
Lan, Cuwee, dan juga Tora mengintip dari dalam kandang masing-masing ketika ada sebuah mobil besar yang datang sambil membawa batang pohon mangga. Ketiga binatang ini merasa heran, tidak paham mengapa pohon yang memiliki banyak buah itu bisa di boyong ke kediaman mereka. Namun beberapa detik kemudian mereka paham begitu si majikan mungil terlihat begitu antusias mengarahkan mobil besar tersebut untuk masuk ke halaman rumah.
"Kanan sedikit, Pak. Di situ ada bunga-bunga kesayanganku, nanti mereka penyok kau injak!" teriak Elea sambil terus mengarahkan kemana mobil harus berhenti.
"Nona, sebenarnya batang mangga ini mau di tanam di sebelah mana? Mobilnya terlalu besar, saya takut akan mengenai barang-barang yang ada di rumah anda!" tanya si sopir mobil kebingungan karena sejak tadi dia hanya diminta untuk geser ke kanan dan ke kiri.
"Kemana ya?"
Elea celingukan ke sana kemari mencari tempat untuk batang pohon mangga miliknya. Halaman rumah ibu mertuanya terlalu cantik untuk di rusak, dia jadi menyesal karena meminta pohon ini di bawa pulang kemari.
"Kenapa, sayang?" tanya Gabrielle yang kini sudah memeluk pinggang Elea. Dia lalu melirik sinis ke arah sopir mobil yang tadi kedapatan mengobrol dengan istrinya. Gabrielle cemburu.
"Kak, pohon mangga ini mau di tanam di mana y? Aku tidak tega untuk menggali lubang di sini. Nanti yang ada pohon mangga ini malah akan merusak pemandangan. Kan kasihan Ibu Liona?" sahut Elea sambil mengusap-usap dagu bawahnya.
Sebelah alis Gabrielle terangkat ke atas. Dia merasa ada yang mengganjal dari perkataan Elea ketika menyebut kata kasihan pada ibunya. Karena jika Elea sudah berkata nyeleneh seperti ini, biasanya dia akan melakukan sesuatu yang bisa membuat orang lain sakit kepala. Contohnya tentang keinginannya untuk menolong orang lain tapi berkedok pencurian mangga. Bahkan rasa panik dan juga malu karena ketahuan sedang mencuri sampai saat ini masih sangat membekas di pikiran Gabrielle. Untung saja tadi dia segera paham kalau di balik kejadian itu Elea diam-diam sudah tahu jika pemilik batang pohon mangga sedang mengalami kesulitan dalam usahanya. Dan akhirnya pencurian memalukan itu berakhir dengan Gabrielle yang dengan suka rela menanam saham untuk membantu perekonomian mereka dengan bonus membawa pulang buah mangga sampai ke akar-akarnya.
"Em sayang, bagaimana kalau pohon mangga ini kita tanam di dekat danau saja? Di sana kan pemandangan sangat bagus, nanti kau bisa membuat rujak bersama dengan gengmu. Mau tidak?" tanya Gabrielle mencoba memberikan pendapat.
"Wahhh, benar juga. Kenapa dari tadi aku tidak kepikiran ke sana ya, Kak? Sepertinya otakku mulai tidak beres," jawab Elea sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Setelah itu Elea kembali mengarahkan mobil agar melewati jalan lain menuju danau belakang rumah. Gabrielle yang melihat istrinya tiba-tiba menjelma jadi tukang parkir pun hanya bisa menghela nafas. Dia kemudian berbalik, menatap Nun dan Ares yang masih dengan setia berdiri di belakangnya.
"Res?"
"Iya, Tuan Muda. Apa anda membutuhkan sesuatu?" tanya Ares sopan.
"Mungkin untuk beberapa waktu ini kita harus lebih sering berada di sisi istri-istri kita," jawab Gabrielle. Sebelum lanjut berbicara Gabrielle melihat ke arah Elea yang masih sibuk dengan geseran ke kanan dan ke kirinya. "Elea telah melihat semuanya. Dia sebenarnya sedang menderita, tapi berusaha dia tutupi dengan kejadian hari ini."
__ADS_1
"Maksud anda apa, Tuan Muda?"
"Hmmm ... Grandma Clarissa akan segera pergi meninggalkan kita semua. Dan ini fakta, karena Elea sudah menerima penglihatan akan hal ini."
Ares menelan ludah. Pikirannya langsung tertuju kepada Cira yang tidak pernah sedetikpun pergi dari sisi Nyonya Clarissa. Dia yakin istrinya itu pasti akan sangat terpukul jika Nyonya Clarissa benar-benar pergi meninggalkan mereka semua. Memikirkan hal ini membuat Ares menjadi sangat gelisah. Dia takut istri dan calon anaknya sampai kenapa-napa.
