Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Keinginan Amora


__ADS_3

Mata Bern dan Amora saling menatap dalam keheningan. Sepulang dari makan malam di rumah orangtuanya, Bern langsung menghampiri Amora yang kala itu sedang tertidur di sofa ruang tamu rumahnya. Ketika dia sampai di hadapannya, gadis ini seolah menyadari kalau pemilik rumah datang dan langsung terbangun kemudian berdiri sambil ******* ujung baju bawahnya. Amora gugup sekaligus takut. Ya, dia takut.


“Mau sampai kapan kau berada di rumahku?” tanya Bern setelah terdiam sekian lama. Dia terus menatap lekat wajah Amora, merasa aneh ketika mata bening itu berkedip.


“Tuan Muda, apapun yang terjadi saya akan tetap tinggal di rumah anda, “ jawab Amora takut-takut.


“Termasuk jika aku memiliki niat untuk membunuhmu?”


Gluuukkk


Rasanya tenggorokan Amora menjadi sangat kering saat dia mendengar kata membunuhmu. Mengerikan sekali bukan? Andai ada yang bertanya pada Amora apakah dia ingin pergi dari rumah ini, jawabannya sudah pasti dia sangat ingin. Akan tetapi Amora tidak mungkin melakukannya karena kebahagian ayah dan ketiga kakaknya berada di pundaknya saat ini. Walaupun selalu mendapat perlakuan kasar dari mereka, Amora tetaplah sangat menyayanginya. Siapa tahu dengan dia berkorban untuk bertahan di rumah ini, sikap ayah dan kakak-kakaknya bisa tersentuh kemudian menjemput Amora dan membawanya pulang ke rumah mereka. Takdir tidak ada yang tahu bukan? Dan Amora sangat amat meyakini hal tersebut.


“Amora, kau datang kemari atas kesepakatan orang lain. Jadi sekarang kau bisa pergi. Aku tidak suka melihat keberadaan orang lain di rumahku!” usir Bern dengan tegas.


“Maafkan saya, Tuan Muda. Saya akan tetap tinggal di rumah anda sampai … sampai ….


Sebelah alis Bern terangkat ke atas. “Sampai?” tanyanya.


“Tuan Muda, sebelum datang kemari Ayah telah mengusir saya dari rumah. Jadi jika anda juga mengusir saja, maka saya tidak memiliki tempat tinggal lagi. Tolong izinkan saya tetap tinggal di rumah ini ya. Em … bagaimana jika saya menjadi pelayan saja di rumah ini. Boleh ya?”


“Apa kau pikir di rumah ini aku kekurangan pelayan sampai-sampai kau merekrutkan diri untuk menjadi pelayan juga?” ejek Bern tak habis pikir dengan kebebalan gadis ini. “Kau jangan melewati batasanmu, Amora. Pergi dan kembalilah ke asalmu. Kehadiranmu di rumah ini sangat merusak udara segar yang ada. Pergilah sebelum aku berubah pikiran lalu menghabisimu!”


Bruukkkk

__ADS_1


Bern menghela nafas dalam-dalam saat Amora malah duduk bersimpuh di lantai saat dia mengusirnya. Namun anehnya, tangan Bern terasa sangat berat saat ingin menjambak dan menyeretnya keluar dari rumah ini. Padahal biasanya Bern tidak pernah selemah ini meski pada wanita sekalipun. Hal yang membuatnya merasa tak senang, maka harus segera di singkirkan. Tapi sekarang? Sungguh aneh. Bern seperti tak bisa melakukan hal apapun selain bicara saja.


“Tuan Muda, kalau dengan membunuh saya itu bisa membuat saya tetap berada di rumah ini, maka lakukan saja. Saya … saya benar-benar tidak tahu harus pergi kemana jika anda mengusir saya. Ayah bilang anda menginginkan saya sebagai jaminan agar Airan Group bisa terselamatkan dan sekarang saya sudah ada di sini. Anda bebas melakukan apapun kepada saya, Tuan Muda. Tapi tolong, biarkan saya tetap tinggal. Saya mohon!” ucap Amora sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya di depan dada. Dia sangat amat berharap kalau pria mengerikan ini akan bersedia mengabulkan keinginanya.


“Aku tidak peduli!”


Setelah berkata seperti itu Bern berjongkok di hadapan Amora lalu mencapit dagunya dengan kuat. Saat Bern hendak bicara, tiba-tiba saja dia dibuat terpaku melihat luka robek di sudut bibir Amora mengeluarkan darah. Dan di saat yang bersamaan wajah sang ibu melintas di matanya. Bern terkejut, tentu saja. Bayang-bayang sang ibu seolah ingin memperingatkannya agar tidak menyakiti gadis ini. Akan tetapi hal tersebut tak serta-merta membuat Bern melepaskan capitannya di dagu Amora. Yang ada capitannya malah semakin keras saja hingga membuat luka itu semakin banyak mengeluarkan darah. Namun anehnya, Amora sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun ketika diperlakukan sedemikian rupa oleh Bern. Dia hanya diam dan tatapannya sendu.


