Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Menggosip


__ADS_3

Di lantai bawah, terlihat Nun dan para pelayan yang sedang sibuk dengan tugas masing-masing. Sementara di luar rumah, beberapa penjaga tengah kerepotan mengurus Cuwee yang tidak mau berhenti berteriak. Tubuh para penjaga sudah di penuhi keringat, dan ekpresi di wajah mereka pun terlihat tidak baik. Bagaimana tidak! Binatang satu ini adalah musuh bebuyutan Tuan Muda mereka. Semua penjaga yang ada di rumah ini bisa terkena imbas kenakalan Cuwee kalau binatang ini sampai membangunkan singa yang saat ini masih belum menampakkan batang hidungnya.


"Aduhhh, rasanya aku lebih memilih mengurus pencuri daripada harus berurusan dengan kuda gatal ini. Benar-benar merepotkan! Kenapa sih dia tidak di usir saja dari sini. Sejak kedatangannya di rumah ini, aku sering berada dalam situasi mencekam. Apalagi jika Tuan Muda ada di rumah, serasa aku ini tengah berjalan di atas tumpukan duri tajam!" keluh salah seorang penjaga yang memang bertugas mengurus Cuwee.


"Hei, kau jangan sembarangan bicara. Kalau sampai ada yang mendengar lalu melaporkan pada Tuan Muda, maka habislah kau. Hati-hati dengan lidahmu!" tegur penjaga lain sambil terus membujuk Cuwee agar mau memakan rumput.


"Aku tidak takut jika di laporkan pada Tuan Muda. Tapi aku bisa menangis darah kalau sampai Nyonya Elea yang datang menemuiku. Beliau memang tidak melakukan kekerasan, tapi tekanan batin yang Nyonya Elea berikan jauh lebih mengerikan dari semua hukuman yang pernah aku dapatkan dari Tuan Muda, Nun, dan juga Ares. Hiii... membayangkannya saja membuat bulu kudukku berdiri semua."


Setelah itu mulut para penjaga langsung terkatup rapat begitu menyadari kalau sejak tadi Ares ada di belakang mereka. Seketika semuanya diam mematung dengan tubuh menegang kuat. Membicarakan tentang Nyonya Elea di rumah ini adalah sesuatu yang sangat di larang. Tapi bodohnya, mereka dengan santai malah menggosipkan keburukkan sang nyonya yang suka sekali membuat mereka terkena serangan mental. Kini mereka semua hanya bisa pasrah jika seandainya Ares akan memberi hukuman pada mereka. Sudah menjadi nasib, begitu pikir para penjaga.


"Lain kali kalau mau menggosib usahakan di tempat yang aman. Untung saja Tuan Muda dan Nyonya Elea masih belum keluar dari kamar. Kalian semua bisa mati gosong jika Tuan Muda sampai mendengar pembicaraan kalian tadi!" tegur Ares yang maklum akan ketakutan para penjaga terhadap nyonya mereka yang memang cukup mengerikan.


"Maafkan kami, Tuan Ares. Sebenarnya kami sama sekali tidak ada niat untuk membicarakan Nyonya Elea. Kami hanya merasa frustasi menghadapi Cuwee yang sejak pagi tadi tidak mau diam lalu tidak sengaja jadi membahas tentang Nyonya. Kami takut suaranya yang keras ini akan memantik kemarahan Tuan Muda Gabrielle!" sahut salah satu penjaga.


Ares menghela nafas. Cuwee, entah apa yang salah pada binatang satu ini sampai-sampai Tuan Muda-nya begitu marah setiap kali melihatnya, apalagi mendengar suara ringkikan Cuwee yang di anggap sebagai senyum ejekan. Ares kembali menghela nafas panjang saat Cuwee meringkik dengan suara yang cukup ergghhh... memekakkan.


"Menyebalkan!" gumam Ares lirih.


Malas berhadapan dengan binatang yang menjadi musuh dari Tuan Muda-nya, Ares memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Dia kemudian mengangguk ke arah Nun saat berpapasan di depan pintu masuk.


"Apa terjadi masalah di kandang Cuwee?" tanya Nun seraya melirik sekilas ke arah para penjaga.


"Cuwee sedang memeriksa pita suaranya, makanya dia tidak berhenti meringkik sejak tadi. Para penjaga terlihat kebingungan mengurusnya, mereka bahkan sampai membicarakan Nyonya Elea saking takutnya Tuan Muda akan murka jika sampai mendengar suara ringkikan binatang itu," jawab Ares sambil tersenyum tipis.


"Mereka itu bodoh atau bagaimana? Jelas-jelas yang bisa membuat Tuan Muda murka adalah kelancangan mereka yang berani membicarakan Nyonya Elea, bukan malah tentang suaranya Cuwee. Sepertinya aku perlu memperingatkan mereka betapa sangat sensitifnya semua hal yang berhubungan dengan wanita kesayangan Tuan Muda kita. Haihhh, membuat repot saja."

