Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Sambutan Paling Buruk


__ADS_3

Karena merasa bersalah, pagi ini Levi memutuskan untuk menjenguk Elea sebelum berangkat ke perusahaan. Tak lupa juga dia membawakan sup daging yang khusus dia masakkan untuk teman kecilnya itu.


"Huh, padahal dia sendiri yang nekat ingin menjadi model. Kenapa sekarang jadi aku yang merasa berdosa ya?" gumam Levita sambil menjalankan mobilnya.


Drrtt ddrrttt


"Iya Rein, ada apa?" tanya Levi setelah mengangkat panggilan dari calon suaminya. Tak lupa dia mengemudikan mobilnya dengan pelan karena khawatir akan menabrak manusia yang tiba-tiba lewat.


"Sayang, nanti siang aku akan pergi ke luar kota. Salah satu rumah sakit di sana terkena tuntutan dari pasien yang tidak terima keluarganya meninggal."


Kening Levita mengerut. Apa orang yang melakukan tuntutan itu sudah buta? Bagaimana mungkin mereka berani menggugat rumah sakit yang bernaung di bawah Group Ma? Hanya ada dua kemungkinan kenapa orang itu nekad melakukan tuntutan. Pertama, latar belakang orang tersebut jauh lebih tinggi dan berkuasa dari keluarga Ma. Kedua, keluarga orang itu sudah tidak waras, alias gila.


"Rein, aku rasa orang itu salah mengajukan tuntutan. Nyali mereka kuat sekali sampai-sampai berani memantik api pada rumah sakit milik Gabrielle. Dia sudah bosan hidup atau bagaimana sih?" tanya Levita tak habis pikir.


"Aku tidak tahu, sayang. Tapi tidak apa-apalah, toh mereka juga memiliki hak untuk mengkritik rumah sakitnya Gabrielle. Mungkin nanti aku hanya akan memberinya pengertian kalau dokter dan para perawat yang bekerja di sana itu bukan Tuhan yang bisa menjamin hidup dan matinya seseorang. Mereka hanyalah manusia biasa yang bertugas menyembuhkan orang sakit. Tapi ada kemungkinan juga mereka menuntut karena belum bisa menerima kematian keluarganya. Jadi menuduh pihak rumah sakit telah melakukan prosedur yang salah ketika melakukan pengobatan. Ya sudahlah, terlepas dari motif tuntutan itu aku harus tetap datang ke sana untuk mendinginkan suasana. Aku adalah orang yang bertanggung jawab dari semua rumah sakit milik Gabrielle, jadi mau tidak mau aku harus turun tangan langsung untuk menyelesaikan masalah ini. Kau tidak keberatan bukan aku tinggal sebentar?'"


"Sebenarnya sih aku merasa sangat keberatan, Rein. Tapi karena ini sudah menjadi tugasmu maka aku akan merestuinya. Jangan ragu untuk meminta bantuanku jika mereka sampai melakukan aksi anarkis yang bisa melukaimu ya. Kau tahu kan kalau aku ini adalah pawang yang paling bisa di andalkan?"


Levita tersenyum saat mendengar suara tawa dari balik telepon. Harinya mendadak jadi begitu indah saat mendengar tawa renyah yang keluar dari mulut calon suaminya.


"Ya sudah kalau begitu aku tutup dulu panggilannya. Aku masih harus packing dan pergi ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan di sana sebelum pergi. Kau nanti jangan lupa makan dan berhati-hatilah saat bekerja. Aku mencintaimu, calon istriku. Muach."

__ADS_1


Untung saja tidak ada orang lain di dalam mobilnya Levi. Jika ada, orang tersebut pasti akan langsung meledeknya karena sekarang Levita sedang tersipu setelah mendapat kecupan jarak jauh dari Reinhard.


"Aku juga mencintaimu, Rein. Muacchh muacch muacchhh!" ucap Levita balas memberikan kecupan.


Setelah itu panggilan terputus. Levi kemudian menambah kecepatan mobilnya agar bisa segera sampai di rumahnya Elea. Sambil bersenandung lagu cinta, Levita membuka kaca jendela mobil untuk menghirup udara segar. Hatinya sedang berbunga-bunga setelah mendapat telepon dari calon suaminya.


"Aku benar-benar beruntung memiliki calon suami yang begitu peka tanpa harus di minta. Semoga saja Reinhard adalah pria perkasa yang bisa membuatku mandi keringat setelah menikah nanti. Hehehe, kenapa pikiranku sudah mesum begini ya? Jadi malu," ucap Levita sambil memegangi pipinya yang sedikit memanas.


Tak lama kemudian, sampailah Levita di rumahnya Elea. Dia dengan penuh semangat memarkirkan mobil kemudian keluar dari sana. Dan begitu Levi menginjakkan kaki di tanah, dia langsung di sambut dengan suara ringkikan binatang yang mana langsung membuat mood-nya anjlok seketika.


