Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Mengumumkan Kehamilan


__ADS_3

"Kak Iel, aku lelah!" bisik Elea seusai meladeni para wartawan. Keningnya di banjiri keringat dingin dan wajahnya mulai memucat. Bukan karena apa, bayi-bayinya tiba-tiba saja berkeinginan untuk muntah saat mencium aroma tubuh suaminya. Hingga membuat fisik Elea merasa sangat amat kelelahan karena menahannya.


"Ya Tuhan, sayang. Kenapa kau pucat begini? Ayo kita pulang saja," sahut Gabrielle cemas melihat wajah Elea pucat pasi.


"Permisi, Tuan Muda, Nyonya Elea. Bisakah anda memberitahu kami kemana kalian akan pergi berbulan madu setelah ini?"


Bagai kerasukan jin, Gabrielle melayangkan tatapan membunuh kepada wartawan yang baru saja bertanya. Sungguh, dia tak habis pikir dengan kegilaan orang-orang ini dalam mengejar berita.


"Kau. Apa matamu sudah buta sampai tidak bisa melihat kalau istriku sudah sangat kelelahan meladeni pertanyaan kalian, hah! Lihat, wajahnya pucat gara-gara kalian semua. Brengsek!" teriak Gabrielle murka.


"M-maafkan saya, T-Tuan Muda," ucap si wartawan ketakutan.


"Enyah dari hadapanku sekarang juga sebelum aku menelanmu hidup-hidup. Sekarang!"


Semua wartawan yang ada di sana langsung mundur begitu merasakan aura gelap di diri pria yang tengah berulang tahun ini. Sungguh, acara yang tadinya berjalan penuh kebahagiaan kini harus terganti dengan amarah yang meluap-luap hanya karena si Nyonya yang mulai kelelahan. Di batin para wartawan, mereka semua merekam wajah wanita bernama Eleanor Young dengan sangat baik agar nantinya mereka tidak terlibat masalah besar. Karena mereka sangat sadar kalau wanita ini bisa saja mendatangkan kematian.


"Kak Iel," panggil Elea sembari mengusap-usap perutnya.


"Ya, sayang?" sahut Gabrielle dengan ekpresi penuh kekhawatiran.


"Aku ....


"Tunggu sebentar. Aku akan pergi mengambil minuman dulu untukmu. Jangan kemana-mana, oke?" sela Gabrielle kemudian mengecup bibir Elea kilat sebelum akhirnya melangkah pergi untuk mengambil minuman.


Kedua sudut bibir Elea tertarik ke atas. Dia kemudian melihat ke arah sang kakak dan juga dokter Reinhard, memberi kode kalau saat inilah waktu yang tepat untuk mengumumkan kehamilannya.


"Res, minta para wartawan berdiri di posisi yang paling baik. Jangan lupa juga minta salah satu dari mereka untuk mengawasi Gabrielle. Sebentar lagi bom akan segera di ledakkan!" bisik Jackson.


Ares mengangguk. Dia segera melakukan tugasnya dengan sangat cepat. Sedangkan Jackson dan Reinhard, mereka berdua berdiri tak jauh dari tempat Elea. Untuk jaga-jaga saja, siapa tahu Gabrielle khilaf. 😅


"Happy birthday to you...


Happy birthday to you...


Happy birthday my husband,, happy birthday


to you ....


Gabrielle yang saat itu sedang mengambil minuman langsung diam terpaku saat mendengar suara nyanyian Elea. Hatinya melumer penuh kebahagiaan sebelum akhirnya dia berbalik menatap ke arah di mana istrinya berada.


"Kak Iel, aku mencintaimu," ucap Elea di depan microphone. Suaranya yang lumayan keras membuat semua orang bisa mendengarnya.


"Aku tahu," sahut Gabrielle dari kejauhan.


"Kak Iel, aku menyayangimu."


"Aku juga tahu itu, sayang."


"Kau hidupku," ucap Elea.


Mata Gabrielle berkaca-kaca. Dia mengangguk. Hatinya membuncah, juga meleleh mendengar ungkapan cinta yang keluar dari mulut Elea.

__ADS_1


"Kak Iel,"


Ini saatnya. Sebelum melanjutkan kata-katanya, Elea mengelus perutnya terlebih dahulu. Jantungnya seperti akan meledak saat ingin memberitahu semua orang kalau saat ini dirinya tengah mengandung tiga kurcaci yang sudah setahun ini sangat dia nantikan bersama suaminya.


"Kak Iel, aku ....


Reinhard, Ares, Nun, Levi, dan juga Jackson sama-sama menahan nafas menunggu detik-detik Elea mengumumkan kehamilannya. Rasanya sungguh sangat menegangkan. Membuat urat di sekujur tubuh mereka kaku karenanya.


"Kak Iel, di hari ulang tahunmu ini aku tidak bisa memberikan kado apa-apa. Mungkin ke depannya nanti aku malah akan membuatmu kerepotan. Setelah ini waktumu akan banyak tersita karena aku. Aku juga akan sering bangun tengah malam dan merengek seperti anak anjing yang kelaparan. Aku minta maaf ya jika nanti kau akan sedikit sulit membagi waktu untuk beristirahat. Aku tidak berdaya!"


Semua orang kebingungan mendengar Elea yang tiba-tiba bicara seolah dirinya sedang sakit keras. Gabrielle yang memang sudah mengetahui keadaan Elea hanya bisa diam tertegun. Separah itukah penyakit istrinya sampai-sampai Elea mengucapkan kata perpisahan? Tidak, Gabrielle tidak mau Elea-nya pergi. Elea tidak boleh mati.


