
“Oliver, kau mau pergi ke mana malam-malam begini?” tanya Levita sambil memperhatikan dengan seksama penampilan putranya yang sudah begitu rapi. Dia lalu memicingkan mata. Curiga.
“Ck, Bu. Tolong jangan menatapku seperti itulah. Aku bukan ingin melakukan tindak kejahatan kalau Ibu mau tahu,” sahut Oliver seraya menghela nafas dalam. Die tentu tahu kalau sang ibu tengah mencurigainya.
“Benarkah?”
Levita berjalan memutari tubuh Oliver sambil bersedekap tangan. Putranya ini sangat tampan, dia takut Oliver ingin pergi menggatal bersama gadis lain. Dan jika ketakutannya ini benar, maka Levita siap menjebloskan putranya ini ke rumah sakit jiwa. Gila saja. Membuang tambang berlian hanya demi sesuatu yang belum jelas bibit, bebet, dan juga bobotnya. Benar tidak man-teman?
“Oli, Ibu mencium aroma-aroma tidak sedap dari tubuhmu. Sekarang lebih baik kau jujur mau pergi ke mana. Karena jika kau menolak untuk jujur, maka Ibu tidak akan membiarkanmu keluar selangkahpun dari rumah ini. Mengeri?” cecar Levita mengancam.
“Astaga, Ibu. Sebenarnya apa sih yang sedang Ibu pikirkan?” kesal Oliver. Dia lalu mengusap wajahnya kasar, cukup frustasi menghadapi keposesifan ibunya.
“Tentu saja Ibu sedang mengkhawatirkan masa depanmu. Apalagi memangnya?”
“Mengkhawatirkan masa depanku atau sedang mengkhawatirkan tambang berlian Ibu?”
Merasa tersindir, Levita meringis sambil mengusap lehernya. “Sejelas itu ya kekhawatiran Ibu?” tanya Levita.
Oliver mengangguk. Tak ingin terus di curigai, Oliver segera menggandeng tangan sang ibu lalu mengajaknya duduk di ruang tamu rumah mereka. Setelah itu Oliver pun memberitahukan kemana dia akan pergi.
“Tadi aku menelpon Karl, dan kebetulan Karl sedang menemani Flowrence meminum obat dan mengganti perbannya. Namun karena ceroboh, Flowrence tak sengaja mengenai luka di pipinya hingga berdarah. Dan sekarang aku bermaksud menjenguknya. Begitu.”
__ADS_1
“Haaaa? Lukanya Flow kembali berdarah?”
“Iya,”
“Astaga, kenapa gadis itu bodoh sekali sih. Aku sungguh heran sebenarnya darimana Flowrence menuruni sikap bodohnya itu. Rasanya musthail kalau kebodohannya menurun dari Elea sepenuhnya. Apa jangan-jangan dari Gabrielle ya?” ucap Levita yang malah bertanya-tanya sendiri.
“Bu, Flowrence itu tidak bodoh. Dia hanya sedikit lebih istimewa saja dari kedua kakaknya,” sahut Oliver merasa tak terima Flowrence di sebut bodoh oleh ibunya. Dia tak senang mendengarnya.
“Cie cie cie, yang mulai posesif pada calon istrinya.”
Levita terkekeh. Dia menangkup kedua pipi Oliver lalu menatapnya dengan seksama. “Oli, Ibu harap kau benar-benar bisa menerima dan menyayangi Flow dengan sepenuh hati. Dia lemah, sangat amat lemah sampai tidak bisa membedakan mana orang baik dan mana orang yang hanya berpura-pura baik padanya. Ibu tahu kau sebenarnya kurang menyukai sikapnya Flowrence, tapi Ibu berani menjamin kalau Flowrence tidak seutuhnya bodoh seperti yang kau lihat sekarang. Dia sangat istimewa, sayang.”
“Kenapa Ibu tiba-tiba bicara selembut ini padaku? Apa yang sebenarnya sedang Ibu rencanakan?” tanya Oliver penuh selidik. Dia yakin betul ibunya pasti berniat menggadaikannya dengan sesuatu yang berbau kekayaan. Dan pastinya transaksi illegal ini hanya akan dilakukan bersama ayah dan ibunya Flowrence saja.
“Ck, kenapa Ibu malah memukulku sih?” protes Oliver sambil mengelus kepalanya yang terasa panas.
“Dasar tidak tahu moment kau ini ya. Sudah tahu Ibu sedang bicara dengan setulus hati, kenapa kau malah menuduh yang tidak-tidak tentang Ibu. Rasakan geplakan maut di kepalamu itu. Enakkan?” omel Levita dengan begitu sengit. Putranya ini entah kenapa jadi pandai sekali merusak suasana. Mirip Elea.
Oliver melengos dengan wajah cemberut.
“Oli, bukan tanpa alasan mengapa Ibu dan Bibi Elea menjodohkan kalian. Selain karena Ibu ingin menjadi wanita kaya raya sampai tua, juga karena Ibu ingin agar kau bisa menjadi pelindungnya Flowrence. Sekarang memang belum jelas, tapi kau perlu tahu satu hal kalau di antara Karl dan Bern, salah satu dari mereka telah diramalkan akan menyakiti Flowrence. Entah ini benar atau tidak, yang jelas Paman Gabrielle dan Bibi Elea selalu mencemaskan hal ini. Karenanya mereka memohon pada Ibu untuk membelimu sebagai calon suaminya Flowrence sejak kau masih berbentuk gumpalan darah. Maka dari itu Ibu harap kau mau ya menjaga Flowrence. Kasihan dia kalau ramalan itu benar terjadi,” ucap Levita mencoba memberi pengertian pada Oliver lewat garis besarnya saja. Levita tidak mungkin memberitahu keseluruhan dari kebenaran yang tersimpan karena khawatir hal itu akan membuat hubungan Oliver dan si kembar putra menjadi renggang.
