
"A-APA?"
Saking kagetnya Junior mendengar ucapan Gleen, dia sampai berdiri dari duduknya. Setelah itu Junio menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang sangat horor. Namun sedetik kemudian dia tertawa terbahak-bahak hingga membuat air mata mengucur dari sudut matanya.
"Hahhahaaha ... hahahaha. Apa Gleen? Brondong? Hahaha!"
Di ketawai seperti itu oleh Junio membuat Gleen menarik nafas panjang-panjang. Dengan ekpresi menahan kesal, dia menganggukkan kepala. Ya, pagi ini Lusi tiba-tiba mengidamkan sesuatu yang sangat amat memacu adrenalinnya. Dan apa kalian tahu yang di idamkan oleh istrinya itu? Brondong. Ya, brondong. Begitu membuka mata, Lusi langsung mengutarakan keinginannya yang ingin makan malam bersama seorang laki-laki yang usianya jauh berada di bawahnya Gleen. Sebagai seorang suami yang cinta mati pada istrinya, tentu tidak mungkin bukan kalau Gleen akan mengabulkan keinginan gila istrinya itu? Namun ....
"Dan sekarang Lusi membenciku. Dia bilang tidak akan mau melihatku sebelum aku mengizinkannya makan malam bersama brondong itu," ucap Gleen pasrah. "Jun, apa yang harus aku lakukan sekarang? Rasanya aku seperti menelan racun hanya dengan membayangkan Lusi makan bersama pria lain. Aku tidak rela."
"Hehehe, bagaimana ya. Masalahnya wanita yang sedang mengidamkan sesuatu itu seperti monster pemaksa yang akan terus melakukan segala macam cara agar keinginannya bisa terpenuhi. Jadi kalau kita melawan, kitalah yang akan menjadi korban. Jadi solusinya hanya satu, biarkan Lusi mendapatkan apa yang dia mau. Bereskan?" jawab Junio masih dengan terkikik geli melihat nasib sahabatnya.
"Beres kepalamu!"
Gleen menggerutu. Dia lalu membuka dasi yang terpasang di kerah bajunya.
"Kalaupun aku mengizinkan, brondong mana yang akan aku biarkan makan malam bersama Lusi?"
"Gampang. Di kantor kita kan ada banyak sekali pemagang yang masih muda. Kau tinggal minta salah satu dari mereka untuk menemani Lusi makan. Gampang 'kan?" sahut Junio. "Lusi sangat cantik, siapalah yang mampu menolak keinginannya untuk makan malam. Di tambah lagi sekarang dia sedang hamil, aura keibuannya pasti semakin kuat terpancar. Turuti sajalah daripada nanti anakmu terus meneteskan air liur."
"Sialan kau!"
"Hehehe, itu fakta, Gleen. Karena sebelum ini aku sudah mengalaminya lebih dulu. Hanya saja cara mengidamnya Patricia tidak sama dengan Lusi. Dia dan bayi kecambahku lebih suka menyiksaku lahir dan batin sampai daging di tubuhku habis tak bersisa. Kau masih sedikit lebih beruntung lah daripada nasibku dulu ketika di tinggal Patricia hamil muda!"
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu Junio dan Gleen sama-sama terkekeh lucu. Mereka seakan di ajak bernostalgia pada satu kenangan di mana Junio di buat hampir mati oleh calon anaknya sendiri. Bayangkan saja, tidak ada hari tanpa mengalami morning sickness yang sangat luar biasa parah. Bahkan setelah menikah dengan Patricia Junio pernah sampai dilarikan ke rumah sakit karena di temukan pingsan di depan pintu toilet setelah muntah-muntah. Namun bagi yang mengetahui bagaimana cara Junio mendapatkan Patricia, semua orang pasti akan menganggap kalau apa yang terjadi padanya adalah suatu karma dari perbuatan jahat yang telah dia lakukan. Dan sepertinya sekarang sudah tiba waktunya untuk Gleen ikut memanen karma tersebut karena sebelum ini Lusi tidak pernah mengidamkan sesuatu yang aneh-aneh. Kalau begitu mari kita lihat akan seperti apa nasib pembucin satu ini.
Tok tok tok
"Permisi, Tuan Junio, Tuan Gleen. Di luar ada Tuan Muda Gabrielle dan Nyonya Elea. Mereka ingin bertemu dengan anda berdua!"
"Hmmm, si biang kerok datang," sahut Junio seraya menghela nafas. Dadanya langsung sesak begitu terbayang wajah adik iparnya yang tengil itu. "Bawa mereka masuk kemari!"
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya akan mem ....
"Jangan berikan jamuan apapun untuk mereka. Aku tidak ingin mati hari ini!" imbuh Junio ketika sekertarisnya hendak bicara. Dia tidak rela pasangan gila itu berlama-lama berada dalam ruangannya. Junio tidak tahan.
"Baik!"
