
📢 Jangan lupa bom komentarnya ya gengss 💜
Samuel dan Lolita berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi di mana putri mereka berada. Sesekali mereka juga tampak saling menguatkan ketika lampu operasi tak kunjung berubah warna. Kala itu Samuel tengah berada di kantor saat Lolita menelpon dan memberitahunya kalau Levita akan melahirkan. Terkejut, itu sudah pasti. Bagaimana tidak! Usia kandungan putrinya belum memasuki waktu untuk melahirkan, tapi entah apa yang terjadi tiba-tiba saja mereka mendapat kabar seperti ini. Khawatir terjadi sesuatu yang tidak benar, Samuel pun bergegas pulang menjemput Lolita kemudian membawanya pergi ke rumah sakit. Dan di sinilah mereka sekarang. Panik menantikan kabar dari putri dan calon cucu mereka yang terpaksa harus berjuang sendiri karena sekarang Reinhard tengah menangani pasien lain.
"Sam, bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Tadi sebelum pergi Levita baik-baik saja, tapi kenapa sekarang dia bisa berada di ruang operasi seperti ini? Dan Reinhard juga. Apa dia tidak tahu kalau istrinya akan melahirkan?" tanya Lolita sedih.
"Kau jangan membuat asumsi yang tidak mendasar begini, sayang. Itu bisa mendatangkan kesalah-pahaman nanti. Reinhard itu sangat mencintai putri kita. Namun kau harus tahu kalau dia memiliki tanggung jawab besar pada keselamatan para pasien di rumah sakit ini. Aku yakin Reinhard pasti sama khawatirnya seperti kita, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa karena terkendala kewajiban. Tenanglah, lebih baik sekarang kita berdoa saja agar Levita dan cucu kita baik-baik saja. Oke?" jawab Samuel berusaha bijak menyikapi ketidak-beradaan menantunya di sini.
Sementara itu di ruangan lain, Reinhard dengan segenap kemampuannya berusaha membantu dokter menyelamatkan Elea dan bayi ketiganya. Pikirannya bercampur aduk antara takut di panggang Gabrielle dan khawatir memikirkan Levita. Sebenarnya tadi saat Reinhard masuk ke dalam ruangan ini, dia sempat mendengar suara teriakan orang memanggil nama istrinya. Reinhard ingin berhenti, tapi tidak mungkin dia lakukan mengingat kalau Elea harus segera di sadarkan supaya Gabrielle berhenti menggila.
Oeeekkk oeeekkkk
Dari dua ruangan yang berbeda, terdengar suara bayi yang menangis dengan sangat kuat. Yap, Levita melahirkan anak pertamanya bersamaan dengan Elea yang melahirkan anak ketiganya. Seakan menjadi suratan takdir, kata-kata Elea waktu itu benar menjadi kenyataan kalau anak Levita akan lahir di hari yang sama dengan ketiga anaknya.
"Woaahhh, pewaris ketiga dari keluarga Ma berjenis kelamin perempuan," pekik dokter kegirangan sambil menatap mata bayi yang begitu kecil. Dia terpesona.
"Jangan hilang fokus. Keselamatan Elea harus di utamakan!" tegur Reinhard lega karena akhirnya anak ketiga Elea lahir dengan selamat.
"Baik, dokter Reinhard."
Segera salah satu dokter membawa bayi mungil itu ke tempat dimana kedua kakaknya berada. Sedangkan Reinhard dan yang lain, mereka menangani Elea yang masih tidak sadarkan diri di bawah pengaruh obat bius.
__ADS_1
Ceklek
"Tuan Muda Gabrielle, Nyonya Liona, Tuan Greg. Selamat. Bayi ketiga Nyonya Elea telah lahir dan berjenis kelamin perempuan. Nona kecil sangat sehat, tapi ukuran tubuhnya sedikit lebih mini dari kedua saudaranya. Akan tetapi Tuan dan Nyonya tenang saja, itu normal karena Nyonya Elea mengandung tiga bayi sekaligus!" ucap dokter menyampaikan berita baik itu dengan wajah di banjiri keringat dingin. Tatapannya terus lurus ke depan, dia tak berani melihat ke arah bawah di mana ada kolam mengerikan di sana.
"Istriku?"
Gabrielle maju selangkah. Dia menatap tak berkedip ke arah dokter yang baru saja menyampaikan berita baik pada semua orang.
"S-saat ini Nyonya Elea masih dalam pengaruh obat bius, Tuan Muda. Juga karena sebelumnya beliau mengalami kecelakaan, mungkin akan sedikit lama untuk Nyonya tinggal di rumah sakit. Nyonya mengalami patah tulang yang lumayan parah, Tuan Muda. Jadi kami para dokter perlu melakukan banyak pengobatan untuk menyembuhkan luka-luka di tubuh Nyonya Elea!"
"Tapi istriku selamat bukan?"
"Iya, Tuan Muda. Nyonya Elea berhasil melewati masa kritisnya. Sekarang kami hanya tinggal fokus mengobati luka bekas kecelakaan pagi tadi. Kalau begitu saya permisi, Tuan Muda!"
