Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Ginjal Yang Merajuk


__ADS_3

Begitu sampai di halaman rumah, tanpa menunggu mobil benar-benar berhenti Gabrielle langsung keluar dari dalam mobil. Ares yang melihat kelakuan Tuan Muda-nya hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. Dia sudah cukup frustasi setelah mendengar ocehan tidak masuk akal dari mulai mereka masuk ke dalam mobil hingga sekarang mobil sudah berada di halaman kediaman Tuan Muda-nya. Ingin mengeluh tapi percuma. Mereka adalah Gabrielle dan Elea, pasangan fenomenal yang bucinnya sudah mendarah daging. Sambil terus menghela nafas, Ares dengan sabar memarkirkan mobil. Setelah itu dia mengirim pesan pada Cira apakah ada yang dia inginkan atau tidak. Selelah apapun Ares, dia tetap berusaha menjadi suami dan calon ayah yang baik untuk keluarga kecilnya. Dan betapa beruntungnya dia karena Cira begitu pengertian akan tugasnya sebagai asisten sekaligus sahabat dari Tuan Muda Ma.


"Apa saja yang kau lakukan di rumah, Nun? Kenapa istriku bisa belum makan saat menelponku tadi. Jangan bilang kau dan para pelayan hanya ingin makan gaji buta dariku ya!" omel Gabrielle begitu Nun muncul menyambutnya. Dia bahkan tidak memberi kesempatan untuk Nun sekedar menyapa.


"Selamat datang, Tuan Muda. Saya minta maaf atas kelalaian dan kecerobohan yang terjadi di rumah ini!" ucap Nun tetap menyapa meski sudah mendapat semburan lahar panas.


"Aku tidak akan menerima permintaan maaf dari kalian sebelum kau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi!" sahut Gabrielle masih kesal. "Katakan, kenapa kalian bisa menelantarkan istriku sampai seperti ini. Apa bahan makanan yang ada di rumah ini sudah habis sampai-sampai kalian tega membiarkan istriku tidak makan. Kalau sudah habis, kenapa kalian tidak pergi ke supermarket? Uang bulanan kurang? Bilang padaku seberapa banyak uang yang kalian butuhkan. Ah, atau begini saja. Untuk menghindar kejadian seperti ini kembali terulang, besok aku akan membangun supermarket di sekitaran sini agar kalian tidak kesusahan lagi. Dan kau Nun, bukankah kau tahu kalau Elea itu harus betul-betul di jaga kesehatannya? Bagaimana kalau ginjal barunya sampai merajuk gara-gara kalian telat memberinya makan? Mau ku ambil ginjal kalian untuk menggantikan ginjalnya Elea? Pasti tidak mau kan? Makanya jangan teledor. Bagaimana sih!"


Tidak ada satupun orang yang berani menjawab semua pertanyaan yang di lontarkan oleh Gabrielle. Selain takut, mereka sebenarnya juga bingung karena si majikan ini menjawab pertanyaannya sendiri. Bahkan Ares yang baru datang di buat frustasi saat mendengar keinginan Tuan Muda-nya yang ingin membangun supermarket hanya gara-gara masalah yang belum di ketahui kebenarannya. Memang benar ya kalau cinta kadang membuat seseorang menjadi bodoh. Dan banteng pencemburu ini adalah salah satu bukti nyatanya.


"Tuan Muda, Nyonya Elea pulang cukup malam bersama Nona Levita. Dan saat kami bertanya, Nona Levita menjawab kalau mereka sudah makan malam di luar. Itulah mengapa kami tidak lagi memasak makanan untuk Nyonya!" ucap Nun menjelaskan titik masalahnya. Dia berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa demi membantu sang nyonya agar berhasil dalam memberi kejutan untuk Tuan Muda mereka.


"Oh, jadi otak di balik penelantaran istriku adalah Levita ya? Pantas saja saat menelponku wajah Elea terlihat sangat tertekan. Aku jadi curiga kalau wanita bar-bar itu sudah mengancam Elea!" sahut Gabrielle yang langsung melimpahkan kesalahan pada si pekalor.


"Tuan Muda, saya rasa Nona Levita tidak mungkin melakukan hal seperti itu terhadap Nyonya Elea. Coba Tuan Muda pikirkan, pertemanan mereka begitu kuat dan aneh. Bahkan Nona Levita sering mati kemudian bangkit kembali setiap menjadi korban dari ketajaman mulut Nyonya Elea. Di sini seharusnya yang merasa tertekan itu Nona Levita, bukan Nyonya Elea. Benar tidak Nun?" timpal Ares yang entah kenapa ingin membela calon istrinya dokter Reinhard.


