
Gabrielle menatap datar ke arah Nun dan juga Jackson yang tengah berdiri diam di hadapannya. Tadi sewaktu Gabrielle sedang sibuk dengan pekerjaannya di kantor, dia di buat syok dadakan begitu melihat foto yang di kirimkan oleh salah satu anak buah yang dia tempatkan di rumah Jackson. Jantungnya Gabrielle seperti terbang keluar ketika mendapati foto yang memperlihatkan bagaimana Nun dan Jackson membully Elea. Istrinya, kesayangannya, di bully sampai rambutnya pitak. Suami mana yang tidak marah menyaksikan istrinya yang sedang hamil di perlakukan dengan begitu buruk oleh kedua pria yang ada di hadapannya ini? Benar-benar kelewatan.
"Kak Iel, kenapa kau datang kemari? Kan tidak seperti ini perjanjian kita kemarin," tanya Elea sambil mendongak menatap wajah suaminya. Dia baru saja mendapat perawatan dari orang salon yang diminta oleh Gabrielle untuk membantu merapihkan rambutnya yang sudah setengah pitak.
"Sayang, saat ini aku sedang tidak mau bercanda. Bisakah kau diam?" sahut Gabrielle dingin.
"Baiklah."
Tanpa banyak bicara lagi Elea segera berpindah duduk ke sofa. Dia tahu kalau sekarang bukan saatnya untuk dia bersikap polos dan kekanakan. Elea sangat paham akan situasi yang sedang bergejolak di diri suaminya itu.
"Nun!" panggil Gabrielle dengan suara tertahan.
"Iya, Tuan Muda."
Nun maju mendekat. Dia sudah sangat siap dengan segala resiko yang akan di terimanya akibat lalai menjaga keselamatan sang nyonya.
"Sejak kapan kau menjadi seorang pembelot? Bukankah sedari dulu kau itu sudah diminta untuk merawatku? Lalu kenapa kau tidak melakukan hal yang sama pada Elea? Dia istriku, dan sekarang sedang mengandung ketiga anakku. Haruskah kau membuatku kecewa seperti ini?"
"Tidak seperti itu kejadiannya, Tuan Muda. Anda salah paham!" sahut Nun dengan berani. "Nyonya ingin memasak sendirian di dapur, dan beliau tidak mau ada orang yang menemani. Setelah itu saya tidak sengaja melihat dokter Jackson yang sedang mengendap-endap mengintai Nyonya memasak. Saya menegurnya. Tak lama kemudian Nyonya menjatuhkan sebuah kuali yang membuat kami sadar kalau rambut Nyonya Elea sudah setengah pitak. Jadi di sini sama sekali tidak ada unsur pembullyan, Tuan Muda. Semua yang terjadi di luar pengawasan kami semua!"
Gabrielle menoleh ke belakang. Dia mencari pembenaran atas apa yang di katakan Nun pada Elea.
"Hehehe, iya, Kak. Pak Nun tidak bohong, memang aku yang tidak mau di ganggu orang saat sedang memasak," ucap Elea sambil tertawa kecil tanpa dosa.
"Pulang bersamaku hari ini juga. Lalu setelah itu kau jangan pernah lagi terpikir untuk tinggal di rumah pria lain!" sahut Gabrielle tak terbantahkan. "Sedari awal kau ingin pergi kemari, aku sudah was-was kalau kau akan celaka. Dan lihat apa yang terjadi sekarang. Rambutmu botak!"
"Hanya sedikit, Kak Iel. Nanti juga tumbuh lagi!"
__ADS_1
"Elea!"
Setengah membentak Gabrielle menyikapi perkataan santai yang keluar dari mulut Elea. Setelah itu Gabrielle menghela nafas, sadar kalau nada suaranya cukup tinggi.
"Maaf."
Hening. Baik Elea maupun yang ada di sana tidak ada yang berkata-kata saat Gabrielle meminta maaf. Mungkin untuk kali ini Gabrielle selamat karena hormon kehamilan Elea tidak membuatnya menangis sesenggukan. Buktinya sekarang Elea malah dengan manis tersenyum sambil menatap dalam ke arah Gabrielle. Sangat jauh berbeda dengan sikap yang sering dia tunjukkan akhir-akhir ini.
"Baiklah, Kak Iel. Karena aku adalah istri yang baik, maka hari ini aku akan ikut pulang bersamamu. Aku minta maaf ya karena sudah membuatmu menjadi khawatir seperti ini. Semuanya sama sekali tidak aku rencanakan. Sungguh!"
"Elea, jadi kau akan pulang bersama dia?" tanya Jackson merasa tak rela Elea pergi dari rumahnya. Dia belum puas memanjakan adiknya itu meski taruhannya sekarang Jackson harus rela merasakan demam tinggi.
