
Setelah selesai bersiap, Elea bergegas keluar dari dalam kamarnya. Dia sedikit heran karena sejak membuka mata dia tidak mendapati keberadaan suaminya yang tampan itu. Padahal biasanya dia akan selalu di sambut dengan senyum manis dan juga kecupan mesra di bibirnya. Mungkin hari ini ada sedikit pengecualian.
"Selamat pagi, Nyonya Elea!" sapa para pelayan yang telah menunggu di luar kamar.
"Selamat pagi juga, Kak. Oh iya, Kak Iel hilang kemana ya? Tumben sekali pagi-pagi begini dia sudah tidak ada di kamar. Apa dia sudah berangkat ke kantor?" tanya Elea seusai membalas sapaan para pelayan.
"Tuan Muda ada di halaman depan, Nyonya. Beliau tengah berbincang dengan Nona Levita dan Tuan Jackson."
Senyum usil langsung muncul di bibir Elea begitu dia tahu kalau kakaknya dan juga Levi ada di halaman depan. Dia sudah bisa memastikan kalau di sana pasti sedang terjadi gencatan senjata.
Hehe, mari kita lihat kubu mana yang akan memenangkan peperangan ini. Kak Jackson dan Kak Levi pasti akan saling serang memperebutkan kesempatan untuk mengantarkan aku pergi ke kampus. Ahh, pagi ini terasa sangat menyenangkan, batin Elea.
Dan benar saja, begitu Elea keluar terlihat suaminya yang tengah berdiri di antara Levi dan Kak Jackson. Elea yakin sekali kalau suaminya itu sedang mencoba melerai pertengkaran yang terjadi. Tak mau melewatkan kesempatan lucu ini, Elea pun bergegas datang menghampiri. Dia berjingkat-jingkat kemudian bersembunyi di belakang mobil untuk menguping perdebatan macam apa yang sedang berlangsung antara ketiga orang ini.
"Pokoknya aku tidak mau tahu hari ini akulah yang akan pergi mengantarkan Elea ke kampus!" kekeh Levi sambil berkacak pinggang.
"Enak saja. Bibi Liona sudah menyerahkan tugas ini padaku sejak awal, jadi kau jangan coba-coba cari masalah denganku!" amuk Jackson tak terima.
"Hei kalian berdua ini kenapa hah! Pagi-pagi sudah membuat keributan di rumah orang!" tegur Gabrielle sambil menatap tajam ke arah Levi dan Jackson yang saling bersitegang.
"Shut-up!" teriak Levi dan Jackson berbarengan.
"Brengsek!" umpat Gabrielle dongkol.
Ares dan Nun yang melihat keributan tersebut hanya bisa diam mendengarkan. Jika biasanya yang bertengkar dengan Levi adalah Tuan Muda mereka, kini posisinya di gantikan oleh dokter Jackson. Entah apa yang salah dengan ketiga orang ini sampai-sampai harus meributkan satu anak manusia yang masih belum muncul batang hidungnya.
Elea yang masih mengintip dari belakang mobil langsung menoleh ke arah samping ketika mendengar suara ringkikan kuda. Dia baru tersadar kalau sejak tadi Cuwee menjadi saksi mata atas gencatan senjata yang sedang terjadi.
"Selamat pagi Cuwee. Kau cantik sekali hari ini!" pekik Elea yang lupa kalau sekarang dirinya tengah bersembunyi.
Dari lubang hidung dan telinga Levi seakan keluar asap tebal saat dia melihat Elea yang sedang memeluk mesra saingannya. Sia-sia sudah dia berdandan dengan begini cantik kalau pada akhirnya si Cuwee lah yang memenangkan taruhan. Sambil bersungut-sungut, Levi memutuskan untuk menghampiri Elea kemudian menabok bokong Cuwee. Dia sungguh jengkel dengan binatang ini.
"Kak Levi, kenapa kau memukul bokongnya Cuwee? Bagaimana kalau dia merajuk!" tegur Elea.
__ADS_1
"Bagus kali kalau dia merajuk. Jika perlu aku akan membuatnya pergi dari rumahmu ini, Elea," sahut Levi cetus. "Cihh, apa bagusnya sih binatang ini. Aku yakin kotorannya pasti sangat bau!"
"Apa Kakak pikir kotoran yang Kakak keluarkan juga tidak bau, hm?"
"Siapa yang berani bilang kalau kotoranku itu bau hah! Kau belum tahu saja kalau aromanya itu seperti aroma parfum merk Cior. Kau jangan mengada-ada ya!"
Bulu kuduk Gabrielle dan Jackson langsung berdiri saat kedua wanita ini membahas sesuatu yang tidak penting. Hanya gara-gara Cuwee, Levi dan Elea berdebat sampai sejauh ini. Benar-benar pertemanan yang sangat aneh.
