
Sreeettt
"Mau kemana kau, em?"
Jackson membuang nafas kasar kemudian menghentikan langkahnya. Setelah itu dia berbalik menghadap ke belakang, menatap Reinhard dengan tatapan yang sangat dingin.
"Apa lihat-lihat? Ingin memenggal kepalaku atau bagaimana?" tanya Reinhard dengan berani. Dia sama sekali tak merasa terintimidasi oleh tatapan Jackson yang memang lumayan mengerikan.
"Lepas!" sahut Jackson di luar konteks yang sedang di tanyakan oleh dokter yang kini masih menarik baju di lengannya.
"Owh, sorry!"
Cepat-cepat Reinhard melepaskan tarikan tangannya. Setelah itu dia menunjuk ke arah dalam mobil di mana alat-alat medis mereka masih tertinggal di dalam sana. "Kau jangan ingin seenaknya sendiri, Jack. Kita berdua diminta datang bersama-sama oleh Gabrielle untuk memeriksa Elea. Jadi kau jangan coba lari dari pekerjaan ini ya."
Jackson kembali membuang nafas.
"Aku kakaknya Elea."
"Dan aku adalah orang yang membantu adikmu mengobati rasa traumanya pada Jack-Gal. Mau apa kau?"
Reinhard terkekeh penuh kemenangan setelah berhasil membungkam kebekuan seorang Jackson. Tapi setelah itu dia hampir jatuh terbangkang gara-gara Jackson yang dengan sengaja menabrak tubuhnya dengan kuat. Sebelum sempat Reinhard mengumpat, dia sudah lebih dulu di buat kicep oleh gerakan tangan Jackson yang membuat kode dengan artian "berani bicara, kepalamu hilang."
"Huhf, dasar penjahat," gerutu Reinhard dengan suara yang sangat kecil.
"Aku harap kau bukan orang pertama yang akan menjadi korban dari orang jahat ini, Rein," sahut Jackson yang mendengar gerutuan Reinhard. "Diam, dan cepat bawa semua alat-alat ini masuk ke dalam rumah. Elea sedang membutuhkan kita sekarang."
Tanpa banyak bertanya lagi, Reinhard segera menuruti perintah Jackson. Karena barang bawaan mereka yang lumayan banyak, Reinhard terpaksa memanggil seorang penjaga agar datang membantu mereka. Setelah semuanya siap, mereka pun bergegas masuk ke dalam rumah yang langsung di sambut dengan kemunculan Gabrielle bersama Nun di belakangnya.
"Apa jarak rumah sakit ke rumahku begitu jauh, hah? Kalian berdua membuat kepalaku di tumbuhi uban gara-gara terlalu lama menunggu!" hardik Gabrielle kesal.
"Maaf, Tuan Muda Gabrielle yang terhormat. Saat kau menelpon tadi, aku dan Levi sedang dalam posisi panas dingin menahan birahi. Jadi tolong kau jangan sembarangan bicara ya?" sahut Reinhard sambil mendelikkan mata ke arah sahabatnya yang kurang ajar ini.
"Aku sedang memeriksa korban kecelakaan di rumah sakit. Belum lagi aku juga harus menghabiskan banyak waktu untuk menunggu pasangan pengantin baru ini yang sedang asik bermain kuda-kudaan. Jadi kalau kau ingin marah, marahi saja dokter Reinhard. Jangan aku!" timpal Jackson dengan nada suara yang begitu dingin.
__ADS_1
"Jadi kalian berdua ingin menyalahkan aku? Begitu?"
Tanpa menunggu perintah, Nun segera mengambil beberapa barang di tangan dokter Jackson. Setelah itu dia kembali mengingatkan Tuan Mudanya tentang kesehatan sang nyonya.
"Tuan Muda, lebih baik kita semua segera pergi ke kamarnya Nyonya Elea saja. Hari sudah semakin malam, saya khawatir kalau pemeriksaan ini akan membuat istirahat Nyonya terganggu. Ingat, Tuan Muda. Nyonya tidak sedang sendirian."
Reinhard dan Jackson langsung menatap bingung ke arah Nun setelah kepala pelayan ini menyebut kata tidak sendirian. Terdengar ambigu, dan mereka merasa sangat amat penasaran.
"Nun, apa ada orang lain di kamarnya Elea? Tumben sekali orang itu di izinkan untuk masuk. Bukannya Tuan Muda-mu ini sangat pilih-pilih orang yang boleh masuk ke sana ya?" tanya Reinhard.
"Cihh, kucongkel biji matamu baru tahu rasa kau. Seenaknya bicara di depan pemilik kamar. Kau pikir aku ini patung atau apa, Rein?" protes Gabrielle tak terima.
"Hehe, maaflah."
Gabrielle mendengus. Setelah itu dia segera berjalan cepat menuju lift. Membiarkan Nun dan yang lainnya berjalan beriringan di belakangnya. Sembari menunggu sampai di lantai atas, Gabrielle memberitahu Jackson dan Reinhard tentang sikap Elea yang tiba-tiba berubah. Juga dengan kejadian menggelikan hati di mana Elea menyebut kalau aroma nafas Gabrielle sangat busuk seperti bangkai.
"Elea belakangan ini bertingkah laku aneh. Dan tadi saat kami sampai di rumah, dia menolak untuk kucium dengan alasan kalau bau nafasku sangat busuk seperti bangkai. Setelah itu Elea langsung pergi sambil menutupi mulutnya seperti orang yang ingin muntah. Kalian paham kan apa maksudku?"
