
"Ny-Nyonya, t-tolong ampuni kami. Ka-kami sungguh tidak tahu kalau gadis kecil itu adalah cucumu. Tolong ampuni kami, Nyonya Liona. Kami mohon!"
Liona tak mempedulikan permohonan yang di ucapkan oleh bedebah yang telah berani menyakiti cucu kesayangannya. Dia terus saja berjalan sambil menarik rambut manusia yang telah berani membuat luka hampir di sekujur tubuh Flowrence. Marah, Liona benar-benar sangat marah sekarang. Apalagi setelah dia melihat dengan mata kepalanya sendiri seperti apa keadaan Flowrence, membuat darah di tubuh Liona semakin mendidih. Satu yang Liona inginkan. Melakukan hal serupa pada manusia-manusia setan yang dengan teganya menyiksa dua orang gadis tak bersalah hingga keduanya kini berada di ambang kematian. Belum hilang luka di pikiran Liona tentang hilangnya Rose, sekarang orang-orang ini dengan berani malah menyiramkan air garam di atas lukanya. Sudah pasti Liona menjadi gila, hingga tak mempedulikan lagi tentang karma yang pernah Elea katakan padanya.
Sementara itu di belakang Liona tampak Lan yang tengah menggigit lengan salah satu penjahat. Juga Gabrielle dan Greg, masing-masing dari mereka menjambak dua orang. Sedangkan tiga lainnya dimiliki oleh Kayo, Jackson, dan juga Karl. Jackson tak jadi turun ke jurang untuk memeriksa keadaan Russel karena penjaga mengingatkannya kalau medan di bawah sangat berbahaya jika di datangi terlalu banyak orang. Tak mau menambah masalah, Jackson akhirnya memutuskan untuk memelampiaskan amarahnya kepada para penjahat itu. Sedangkan Karl, kalian bisa tebak sendiri lah betapa bahagianya dia mendapat bagian untuk membalas orang-orang ini.
"Gab, bagaimana Elea?" tanya Greg di pelan. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan menantunya.
"Saat aku datang kemari dia masih dalam kondisi pingsan, Ayah. Tapi aku sudah memerintahkan Nun dan para penjaga untuk menjauhkan segala jenis benda yang berbahaya, juga meminta mereka untuk menyegel sementara jendela di kamar kami. Aku takut Elea nekad," jawab Gabrielle seraya menghela nafas. Pikirannya sangat kacau, di tambah lagi saat Gabrielle menyaksikan bagaimana keadaan putrinya setelah berhasil di selamatkan dari dalam jurang. Gabrielle semakin yakin jika Elea sampai mengetahui keadaan Flowrence yang seperti ini, Elea pasti akan sangat histeris. Dan ini tentu saja sangat berbahaya mengingat kalau istrinya itu memendam sisi lain yang cukup mengerikan.
"Apa kau tidak berkeinginan untuk meledakkan kepala manusia yang sudah tega menyakiti kesayangan kita?"
"Nyawanya sudah di kuasai oleh Ibu. Aku bisa apa,"
"Haih, kau benar juga. Meskipun sudah tua Ibumu tetap saja mengerikan. Jiwa pembunuhnya masih berkobar dengan sangat kuat!"
"Itulah pesona Ibu, Ayah!"
"Dan kau adalah penerusnya!"
Gabrielle menoleh. Dia lalu tersenyum tipis, sedikit merasa tersinggung mendengar perkataan ayahnya. Sementara itu Karl yang berjalan paling belakang tak henti-hentinya mencuri kesempatan untuk menyiksa si penjahat. Melihat keadaan adiknya yang begitu mengenaskan membuat Karl berkeinginan untuk menguliti manusia ini hidup-hidup. Sayangnya keinginannya itu tidak mendapat izin dari nenek dan juga ayahnya. Karena sekarang ... ke tujuh bedebah ini akan di eret dengan mobil seperti apa yang mereka lakukan terhadap Flowrence dan juga temannya. Mata di balas mata, nyawa di balas nyawa. Baru setelah itu ke tujuh orang ini akan di bawa pulang kemudian di ajari bagaimana cara berenang yang baik oleh cicit-cicitnya Sulli. Sungguh pembalasan yang sangat mengerikan sekali bukan?
"Tuan, tolong lepaskan aku, Tuan. Aku hanya diminta untuk menjadi sopir saja, aku sama sekali tidak terlibat dengan kecelakaan ini!" ucap salah satu penjahat memohon pada seorang pria yang wajahnya teramat sangat dingin.
"Mata, telinga, dan juga otakmu tahu kalau temanmu telah menyakiti putriku. Apakah ini masih bisa di anggap tidak terlibat?" sahut Jackson.
"Jack, aku tidak suka kau bicara dengan mereka!" tegur Kayo.
__ADS_1
"Baiklah, sayang!"
"Tuan, aku benar-benar ....
Bugghhh buggghhhh
Liona, Greg, dan juga Gabrielle langsung berbalik menghadap belakang saat mendengar suara pukulan. Mereka kemudian kembali berjalan setelah tahu kalau Kayo baru saja mematahkan gigi salah satu penjahat yang kala itu menjadi miliknya Jackson.
