Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Waktu Berlalu Dengan Cepat


__ADS_3


πŸ“’JANGAN LUPA BOM KOMENTAR BESTI DI NOVEL :


-My Destiny (Clara & Eland)


-Pesona Si Gadis Desa


πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—


"Tolaaaaaa!"


Tora mengaum dengan sangat kuat begitu melihat bocah kecil tengah berlari menuju ke arahnya. Setelah itu Tora langsung berdiri kemudian hendak pergi menghampiri bocah kecil tersebut. Namun, baru juga Tora membuat ancang-ancang dia sudah lebih dulu di buat kicep oleh pandangan menusuk dari seseorang yang wajahnya begitu datar. Tuan Muda Bern, Tora sangat takut padanya.


"Tola, kenapa kau tidak berlari menyambutku?" tanya Flow keheranan.


"Tora Flow, bukan Tola," ejek Karl. Dia geli sendiri mendengar cara bicara adiknya yang tak pernah benar ketika menyebut nama Tora.


"Biar saja. Kan yang aku panggil Tola bukan kakak, kenapa kakak yang marah. Aneh," sahut Flow tak mempedulikan ejekan sang kakak.


"Tapi kan aku mendengar langsung caramu memanggil Tora tadi"


"Siapa suruh kakak punya telinga. Itu artinya kakak yang salah, bukan aku."

__ADS_1


Melihat adiknya yang enggan di salahkan membuat Karl jadi gemas sendiri. Dia kemudian berniat menarik kuncir rambut Flow, tapi ....


"Kalau sampai Flow menangis, akan ku hajar kau sampai tidak bisa di kenali lagi!" gertak Bern seraya menahan tangan Karl yang hampir menyentuh rambut adik bungsunya. Bern tidak kuat jika harus mendengar suara tangis Flow yang melengking seolah mampu memecahkan gendang telinganya.


"Ck, kau kenapa pilih kasih sekali si, Kak. Giliran Flow yang membully-ku, kau hanya diam saja dan pura-pura tidak tahu. Menyebalkan sekali!" protes Karl tak terima.


"Kau tinggi dan otakmu bisa bekerja dengan baik. Sedang Flow? Dia tidak membuat onar saja aku sudah sangat bersyukur. Lupa ya apa yang baru saja kita lakukan untuk menyelamatkan adik kita itu, hem?"


Karl menghela nafas. Dia lalu memandang adiknya yang kini tengah bergulat dengan Tora. Bukan bergulat sih, tapi lebih kepada Tora yang sedang di siksa oleh Flow. Sedangkan di kandang lain, ada Cuwee yang sedang pura-pura tertidur. Kuda itu baru saja sembuh setelah bulu-bulu di tubuhnya di semprot cairan perontok bulu oleh Flow, jadi mungkin binatang satu itu memutuskan untuk tidak menaggapi keberdaan kurcaci pendek itu dulu.


Oh ya teman-teman. Tidak terasa waktu telah berlalu dengan sangat cepat di mana kini usia Bern, Karl dan juga Flow telah memasuki tahun ke lima belas. Dan selama waktu lima belas tahun ini ada banyak sekali kejadian-kejadian aneh dan juga menyedihkan terjadi di dalam keluarga mereka. Tentang kematian Paman Hansen yang menderita sakit parah, tentang Flow yang sering tinggal kelas, tentang Bibi Levi yang keguguran karena terpeleset jatuh dari tangga, dan masih banyak lagi kejadian-kejadian yang lainnya. Dan baru saja, Bern dan Karl menolong Flow yang tersangkut di pinggiran sungai gara-gara mengejar temannya yang tidak mau meminjamkan payung. Oh ya, Bern dan Karl berbeda sekolah dengan Flow. Mereka lebih memilih untuk bersekolah di salah satu sekolah favorite yang ada di negara ini. Sedang Flow, gadis itu memilih bersekolah di sekolah buangan di mana hanya ada anak-anak nakal berada di sana. Kenapa bisa seperti itu? Karena itu adalah Flowrence. Sebenarnya Ayah dan Ibu mereka pernah membujuk Flow agar jangan bersekolah di sana. Akan tetapi kurcaci kerdil itu malah minggat dengan pergi diam-diam ke kediaman nenek mereka. Alhasil, Flow tersesat, dan anak itu baru di temukan setelah tiga hari menghilang. Dan apa kalian ingin tahu seperti apa kondisi Flow saat di temukan? Oh astaga, ini benar-benar menggelikan. Anak itu di temukan dalam keadaan mabuk halusinasi setelah memakan buah aneh yang dia temukan di dalam hutan. Aneh dan sangat menguras kesabaran sekali bukan?


