
🎗🎗🎗🎗🎗🎗🎗
Setelah menjemput Flowrence, Bern dan rombongan langsung membawanya menuju salah satu mall untuk membeli es krim. Oh ya, mungkin kalian banyak yang merasa penasaran dengan tinggi badan Flow yang sering di sebut bantat, mini, dan juga mungil. Di antara kalian mungkin ada yang paham kalau seorang ibu mengandung bayi kembar lebih dari dua, satu di antaranya pasti akan ada yang kalah dalam hal pertumbuhan. Hal ini di dasari oleh riset emak terhadap lingkungan sekitar, atau lebih tepatnya emak melihat sendiri tentang seseorang yang terlahir seperti Flow dan kedua kakaknya. Dan untuk Flow sendiri, ukuran tubuhnya memang yang paling pendek jika di bandingkan dengan Bern maupun Karl. Jika manusia normal biasanya akan mengalami pertumbuhan ke atas, hal itu tidak terjadi pada Flow. Dia memang mengalami pertumbuhan, tapi bukan ke atas, melainkan ke samping. Dan alasan kenapa dia di panggil sebagai gadis bantat, jawabannya adalah karena lemak banyak menumpuk di bagian betis kakinya. Jadi kalian bisa bayangkan sendirilah betapa lucunya si Flow ini. Oke man-teman? 🥰
"Kenapa murung, hem?" tanya Oliver sambil memperhatikan lekat-lekat raut wajah Flowrence yang tidak seceria biasanya. Saat ini mereka sudah berada di salah satu restoran untuk memesan es krim kesukaan Flowrence, dan mereka semua duduk melingkari satu meja khusus yang telah di sediakan oleh pemilik restoran. Yaiyalah, bagaimana mungkin tidak khusus kalau mall ini saja adalah milik Group Ma.
"Kak Oli, aku tidak mau jadi orang miskin yang tidak punya uang," jawab Flow dengan tampang yang begitu menyedihkan. Dia terus terngiang-ngiang dengan ejekan Sisil yang menyebutnya gadis miskin karena tidak punya uang.
"Miskin dan tidak punya uang?" beo Oliver sambil menahan tawa.
"Iya,"
Wajah Cio dan Reiden langsung memerah karena menahan kesal setelah mendengar perkataan Flowrence. Sungguh, ingin rasanya mereka melubangi ubun-ubun Flow agar gadis ini sadar dengan apa yang baru saja dia ucapkan. Miskin dan tidak punya uang? Astaga, apa Flow ini tidak tahu kalau keringatnya saja bisa di gunakan untuk membeli mobil. Bisa-bisanya dia merasa seperti itu. Membuat orang darah tinggi saja. Huh.
"Hei, bodoh. Siapa yang berani menyebutmu seperti itu, hem? Mata mereka sudah buta atau bagaimana!" tanya Karl sambil mencubit pipinya Flow. Dia gemas sendiri mendengar pengakuannya.
"Kondisikan tanganmu, Karl!"'tegur Russell dan Oliver berbarengan.
"Ck, dia adikku!"
"Kalau pipinya sampai lecet, kami juga yang akan kena imbasnya. Tahu kau!"
Karl mencebikkan bibirnya. Flow adalah gadis yang bodoh, tapi kenapa bisa mengancam keselamatan dan kesejahteraan banyak orang? Ingin heran tapi ini adalah Flowrence, adiknya. Haih.
"Flow, bukankah waktu itu Ayah sudah memberimu kartu hitam ya?" tanya Russell mengingatkan.
"Iya, tapi kartu hitam itu tidak bisa aku gunakan untuk membeli balon. Waktu itu aku malu sekali karena teman-temanku bilang aku hanya ingin menipu mereka saja dengan mengatakan kalau aku mempunyai banyak uang untuk membayar belanjaan," jawab Flow dengan sangat jujur.
"Lalu?"
__ADS_1
"Lalu saat di sekolah aku membuang kartu hitam itu. Ayah Jackson telah menipuku, aku tidak mau kartu hitam itu lagi. Aku kesal!"
Hening. Rasanya dunia seakan berhenti berputar begitu Flowrence mengatakan kalau dia telah membuang kartu yang sebenarnya sangat amat berharga itu. Bayangkan saja. Kartu hitam itu adalah kartu limited tanpa batas, yang artinya ada banyak sekali uang di dalamnya. Lalu bagaimana bisa anak ini membuangnya begitu saja? Benar-benar devinisi leluhurnya orang bodoh.
"Flow, dimana kau membuang kartu itu?" tanya Cio setelah tersadar dari keterkejutannya.
"Em, di mana ya? Aku lupa," jawab Flow seadanya.
"A-apa? Lupa?"
Bern langsung menatap tajam ke arah Cio saat mendengar suaranya yang cukup tinggi. Dia tidak suka ada orang bicara dengan nada seperti itu di hadapan adiknya.
