Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Sikap Yang Aneh


__ADS_3

Bern, Karl, Cio, Reiden, Oliver dan juga Andreas berdiri berjejer sambil menundukkan kepala saat para orangtua meminta mereka semua untuk datang berkumpul. Sudah tidak salah lagi, waktunya menimbang hukuman telah tiba.


"Cio, di sini kau adalah yang paling besar. Sekarang Ibu ingin tanya padamu kenapa Flowrence bisa sampai terluka seperti itu! Bukankah Ayah dan Ibu sudah mewanti-wanti padamu kalau hari ini kau tidak boleh lengah. Apa jangan-jangan yang kau pikirkan hanya tentang wanita cantik saja sampai kau lalai menjalankan tugas untuk melindungi adikmu. Iya!" tanya Patricia sambil menatap garang ke arah putranya. Dia yang seharian ini sibuk meninjau lokasi proyek di luar kota hampir mati terkena serangan jantung saat Junio datang menyusulnya kemudian mengatakan kalau keponakannya mengalami kecelakaan. Tanpa memikirkan tubuhnya yang kelelahan, Patricia mengajak Junio untuk langsung datang ke rumah sakit. Masa bodo dengan pekerjaannya, yang penting dia harus segera melihat keadaan Flowrence.Harus.


"Bu, aku dan yang lainnya sudah berusaha keras untuk tidak lalai. Waktu itu kami tidak ada yang tahu kalau ternyata Flowrence pulang lebih dulu. Sungguh!" jawab Cio sambil menelan ludah. Dia paling ngeri kalau ibunya sudah seperti ini. Rasanya dia seperti sedang berhadapan dengan singa betina yang baru saja melahirkan. Sangat galak dan juga sensitif.


"Alasan!" sahut Patricia. "Kalau benar begitu lalu kenapa Russel dan Karl bisa ada di sana saat kecelakaan itu terjadi?"


"Mereka membolos. Dan baru mengabari kami saat mereka sudah dalam perjalanan!"


"Apa itu benar, Karl?"


Semua mata teralih kepada Karl.


"Benar, Bibi. Aku tidak sengaja melihat Russel keluar, jadi memutuskan untuk mengikutinya. Dan yang seperti di katakan oleh Cio tadi kalau ternyata Flowrence pulang lebih awal dari jam biasanya. Makanya tragedi ini bisa terjadi" jawab Karl dengan jujur.


"Lalu kau, Andreas? Kau yang paling bertanggung jawab atas keselamatan Flow, lalu kenapa kau bahkan tidak terluka sedikit pun di saat Flowrence dan Russel keadaannya begitu mengenaskan, hm? Ibu kecewa padamu, Nak. Kalau Ayahmu tahu, dia pasti akan marah besar!" ucap Cira seraya menatap dalam ke arah putranya.


"Maafkan aku, Ibu. Harusnya tadi siang aku tidak masuk sekolah supaya bisa menjaga Flowrence dengan baik. Aku lalai, Bu. Tolong maafkan aku ya?" sahut Andreas dengan lapang dada mengakui kecerobohannya.


Tak tak tak


Pandangan mata Ares langsung tertuju ke arah putranya yang sedang bicara dengan istrinya. Seketika amarahnya meluap, dia kesal karena putranya telah gagal menjalankan tugas yang dia berikan.


"Res, jangan lakukan apapun pada Iyas. Kasihan dia, dia pasti juga tidak menyangka kalau Flowrence akan mengalami kejadian seperti ini. Ya?" ucap Elea mencoba mencegah Ares agar jangan menghukum Andreas. Dia kasihan.


"Tapi Nyonya, Iyas ....


"Jangan membantah. Lakukan saja seperti yang di perintahkan oleh Elea, Res!" sela Gabrielle memotong perkataan Ares. Dia tak ingin Elea kembali menggila jika emosinya sampai terpancing.


"Baik, Tuan!" sahut Ares pasrah.

__ADS_1


Saat itu Levita yang baru saja muncul langsung memekik kaget melihat keadaan putranya yang kotor dan juga lecet. Segera dia berlari ke arahnya kemudian memutar tubuh Oliver untuk memastikan kalau putranya itu tidak mengalami luka fatal.


"Aku baik-baik saja, Bu," ucap Oliver sambil menelan ludah. Dia tahu, sangat amat tahu kalau sebentar lagi ibunya pasti akan langsung menyerangnya. Oliver sudah sangat hafal dengan perangainya.


"Syukurlah kalau kau baik-baik saja, Oli," sahut Levita lega. Namun sedetik kemudian Levita memicingkan mata, dia kesal karena putranya gagal melindungi calon menantunya yang kaya raya itu.


Plaaaakkkkk


Nah, benarkan?


"Oliver, bagaimana bisa kau lalai menjaga keselamatan calon istrimu sendiri hah? Kalau Flowrence sampai kenapa-napa bagaimana? Ibu pasti tidak akan mendapat suntikan dan hadiah besar lagi keluarganya. Bagaimana sih!" amuk Levita setelah memukul lengan anaknya.


"Bu, bisa tidak sih Ibu berhenti memperalat Flowrence untuk memeras harta Bibi Elea dan Paman Gabrielle? Uang Ayah dan Ibu juga sangat banyak, untuk apa Ibu terus-terusan melakukan tindak kriminal seperti ini? Memangnya Ibu tidak malu apa?" tanya Oliver tak habis pikir saat ibunya lagi-lagi membahas tentang harta. Padahal ibunya sendiri memiliki perusahaan yang lumayan besar, tapi masih saja mata duitan. Heran.