"Benar, Tuan Muda. Saya sependapat dengan pemikiran Ares karena di sini tidak ada yang tidak tertekan setiap kali berada di dekat Nyonya. Bahkan untuk ukuran Nyonya Besar Liona saja sampai tidak berkutik di tangan Nyonya Elea. Saya rasa Nona Levita tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Mungkin Nyonya memiliki alasan lain kenapa berkata seperti itu kepada anda!" jawab Nun menyetujui pendapat rekannya.


Tubuh semua orang yang ada di sana langsung merinding disko saat mata si banteng pencemburu mengeluarkan aura pembunuh yang begitu kejam. Kini Ares dan Nun sangat menyesali kata-kata yang baru saja mereka ucapkan. Harusnya tadi itu mereka meng-iyakan saja saat Tuan Muda mereka menyalahkan Levita, bukan malah membelanya. Mereka sekarang hanya bisa pasrah jika seandainya si banteng pencemburu ini ingin menurunkan hukuman untuk semua orang. See, kalian lihat kan betapa mengerikannya wanita yang bernama Elea itu? Bahkan di saat si Elea tidak ada di sini saja semua orang masih menjadi tumbal. Coba kalian bayangkan jika seandainya si pemilik nama tersebut ada di antara mereka? Bisa-bisa malam ini mereka semua akan tidur dalam kondisi di gantung terbalik.

__ADS_1


"Jadi di sini istriku yang salah ya? Dia kelaparan karena kesalahannya sendiri, begitu?" tanya Gabrielle penuh penekanan.


"Tidak, Tuan Muda. Nyonya Elea tidak pernah salah, tapi kami lah yang bersalah. Tolong ampuni kami semua, Tuan Muda. Saya berjanji lain kali tidak akan ada kejadian seperti ini lagi," jawab Nun dengan tegas mengakui kalau penyebab semua masalah ini bukanlah nyonya mereka. Untuk mempersingkat waktu, begitu pikirnya.


"Maaf maaf saja bisanya kalian ya. Huhhff, awas saja kalau nanti aku tahu kalian kembali membuat Elea kelaparan. Aku akan membawa Lan pulang ke rumah ini untuk menyiksa kalian semua. Mau?" ancam Gabrielle sambil membuka dasi di lehernya. Dia gerah setelah marah-marah.


"Tidak mau, Tuan Muda," jawab para pelayan ketakutan. Yang benar saja Tuan Muda mereka berniat menempatkan seekor harimau di rumah ini. Bisa gila mereka nanti.


"Ya sudah, untuk malam ini kalian semua aku maafkan. Tapi tidak jika kejadiannya sampai terulang di kemudian hari. Ingat itu baik-baik!"


"Baik, Tuan Muda. Terima kasih."


"Tuan Muda?"


"Hmmm."


"Jangan lupa tarik nafas dalam-dalam sebelum masuk ke dalam kamar!" ucap Nun sembari melangkah keluar dari dalam lift. Dia kemudian berhenti tepat di depan pintu kamar milik sang majikan.


"Kenapa memangnya, Nun?" tanya Gabrielle heran.

__ADS_1


"Tidak kenapa-napa, Tuan Muda. Kalau begitu saya permisi."


Gabrielle cengo melihat Nun yang langsung pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaannya. Berani sekali mutan itu mengabaikannya seperti ini. Aneh. Gabrielle kemudian mulai berpikir yang tidak-tidak tentang maksud dari perkataan Nun barusan. Dia lalu menatap pintu kamar dengan raut wajah penuh kebingungan.


"Kenapa Nun berpesan seperti itu padaku ya? Elea tidak mungkin gantung diri di balik pintu kamar ini kan? Mencurigakan sekali!" gumam Gabrielle seraya memutar knop pintu kamarnya.


Dan begitu pintu terbuka, Gabrielle langsung diam mematung melihat siapa yang sedang berdiri di hadapannya. Rahangnya sampai terbuka dengan sangat lebar begitu dia menyadari siapa wanita cantik yang dengan begitu manis menyambut kepulangannya dalam balutan penampilan yang sama persis seperti bayangan dalam fantasinya.


"Sayang," ....


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...


...πŸ€Fb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2