"Kau jangan tertawa-tawa begitu, Gleen. Sudah lupa ya kalau wajahmu dulu pernah di buat babak belur gara-gara celetukan macan tengil itu?" kesal Junio.
"Hehehe, aku mana mungkin lupa, Jun. Tapi setidaknya aku tidak sesial dirimu yang harus sering bertemu dengan Elea," sahut Gleen santai.
Belum sempat Junio membalas ucapan Gleen, Gabrielle dan Elea sudah lebih dulu masuk ke dalam ruangan. Setelah itu Gleen dan Junio di buat terheran-heran akan sikap Elea yang langsung memberikan mereka masing-masing dua keranjang bunga yang sangat indah.
"Paman Gleen, Paman Junio. Tolong rawat bunga-bunga itu dengan baik ya. Nanti aku akan mengabsen setiap satu minggu sekali," ucap Elea seraya tersenyum manis. Dia lalu menoleh saat pelukan di pinggangnya mengerat. "Tidak apa-apa, Kak Iel. Senyumku ini hanya senyum formalitas saja. Lagipula hanya kau satu-satunya pria paling menarik yang ada di sini. Jadi jangan cemburu pada mereka ya?"
"Baiklah, sayang. Aku percaya padamu," sahut Gabrielle sambil menyeringai kesenangan. Bahagia sekali karena Elea langsung peka padanya.
__ADS_1
"Gab, aku sarankan kau sebaiknya segera pulang ke rumah saja. Mataku sakit melihat kebucinan kalian di sini!" sindir Junio. Begitu pasangan ini datang matanya langsung di nodai oleh kebucinan mereka yang tidak mengenal tempat. Membuat orang menjadi iri saja.
"Junio benar. Sebaiknya kalian pergi saja dari sini!' imbuh Gleen ikut mengusir Gabrielle dan Elea dari sana. Nasibnya sedang apes, jadi dia sedang tidak ingin merasa cemburu melihat kemesraan pasangan ini.
"Kak Iel, ayo kita pulang. Tadi Kak Lusi mengirim pesan padaku kalau sekarang dia sedang di kurung di rumah oleh Paman Gleen. Mari kita pergi menyelamatkannya," ucap Elea. "Oh ya, Kak. Kak Lusi juga bilang kalau dia mengidam ingin makan malam bersama brondong. Apa di perusahaan Kak Iel ada brondong yang menganggur? Jika ada bisa tidak pinjamkan sebentar pada Kak Lusi? Kasihan kalau tidak di turuti, anaknya bisa meneteskan air liur terus setelah lahir nanti!"
"Banyak, sayang. Kau ingin berapa truk brondong?" tanya Gabrielle sedikit was-was. Dia takut Elea akan ikut serta menemani Lusi makan bersama pria muda itu.
"Sediakan saja secukupnya, Kak. Nanti setelah bunga-bunganya habis aku akan langsung mengundang kelompok wanita untuk bersenang-senang dengan para brondong itu. Tidak apa-apa kan, Kak?" jawab Elea penuh semangat.
Awalnya hanya Gleen saja yang hampir kehilangan nyawa setelah mendengar perkataan Elea. Tapi di detik selanjutnya Gabrielle dan Junio juga merasakan rasa yang sama seperti yang dirasakan oleh Gleen. Mereka bertiga kini sama-sama sulit bernafas karena istri-istri mereka sebentar lagi akan melangsungkan pertemuan dengan para makhluk yang di sebut BRONDONG. Catat, BRONDONG. ini gila bukan?
Kenapa setiap kali Gabrielle dan Elea muncul aku selalu ketiban sial ya? Ya Tuhan, Patricia-ku, bayi kecambahku. Apa kalian akan tega meninggalkan aku demi para brondong sialan itu? Aaarrrgghhh, sialan.
"Sayang, kau tahu bukan kalau aku tidak suka melihatmu bersama pria selain aku?" tanya Gabrielle mencoba membujuk Elea agar tidak pergi bersama brondong itu. Sungguh sial lidahnya. Tahu begini tadi Gabrielle tidak akan menjawab kalau di Group Ma ada banyak sekali daun muda. Menyesal sekali dia sekarang.
"Kan tidak hanya aku saja, Kak. Ada Kak Levi, Kak Lusi, Kak Cia, dan juga Kak Cira. Kita beramai-ramai, Kak Iel. Jadi jangan khawatir, oke?" jawab Elea meyakinkan.
Ares? Jangan di tanya bagaimana reaksinya sekarang. Tadinya Ares berpikir kalau persekutuan para brondong ini hanya akan di jalani oleh Tuan Muda-nya, Gleen, Junio, dan juga dokter Reinhard saja. Tapi siapa yang akan menduga kalau istrinya juga akan di ikut sertakan dalam acara sesat ini. Benar-benar tidak akan pernah dia selamat dari racun berbisa milik sang nyonya.
Cira sayang, aku harap kau akan setia dengan tidak menerima ajakan Nyonya Elea. Tapi ...
*****
__ADS_1