"Woaaaahh, lihatlah anakmu ini, Rein. Berani sekali dia bicara seperti itu pada ibunya sendiri!"


Reinhard menghela nafas. Dia berjalan mendekat ke arah Oliver kemudian memeluk bahunya. "Jangan seperti itu, Oli. Karena apapun yang dilakukan oleh Ibumu, itu adalah demi kesejahteraan bersama. Jadi Ayah harap kau jangan sampai memancing kemarahannya karena hal itu akan sangat berdampak pada nasib kita berdua. Mengerti?"


"Sssstttt, diam dan mengalahlah. Itu jauh lebih baik daripada nanti kau mendapat hukuman yang lebih buruk saat di rumah. Mau kau?"


Oliver menggeleng. Dia kemudian menoleh ke samping saat Paman Gleen tiba-tiba menjewer telinganya Reiden.


"Apa pelatihan yang Ayah berikan masih kurang cukup menjadikanmu pria yang bisa di andalkan, Rei?" tanya Gleen kesal. Gara-gara kelalaian putranya, malam ini Gleen terancam tidur terpisah dari Lusi. Dan ini adalah hal terhoror yang sangat amat Gleen takuti. Sungguh.


"Ayah, alasanku sama seperti Cio. Selain Karl dan Russel, kami semua masih belajar di kelas dan juga tidak mengetahui kalau kelas Flowrence telah berakhir," jawab Reiden sambil meringis menahan panasnya jeweran di telinganya.


"Apapun alasannya, sepulang dari sini bersiaplah menerima hukuman dari Ayah. Iya kan, Jun?" tanya Gleen sambil menatap Junio.


"Benar. Sekalian aku juga ingin tes kekuatan dengan Cio. Kami sudah lama tidak melakukannya," jawab Junio sembari mengelus puncak kepala putranya. Apapun yang terjadi malam ini Junio harus tega berduel dengan Cio. Karena jika tidak, Patricia pasti akan mengamuk kemudian memintanya untuk tidur di kamar lain. Junio tidak mau itu. Dia tidak mau nasib anak sambungnya merana.


Semua mata kini tertuju ke arah Elea yang sedang berjalan menghampiri kedua putranya. Sedangkan Bern dan Karl, masing-masing dari mereka langsung menundukkan kepala begitu melihat sang ibu yang datang mendekat dengan membawa aura yang cukup aneh. Bukan mengerikan ataupun apa, tapi lebih ke seperti orang yang sedang tertekan. Aneh.

__ADS_1


"Bern, Karl. Apa kalian sudah makan?" tanya Elea pelan.


"Sudah, Ibu," jawab Karl takut-takut.


Pandangan Elea beralih ke arah Bern. Putra sulungnya ini hanya berdiri diam tanpa ada keinginan untuk menjawab. Dan tiba-tiba saja jantung Elea seperti di tusuk pedang saat dia menyadari betapa dinginnya cara Bern menatapnya. Mungkinkah dia adalah ....


"Kami dan yang lainnya sudah makan di kantin rumah sakit, Ibu. Jadi Ibu jangan khawatir," ucap Bern yang akhirnya mau bicara.


"Apakah enak?"


"Ya?"


"Lalu sekarang di mana Kakek dan Nenek kalian?"


Patricia maju mendekat. Dia mengelus bahu Elea, cukup bisa merasakan kalau adiknya ini sedang menahan tangis.


"El, Ayah dan Ibu sedang menemani Flowrence di ruangannya. Kalau Bibi Liona, aku tidak tahu dia pergi kemana. Beliau pergi tanpa Paman Greg bersamanya,"


"Ibu pergi dan Ayahku tidak ikut bersamanya?" tanya Gabrielle kaget. Tidak biasanya sang ibu pergi sendirian seperti ini.


Ada apa ya? Apa yang sedang Ibu selidiki sekarang?


"Iya, Gab. Saat ini Paman Greg berada di ruangan Russel bersama Bibi Abigail dan juga Paman Mattheo. Mereka datang!" jawab Patricia.


"Kak Iel, Kak Levi. Ayo kita pergi ke kamarnya Flowrence. Kasihan dia, dia pasti sedang menangis kesakitan sekarang!" ajak Elea sembari menyeka air matanya. Dia sudah tidak kuat berhadapan dengan kedua putranya yang salah satunya adalah penyebab Flowrence celaka. "Bern, Karl, kalian pulanglah dulu ke rumah. Kalian pasti lelah sekali bukan setelah seharian beraktifitas?"


"Baik, Bu. Kami akan pulang," jawab Bern dan Karl kompak. Segera mereka berlalu pergi dari hadapan semua orang dengan membawa tanda tanya besar di benak masing-masing.


Ibu kenapa ya? Kenapa sikapnya aneh sekali malam ini.


Setelah kedua putranya pergi, Gabrielle segera memeluk Elea kemudian membawanya pergi menuju ruangan tempat putri mereka dirawat. Sedang yang lainnya memilih untuk duduk menunggu di luar untuk menenangkan diri setelah musibah yang terjadi. Tak lupa juga Ares terus memeriksa apakah ada media yang berani menerbitkan berita tentang kecelakaan yang di alami oleh Flowrence atau tidak. Karena jika ada, maka malam ini Ares akan mendapat tugas tambahan, yaitu menghancurkan perusahaan yang lancang menerbitkan berita tentang si Nona Muda yang malang.

__ADS_1


*******


__ADS_2