Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Duda Muda


__ADS_3

"Flowrence," ....


Secara perlahan-lahan kesadaran Elea mulai pulih setelah tadi dia di suntik obat penenang oleh Reinhard. Elea kemudian merintih lirih ketika kepalanya tiba-tiba berdenyut saat dia ingin duduk.


"Akhhhhhhhh!"


Gabrielle, Reinhard dan juga Levita sama-sama terkejut saat mendengar suara rintihan dari atas ranjang. Mereka yang kala itu tengah membicarakan tentang keadaan Flowrence seketika menghambur ke arah ranjang begitu melihat Elea yang sudah bangun dan ingin mencabut selang infus di tangannya.


"Sayang, hei hei, tenanglah. Infusnya jangan di cabut, nanti tanganmu terluka!" ucap Gabrielle panik sambil menahan tangan Elea dengan kuat.


"Lepas, Kak. Aku ingin Flowrence, aku ingin bertemu putriku. Lepas!" teriak Elea mencoba terus berontak meski tubuhnya masih sangat lemas. Dia lalu menangis kuat saat Levita ikut memegangi tubuhnya dari samping. "Hiksss, lepas. Aku ingin bertemu Flowrence. LEPAAASSS!"


"Elea, kau tenang dulu ya. Sekarang Flowrence sudah baik-baik saja, dia sedang tidur malah. Kau jangan khawatir, Flowrence di rumah sakit di jaga oleh kakak-kakaknya. Dia aman!" ucap Levita sambil menatap sedih ke arah Elea.


Tiba-tiba saja tangis Elea langsung terhenti dan dia tak lagi berontak begitu mendengar kalau Flowrence di jaga oleh kakak-kakaknya. Gabrielle, Levita dan juga Reinhard pun merasa sangat heran akan reaksi aneh yang di tunjukkan oleh Elea. Merasa penasaran, Reinhard memberi kode pada Gabrielle dan Levita agar melepaskan pegangan tangan mereka. Reinhard ingin tahu apakah Elea masih akan berontak atau tidak. Karena jika tidak, berarti ada yang salah dengan kecelakaan yang menimpa Flowrence dan juga Russel. Dan yang lebih buruknya lagi itu ada hubungannya dengan Bern dan Karl. Tapi semoga saja tidak.


"Jauhkan kedua orang itu dari putriku. Jauhkan mereka sekarang! Sekarang. AKU BILANG SEKARANG!" teriak Elea kemudian mencakar rambutnya seperti orang gila.


Plaaaakkkkk


Reinhard langsung menangkap tangan Gabrielle yang ingin balas memukul Levita yang baru saja menampar Elea. Setelah itu Reinhard menggeleng, meminta agar Gabrielle jangan terpancing emosi dulu.


"Hiksss ...hikssss,"

__ADS_1


Kali ini bukan Elea yang menangis, tapi Levita. Dia menangis sambil memandangi telapak tangan yang baru saja dia gunakan untuk menampar pipi Elea. Setelah itu pandangan Levita beralih ke Elea yang kini tengah terdiam dengan tatapan kosong.


"Maaf, Elea. Maaf. Aku sengaja melakukan hal ini karena tidak mau melihatmu menyakiti diri sendiri. Hiksss, aku tahu bebanmu sangat berat, tapi bukan berarti kau bisa terus menjadikan tubuhmu sebagai tempat pelampiasan. Kau tidak sendiri, Elea. Kami semua ada di sini bersamamu. Kau tidak sendirian, sayang," ucap Levita sambil menangis terisak-isak.


Dulu saat Russel genap berusia satu tahun, Elea tiba-tiba memberitahu Levita tentang alasan mengapa dia kekeh menjodohkan Flowrence dengan Oliver bahkan sebelum mereka lahir. Dan begitu tahu, Levita merasa sangat syok. Terlebih lagi setelah Elea mengatakan tentang kemampuan yang dimilikinya, membuat Levita seperti sedang berada di negeri dongeng. Dan saat Levita melihat Elea yang mulai hilang kendali, Levita langsung tahu kalau saat tertidur tadi Elea pasti telah melihat sesuatu yang sangat mengerikan di mana itu berhubungan dengan Bern dan juga Karl. Itulah kenapa Levita langsung menamparnya karena tak bisa membiarkan Reinhard mengetahui kemampuan yang dimiliki oleh teman kecilnya ini. Elea sudah berpesan padanya untuk merahasiakan hal ini dari suaminya.


"Kak Levi, bisakah kau membawaku pergi ke rumah sakit? Aku sudah tenang, dan aku ingin melihat seperti apa keadaan Flowrence sekarang. Bisa 'kan?" tanya Elea.