"Wajar saja kalau aromanya seperti wangi parfum Cior. Kan aku yang membelikannya untuk Kakak. Iya kan?"
Skak matt. Levi langsung mati kutu begitu Elea selesai bicara. Dia tidak bisa berkutik lagi karena memang benar Elea-lah yang telah membelikan parfum untuknya. Gabrielle dan Jackson yang melihat Levi tidak bisa berkata-kata lagi nampak saling menahan tawa. Itu akibatnya jika berani menantang si mulut beracun. Jadi termakan bisa ularnya kan? π
"Oh ya, kenapa Kakak pagi-pagi begini sudah datang kemari? Mau meminta apalagi dariku?" tanya Elea dengan tampang yang sangat polos.
"Ekhm, bisa tidak kau menghilangkan kata mau meminta apalagi dariku? Kata-kata itu terdengar ambigu di telingaku!" protes Levi jengkel. "Aku datang kemari karena ingin mengantarkanmu pergi ke kampus, Elea. Yang benar saja kau menuduhku ingin mengemis barang darimu. Huh, membuat orang kesal saja!"
"Oh,"
Mata Levi langsung melotot lebar. Dia tidak percaya kalau respon Elea hanya oh saja ketika dia melakukan protes.
Melihat amarah Levi yang begitu memuncak, Elea dengan manja bergelayut di tangannya. Dia menatap si pelakor sambil mengedip-ngedipkan mata.
"Kenapa kau? Cacingan?" tanya Levi dengan nada suara yang melunak. Emosinya luntur seketika begitu melihat sikap Elea yang sangat menggemaskan.
Baru saja Elea hendak menjawab, mobil Gleen dan Lusi bergerak memasuki halaman rumah. Elea lalu melambaikan tangan ke arah Lusi yang juga tengah melambaikan tangan ke arahnya.
"Hai Elea, Nona Levi!?" sapa Lusi setelah turun dari mobil. "Hai Kak Gabrielle, Kak Jackson!"
Bola mata Levi dan Gleen hampir melompat keluar saat mereka mendengar Lusi yang memanggil Jackson dengan sebutan kakak. Sungguh, rasa cemburu di benak mereka langsung mencuat hebat.
"Sweety, sejak kapan kau memanggilnya kakak?" tanya Gleen dengan raut muka yang sangat masam.
"Sejak hari pertama aku kuliah, Gleen. Kenapa memangnya?" jawab Lusi jujur.
__ADS_1
Gleen berdecak. Dia lalu melirik tajam ke arah Jackson yang hanya berdiri diam tanpa ekpresi.
Dasar dokter genit. Awas saja kau kalau berani mengganggu istriku, batin Gleen.
"Lusi, kalau begitu kau juga harus memanggilku kakak ya biar adil. Iya kan, Elea?" timpal Levi tak ingin ketinggalan.
Elea mengangguk. Dia kemudian mendekati Gabrielle lalu masuk ke dalam pelukannya. Hatinya sangat gembira karena dia di kelilingi oleh orang-orang yang baik.
"Kenapa, hm?" tanya Gabrielle pelan.
"Aku senang,"
"Lalu?"
"Terima kasih. Aku mencintaimu, Kak Iel," jawab Elea penuh bangga.
Jackson tersenyum melihat keromantisan Gabrielle dan adiknya. Dia lalu menoleh ke arah Levi yang tengah menggerutu dengan suara yang tidak jelas.
"Em Elea, apa benar kemarin ada yang membully kalian di kampus?" tanya Gleen memastikan.
"Apa?? Elea dan Lusi di bully? Waaahh, beraninya mereka membully anak-anak ini. Belum tahu siapa pawangnya!" teriak Levi sambil berkacak pinggang.
Semua orang tergelak saat mendengar ucapan Levi. Namun sedetik kemudian mereka di buat muntah darah setelah Elea mengeluarkan bisanya, kecuali Gabrielle, Nun, dan Ares tentunya.
"Kalian tenang saja, mereka tidak akan berani lagi membully kami berdua karena aku mengaku suka jeruk makan jeruk. Banyak dari mereka beranggapan kalau aku dan Kak Lusi adalah pasangan kekasih. Iya kan Kak?"
Sambil meringis menahan malu Lusi menganggukkan kepala. Kali ini jurus Elea memang sangat mematikan karena dia tidak segan-segan menghancurkan nama baiknya sendiri untuk menghindari para lalat senior yang ingin mendekati mereka. Sebenarnya ini adalah ide yang tepat. Hanya saja Lusi sedikit tertekan karena dia dan Elea akan di cap sebagai pasangan sesama jenis. Tapi ya sudahlah, tidak ada gunanya juga membantah ucapan si nyonya kecil ini. Karena jika kita melawan, yang ada nanti Elea akan mengatakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan lagi. Elea meresahkan ya bun? ππππ’
πππππππππππππππππ
...πJangab lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...