"Kak, masalah yang tadi perlu kita ceritakan pada Ayah dan Ibu tidak?" tanya Karl setelah termenung sekian lama.


"Tidak perlu. Paman Ares pasti sudah mengetahuinya lebih dulu," jawab Bern dingin.


Bern diam tak menyahut. Dia lebih tertarik memperhatikan Tora yang tengah terbaring di rerumputan dengan Flow berdiri di atas perutnya.


"Kak,"


"Jangan lupakan tentang Kak Rose, Karl. Sepupu kita itu belum meninggal, jadi bukan hanya Flow saja yang menjadi cucu perempuan di keluarga Ma. Hati-hati kalau bicara!" ucap Bern langsung mengingatkan Karl tentang sepupu mereka yang hilang sejak berusia tujuh tahun.


"Ah, iya. Hampir saja aku melupakan Kak Rose. Tapi kan Kak, Kak Rose dan Kak Rolland menyandang marga berbeda dengan keluarga kita. Mereka adalah cucu luar dengan nama belakang Osmond, bukan seperti kita yang menjadi cucu dalam keluarga Ma," sahut Karl.

__ADS_1


"I don't care!"


Karena yang aku pedulikan hanya satu, menjadi pewaris tunggal dari seluruh harta kekayaan milik keluarga Ma. Tapi Flow, dia adalah saingan terberatku. Flow memiliki bagian terbanyak karena seluruh aset milik Nenek Liona telah menjadi miliknya. Heh, untung saja dia bodoh dan tidak berguna. Jadi aku tidak perlu repot-repot untuk membujuk agar dia bersedia menyerahkan semua kekayaan yang dia mikili. Hmmmm,


Karl menatap heran ke arah sang kakak ketika tak sengaja melihatnya sedang menyeringai. Jujur, terkadang Karl seperti melihat ada dua sosok orang yang berbeda di dalam diri kakaknya ini. Kadang terlihat peduli dan menyayangi adik-adiknya, kadang sang kakak juga terlihat seperti sosok misterius yang tengah mengatur siasat untuk melenyapkan mereka berdua. Sebenarnya Karl bisa saja menanyakan hal ini langsung pada kakaknya, tapi dia takut kakaknya merasa tersinggung. Jadilah sekarang Karl hanya bisa diam dan berpikir sendiri ketika menemukan kakaknya tengah bereaksi mengerikan seperti tadi. Karl sudah bertekad akan mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya di inginkan oleh sang kakak.


"Kak Karl, Kak Bern. Lihat, Tola merajuk dan tidak mau lagi bermain denganku. Lihat!" teriak Flow mengadu sambil memaksa membuka mata Tora yang terpejam. Dia tidak mengerti kenapa binatang kesayangannya ini merajuk setelah dia mempraktekkan teknik spa kepadanya.


"Flow, Tora itu bukan merajuk, tapi dia pingsan setelah kau injak-injak. Bagaimana sih!" sahut Karl dongkol melihat kebodohan sang adik.


"Pingsan?"


Merasa heran, Flow berjalan ke arah kran air yang tak jauh dari sana. Setelah itu dia menyalakan airnya lalu membawa selang menuju Tora. Tanpa merasa kasihan sama sekali, dengan brutal Flow menyemprot sekujur tubuh Tora dengan air yang sangat dingin.


"Nasibmu mengenaskan sekali, Tora. Mungkin kalau Flow bukan majikanmu, aku yakin kau pasti akan memburu lalu memangsanya. Hmmm," gumam Karl iba ketika melihat Tora mengaum karena terkejut akan tindakan Flow.


Flow memang akan dimangsa, Karl. Akan tetapi untuk sekarang ini dia cukup di awasi saja, otaknya terlalu lelet untuk bisa mengerti kalau aku sebenarnya sedang mencari celah agar dia mau menandatangani berkas yang kuinginkan.


"Mau kemana, Kak?" tanya Karl.


"Awasi Flow dengan baik. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan sekarang," jawab Bern sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


"Baiklah,"

__ADS_1


Oh ya. Jika kalian penasaran tentang pendidikan Flow, tenang saja. Peri mini itu saat ini masih duduk di kelas satu sekolah menengah pertama. Hal ini terjadi karena Flow memang sedikit berbeda dari saudara-saudaranya yang lain. Flow lambat dalam menyerap ilmu pelajaran, jadi dia beberapa kali sempat tinggal kelas saat masih berada di sekolah dasar. Harap kalian semua bisa maklum ya? πŸ˜…


*****


__ADS_2