Sepeninggal dokter, tubuh Gabrielle langsung luruh ke lantai. Dia tidak menangis ataupun tersenyum, Gabrielle hanya diam. Semua ini terlalu menyesakkan dada, hingga membuat Gabrielle hilang kendali pada semua orang. Bukan berlebihan, Gabrielle jadi seperti ini karena dia merasa semua orang tidak ada yang becus menjaga istrinya. Sebagai seorang pemimpin dari perusahaan besar, Gabrielle tidak bisa seenaknya meninggalkan beban pekerjaan kepada para bawahannya. Dari situlah Gabrielle terpaksa menyerahkan tanggung jawab menjaga keselamatan istri dan ketiga bayinya kepada pengawal dan juga keluarganya. Tapi siapa yang akan menyangka kalau hal itu masih belum cukup untuk melindungi Elea-nya. Mereka tetap kecolongan seperti ini. Jadi wajarkan kalau dia sedikit marah?
Tadi setelah Nun mengumpulkan semua pengawal, Gabrielle langsung menghajar mereka satu-persatu. Masing-masing dari pengawal mendapat dua tusukan belati secara acak, lalu mereka diminta untuk duduk berjejer di lantai tanpa mendapat perawatan terlebih dahulu. Jadi bisa kalian bayangkan sendiri bukan seperti apa menderitanya para pengawal itu karena menahan luka tusuk di mana membuat darah di tubuh mereka tak berhenti mengalir keluar? Sisi gelap seorang Gabrielle Shaquille Ma benar-benar mengerikan. Dia memang tidak membunuh, tapi hukuman yang dia lakukan mampu menghilangkan nyawa secara perlahan.
"Urus mereka semua, Nun. Pekerjakan mereka lagi setelah benar-benar fit dan mampu mengemban tugas dariku. Kelalaian mereka telah membuat Elea-ku hampir kehilangan nyawa, jadi sebagai hukumannya mulai dari sekarang mereka juga yang akan bertanggung jawab atas keselamatan ketiga anakku. Jika kembali lalai, kau sudah tahu kan kemana harus mengirim mereka pergi?" ucap Gabrielle penuh nada ancaman. "Dan untukmu, Nun. Hukumanmu akan kau dapat saat kita kembali ke rumah. Kau lalai, dan kau telah kehilangan kewaspadaanmu. Kau perlu di didik agar kesalahan seperti ini tidak kembali terulang. Paham?!"
"Paham, Tuan Muda. Kalau begitu saya permisi!"
Nun meminta anak buahnya yang lain memanggilkan dokter untuk menolong para pengawal yang sedang sekarat. Sedangkan Gabrielle, dia masih belum bergeming dari tempatnya. Kejadian ini terlalu menggores perasaan terdalam milik Gabrielle, dan itu membuatnya merasa sangat terpukul.
__ADS_1
"Kak?"
"Jangan bicara apapun dulu padaku. Kau bisa terluka nanti," sahut Gabrielle begitu mendengar suara langkah kaki ingin mendekat padanya.
Kayo tersenyum. Dia lalu meminta Jackson agar membantunya duduk di sebelah Gabrielle. Tak ada rasa marah sedikit pun di benak Kayo meski tadi dia sempat di ancam oleh kakak sepupunya ini. Yang ada Kayo malah merasa kasihan, dia tak tega melihat keadaan Gabrielle yang seperti orang tidak waras saat mengetahui kalau istri kesayangannya sempat berhenti bernafas. Sungguh ini bukan berlebihan. Gabrielle jadi seperti ini karena dia yang sudah sangat bergantung pada Elea, semua dunianya Gabrielle hanya berisi tentang kakak iparnya.
"Kakak ipar bisa syok jika melihat tanganmu berlumuran darah seperti ini. Kalau nanti dia merajuk bagaimana?" ucap Kayo sembari mengelap tangan Gabrielle menggunakan ujung bajunya.
"Dia tahu kenapa aku bisa seperti ini," sahut Gabrielle lirih. Suaranya sudah mulai melunak, tapi getaran amarah itu masih belum sepenuhnya pergi dari dalam pikiran.
"Ya, kau benar. Itulah sisi paling menarik dari kakak ipar, dia selalu bisa memahamimu dengan cara-caranya yang unik. Terkadang aku sampai iri di buatnya,"
Gabrielle tersenyum. Dia kemudian menoleh, mengelus puncak kepala Kayo dengan penuh sayang.
"Kau baik-baik saja?"
"Kau yang tidak baik-baik saja, Kak," sahut Kayo.
"Dunia-ku terselamatkan, dan kedua jagoanku sudah lahir. Sebagai penutup aku mendapat hadiah dari Tuhan seorang peri mini yang nantinya akan membuat aku dan Elea kerepotan. Apa kau tahu, Kay. Aku bahagia sekali," ucap Gabrielle dengan mata berkaca-kaca.
Kayo menyeka cairan bening yang membasahi wajah kakak sepupunya. Dia kemudian memeluknya, ikut merasa haru setelah sebelumnya melewati beberapa menit yang begitu menegangkan.
"Selamat, Kak Iel. Sekarang kau telah menjadi seorang Ayah untuk dua jagoan dan satu peri mini. Dan sebagai Bibi yang baik, aku menyambut ketiga malaikat itu dengan penuh suka cita. Selamat menikmati kebahagiaanmu bersama kakak ipar dan ketiga penerusmu, Kak Iel!"
__ADS_1
Liona, Greg, Bryan, dan juga Jackson bergantian mengucapkan selamat pada Gabrielle. Akhirnya setelah melewati ketegangan yang cukup menguras emosi, mereka bisa bernafas lega karena pria bucin ini tak lagi menggila. Sungguh, Elea tidak ada lawan. Tidak bernafasnya dia bisa membuat banyak orang kehilangan nyawa mereka. Mengerikan sekali bukan?
*****