
Setelah Gabrielle menerima panggilan dari Elea, dia sudah tidak fokus lagi dalam bekerja. Gabrielle benar-benar tidak habis pikir dengan cara kerja Nun dan para pelayan di rumahnya. Bisa-bisanya mereka semua membiarkan Elea kelaparan hingga malam begini. Membuatnya kesal saja.
"Tuan Muda, Nona Altez sedang bertanya pada anda," bisik Ares di samping telinga Tuan Muda-nya. Dia sudah menebak kalau pekerjaan mereka tidak akan berakhir mulus setelah banteng pencemburu ini menerima panggilan dari sang nyonya. Di tambah lagi Nun dan para pelayan di rumah membuat masalah. Semakin lah pria ini menjadi kacau dan tidak fokus.
"Otakku mati rasa, Res. Aku tidak bisa memikirkan apapun selain Elea," sahut Gabrielle ikut berbisik.
"Hanya tinggal sedikit lagi, Tuan Muda. Bersabarlah, saya yakin Nun pasti memiliki alasan sendiri kenapa sampai membiarkan Nyonya Elea kelaparan. Jangan lupakan juga dengan sikap Nyonya Elea yang kadang suka menjahili anda. Bisa jadi beliau sengaja bicara seperti itu karena sedang ingin bermanja-manja pada anda. Benar tidak?" ucap Ares berusaha untuk menenangkan kegundahan banteng pencemburu ini.
Gabrielle langsung memicingkan mata ke arah Ares. Dia cemburu karena Ares bisa mengerti sikap jahil istrinya dengan begitu baik.
"Jadi selama ini kau diam-diam memperhatikan Elea ya?" tanya Gabrielle sambil melayangkan tatapan tajam. Dia bahkan tidak peduli saat tamunya mendengar apa yang dia katakan.
Mampus, kau salah lagi, Ares. Bodoh, kenapa juga aku harus bicara seperti itu tadi? Arrgghh Cira, tolong aku.
"Em maaf Tuan Muda Gabrielle, siapa Elea? Dan kenapa kau terlihat begitu khawatir setelah menerima telepon. Apakah terjadi
sesuatu di keluargamu?" tanya Altez, wanita cantik yang begitu mengagumi pesona dari pewaris Group Ma.
Altez sengaja datang ke Negara N hanya demi mengajukan kerjasama dengan Group Ma. Selain untuk memajukan perusahaan miliknya, dia juga tengah mengincar posisi sebagai Nyonya Ma dimana sampai saat ini belum ada yang menempati. Besar harapan keluarga Altez kalau dirinya bisa menjadi menantu untuk pasangan Nyonya Liona Serra dan Tuan Greg Ma. Karena jika dirinya berhasil masuk ke keluarga tersebut, maka di pastikan kalau nama keluarga besarnya akan langsung naik ke titik tertinggi di bawah nama besar keluarga Ma. Sungguh suatu tangkapan ikan yang sangat bagus bukan?
Oh, jadi ini tujuanmu mengajak bekerja sama? Cihh, sampah. Ingin menggeser posisi Elea? Tidak bisa, Altez. Kau terlalu tinggi dalam bermimpi karena tidak ada satupun wanita yang mampu menandingi pesona kesayanganku. Ah, tapi sepertinya ini akan jadi menarik jika aku menggunakan kehadiran Altez untuk memancing kecemburuan Elea. Apa aku kerjai mereka saja ya? Sekalian aku ingin melihat bagaimana cara Elea menghalau pelakor sungguhan ini. Pasti akan sangat seru.
__ADS_1
Seulas senyum licik muncul di bibir Gabrielle setelah dia merencanakan niat jahat untuk mengerjai Altez dan istrinya. Biar saja, toh ini salahnya sendiri karena sudah berani menginginkan suami orang lain. Belum tahu saja si Altez ini betapa seramnya lidah Elea. Bisa-bisa dia mati kaku hanya dengan sekali semburan racun berbisa dari mulut istrinya itu.
"Elea adalah keluargaku. Dia sedang tidak enak badan, dan para pelayan di rumahku melakukan sedikit kesalahan padanya. Makanya sekarang aku menjadi tidak tenang karena mengkhawatirkannya. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada Elea," ucap Gabrielle yang bicara tanpa menunjukkan reaksi apapun di wajahnya.
Ares langsung menatap lekat ke arah Tuan Muda-nya. Dia tidak salah dengarkan?