"Kenapa menatapku seperti itu, Bern? Mengagumi ketampananku atau bagaimana?" tanya Cio dengan percaya diri.
"Hmm,"
"Cihhh, sok cool sekali kau. Geli aku melihatnya,"
"Terima kasih banyak kakak cantik!" ucap Flowrence tak melupakan tata kramanya. Air liurnya hampir menetes keluar melihat deretan es krim yang tertata di atas meja.
"Sama-sama, Nona Muda!"
Tanpa sengaja tangan Oliver dan Russell saling bertabrakan ketika ingin mengambilkan cup es krim untuk Flow. Setelah itu mata keduanya sama-sama memancarkan emosi tertahan, terlebih lagi Oliver. Ini, ini adalah moment yang paling dia benci ketika harus bersaingan dengan Russell dalam hal memberi perhatian pada Flow. Padahal jelas-jelas Russell sudah mengetahui kalau sejak dia dan Flow belum lahir, mereka telah di jodohkan. Tapi masih saja anak ini ingin mengganggu hubungan mereka. Wajar kan kalau Oliver kesal?
"Ckck, Oliver, Russell. Daripada kalian sibuk bersitegang memperebutkan Flowrence, lebih baik kalian mengambilkan es krim itu untukku saja. Benar tidak?" ledek Karl sambil menaik-turunkan kedua alisnya. Dia suka keributan ini.
"Diam dan makan es krim milikmu sendiri. Jangan mengacau!" tegur Bern.
"Mengacau apa sih, Kak. Aku hanya ingin menjadi penengah di antara mereka saja," sahut Karl sambil mengerucutkan bibir. Selalu saja dia mendapat teguran setiap ingin mengolok-olok Russell dan Oliver. Menyebalkan.
Bern menghela nafas, dia malas bicara lagi. Sedangkan Cio dan Reiden, kedua anak ini diam memperhatikan dua saudaranya yang masih saling beradu tatapan tajam sambil masing-masing memegang satu cup es krim. Sungguh sangat menjengkelkan. Selain mereka di buat repot oleh Flowrence, mereka juga harus siap sakit kepala gara-gara melihat ulah Russell dan Oliver yang selalu saja menebar aroma permusuhan dalam hal memperebutkan Flowrence. Benar-benar memuakkan. Mereka sudah sangat jengah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Dan semua ini terjadi karena Flowrence. Ya, gadis bodoh itu penyebabnya.
__ADS_1
"Flow, kau mau mencicipi es krim milikku tidak? Sepertinya mereka baru saja membuat varian rasa baru. Rasanya sangat menyegarkan!" tanya Andreas menawarkan es krim pada Flowrence. Kalau tidak segera di alihkan, Oliver dan Russell pasti akan semakin memanas.
"Benarkah?" sahut Flow antusias. "Kak Iyas, es krim rasa apa milikmu itu?"
"Entah, kau cicipi saja sendiri. Ya?"
"Baiklah,"
Andreas segera mendorong cup es krim miliknya ke arah Flowrence. Setelahnya dia tersenyum melihat Oliver dan dan Russell yang sudah tak lagi saling menatap.
Hm, kenapa aku seperti sedang merawat banyak bayi besar ya? Ada-ada saja mereka ini.
"Woaahhhh, benar. Es krim ini enak sekali, Kak Iyas. Untukku semua boleh tidak?" tanya Flow sambil berjingkrak-jingkrak kesenangan.
"Boleh-boleh saja. Kalau kau mau, aku akan meminta karyawan restoran ini membungkuskan banyak es krim untuk kau bawa pulang ke rumah. Mau?"
"Tentu saja aku sangat mau, Kak Iyas. Wahhh, kau sungguh baik dan kaya sekali, Kak. Terima kasih banyak ya,"
"Sama-sama,"
Sudut bibir Karl berkedut paksa. Merasa tertekan akan sikap adiknya yang menyebut Andreas sangat kaya hanya karena membelikannya es krim. Bodoh sekali bukan? Astaga.
"Kak Oli, nanti aku boleh meminta uangmu tidak? Kasihan sekali aku, Kak. Sampai sebesar ini aku tidak pernah melihat seperti apa bentuk uang. Menyedihkan bukan?" ucap Flowrence memelas.
"Berapa uang yang kau butuhkan, hm?" tanya Oliver. Dia sigap mengeluarkan dompetnya dari dalam tas begitu Flowrence menyebut ingin meminta uang.
"Satu, Kak."
Dan tanpa di sangka-sangka, semua orang langsung meletakkan satu lembar uang di hadapan Flowrence. Setelah itu mereka saling melempar pandangan. Bukan marah, tapi lebih kepada merasa konyol karena semuak apapun mereka pada Flowrence, tetap saja tangan mereka bergerak dengan sangat cepat untuk mengabulkan apa yang di inginkannya.
Sial, kenapa mereka ikut-ikutan? Flowrence kan hanya meminta uangku, kenapa mereka malah rebutan unjuk gigi? Haih.
__ADS_1
******