Bukannya menjawab, Reinhard malah terkikik pelan setelah mendengar cerita Gabrielle. Sungguh, hanya Elea satu-satunya makhluk yang berani merendahkan manusia satu ini. Karena selama ini tidak ada satupun orang yang berani melakukannya. Jadi wajarkan kalau sekarang Reinhard merasa sangat lucu? Sedangkan Jackson, dia hanya diam saja tanpa ekpresi. Pikirannya terlalu kalut memikirkan ada apa dengan adiknya sampai-sampai dia tidak menyimak perkataan Gabrielle.
"Iya, Tuan Muda."
"Setelah kita keluar dari sini, tolong kau terjunkan lift ini supaya meledak. Pastikan kedua dokter sialan ini mati gosong!"
"Baik, Tuan Muda," sahut Nun dengan patuh.
Whaaatttt?? Apa-apaan orang gila ini. Sudah sinting atau bagaimana?
"Gab, kalau kau ingin membunuh orang, bunuh saja dokter Reinhard. Bukankah tadi aku sudah bilang padamu kalau kami lama sampai kemari karena aku yang harus menunggunya berpakaian dulu?" ucap Jackson sedikit meremang mendengar keinginan gilanya Gabrielle.
"Aku tidak menerima alasan," sahut Gabrielle acuh. Tekadnya sudah bulat ingin menghilangkan nyawa kedua dokter ini.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita meledak bersama saja? Bukankah dengan begitu baru akan terasa adil karena tidak ada satupun dari kita yang bisa menemui Elea? Benar tidak?"
__ADS_1
Reinhard langsung menggigit bibir bawahnya saat tersadar kalau dirinya baru saja membangkitkan kemarahan dua ekor macan yang sedang tidur. Sambil menelan ludah, Reinhard mencoba menjelaskan kalau tadi dia hanya bercanda saja.
"Hehe, jangan marah. Tadi itu aku hanya melawak saja supaya kalian berhenti bertengkar."
"Sekali lagi aku mendengar niatanmu yang ingin memisahkan aku dari Elea, aku akan benar-benar meledakkanmu bersama lift ini, Rein. Tidak peduli mau kau itu sahabatku atau bukan, berani mengusik kebahagiaanku bersama Elea, itu artinya mati. Paham kau!" ancam Gabrielle dengan mata berkilat marah.
"Paham!"
Jackson tersenyum kecil.
Ting
"Kalian berdua, dengarkan aku dulu!" ucap Gabrielle sebelum keluar dari dalam lift. "Nun menduga kalau saat ini Elea tengah berbadan dua. Jadi kalian harus sangat hati-hati saat memeriksanya nanti ya? Awas, jangan sampai anak-anakku terpencet keluar!"
"A-APA? ELEA HAMIL???" pekik Jackson dan Reinhard bersamaan.
"Ini baru dugaan kami saja, dokter Reinhard, dokter Jackson. Dan hal itu baru bisa di buktikan setelah anda berdua memeriksa keadaan Nyonya Elea. Tapi saya sangat berharap kalau dugaan saya benar. Karena dengan begitu, maka Tuan Muda akan segera memiliki pewaris!" timpal Nun seraya melirik ke arah Tuan Muda-nya yang terlihat begitu semringah.
Tanpa menunggu babibu lagi, Jackson langsung melangkah lebar menuju kamar adiknya. Perasaannya campur aduk, bahagia dan juga khawatir. Bahagia karena dia akan segera mempunyai tiga keponakan yang salah satunya akan menjadi anak angkatnya, tapi khawatir karena kondisi rahim adiknya yang lemah.
Elea, apapun itu Kakak berjanji akan selalu berada di sampingmu. Semuanya akan Kakak korbankan demi keselamatanmu dan juga anak-anakmu nanti. Dan Tuhan, tolong bantu aku jagakan keempat orang baik ini. Jika ada musibah ataupun bahaya, tolong datangkan saja padaku. Adik dan ketiga keponakanku harus bahagia, dan nyawaku adalah taruhannya.
Gabrielle menatap dalam ke arah Jackson saat mendengar apa yang dia pikirkan. Setelah itu dia menepuk bahunya Reinhard yang tengah terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Semuanya pasti baik-baik saja kan, Rein?"
"Hanya Tuhan yang tahu, Gab," jawab Reinhard. "Tapi aku berjanji akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kondisi bayi dalam rahim Elea jika memang benar dia sedang mengandung. Kau tahu sendiri kan bagaimana kondisi rahim istrimu?"
"Aku bergantung padamu, Rein. Dan tolong jangan sentuh kulit Elea secara sembarangan karena aku tidak bisa mengawasi kalian di dalam. Sampaikan hal ini juga pada Jackson. Oke!" ucap Gabrielle dengan wajah terluka.
Reinhard memicingkan mata. Di saat-saat seperti ini kenapa Gabrielle masih sempat menebar keposesifannya ya? Ya Tuhan, Reinhard serasa tengah berada di medan peperangan sekarang. Diminta untuk memeriksa Elea, tapi tidak boleh menyentuhnya. Lalu bagaimana cara dia mencari tahu apakah di perut Elea ada bayinya atau tidak jika pemeriksaannya saja dengan cara mengoleskan jell ke atas perutnya. Jika kalian yang menjadi Reinhard, apa yang akan kalian lakukan dalam menangani keposesifan seorang Gabrielle yang sangat tidak ada obatnya ini? Gantung dirikah?
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1
MAMPIR YA