"Oh, kasihan sekali. Kalau begitu kau sebaiknya segera pulang saja ke rumah. Urusan pekerjaan ini bisa kita lanjutan di lain waktu. Atau jika tidak keberatan besok aku akan datang ke Group Ma untuk menyelesaikan semua ini. Bagaimana?" sahut Altez menawarkan.
"Apa tidak apa-apa jika kita menunda pekerjaan ini? Bukankah kau tidak akan lama berada di Negara N?" tanya Gabrielle pura-pura merasa tak enak hati. Padahal dia sudah girang bukan main karena bisa segera pulang ke rumah. Gabrielle benar-benar sudah tidak tahan ingin segera pergi dari hadapan wanita berbibir dower ini. π
"Kau tenang saja, Tuan Muda. Aku tidak masalah untuk berada di negara sedikit lebih lama. Karena keselamatan keluargamu jauh lebih penting dari pekerjaan kita. Tidak usah cemas," jawab Altez gembira.
"Benar tidak masalah?"
"Ya ampun, Tuan Muda. Apa aku terlihat seperti sedang bercanda? Aku sungguh tidak masalah kalau pekerjaan ini di tunda untuk sementara waktu. Santai sajalah, ya?"
"Baiklah," sahut Gabrielle kemudian bangkit berdiri. Sambil mengancingkan jasnya Gabrielle memberitahu Altez kalau mereka akan kembali bertemu di lain hari. Sekalian dia ingin melihat pertunjukan besar di sana nanti. "Oh ya Nona Altez, sepertinya kita tidak bisa melakukan pertemuan besok pagi. Karena besok aku harus menghadiri acara pemberkatan pernikahan dari salah satu keluargaku. Kau tidak masalah kan jika menunggu satu hari lagi?"
"Sama sekali tidak masalah, Tuan Muda. Kau bisa menghubungiku jika semua urusan di keluargamu sudah beres. Kebetulan besok aku juga memiliki janji dengan salah satu temanku untuk menikmati jajanan kuliner di negara ini. So, enjoy for wedding's to your family," jawab Altez seraya tersenyum semringah.
"Oke. Kalau begitu aku pamit."
__ADS_1
Ares menundukkan kepala ke arah Nona Altez sebelum pergi menyusul Tuan Muda-nya yang sudah pergi terlebih dahulu. Sepeninggal kedua orang tersebut, Altez langsung menghubungi keluarganya dengan mengatakan kalau dia baru saja memenangkan simpatik dari pewaris Group Ma. Wajahnya terlihat sangat bahagia saat berandai-andai kalau dirinya akan segera menjadi istri dari seorang Gabrielle. Namun, satu hal yang tidak di ketahui oleh Altez. Ada bahaya besar yang sudah menunggunya di depan jika dia tidak segera mundur dari tujuannya. Lan dan Levita, dua macan buas ini siap menjadikannya sebagai bulan-bulanan jika ada yang berani mengganggu kesayangan mereka.
Sementara itu Gabrielle yang sudah berada dalam perjalanan pulang ke rumah terus merecoki Ares yang sedang menyetir. Mulutnya tidak berhenti mengumpat setiap kali mobil harus berhenti di lampu merah.
"Aku heran sekali dengan para pemerintah di negara ini. Kenapa sih mereka harus memakai warna merah di jalanan begini? Apa mereka tidak bisa hanya memakai warna kuning dan hijau saja supaya tidak mengganggu perjalanan seseorang? Menjengkelkan sekali!" gerutu Gabrielle tak sabaran.
"Kalau semua lampu hanya berwarna kuning dan hijau maka setiap detiknya pasti akan selalu terjadi kecelakaan lalu lintas, Tuan Muda. Pemerintah memberlakukan peraturan seperti ini agar kita semua selamat sampai tujuan!" ucap Ares dengan sabar memberi pengertian.
"Tapi kenapa setiap kita melewati persimpangan lampunya langsung berubah menjadi merah? Punya masalah apa mereka dengan mobil kita, Res? Iri apa bagaimana? Heran!"
Kali ini Ares tak lagi memberi penjelasan. Sia-sia saja. Pokoknya selama mereka belum sampai di rumah, Tuan Muda-nya akan terus mengomel dan menyalahkan semua orang. Susah memang jika banteng pencemburu ini sudah kumat ilmu bucinnya. Semuanya akan menjadi perkara berat hanya gara-gara satu nama, Elea. Kalian semua pasti tahu kan betapa mengerikannya efek dari nama tersebut? π
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...
__ADS_1