"Tuan Muda, jadi Nyonya Elea itu memiliki kemampuan melihat masa depan ya?" tanya Nun.
"Memangnya kau belum tahu?" sahut Gabrielle balik bertanya.
Nun menggeleng. "Belum, Tuan Muda."
"Hanya saya yang anda beritahu, Tuan Muda," timpal Ares. "Tuan Muda, lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Tidak ada apapun yang bisa kita lakukan selain terus berada di sisi istri-istri kita, Res. Walaupun hal ini datangnya dari Elea, tapi Tuhan-lah yang telah memberi kelebihan tersebut. Anggaplah ini sebagai takdir karena apapun yang bernyawa, suatu saat pasti akan mati terlepas apakah Elea mengetahuinya lebih dulu atau tidak," sahut Gabrielle seraya menghela nafas.
Gabrielle dan Ares tersentak. Mereka cukup kaget mendengar pertanyaan Nun karena selama ini mereka tak pernah terpikir ke arah sana. Benar juga. Kenapa mereka bisa tidak terpikir ke arah sana ya? Dan ketika Gabrielle, Nun, dan juga Ares sedang terjebak dalam pikiran masing-masing, Elea datang menghampiri mereka.
"Kak Iel, kalau pohon mangganya di tanam dekat danau kira-kira dimakan oleh buaya yang tinggal di sana tidak ya?" tanya Elea dilema.
"Tidak akan, sayang. Cicit-cicitnya Sulli bukan pemakan buah-buahan masam seperti mangga muda itu," jawab Gabrielle sembari mengelus puncak kepala Elea penuh sayang.
"Benarkah? Berarti aman ya kalau pohonnya di tanam di sana?"
Elea melonjak kesenangan saat Gabrielle menganggukkan kepala. Setelah itu pandangannya tertuju ke arah Nun yang tengah menatapnya tak berkedip.
"Pak Nun, kau kenapa? Apa kau merasa tidak terima aku menanam pohon mangga di dekat danau?"
__ADS_1
"Tidak, Nyonya Elea. Saya hanya sedang mengagumi sesuatu yang terlalu luar biasa di mata saya," jawab Nun kemudian menunduk.
"Sesuatu yang terlalu luar biasa? Apa itu?"
Bukannya menjawab, Nun malah membungkukkan badan kemudian pamit pergi dari sana. Dan Elea yang merasa tidak puas karena tidak mendapat jawaban dari Nun pun langsung mendongak menatap wajah suaminya.
"Kak Iel, Pak Nun marah padaku ya?"
"Nun bukan marah, sayang. Dia hanya sedikit terkejut setelah tahu kalau kau bisa melihat masa depan," jawab Gabrielle sambil tersenyum.
"Oh, terkejut ya. Aku kira dia marah padaku karena tidak menanam pohon mangga di rumah kita. Huftt, mengagetkan saja," ucap Elea. Setelah itu dia melihat ke arah Ares. "Res, kau pasti sudah tahu kan kalau aku bisa melihat masa depan?"
"Iya, Nyonya. Tuan Muda sendiri yang memberitahu saya," jawab Ares jujur.
Sudut bibir Elea terangkat ke atas. Dia segera berpindah ke sisi Ares kemudian memegang lengannya.
"Ares, kau adalah laki-laki yang sangat bertanggung jawab dan juga pekerja keras. Nanti setelah anakmu dan anak Kak Cira lahir, bisakah kau mengajarinya untuk menjaga seorang gadis? Anakmu sangat tampan, Ares. Dan dia juga sangat lucu."
Ares tergugu. Kali ini dia tanpa ragu menatap wajah sang Nyonya secara langsung tanpa merasa takut akan kemurkaan Tuan Muda-nya.
"J-jadi saya akan memiliki seorang anak laki-laki, Nyonya?" tanya Ares dengan suara gemetar.
"Tidak, tapi b*nci. Hehehehe," jawab Elea berkelakar. "Kan tadi aku sudah bilang kalau kau adalah laki-laki yang bertanggung jawab dan juga pekerja keras. Itu menandakan kalau anakmu akan berjenis kelamin laki-laki."
Setelah berkata seperti itu Elea beranjak pergi dari sana. Meninggalkan Ares yang tengah terdiam dengan mata berkaca-kaca, juga dengan suaminya yang berdiri sambil tersenyum kecil. Elea bahagia, tapi di balik kebahagiaan ini ada luka yang sedang menganga. Ya, Grandma Clarissa sudah berada dalam ujung waktunya.
*****
__ADS_1