan Elea, Gabrielle rela sesak nafas untuk beberapa jam ke depan. Dia suami yang sangat teladan bukan?
"Untuk mempersingkat waktu bagaimana kalau kita langsung membahas pekerjaan saja, Nona Altez? Kebetulan siang ini aku ingin mengajakmu untuk makan siang bersama sebagai bentuk ucapan permintaan maaf atas kejadian kemarin. Bagaimana, apa kau bersedia?" tanya Gabrielle tanpa basa basi. Dia malas berlama-lama dengan ulat bulu ini.
"Dengan senang hati aku bersedia menerima undangan darimu, Tuan Muda," jawab Altez dengan tatapan berbinar. Dia kemudian teringat dengan orang yang menjadi penyebab kejadian waktu itu. "Oh ya, Tuan Muda. Bagaimana keadaan Elea sekarang? Apa dia baik-baik saja?"
Gabrielle mengangguk. Dia tersenyum, tapi senyum yang penuh maksud. Kalian pasti tahukan apa yang terjadi malam itu setelah Gabrielle pergi meninggalkan Altez di pertemuan pertama mereka? π
"Syukurlah kalau begitu, aku ikut lega mendengarnya. Ya sudah, mari kita lanjut ke topik utamanya."
Setelah itu Gabrielle dan Altez larut dalam pembahasan kerja sama mereka. Sementara Ares, dia diam menyimak sembari mengirim pesan pada sekretarisnya untuk menyiapkan menu apa saja yang akan di hidangkan saat makan siang nanti.
Nona Altez, aku doakan jantungmu baik-baik saja setelah bertemu dengan Nyonya Elea. Semoga kau tidak mati cepat. Amin.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...
__ADS_1