Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Kekhawatiran Seorang Ayah


__ADS_3

Bern melangkah masuk ke dalam perusahaan dengan ekpresi datar seperti biasanya. Namun, ada yang berbeda dengan hatinya. Entah ini takdir atau apa, perasaan Bern jadi terasa jauh lebih ringan setelah dia memutuskan untuk bertanggung jawab atas apa yang tidak sengaja dilakukannya pada Amora. Agak aneh memang, tapi Bern tidak peduli. Perbuatannya memang sangat salah, diapun tidak membenarkan. Namun hal tersebut terjadi bukan atas kehendak Bern sendiri. Dan yang paling penting Bern tidak lari dari tanggung jawab. Itu poin utamanya.


“Tuan Muda Bern.”


Langkah kaki Bern terhenti saat ada orang yang tiba-tiba memanggilnya. Dia yang baru akan masuk ke dalam ruangan segera berbalik untuk melihat siapa orang tersebut. Dan begitu Bern berbalik, dia dibuat terheran-heran akan kemunculan Tuan Kendra di perusahaannya. Seingat Bern, semua permasalahan pekerjaan dengan Airan Group sudah selesai di tangani oleh Karl. Lalu untuk apa Tuan Kendra datang menemuinya? Mungkinkah ini tentang Amora?


“Selamat pagi, Tuan Muda Bern,” sapa Kendra dengan sopan. Raut lesu dan juga lelah menunjukkan betapa dia tidak istirahat dengan baik. Wajahnya juga terlihat pucat dan di bawah matanya ada lingkaran hitam yang cukup tebal. Kendra kurang tidur.


“Ada apa, Tuan Kendra? Seharusnya Karl sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik bukan?” tanya Bern to the point. Jujur, saat ini Bern merasa sangat gelisah akan kehadiran Tuan Kendra yang begitu tiba-tiba. Dadanya sampai berdebar kuat membayangkan yang tidak-tidak.


“Tuan Muda, sebelumnya saya ingin berterima kasih banyak atas kebaikan hati anda yang bersedia membantu menyelamatkan Airan Group dari kebangkrutan. Akan tetapi tujuan saya datang menemui anda bukanlah tentang kerjasama di antara perusahaan kita. Ada hal lain yang ingin saya bicarakan dengan anda,” jawab Kendra jujur. “Ini tentang Amora, Tuan Muda. Saya … saya ingin tahu bagaimana kabarnya sekarang. Bolehkah?”


Deg deg deg


Mulut Bern seakan terkunci rapat saat sesuatu yang dia khawatirkan benar-benar menjadi tujuan utama Tuan Kendra datang menemuinya. Seraya menampilkan ekpresi yang sangat dingin, Bern menyindir Tuan Kendra yang sebelumnya dengan begitu tega menjadikan putrinya sendiri sebagai alat tukar untuk mempertahankan perusahaannya yang hampir bangkrut.


“Ada apa ini, Tuan Kendra. Bukankah kau sendiri yang dengan sukarela memberikan Amora padaku? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan kabarnya? Apa kau berniat melakukan transaksi ulang dengan menukarkan Amora untuk sesuatu yang lebih besar lagi?” sindir Bern. “Ingat, Tuan Kendra. Bahkan anjingpun tak rela memberikan anaknya demi agar anjing tersebut bisa makan enak. Dan aku harap harga dirimu tidak serendah itu.”


“Tidak, Tuan Muda. Saya tahu saya salah, dan saya sadar betul kalau apa yang saya lakukan terhadap Amora tidaklah termaafkan. Namun, Amora tetaplah putri kandung saya. Dan saya … khawatir!”

__ADS_1


Mataku tidak salah melihatkan? Tuan Kendra terlihat begitu sedih saat membicarakan Amora, lalu kenapa dia menyetujui permintaan Karl saat meminta salah satu putrinya agar di berikan padaku? Ada apa ini? Kenapa aku merasa kalau Tuan Kendra tidak sepenuhnya jahat dalam hal ini? Karl tidak mungkin menekannya ‘kan?


Saat Bern tengah bertanya-tanya akan keanehan sikap Tuan Kendra, Karl muncul. Dan gelagat berbeda langsung terlihat di diri Tuan Kendra ketika dia menyadari tatapan tak biasa dari mata Tuan Muda kedua di keluarga Ma. Bern yang tengah fokus dengan pikirannya sama sekali tidak menyadari kalau setujunya Tuan Kendra untuk menyerahkan Amora padanya adalah karena di ancam oleh Karl. Ya, walaupun Kendra tidak terlalu menyukai Amora, tapi sesungguhnya dia tetaplah merasa sangat berat melepaskan putrinya untuk menjadi pelayan seorang pria yang di kenal sebagai sosok dingin dan tidak berperasaan. Dan setelah kepergian Amora, tak pernah sekalipun Kendra bisa tidur dengan nyenyak. Begitu juga dengan ketiga putrinya yang lain. Mereka semua tidak ada yang tenang memikirkan Amora, si gadis kurang beruntung yang selama ini selalu mendapat perlakuan tak adil dari keluarganya. Kendra selalu terpikir apakah putrinya sudah makan atau belum, apakah putrinya tidur di tempat yang layak atau tidak. Hingga akhirnya Kendra memberanikan diri untuk datang menemui Bern guna menanyakan kabar tentang putrinya. Dia sudah tak tahan di dera rasa bersalah dan juga cemas.


“Wahhh Tuan Kendra, selamat pagi,” sapa Karl pura-pura kaget melihat keberadaan Tuan Kendra di Group Ma. Dia kemudian tersenyum. Namun sesungguhnya senyum tersebut merupakan satu senyuman penuh ancaman.