"Ugghhhhh, s-sakiitttt!" cicit si penjahat sambil memegangi mulutnya yang berdarah-darah.
"Selanjutnya matamu yang akan ku congkel keluar kalau aku masih mendengar suaramu yang menjijikkan itu. Paham?!" hardik Kayo dengan tatapan yang begitu mengerikan.
Si penjahat mengangguk patuh. Dia hanya bisa pasrah ketika tubuhnya kembali di seret, berusaha mengabaikan rasa sakit dari giginya yang baru saja patah. Sadis, satu kata ini yang mampu dia deskripsikan untuk keluarga ini. Terlebih lagi wanita tua yang berjalan paling depan. Raut wajahnya benar-benar sangat mengerikan, seperti bukan seorang manusia.
"Ikat ke tujuh bajingan ini lalu siksa mereka sama persis seperti yang mereka lakukan pada cucuku. Sekalipun tubuh mereka terpisah, jangan berani-berani untuk berhenti sebelum aku sendiri yang memintanya!" perintah Liona pada salah satu anak buahnya.
Karl menyepak kepala si penjahat sebelum berjalan mendekat ke arah neneknya. Dengan tatapan penuh harap, Karl mencoba meminta izin untuk menjadi orang yang mengemudikan mobil. Rasanya dia seperti tak rela kalau harus orang lain yang membalaskan dendam atas siksaan yang di terima oleh adiknya. Karl ingin dia yang melakukan, harus dia.
"Ada apa, Karl?" tanya Liona.
"Nek, bolehkah aku yang mengendarai mobilnya? Aku ingin memberikan rasa sakit yang jauh lebih parah lagi melebihi apa yang sudah mereka lakukan pada Flowrence. Bolehkan?" jawab Karl penuh harap.
Sebelah alis Liona terangkat ke atas. Entah mengapa dia merasa ada yang berbeda di diri Karl. Tapi apa?
Kenapa aku merasa kalau kemarahan Karl lebih mendominasi ketimbang Bern? Ada apa ini?
Sayangnya Liona tidak sadar kalau apa yang dia pikirkan di dengar oleh salah satu cucu-cucunya yang ada di sana. Entahlah, ini terlalu sulit untuk di jelaskan. Antara Karl dan Bern, siapa yang sebenarnya sedang menjadi musuh dalam selimut?
__ADS_1
"Lakukanlah. Hati-hati, jalanan ini cukup berbahaya. Jangan sampai kau ikut masuk ke dalam jurang karena tak bisa mengendalikan emosimu!" ucap Liona akhirnya memberikan izin.
"Terima kasih banyak, Nenek!" sahut Karl semringah.
Segera Bern cs dan para penjaga mengikat ke tujuh penjahat di bagian belakang dan samping mobil. Dan mereka memposisikan para penjahat ini sama persis seperti posisi Flowrence saat di seret oleh mereka.
"Ny-Nyonya, tolong ampuni kami, Nyonya. K-kami benar-benar t-tidak tahu kalau gadis kecil itu adalah Nona Muda. T-tolong maafkan kami, Nyonya!" ucap salah satu penjahat masih berusaha mencari celah agar terhindar dari siksaan mengerikan ini.
"Minta maaflah setelah kalian mati!" sahut Liona dingin. Dia lalu mengelus kepala Lan, sedikit menunduk sambil membisikkan sesuatu padanya.
Hingga tak lama kemudian, terdengar jeritan pilu dari mulut para penjahat saat Lan menggigit satu persatu kaki mereka. Sedangkan Karl, dia sengaja tidak menjalankan mobilnya karena ingin menikmati tangisan dan juga jeritan dari para bedebah itu.
"AARRRGGGHHHHHHHH! Ampun Nyonya, ampuuuuu!! TOLOOOOOOONNGGGGGG!"
Jackson, Gabrielle, Kayo, Greg dan juga Bern cs menatap orang-orang ini dengan pandangan yang sangat dingin. Mereka sama sekali tidak ada yang merasa kasihan saat Lan berhasil mendapatkan satu kaki kemudian menyantapnya dengan penuh suka cita. Jangan di tanya bagaimana keadaan si pemilik kaki, dia sudah pingsan dari tadi.
"Inilah akibatnya jika berani mengusik cucu kesayanganku. Sayangnya ini belum seberapa karena masih ada banyak siksaan lain yang harus kalian terima!" ucap Liona sembari menyeringai samar. "Suntikkan obat untuk menahan pendarahannya. Aku tidak mau melihatnya mati di sini!"
"Baik, Nyonya."
"Karl, Lan sudah mendapatkan jatahnya. Kau boleh menyeret mereka sekarang!"
"Baik, Nek!"
Dan reka ulang kejadian pun segera di buka. Karl yang memang sudah menahan emosinya sejak tadi langsung melajukan mobil dengan sangat cepat. Kalian bisa bayangkan sendirilah seperti apa keadaan para penjahat itu sekarang. Tak berdaya, itu sudah pasti. Ingin mati, jangan harap. Liona hanya tunduk pada kehendak Tuhan, yang artinya kalau dia tidak akan membiarkan mangsanya mati dengan mudah meskipun nyawa mereka sudah berada di tenggorokan.
*******
__ADS_1