"Sialan. Kenapa harus kau yang pertama kali aku lihat di rumah ini, Cuwee. Dan kenapa juga kau mesti meringkik seperti itu, hah! Kau pikir itu bisa membuatku mau berdamai denganmu? Iya?" amuk Levi sambil melemparkan tatapan membunuh pada kuda putih yang sedang berdiri di atas rerumputan.


Nun yang saat itu melihat kedatangan Levita hanya bisa diam memandanginya yang sedang mengamuk pada Cuwee. Dia jadi merasa kasihan pada binatang lucu itu. Padahal Cuwee tidak pernah melakukan kesalahan apapun di rumah ini. Tapi binatang tersebut harus menerima nasib pahit karena di musuhi oleh dua orang yang terlalu bucin pada sang nyonya kecil. Siapa lagi orangnya kalau bukan Levita Foster dan Gabriele Shaquille Ma, si pelakor halal dan banteng pencemburu yang menganggap Cuwee sebagai saingan berat mereka.


"Selamat pagi, Nona Levita," sapa Nun sambil melirik ke arah Cuwee. Dia seakan merasa kalau binatang tersebut tengah mengejek si pelakor ini.


Levita menoleh ke arah Nun kemudian mendengus kasar. Sungguh, moodnya benar-benar rusak begitu mendapat sambutan yang begini buruk. Ingin rasanya Levi menculik Cuwee lalu membuangnya ke tengah hutan supaya tidak bisa kembali lagi ke rumah ini.


"Selamat pagi juga, Nun. Kau sudah bangun ternyata," ucap Levita sambil menahan kesal. "Nun, sebenarnya siapa sih yang menyuruh Cuwee berada di halaman depan? Dia itu sangat tidak sopan pada tamu yang datang. Tolong pindahkan saja ke tempat dimana aku tidak bisa melihatnya. Di pindahkan ke alam gaib juga tidak apa-apa, aku tidak keberatan sama sekali."


"Maaf Nona Levita, tapi saya tidak akan menuruti keinginan anda karena Tuan Muda memerintahkan agar Cuwee tetap berada di sini sejak dari semalam."

__ADS_1


"Kenapa begitu? Tumben sekali pria tengik itu tidak merasa resah dengan keberadaan Cuwee. Memangnya apa yang terjadi?" tanya Levita heran.


"Semalam ada tragedi kecil dimana Nyonya Elea mengancam akan menginap di rumahnya Cuwee. Karena ketakutan, Tuan Muda akhirnya memberikan perintah agar Cuwee tidak di bawa pergi kemana-mana," jawab Nun jujur. Dia tentu belum lupa dengan drama kebucinan yang terjadi semalam dimana dia dan para pelayan diminta untuk membawa sang nyonya tanpa menyentuh kulitnya. Jika kalian penasaran bagaimana cara mereka melakukannya, Nun memerintahkan para pelayan untuk memakai sarung tangan yang cukup tebal agar tidak bisa merasakan kulit sang nyonya. Dan jangan tanya seberapa tebal sarung tangan yang Nun pakai sendiri. Meski hanya seorang mutan, tapi Nun masuk ke dalam kategori pria yang bisa membuat majikannya kerasukan jin lima benua. Jadi ya begitu, dia mencari cara supaya bisa selamat dari amukan si banteng pencemburu tersebut.


"E-Elea bilang ingin menginap di rumahnya Cuwee?" tanya Levita tak percaya. Dia sangat syok mendengarnya.


"Benar, Nona. Itulah mengapa pagi-pagi begini Cuwee bisa ada di sini, bukan di kandangnya," jawab Nun maklum melihat keterkejutan di diri wanita ini.


"Luar biasa. Nyonya-mu itu benar-benar sangat me-re-sah-kan sekali ya. Usus dua belas jariku sampai hilang satu gara-gara mendengar niat mulianya yang ingin tidur dengan seekor kuda!" ucap Levi sambil bertepuk tangan. Wajahnya terlihat sangat frustasi.


Nun mengangguk. Dia lalu mengikuti langkah sang pelakor yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah.


"Baru kali ini aku mendengar ada manusia normal yang ingin tidur dengan kuda jelek seperti Cuwee. Astaga Elea, sebenarnya urat syarafmu itu terbuat dari apa sih. Untung semalam aku tidak ada di sini. Jika tidak, pagi ini aku pasti sudah terkapar di rumah sakit gara-gara darah tinggi setelah mendengar niatmu itu. Huhh!" gumam Levita ingin heran, tapi itu adalah Elea. Jadi ya sudah, lebih baik pasrah dan depresi sendiri saat memikirkannya.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...

__ADS_1


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2