"Bisa, tentu saja sangat bisa. Tapi sebelum pergi kita rapihkan dulu penampilanmu ya. Flowrence sudah baik-baik saja, dia pasti akan sangat syok kalau melihatmu datang dengan keadaan seperti ini. Oke?" jawab Levita sembari menyeka wajahnya yang basah air mata. Dia lalu membantu Elea turun dari ranjang, memegangi tempat infus kemudian memapahnya masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara itu Reinhard yang masih menahan tubuh Gabrielle langsung menarik nafas sepanjang mungkin setelah memastikan kalau Levita sudah aman. Gila, Levita melakukan tindakan yang membuat jantung Reinhard hampir copot. Bisa-bisanya wanita itu menampar istri kesayangan Gabrielle tepat di depan matanya langsung. Mau sedekat apapun hubungan mereka, Reinhard berani jamin kalau Gabrielle pasti tidak akan segan untuk menghajar Levita balik jika tadi dia tidak gesit menahan tubuhnya. Benar-benar kelewatan istrinya itu.


"Apa yang harus ku lakukan pada istrimu, Rein? Lancang sekali dia menampar Elea seperti tadi. Dia bosan memakai tangan aslinya atau bagaimana? Jika benar, aku tidak keberatan untuk menukar tangan aslinya dengan tangan palsu!" tanya Gabrielle penuh emosi.


Gabrielle langsung tergugu mendengar perkataan Reinhard. Benar juga. Kejadian semacam ini dulu juga pernah terjadi di mana Elea hampir terjun dari jendela kantornya saat teringat akan rasa traumanya terhadap Jack-Gal. Dan setelah memikirkan hal itu kemarahan Gabrielle perlahan-lahan mulai menghilang. Setelah itu dengan cepat Gabrielle berjalan menghampiri Elea begitu melihatnya di papah keluar dari dalam kamar mandi oleh Levita.


"Sayang, kau baik-baik saja 'kan?" tanya Gabrielle cemas.


"Kak Iel, aku lapar," jawab Elea lirih.


"Oh, oke. Tunggu sebentar, aku akan meminta Nun mengambilkan makanan untukmu!"


Elea mengangguk. Dia lalu berjalan menuju meja rias saat Levita membimbingnya ke arah sana.

__ADS_1


"Jangan khawatir. Flowrence kita adalah gadis ajaib, dia tidak mungkin mati semudah itu," ucap Levita mencoba menghibur Elea.


"Apa karena kau takut kehilangan kotak harta karunmu, Kak?" tanya Elea.


"Itu salah satunya, dan yang jelas aku tidak akan membiarkan Oliver menjadi duda muda. Jadi kau jangan cemas. Tuhan tahu kalau Oliver sangat tidak pantas untuk di dudakan oleh Flowrence. Oke?"


"Tapi ....


"Tidak ada tapi-tapian. Sekarang kau diam saja karena aku akan sedikit merias wajahmu. Walaupun sedang sedih, kecantikan harus menjadi yang paling utama sekarang. Pesona Nyonya Ma tidak boleh sampai luntur ketika muncul di daerah kekuasaan para wartawan. Image-mu bisa banting harga nanti!"


"Baiklah!"


Di saat Levita dan Elea berbincang dengan bahasa yang hanya di pahami oleh mereka saja, di saat itu pula ada dua orang pria yang terdiam dengan cengo seperti orang bodoh. Mereka seakan sulit untuk percaya kalau di tengah-tengah kekacauan seperti ini Levita dan Elea masih sanggup untuk mengeluarkan omongan gila yang berhubungan dengan harta dan juga harga diri. Sungguh, kekhawatiran mereka seperti tidak ada harganya di mata kedua wanita aneh itu.


"Sepertinya istilah pawang itu memang sangat pantas di berikan pada istrimu, Rein. Lihat. Elea seperti keledai dungu di tangannya. Padahal tadi kita hampir mati jantungan melihatnya yang lepas kendali. Heran!" ucap Gabrielle dengan suara pelan.


"Aku juga sama herannya sepertimu, Gab. Bisa-bisanya ya mereka bercengkrama dengan begitu santai setelah tadi mereka sama-sama menangis karena Flowrence. Apa jangan-jangan mereka itu tidak normal ya, makanya mood mereka bisa berubah sesuka hati. Benar tidak?"


"Entahlah, aku tidak mau memikirkan masalah ini dulu. Yang terpenting sekarang Elea sudah bisa mengendalikan diri. Setelah itu barulah aku bisa melihat langsung seperti apa keadaan putriku. Aku benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaan Flowrence, Rein. Apalagi dia tidak sendiri. Masih ada Russel dan juga Sisil yang juga terluka dalam insiden ini. Aku jadi merasa bersalah pada mereka!" ucap Gabrielle penuh sesal.


"Jangan terlalu di pikirkan. Ragamu hanya satu, jadi kau tidak mungkin bisa menyelesaikan masalah secara bersamaan. Yakinlah, semuanya pasti akan lekas membaik setelah ini. Oke?" sahut Reinhard berusaha menghibur Gabrielle agar tidak terlalu stress.


"Semoga saja!"

__ADS_1


*******


__ADS_2