Jangan, Elea. Aku mohon, jangan di teruskan lagi. Aku tidak sanggup mendengarnya.


"Greg, Elea kenapa? Dia kenapa bicara seperti itu? Elea kenapa, Greg!" tanya Liona panik.


"Aku juga tida tahu, Honey," sahut Greg tak kalah panik.


"Bu, jangan panik dulu. Tenang, kakak ipar masih belum menyelesaikan perkataannya," ucap Grizelle menenangkan ketakutan di diri orangtuanya.


"Tapi, Zel. Elea ....


"Kak Iel, aku hamil."


Tubuh Gabrielle luruh ke lantai. Suara Elea tak terdengar jelas di telinganya karena pikiran Gabrielle sudah tidak tahu pergi kemana. Dia terlalu kalut, dia takut Elea-nya pergi.


"APAAAA? HAMILLLL!!"


"Kak Iel, aku hamil. Kembar tiga!" teriak Elea sambil menyeka air matanya.


"Hamil? Kembar tiga?" beo Gabrielle semakin kebingungan.


Plaaaakkkk


"Bangun, bodoh!" umpat Levi setelah menggeplak lengan Gabrielle agar segera tersadar dari kebingungannya.


"Kenapa kau memukulku?" tanya Gabrielle tak terima. Segera dia mengelap bekas pukulan Levi menggunakan tisu yang di sodorkan oleh Nun. Jijik sekali di sentuh oleh orang lain.


"Masih untung hanya kupukul, bukan ku cangkul kepalamu. Dasar lambat kau!"


"Jaga kata-katamu, Lev!"


"Cihh."


Jika Gabrielle masih belum sadar dengan apa yang baru saja di sampaikan oleh Elea, Liona, Greg, Yura, Bryan dan juga yang lainnya sedang ternganga syok begitu tahu kalau Elea tengah mengandung tiga pewaris sekaligus. Kekhawatiran yang tadi menghantui pikiran mereka seketika berubah bak sebuah ledakan hebat yang membuat mereka semua tak bisa berkata-kata. Luar biasa.


"Kak Iel, apa kau tidak mau memelukku?" tanya Elea. Lucu juga melihat suaminya yang masih tidak sadar kalau dia akan menjadi orang terakhir yang mengetahui kabar kehamilannya.


"Sayang, aku ....


"Yaaakkk kau pria tengik. Elea hamil bodoh. Cepat sana peluk dia sebelum aku yang pergi memeluknya!" teriak Levi gemas melihat Gabrielle yang masih belum sadar juga.

__ADS_1


"Hamil?"


Gabrielle mencerna kata-kata hamil yang baru saja dia dengar.


Elea hamil? Bagaimana bisa?


"Kak Iel, aku hamil anakmu. Tiga ekor!"


"Hamil? Jadi kau hamil, sayang?" tanya Gabrielle dengan raut wajah yang begitu datar.


Semua orang di buat gemas dengan reaksi di diri Gabrielle. Hingga sedetik kemudian, mereka di buat mengelus dada ketika Gabrielle tiba-tiba membanting gelas yang sedang di pegangnya kemudian berlari seperti di kejar setan ke arah Elea.


"Sayang, kau hamil? Anakku!" teriak Gabrielle sambil menangkup kedua pipi Elea.


"Tentu saja aku hamil anakmu lah, Kak. Masa iya aku hamil anak iblis," sahut Elea berkelakar.


"Kau benar-benar hamil kan?"


Elea mengangguk.


"Bukan sedang sakit parah?"


"Apa Kak Iel ingin melihatku sakit?"


"Tidak!" sahut Gabrielle sambil menelan ludah. Dadanya seperti akan meledak.


"Kalau begitu ayo cepat peluk aku!"


Tanpa membuang waktu lagi Gabrielle segera mengangkat Elea ke pelukannya. Dia lalu membawanya berputar-putar, membiarkan semua orang menertawakan perbuatannya.


"Hei, istriku hamil. Kami akan segera punya anak!" teriak Gabrielle seperti orang gila.


"Hati-hati, Kak. Nanti ketiga anak kita terpental keluar kalau kau memutar tubuhku terlalu kuat!" ucap Elea memperingatkan.


Deg deg deg


"A-apa, sayang? T-tiga?" tanya Gabrielle tremor.


"Iya, tiga. BKF BKF," jawab Elea sambil mengedipkan mata.


Untuk sesaat nyawa Gabrielle seperti hilang dari tubuhnya. Setelah itu dia langsung mencari keberadaan dua pelaku yang sudah membuatnya kalut sejak semalam.


"Reinhard, Jackson. Aku akan membunuh kalian berdua setelah ini. Beraninya kalian membohongi aku!" teriak Gabrielle dengan suara tercekat.


"Maaf, aku ikan, aku tidak dengar," sahut Reinhard dan Jackson berbarengan. Mereka kompak melakukan tos karena rencana kejutan ini berhasil membuat banteng pencemburu ini menangis di hadapan kamera. Sungguh ending yang sangat menyenangkan bukan?


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


📢 GENGS, SEKEDAR PEMBERITAHUAN. BAGI YANG IKUT GIVEAWAY, TOLONG DI PAHAMI PERSYARATANNYA YA AGAR NANTI PAS PEMILIHAN PEMENANG KALIAN NGGAK SALAH PAHAM. SEKALI LAGI DI BACA BAIK-BAIK YA, TERIMA KASIH 💜


__ADS_1


__ADS_2