Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Telinga Merah


__ADS_3

Setelah melewati banyak insiden tak terduga di rumah, kini semua orang pergi menuju sebuah restoran di maksud oleh Reinhard dan Levita. Dan apa kalian tahu nasib seperti apa yang di alami oleh Gabrielle begitu menghadap pada ibunya? Ya, telinganya menjadi sasaran empuk oleh sang ibu yang merasa tidak terima menantu kesayangannya di buat menangis. Dan sialnya mau sekuat apapun Gabrielle menjelaskan, wanita mengerikan itu sama sekali tidak mau mendengarkan. Alhasil, Gabrielle hanya bisa pasrah saja ketika kedua telinganya menjadi bulan-bulanan empuk oleh sang ibu. Miris sekali bukan?


"Kak Iel?" panggil Elea pelan. Dia menelan air ludah melihat telinga suaminya yang memerah seperti buah naga.


"Apa, sayang?" sahut Gabrielle sambil mengerem mobil ketika melewati sebuah lubang kecil. Sebisa mungkin Gabrielle menjaga kestabilan mobil ini agar tidak menimbulkan goncangan yang mana bisa membuat ketiga bayinya berbenturan kepala.


"Telingamu warnanya merah. Aku ingin ... memakannya."


Terdengar helaan nafas pelan begitu Gabrielle mendengar perkataan Elea. Mati-matian dia berusaha menutupi kekagetannya dengan cara tersenyum paksa. Gabrielle bingung, benar-benar sangat bingung memikirkan jenis bayi yang sedang di kandung oleh Elea. Apakah mungkin nanti salah satu di antara baby Bern, Karl, dan juga baby Flow ada yang akan menjadi seorang vampir atau bagaimana. Tadi ingin meminum Sampanye, sekarang ingin memakan telinganya. Apa jangan-jangan baby BKF adalah jelmaan kanibal? Astaga.


"Sayang, kalau kau memakan telingaku itu artinya aku tidak akan sempurna lagi. Apa kau tega, hm?" tanya Gabrielle mencoba untuk bernegosiasi dengan para bayinya.


"Kak Iel, sepertinya nanti baby Flow akan tumbuh menjadi gadis yang sedikit aneh. Apa kau keberatan?" sahut Elea balik bertanya.


"Kenapa kau bicara seperti itu, sayang? Mau bagaimana pun ketiga bayi yang ada di dalam perutmu adalah anak-anakku. Jadi tidak ada alasan untuk aku menolak mereka mau seperti apapun keadaannya. Paham?" jawab Gabrielle kaget.


Elea menghela nafas. Dia kembali menatap daun telinga suaminya yang entah kenapa membuatnya begitu bern*fsu untuk mencicipinya.


"Em, sayang. Bagaimana kalau sekarang kau menelpon Levita saja lalu minta dia untuk memesankan kue berwarna merah dalam bentuk yang menyerupai telinga. Dengan begitu bayi-bayi kita tidak akan menangis kelaparan di dalam kantungnya. Bagaimana?"


"Apa bisa begitu, Kak?"

__ADS_1


"Tentu saja bisa, sayang. Apa sih yang tidak bisa untukmu?"


Elea tersenyum senang. Segera dia mengambil ponsel milik Gabrielle kemudian mencari nomor Levita. Dan jika kalian penasaran di mana perginya semua ponsel milik Elea, jawabannya adalah dia lupa. Seperti biasa, benda-benda seperti itu seakan tidak ada harganya di mata Elea. Jadi harap untuk maklum ya.


"Aku akan membunuhmu kalau kau sampai berani tidak datang kemari. Dengar tidak!"


"Kak Iel, Kak Levi bilang dia ingin membunuhku," ucap Elea dengan suara memelas.


Terdengar suara pekikan kaget dari dalam telepon begitu Elea mengadu pada Gabrielle. Dan yang bisa Gabrielle lakukan hanyalah menarik nafas sedalam mungkin. Dia sedang menyetir sekarang, akan sangat berbahaya jika Gabrielle sampai termakan emosi gara-gara ulah pelakor tak berakhlaq itu.


"Yak, Elea. Apa-apaan kau itu, sembarangan mengadu pada orang. Kau pikir aku ini mantan jegal apa?"


"Kau sudah pikun ya, Kak?"


Elea sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya saat mendengar suara teriakan Levita. Setelah itu dia menoleh ketika Gabrielle mengambil ponsel dari tangannya kemudian menekan tanda loudspeaker.


"Radiasi ponsel sangat tidak baik untuk perkembangan otak anak-anak kita, sayang. Jadi sebaiknya kau nyalakan loudspeaker saja jika sedang menelpon orang," ucap Gabrielle dengan lembut menjelaskan pada istrinya. Dia terkekeh melihat Elea yang seperti tersipu mendapat perhatian darinya.


