
Junio menatap penuh was-was ke arah Elea yang sedang menggendong baby Cio dengan di kelilingi oleh tiga ekor binatang berbeda gender. Dia sangat takut kalau-kalau Elea akan mengumpankan anaknya pada salah satu dari ketiga binatang tersebut.
"Istriku sedang hamil, dan naluri keibuannya sudah muncul. Jadi kau tidak perlu setakut itu melihat Cio di gendong olehnya," ucap Gabrielle sembari berjalan ke arah Junio. Dia lalu memberikan satu gelas minuman kepadanya. "Santai saja. Elea dan ketiga teman-temannya tidak akan mungkin menyakiti anakmu."
Sambil menerima minuman pemberian Gabrielle Junio terus menghela nafas panjang. Jika sudah menyangkut tentang Elea, jawabannya hanyalah antara percaya dan tidak percaya. Bayangkan saja! Selama ini Junio sudah banyak memakan asam garam gara-gara bermasalah dengan wanita satu itu. Jadi wajar saja bukan kalau sekarang dia merasakan rasa khawatir yang begitu besar tentang keselamatan bayi kecambahnya?
"Maaf, Gab. Tapi aku tidak bisa mempercayai kata-katamu sepenuhnya."
"Kenapa?"
Gabrielle bertanya, tapi sudut bibirnya berkedut. Dia menahan tawa setelah mendengar isi pikiran dari pria yang terus terlihat gelisah di sebelahnya.
"Karena dia adalah Elea," jawab Junio jujur. "Oke, aku tahu dia istrimu dan sekarang sedang mengandung tiga anak kalian. Akan tetapi yang berisi itu perutnya, bukan otaknya. Selama ini kalian kan selalu kompak dalam hal membully orang lain, jadi aku akan tetap khawatir meski kau sudah meyakinkan aku kalau Elea tidak akan menyerahkan anakku untuk dinikmati oleh Lan maupun Tora. Aku tidak percaya itu."
"Hmmm, alasanmu masuk akal. Tidak menutup kemungkinan juga sih kalau Elea akan melakukan hal seperti itu pada baby Cio," sahut Gabrielle dengan sengaja malah menakut-nakuti Junio.
Mata Junio langsung memicing tajam ke arah Gabrielle begitu mendengar perkataannya. Sungguh, dia sangat ingin menjitak kepala pria ini sampai benjol. Entah apa yang di pikirkannya, bisa-bisanya Gabrielle mengeluarkan kata-kata seperti itu tanpa memikirkan perasaannya sama sekali. Benar-benar definisi penjahat yang tak punya hati.
Hah, tidak suami tidak istri. Dua-duanya sama-sama menjengkelkan. Awas saja kalian jika bayi kecambahku sampai kenapa-napa. Sampai Laut Merah pun aku tidak akan pernah melepaskan kalian. Huhf.
Dari kejauhan terdengar suara tangis baby Cio yang mana membuat Junio langsung berlari kencang ke arah Elea. Pikirannya campur aduk, dia sudah berpikir yang tidak-tidak tentangnya. Sedangkan Gabrielle, dia hanya duduk santai sembari menunggu drama apa yang akan terjadi antara Junio dengan istrinya. Pasti sangat seru.
"Elea, apa yang kau lakukan pada anakku!" teriak Junio begitu sampai di dekat wanita yang kini tengah terdiam sambil menatap ke arah bawah.
"Paman Junio ....
Suara Elea begitu rendah, membuat bulu kuduk Junio berdiri semua. Firasatnya mengatakan ada hal buruk yang telah terjadi pada kedua orang ini. Saking khawatirnya Junio pada baby Cio, dia sampai melupakan keberadaan Lan dan juga Tora yang saat itu tengah memandanginya. Sementara Cuwee, binatang satu itu nampak terdiam dengan kondisi bibir tertarik ke atas. Semacam orang yang tengah menutup hidung karena mencium bau tidak sedap.
"Elea, ada apa? Cepat kemarikan bayiku," cecar Junio semakin resah.
__ADS_1
"Paman, Cio telah mengeluarkan sesuatu tidak pada tempatnya. Tolong aku, Paman," sahut Elea dengan tatapan tak berdaya.
"Apa maksudnya? Kau bicara apa, Elea? Aku tidak paham."
"Coba sekarang Paman lihat ke bagian kakiku yang di duduki oleh Cio. Lihat dan pastikan apa itu."
Tanpa babibu Junio langsung mengikuti arah yang di tunjuk oleh Elea. Seketika tubuhnya menegang dan perutnya bergejolak. Amarah yang tadi sudah naik ke ubun-ubun mendadak hilang entah kemana. Junio mematung di tempat untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia kembali di kejutkan oleh suara teriakan baby Cio yang begitu keras.
Oeeeekkkkk oeeeekkkkk
"Paman Junio, kenapa malah menjadi batu begitu sih. Ayo cepat tolong aku. Angkat dan antarkan Cio pada Kak Cia. Sekarang, Paman!" kesal Elea kepanikan melihat keponakannya menjerit seperti sedang di siksa.