"Kenapa memangnya?" sahut Gabrielle sengit. "Dia istriku, dan aku adalah suaminya. Apa yang salah kalau dia pulang bersamaku?"
"Ck, aku tidak bicara denganmu."
"Kak Jackson, memangnya kau sudah lupa ya dengan pasal yang menyebutkan kalau semua hal yang berhubungan denganku itu akan terhubung secara langsung dengan Kak Iel? Seperti tadi. Kau bertanya, dan Kak Iel menjawab. Itu sah-sah saja karena Kak Iel adalah suamiku. Paham kan sekarang?"
Dengan sangat bangga Gabrielle tersenyum mengejek ke arah Jackson yang terlihat kesal saat Elea membelanya secara terang-terangan. Sungguh, ini seperti skak matt yang paling mematikan. Jika saja Gabrielle yang berada di posisinya Jackson sekarang, dia pasti sudah akan melompat ke dalam sumur saking malunya dia.
Hahaha, rasakan! Memangnya enak kau memakan racun yang di semburkan oleh Elea? Kami adalah satu, sudah pasti kami akan saling membela jika ada orang yang coba-coba menyalahkan salah satunya. Dasar bodoh.
"Tapi Elea, bagaimana dengan taman yang baru kau buat semalam?" tanya Jackson mencoba untuk tidak terprovokasi senyum yang dilayangkan oleh Gabrielle.
"Biarkan sajalah, Kak. Nantikan aku masih akan main-main kemari," jawab Elea. "Em Kak Jackson, apa kau keberatan kalau bunga-bunga itu aku tanam di sini? Kalau keberatan biar nanti Pak Nun yang akan memindahkannya ke rumah Ibu Liona. Kak Iel, bolehkan aku memindahkan bunga-bunga itu ke rumah Ibu?"
"Tentu saja sangat boleh, sayang. Kau bebas melakukan apapun yang kau mau," sahut Gabrielle seraya tersenyum lebar.
__ADS_1
"Itu bagus."
Nun hanya bisa pasrah saat menerima mandat penting untuk memindahkan taman yang telah membuatnya menjadi salah satu bunga di taman tersebut. Dia dengan cepat menundukkan kepala saat Tuan Muda dan sang nyonya saling membalas pelukan dengan begitu mesra.
"Ya sudah kalau memang itu yang kau mau. Tapi bisakah kau tetap membiarkan taman itu tetap di sini? Rumah ini jadi terasa lebih hidup sejak kau menanam bunga-bunga itu," ucap Jackson pasrah. Dia sebenarnya tidak rela, tapi apa mau di kata. Jackson tidak mempunyai hak untuk melarang Elea pulang bersama suaminya.
"Em, bagaimana ya? Aku menyukai salah satu bunga yang ada di taman itu, Kak. Tapi kalau kau memaksa, silahkan saja. Jangan lupa untuk sering menyiramnya ya supaya mereka tidak mati. Dan juga bolehkah aku meminta kunci duplikat rumah ini? Siapa tahu nanti aku akan minggat lagi dari rumah, jadi aku tidak perlu repot-repot menghubungimu. Bolehkan?" tanya Elea penuh harap. Entah kenapa dari dalam hatinya muncul sebuah pemikiran untuk memperkaya diri. Elea bosan dengan rumah mewah milik mertua dan juga milik suaminya.
"Kalau kau mau kau juga boleh mengambil rumah ini," jawab Jackson dengan penuh suka rela.
"Elea tidak semiskin itu sampai harus mengambil rumah jelekmu ini, Jack. Kau jangan sok cari muka di hadapannya!" tegur Gabrielle tak suka.
"Cari muka kepalamu. Aku kakaknya!" sahut Jackson jengah.
"Aku suaminya!"
"Dia adikku!"
"Dia ibu dari ketiga calon anakku!"
Elea dan Nun menatap bergantian ke arah Gabrielle dan Jackson yang sedang bersitegang hebat. Setelah itu Elea mengatakan sesuatu yang langsung membuat keduanya diam seribu bahasa.
"Pak Nun, tolong ambilkan gergaji lalu belah tubuhku menjadi dua. Bagikan masing-masing satu untuk Kak Iel dan Kak Jackson. Oke?"
Apa kalian penasaran seperti apa reaksinya Nun ketika diminta melakukan hal itu oleh sang nyonya? Ya, dia diam membatu dengan tatapan wajah yang benar-benar begitu datar. Sungguh, sekarang Nun sangat amat berharap menjadi seorang mutan yang tidak di operasikan. Hidupnya menjadi seribu kali lebih sulit semenjak wanita yang bernama Elea masuk ke dalam kehidupan Tuan Muda-nya. Kasihan sekali bukan?
*****
__ADS_1