“S-selamat pagi kembali, Tuan Muda Karl,” sahut Tuan Kendra agar gugup saat membalas sapaan. Telapak tangannya seketika berkeringat terkenang dengan ancaman yang dia dapatkan malam itu saat menolak untuk memberikan Amora pada Bern. Kedua kaki Tuan Kendra serasa tak bertulang sekarang.


Ya Tuhan, bagaimana ini? Karl sudah lebih dulu datang sebelum aku mendengar kabarnya Amora. Apa yang harus aku lakukan sekarang?


Karl menyeringai tipis saat mendengar apa yang sedang di pikirkan oleh Tuan Kendra. Sadar kalau kakaknya juga ada di sana, Karl pun dengan sengaja menepuk bahunya pelan. Dia bersikap seperti ini agar kakaknya segera tersadar kemudian masuk ke dalam ruangannya sebelum Tuan Kendra memberitahu kebenaran yang terjadi. Karl tentu tak rela rencananya gagal di tengah jalan. Dia tidak mau itu.


“Aku tidak sedang melamunkan apa-apa,” jawab Bern agak kaget saat Karl tiba-tiba menepuknya.


“Benarkah?” Karl terkekeh. “Lalu kalau bukan melamun kenapa kau mengabaikan Tuan Kendra seperti tadi? Apa dia mengatakan sesuatu yang membuatmu merasa tak nyaman?”


Bern langsung menatap Tuan Kendra saat di tanya seperti itu oleh Karl. Merasa tidak ada yang penting dengan pembicaraan mereka, Bern memutuskan masuk ke dalam ruangannya saja. Dia membiarkan Tuan Kendra berdua dengan Karl di sana, tak mempedulikan kalau sebenarnya di sana ada satu kebenaran tentang Amora.


Begitu kakaknya masuk, Karl langsung melayangkan tatapan bengis ke arah Tuan Kendra yang tengah menundukkan kepalanya. Tanpa merasa kasihan sama sekali, Karl kembali menggertak pria tak berguna ini seperti yang dilakukannya malam itu.

__ADS_1


“Tuan Kendra, sepertinya kau ini bukan tipe orang yang memahami arti dari rasa takut yang sebenarnya ya. Haruskah aku benar-benar menculik ketiga putrimu lalu menjualnya kepada pria hidung belang di luaran sana? Jangan kau kira aku hanya main-main dengan ucapanku, Tuan Kendra. Kalau kau tidak percaya, aku tidak keberatan untuk melakukannya. Sungguh!”


“T-Tuan Muda, b-bukan seperti itu. Sa-saya … saya sama sekali tidak mengatakan hal yang salah kepada Tuan Muda Bern. Saya … saya hanya ingin mendengar kabar Amora saja. Sungguh,” sahut Kendra ketakutan saat di ancam kalau ketiga putrinya yang lain akan di jual kepada pria hidung belang. Dia tak bisa membayangkan jika seandainya hal ini benar sampai terjadi. Mungkin Kendra akan memilih untuk mati saja.


“Benarkah?” beo Karl tak percaya.


“Benar, Tuan Muda. Saya berani bersumpah kalau saya sama sekali tidak memberitahukan apa-apa kepada beliau. S-saya hanya bertanya tentang Amora, dan itupun belum di jawabnya.”


Karl menghela nafas panjang. Aneh. Kalau memang benar Tuan Kendra tidak memberitahukan apa-apa, lalu kenapa kakaknya terlihat cemas dan tak tenang? Mungkinkah ada sesuatu yang telah Karl lewatkan? Kira-kira apa itu?


“Tuan Muda Karl, kapan Amora akan di izinkan untuk kembali ke rumah? Jujur, saya benar-benar tidak tenang membiarkannya tinggal di rumah Tuan Muda Bern. Bersediakah anda untuk memperingan persyaratan ini?” tanya Kendra penuh harap.


Tidak di pungkiri, sebagai seoran ayah Kendra tentu takut Bern melakukan sesuatu yang tak senonoh kepada putrinya. Kendra akui sewaktu dia mengusir Amora pergi, Kendra memberitahu Amora kalau dia telah menjualnya. Namun hal tersebut terpaksa Kendra katakan karena saat itu Kendra tahu ada mata-mata di rumahnya. Dia tak bisa mengambil resiko lain jika tidak mematuhi peraturan dari Karl, pria bertampang jenaka yang ternyata adalah seorang iblis. Dan rasa bersalah inilah yang membuat Kendra tak bisa tidur dengan nyenyak.


“Tuan Kendra, aku sarankan kau sebaiknya kembali saja ke perusahaanmu sebelum aku berubah pikiran lalu memerintahkan orang untuk menculik ketiga putrimu. Dan mengenai Amora, saat waktunya tiba dia pasti akan kembali lagi ke rumahmu. Jadi selama waktu itu belum datang, kau sebaiknya diam dan tutup mulutmu dengan repat. Karena jika tidak, kau tahu sendiri bukan apa yang bisa aku lakukan?” ancam Karl dengan jahatnya. Setelah itu dia melenggang pergi dari sana meninggalkan Tuan Kendra seorang diri menahan tangis.


Asal kau tahu saja, Tuan Kendra. Putrimu yang buruk itu selamanya tidak akan pernah kembali lagi ke rumahmu. Karena apa? Karena Amora sudah aku takdirkan untuk mati di tangannya Bern. Kasihan. Hahahaha.


***

__ADS_1


__ADS_2