"Kak Iel, kau perhatian sekali sih. Aku kan jadi semakin mencintaimu," ucap Elea setengah berbisik.


"Tentu saja aku harus perhatian, sayang. Kau istriku, juga sedang mengandung para penerusku. Akan sangat bodoh jika aku sampai mengabaikan keselamatan kalian. Benar tidak?"

__ADS_1


Hati Gabrielle bagai terbang keluar ketika Elea memperlihatkan simbol heart dengan menyatukan jari telunjuk dan jari jempol ke arahnya. Gabrielle meleleh, tubuhnya melentur seperti jelly. Sayang, dia sedang mengendarai mobil sekarang. Jika tidak, Gabrielle pasti akan langsung meraup bibir Elea lalu menyesapnya selama mungkin. Istrinya benar-benar sangat menggemaskan sekarang.


Akibat bucin dadakan yang terjadi di dalam mobil, sambungan telepon yang masih terhubung akhirnya menjadi korban. Ya, Levita terabaikan. Pelakor itu sampai berteriak kencang ketika perkataannya tak di gubris oleh pasangan suami istri yang sedang di mabuk asmara ini.


"Wahhh, dasar kurang ajar ya kalian berdua. Kalian yang menelpon, kenapa malah aku yang di abaikan. Dasar tidak punya perasaan. Sudahlah, aku matikan saja panggilan ini. Huh!"


Gabrielle dan Elea saling menatap sebelum akhirnya tertawa bersama. Sungguh, mereka benar-benar tidak sengaja mengabaikan pelakor itu. Bahkan Elea sampai lupa dengan tujuan awalnya menelpon Levita saking senangnya dia membucin pada Gabrielle.


"Ekhmmm-ekhhmmm!"


Tawa Gabrielle dan Elea langsung berhenti saat mendengar suara deheman dari arah kursi belakang. Setelah itu barulah mereka tersadar kalau di dalam mobil tidak hanya ada mereka berdua saja, melainkan ada ada orang lain juga di sana.


"Hmmm, Gabrielle. Kalau kau mengemudikan mobil sepelan ini, Ibu yakin besok subuh kita baru akan sampai di restoran itu. Kenapa? Apa matamu sudah mulai rabun, hmm?" tanya Liona yang sejak tadi menjadi obat nyamuk menyaksikan kebucinan anak dan menantunya. Liona memutuskan untuk naik ke mobil ini karena khawatir kalau Gabrielle akan kembali bersikap kasar pada Elea seperti yang dia lakukan saat di rumah tadi.


"Ibu, Kak Iel itu adalah seorang suami dan calon ayah yang sangat siaga. Dia begitu menjaga ketenangan anak-anak kami, salah satunya dengan cara berkendara sepelan mungkin. Tapi jika Ibu dan Ayah merasa keberatan duduk bersama kami, Ayah dan Ibu boleh kok pindah ke mobil lain. Iya kan, Kak?" sahut Elea dengan santai.


Tenggorokan Gabrielle, Liona, dan juga Greg serasa kering kerontang setelah mendengar perkataan Elea. Jujur, hanya manusia satu ini yang dengan begitu berani mengusir pasangan suami istri paling di takuti di negara ini. Walaupun sudah berkali-kali di buat syok dan juga kaget setengah mati, tetap saja mereka bereaksi tercengang seperti sekarang jika rahang Elea sudah terbuka. Greg dan Liona sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Ingin marah, tapi Elea adalah menantu kesayangan mereka. Tidak marah, tapi dada mereka terasa sangat sesak. Serba salah jadinya.


"Ya ampun, Kak Iel. Aku lupa memberitahu Kak Levi kalau aku ingin makan kue yang berbentuk telinga merah seperti milikmu. Pinjam ponselnya lagi ya?" ucap Elea kemudian segera mengetik pesan.


Gabrielle, semoga saja nanti ketiga anakmu tidak ada yang menuruni sikap istrimu ya. Ibu benar-benar tidak sanggup jika harus berhadapan dengan Elea junior.

__ADS_1


Gabrielle hanya bisa menghela nafas panjang saat mendengar isi pikiran ibunya. Dia sadar kalau keinginan ibunya itu sedikit mustahil. Bern, Karl, dan juga Flow sama-sama teraliri darah dari Elea. Jadi mau sesempurna apapun dirinya, Gabrielle yakin kalau gen jahil dan juga usil yang ada di diri Elea pasti akan menurun pada anak-anak mereka juga. Dan kemungkinan besar keluarga dan orang-orang di sekitar mereka akan menjadi korban. Sungguh masa depan yang cukup tragis.


*****


__ADS_2