__ADS_1
Meskipun kata-kata sang Ibu sedikit aneh tapi Oliver bisa menangkap maksud di baliknya. Karena jujur, sudah beberapa kali Oliver tak sengaja melihat gelagat aneh yang di tunjukkan oleh Bern ketika sedang mengawasi Flow. Tatapannya terkadang lebih mirip seperti singa yang sedang mengincar mangsa alih-alih seorang kakak yang sedang mengkhawatirkan adiknya. Namun karena Oliver merasa kalau Bern tak mungkin menyakiti adiknya sendiri, dia memilih untuk tidak berpikiran buruk tentangnya. Akan tetapi setelah mendengar perkataan ibunya Oliver jadi sadar kalau apa yang dia lihat ternyata adalah benar. Bern, si beruang kutub itu sedang mengincar gadisnya.
Ah, gadisku? Kenapa kata ini terdengar manis sekali ya? Hehe ….
“Baiklah, Bu. Mulai detik ini aku berjanji akan selalu berusaha menyayangi dan melindungi Flowrence dari semua marabahaya. Dan Ibu tidak perlu merasa cemas karena sudah sedari lama aku membuka hati untuk menerima Flowrence di hidupku. Aku kini sudah terbiasa dengan segala tingkah lucunya, termasuk menjadi korban dari transaksi gelap yang Ibu lakukan demi menguras hartanya Paman Gabrielle,” ucap Oliver dengan sepenuh hati menyindir sang ibu.
“Bagus. Ini yang Ibu harapkan darimu, sayang,” sahut Levita tanpa merasa tersindir di anggap telah melakukan transaksi gelap oleh putranya sendiri. Setelah itu Levita berdiri sambil menarik tangan Oliver. Dia berniat mengantarkannya sampai ke teras depan. “Nah, sekarang kau sudah boleh pergi menemui calon istrimu itu. Jangan lupa sampaikan salam dari Ibu untuk Flowrence ya. Bilang padanya agar jangan datang berkunjung ke rumah kita karena beras di rumah kita sudah habis. Oke?”
Astaga, masih saja Ibu menitipkan kode agar bisa mendapatkan transferan uang dari Paman Gabrielle. Memangnya uang dari Ayah masih kurang banyak apa. Heran. Aku jadi penasaran bagaimana cara Tuhan menciptakan Ibu dulu. Mungkinkah saat di buat Tuhan lupa menulis tentang bagian rejeki milik Ibu, makanya sekarang Ibu tumbuh menjadi manusia yang sangat mata duitan. Haihhhh.
“Hati-hati di jalan. Dan jangan lupa sampaikan pada Flowrence apa yang Ibu katakan padamu tadi ya. Oke sayang?”teriak Levita saat sopir mulai melajukan mobil meninggalkan halaman rumahnya. Setelah itu Levita kembali masuk ke dalam rumah sambil bersenandung kecil. Bahagia, karena sebentar lagi pasti akan ada uang yang menyasar masuk ke dalam rekeningnya. Hehehe.
Sementara itu di dalam mobil, Oliver meminta sopir untuk singgah sebentar di toko bunga dan toko coklat. Dian ingin membeli kedua benda itu untuk dihadiahkan pada Flowrence.
“Paman, menurut Paman Flowrence itu gadis yang seperti apa?” tanya Oliver iseng-iseng membuka pertanyaan seperti itu.
“Em, kalau menurut Paman Nona Muda itu adalah seorang gadis yang sangat menggemaskan. Sikapnya yang periang bisa menularkan kebahagiaan pada orang-orang di sekitarnya. Ya walaupun sedikit bodoh, tapi Paman rasa akan sulit untuk tidak jatuh cinta padanya,”
“Yang di katakan Paman memang benar. Saat gadis lain sibuk menutupi kekurangan mereka dengan topeng gadis yang sempurna, Flowrence malah terjebak di dalam dunianya yang masih begitu polos. Dan seperti yang Paman katakan, akan sangat sulit untuk tidak jatuh cinta kepadanya,” ucap Oliver seraya tersenyum kecil. “Usia kami memang masih lima belas tahun, tapi aku tidak akan menolak jika seandainya kami diminta untuk menikah muda. Akhir-akhir ini entah kenapa aku selalu ingin bersama Flowrence, Paman. Ini aneh tidak?”
Di tanya seperti itu oleh anak majikannya membuat si sopir terkekeh pelan. Oliver yang melihatnya pun jadi ikut terkekeh. Dia merasa konyol dengan pemikirannya sendiri. Hingga tak lama kemudian mobil berhenti di depan sebuah toko. Oliver lalu bergegas keluar untuk membeli coklat kesukaan Flowrence. Setelah itu dia kembali lagi ke mobil lalu mengajak sopir untuk mencari toko bunga.
__ADS_1
Sepertinya aku mulai tergila-gila pada Flowrence.
***