“Kenapa?”


“Ya, Tuan Muda?” beo Amora bingung.


“Kenapa kau menahannya?” tanya Bern.


“Lukamu berdarah. Kenapa tidak mengeluh?”


“Tuan Muda, yang anda lakukan masih belum seberapa. Kalau anda tidak percaya, saya bisa menunjukkan luka lain yang jauh lebih parah dari luka robek di sudut bibir saya. Sebentar,”


Tanpa merasa ragu ataupun malu, Amora melepaskan capitan tangan Bern dari dagunya kemudian berbalik menghadap ke belakang. Karena saat itu dia hanya memakai kaos usang, dengan mudah Amora bisa menarik kaosnya ke atas. Dia lalu mengangkar rambutnya, membiarkan Bern melihat luka lama dan juga luka baru yang ada di pungungnya.


Hening. Bern bukankaget, dia hanya tidak mengerti saja mengapa Tuan Kendra bisa menyiksa putrinya sampai seperti ini. Bern jadi penasaran penyebab mengapa Amora di perlakukan sedemikian rupa oleh ayahnya sendiri. Dan entah dorongan darimana, sebelah tangan Bern bergerak menarik kulit pungung Amora yang terkelupas. Bern kemudian menatap lekat kulit tersebut yang mana terlihat jelas kalau luka itu ada karena lepuhan kulit yang terkena benda panas. Mungkinkah ….


“Saat itu saya meminta agar Ayah mengizinkan saya melanjutkan pendidikan. Ayah marah, lalu tak sengaja menyiramkan kopi panas miliknya ke punggung saya. Mungkin baru sekarang kulit luarnya terkelupas,” ucap Amora tanpa ada niat menutupi apa yang telah menimpanya.

__ADS_1


“Kenapa kau meceritakan ini semua padaku? Aku bahkan tidak peduli,” ucap Bern masih sambil memandangi luka-luka di punggung Amora. Mirip seperti ukiran. Bedanya ukiran ini tidak terlihat indah, tapi menunjukkan kesengsaraan.


Amora tersenyum. Dia menurunkan kaos dari lehernya, merapihkan rambutnya, kemudian barulah dia berbalik menghadap ke belakang. Sambil menyunggingkan senyum tipis, Amora memberitahu Bern mengapa dia meceritakan kisah hidupnya.


“Tuan Muda, saya tidak tahu akan seperti apa nasib hidup saya di rumah ini. Saya bisa saja mati di sini. Jadi sebelum itu terjadi, saya ingin membagi kisah hidup saya yang tidak ada artinya ini kepada orang yang mungkin akan menjadi orang terakhir yang akan saya temui. Memang tidak ada hubungannya, tapi saya ingin sekali ada orang yang tahu kalau saya sanggup menahan seberapapun sakitnya siksaan demi orang yang saya sayang. Ayah dan ketiga kakak saya adalah harta paling berharga yang saya miliki, dan rasa sayang yang saya punyai masih seribu kali lebih besar dari semua luka yang ada di punggung saya. Sungguh,” ucap Amora dengan mata berkaca-kaca.


Bagaimana bisa ada orang sebodoh ini di dunia? Apa gunanya Amora mencintai keluarga yang tidak pernah menghargai perasaannya? Dasar tidak berguna.


“Kau dan keluargamu itu sama menjijikkannya. Jangan katakan apapun lagi, telingaku sakit mendengar ceritamu!” ucap Bern kemudian berdiri.


“Tuan Muda ….


Bern yang hendak melangkah pergi tak mempedulikan panggilan Amora. Entahlah, benaknya berkata agar membiarkan gadis ini tetap tinggal. Bukan karena dia mendengar ceritanya, tapi lebih ke tak bisa menepis kemunculan wajah sang ibu di matanya. Dia lemah untuk hal ini.


Tuan Muda tidak memintaku pergi, apa itu artinya aku di izinkan untuk tinggal di rumahnya?


Amora segera berdiri kemudian pelan-pelan mengikuti Bern yang tengah berjalan menuju tangga. Dia lalu menelan ludah saat pria mengerikan itu berhenti melangkah tepat di anak tangga pertama.


“Sebaiknya kau tidak membuat kegaduhan di sini. Butakan matamu dan tulikan telingamu terhadap apa yang kau lihat dan kau dengar di rumah ini. Paham?”


“Paham, Tuan Muda.”


Amora menghela nafas lega. “Huft, rasanya seperti sedang bernegosiasi dengan malaikat maut. Mengerikan sekali!”

__ADS_1


***


__ADS_2