__ADS_1


Tepat setelah Nun selesai bicara, pasangan sejoli yang selalu menebar kebucinan dimana-mana keluar dari dalam lift. Keduanya muncul sambil berpegangan tangan, seperti kakek nenek yang ingin menyeberang jalan.


"Selamat pagi Tuan Muda, selamat pagi Nyonya Elea!" sapa para pelayan sambil membungkukkan tubuh ke arah sang majikan.


"Pagi kakak-kakak semua. Apa kalian sudah sarapan?" sahut Elea ramah.


"Sudah, Nyonya. Kami semua sudah sarapan bersama tadi."


"Benarkah? Ada yang bilang kalau orang yang suka berkata bohong mayatnya tidak akan di terima bumi. Benar kalian sudah sarapan?"


Kejahilan Elea kembali muncul. Dan yang menjadi korban kali ini adalah para pelayan.


"S-sudah, Nyonya. K-kami semua sudah sarapan setelah makanan selesai di masak. Jika Nyonya tidak percaya, Nyonya bisa bertanya pada Nun. Dia yang meminta kami untuk sarapan terlebih dahulu sebelum mulai bekerja!"


Gabrielle hanya diam mendengarkan bagaimana Elea menakut-nakuti para pelayan ini. Padahal di dalam hatinya, saat ini Gabrielle tengah menertawai wajah syok di diri pelayan begitu Elea mengeluarkan racun dari mulutnya. Sungguh, kata-kata Elea tadi bagaikan syok terapi yang langsung mengena di dalam jantung para pelayan.


"Siapkan sarapan!" perintah Nun kepada para pelayan. Setelah itu dia dan Ares sama-sama membungkukkan tubuh ke arah kedua majikan mereka. "Selamat pagi Tuan Muda. Selamat pagi, Nyonya Elea."


"Selamat pagi juga Pak Nun, Ares," sahut Elea sambil tersenyum manis.


Nun dan Ares langsung menoleh ke arah lain saat mereka mendapat tatapan tajam dari banteng pencemburu saat sang nyonya membalas sapaan mereka sambil tersenyum. Ini akan menjadi petaka jika mereka tidak segera mengambil tindakan pencegahan.


"Kak Iel, kenapa kau memelototi Pak Nun dan Ares? Mereka kan bukan orang jahat?" tegur Elea sambil menatap seksama ke wajah suaminya yang begitu masam.


"Siapa yang memelototi mereka, sayang? Aku hanya menatapnya seperti biasa," jawab Gabrielle berkilah. Dia menggerakkan bibir, memberi tanda para Ares dan Nun kalau urusan mereka belum selesai.

__ADS_1


"Kalau benar hanya menatap seperti biasa lalu kenapa biji mata Kak Iel seperti akan keluar? Apa itu tidak berlebihan?"


Gluukkk


Gabrielle langsung menelan ludah saat Elea berkata seperti itu. Setelahnya dia mengusap tengkuk seraya tersenyum kikuk. Istrinya ini benar-benar ya. Dia di pojokkan tepat di hadapan kedua orang kepercayaannya.


"Sayang, ini sudah semakin siang. Ayo sarapan supaya kita bisa segera pergi menjenguk anaknya Junio dan Patricia di rumah sakit," ucap Gabrielle kemudian menarik tangan Elea ke arah ruang makan.


Elea segera duduk setelah Gabrielle menarik kursi untuknya. Dia kemudian berdecap ketika mendapati ada makanan favoritnya di atas meja.


"Waaa, mie goreng. Aku suka ini."


"Makanlah yang banyak. Semalam kau hanya makan cemilan saat berada di acara," ucap Gabrielle sambil tersenyum senang melihat binar kebahagiaan di wajah Elea begitu melihat makanan kesukaannya.


Elea mengangguk. Tanpa membuang waktu lagi, dia segera mengambil mie goreng kemudian mulai menikmatinya. Saking senangnya, Elea sampai lupa untuk melayani Gabrielle mengambil makanan. Nun yang melihat hal tersebut pun tak tinggal diam. Dia segera bergerak cepat dengan menyendokkan makanan ke atas piring Tuan Muda-nya.


"Terima kasih, Nun."


"Sama-sama, Tuan Muda. Silahkan di nikmati."


"Ya."


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


SELAMAT TAHUN BARU UNTUK KALIAN SEMUA...YEYY....🎊🎉🎊🎉🎊🎉🎊🎉🎊🎉 SEMOGA DI TAHUN 2022 INI HARAPAN KITA YANG BELUM TERCAPAI BISA SEGERA TERPENUHI YA, AMIINNN..... 💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2