"Aku tidak mau!" tolak Junio sambil mundur ke belakang.
"Tapi ini kan anakmu."
"Memang benar, tapi tidak dengan ranjau itu."
Saat Junio dan Elea sedang adu kekuatan untuk memenangkan siapa yang akan membawa baby Cio pada ibunya, Patricia dengan tergopoh-gopoh datang mendekat. Dia tengah menikmati cemilan yang di buat oleh ibunya Gabrielle ketika mendengar suara jeritan anaknya tadi.
"Junio, Elea, ada apa? Kenapa Cio sampai menjerit sekuat itu?"
"Kak Cia, Paman Junio menolak untuk membawa Cio kepadamu. Dia bilang tidak mau mengurusnya," jawab Elea dengan tatapan tak berdaya.
"Yakkk, kau jangan memfitnahku, Elea. Mana ada aku bicara seperti itu!" kesal Junio gugup. Dia sangat takut di terkam oleh Patricia sekarang.
Mata tajam Patricia langsung terarah pada suaminya yang langsung mundur menjauh saat Elea hendak memberikan Cio kepadanya. Setelah itu mata Patricia tak sengaja melihat secumpuk benda lembek berwarna kuning kehijauan yang menempel di kedua kaki dan ujung baju Elea. Dan detik itu juga dia langsung tahu alasan kenapa kedua orang ini sama-sama tidak ada yang mau berdekatan dengan anaknya. Ya, anaknya pup. 😅
"Kak, kau lihat sendiri kan kalau Paman Junio tidak mau menggendong anaknya sendiri? Tinggalkan saja dia, Kak. Dia tidak cocok di anggap sebagai ayah dan suami yang baik!" kesal Elea semakin merasa tak nyaman ketika bau asam terus menyerbu indra penciumannya. Tapi anehnya Elea tidak merasa mual, malah ada semacam rasa ketagihan meski bulu kuduknya berdiri semua.
__ADS_1
"Yakkkk!"
"Jangan meneriaki istriku seperti itu, Jun. Anak-anak kami bisa kaget nanti," ucap Gabrielle tak terima karena ini sudah kedua kalinya Junio meneriaki istrinya.
Junio mendengus. Percuma dia mengomeli Elea karena sekarang pawangnya sudah datang. Namun ketika Junio melihat Gabrielle ingin mendekati Elea, tiba-tiba saja dia menyeringai senang. Junio ingin melihat apakah pria overposesif ini mampu menahan serangan ranjau darat milik anaknya atau tidak. Dan Junio berani jamin kalau Gabrielle akan langsung kabur karena dia adalah penderita OCD akut. Hehehe.
"Astaga, bau apa ini?" tanya Gabrielle bingung.
"Cio pup, dan inilah yang membuat Bibi dan ayahnya bertengkar hebat," jawab Patricia sambil menghela nafas. Setelah itu dia mengambil Cio dari gendongan Elea lalu membawanya pergi dari sana.
Dan tanpa di sangka-sangka, begitu Patricia pergi Gabrielle langsung lenyap dari pandangan. Sementara Junio dan Elea, mereka tercengang heran melihat kelakukan Gabrielle yang seribu kali lebih ketakutan begitu melihat ranjau darat yang di keluarkan oleh Cio.
"Elea, apa kau memiliki keinginan untuk meninggalkan Gabrielle?" tanya Junio menebak-nebak.
"Tidaklah. Kenapa Paman bertanya seperti itu?" jawab Elea kemudian balik bertanya.
"Kau tadi menyebutku tidak cocok di anggap sebagai ayah dan suami yang baik, tapi sekarang lihatlah kelakuan suamimu sendiri. Dia pergi tanpa menolongmu sama sekali. Bukankah Gabrielle seharusnya juga bisa di anggap sebagai suami yang tidak baik ya?"
Elea perlahan-lahan berdiri kemudian mendekat ke arah Junio. Setelah itu dia dengan sengaja mencolek sisa ranjau yang melekat di ujung bajunya lalu menempelkannya ke lengan ayahnya Cio. Dia tersenyum.
"Paman Junio, Kak Iel seperti itu karena dia memilih penyakit akut akan kebersihan. Jadi wajar saja kalau dia langsung lari terbirit-birit begitu melihat ranjau di bokong Cio. Dan aku rasa sekarang bukan hanya Kak Iel saja yang akan lari terbirit-birit, tapi Paman juga," ucap Elea penuh maksud.
"Maksudnya apa?"
Jakun Junio bergerak cepat saat jari Elea menunjuk ke arah lengannya. Setelah itu Lan, Tora, dan juga Cuwee sama-sama berjengit kaget saat Junio tiba-tiba berteriak dengan sangat kuat begitu melihat ada ranjau lembek kekuningan yang menempel di sana.
"AAAAAAAAAA ... sialan kau Elea!" teriak Junio sebelum akhirnya pergi meninggalkan Elea yang sedang tertawa terbahak-bahak.
"Hahahahahahaha," ....
__ADS_1
*****