
Elea terlihat begitu semangat begitu sampai di kampusnya. Lusi yang kebetulan sudah datang dengan di antarkan oleh Gleen segera mendekati mobil yang di tumpangi oleh Elea.
"Selamat pagi, ibu hamil," sapa Lusi seraya tersenyum semringah.
"Aih, ibu hamil generasi kedua. Apa kabar?" sahut Elea tak kalah semringah.
Gabrielle, Ares, Reinhard, Levita, dan juga Gleen sama-sama mengerutkan kening saat mendengar cara aneh Elea membalas sapaan Lusi. Mereka kemudian memandang bergantian ke arah dua wanita yang sama-sama sedang mengandung.
"Kalau aku generasi kedua, berarti kau adalah generasi ketiga. Benar tidak?" tanya Lusi.
"Benar sekali, Kak," jawab Elea. Setelah itu dia melirik ke arah Levi. "Kira-kira siapa ya yang akan mendapat gelar ibu hamil generasi ketiga? Aku khawatir kalau posisi itu akan di duduki oleh istri kakakku."
Firasat Reinhard mulai terasa tidak enak saat mata kedua ibu hamil tersebut menatap lekat ke arah istrinya. Reinhard tentu belum lupa dengan insiden semalam di mana Levita memaksa untuk segera di hamili. Dan gara-gara hal itulah kedua mertua Reinhard sampai salah paham padanya. Sedetik kemudian Reinhard teringat akan sesuatu hal yang membuatnya langsung menelan ludah.
Tuhan, apa ini adalah jawaban dari doanya Ares? Jika memang benar, tolong redamkan amarah dan juga rasa iri di hati istriku, Tuhan.
"Hei, kenapa kalian melihatku sampai seperti itu?" tanya Levita merasa aneh melihat kelakuan Lusi dan Elea.
"Kasihan, Kak Levi masih belum hamil. Apa jangan-jangan Kak Levi jarang membuat adonan dengan dokter Reinhard ya makanya sampai sekarang belum ada bibit belatung yang tumbuh di rahim Kakak," ejek Elea sembari menatap penuh arti ke arah perut si pelakor. Dia tahu sesuatu, tapi enggan untuk memberitahu semua orang. Termasuk juga suaminya. Biar saja, Elea ingin hal tersebut menjadi kabar baik untuk semuanya. Hehe.
"Bibit belatung kepalamu, Elea. Kau pikir aku ini zombie apa sampai-sampai harus mengandung bayi belatung?" amuk Levita tak terima.
"Ya sudah sih jangan marah-marah, Kak. Aku tahu kau itu sedang iri. Iya kan, Kak Lusi?"
Lusi terlihat kikuk ketika di tanya seperti itu oleh Elea. Ibarat kata maju kena, mundur pun kena. Jika dia menjawab, maka Levita pasti akan sangat marah dan tersinggung. Tapi jika tidak di jawab, Elea bisa saja merajuk dan menganggap kalau dia lebih pro pada Levita. Juga karena Lusi yang takut ketiban sial jika berani membuat ibu hamil ini merasa tersinggung.
"Ekhmm, sayang. Ayo masuk, biar aku yang mengantarkanmu ke kelas!" ajak Gabrielle dengan cepat. Suasana sudah mulai tak kondusif, Gabrielle khawatir kalau Levita akan lepas kendali jika terus di ejek oleh istrinya.
"Nanti saja, Kak Iel. Aku belum puas menggoda Kak Levi," sahut Elea menolak ajakan suaminya. Dia masih ingin melihat raut frustasi di wajah pelakor peliharaannya ini.
__ADS_1
"Sayang, kau sebaiknya jangan terlalu banyak bicara dulu. Nanti kalau anak-anak kita merasa kelelahan bagaimana?"
Kali ini mata semua orang langsung membelalak lebar saat mendengar jenis pertanyaan nyeleneh yang di lontarkan Gabrielle pada Elea. Sungguh, tidak yang laki-laki tidak yang perempuan, pasangan prik ini benar-benar membuat jantung orang lain seperti ingin berhenti berdetak. Sangat membagongkan.
"Gabrielle, Elea itu sedang hamil, bukan sakit keras. Bagaimana ceritanya bayi-bayi di perutnya bisa merasa kelelahan hanya karena dia yang banyak bicara? Tolonglah, kau itu kan pintar. Berhenti mengkhawatirkan sesuatu yang tidak masuk akal seperti ini!" ucap Reinhard tak habis pikir dengan kesiaagan sahabatnya yang sudah di luar batas.
"Aku setuju dengan yang Reinhard katakan. Yang hamil itu bukan hanya istrimu, Gab. Tapi istriku juga. Dan aku tidak pernah melarang Lusi melakukan ini dan itu. Aku membebaskannya selagi apa yang dia lakukan tidak membahayakan keselamatan bayi kami. Jadi aku rasa kau sedikit berlebihan dalam mengkhawatirkan Elea dan kandungannya!" timpal Gleen ikut berkomentar.
Mungkin di pikiran Reinhard dan Gleen dengan mereka berkata seperti itu maka otak Gabrielle akan sedikit membaik. Akan tetapi apa yang terjadi selanjutnya sangatlah jauh dari apa yang mereka pikirkan. Bukannya sadar, Gabrielle malah kerasukan setan. Dia tidak terima dengan komentar yang di ucapkan oleh Reinhard dan juga Gleen.
"Kau, Reinhard. Pertama, kau belum berhasil menghidupkan bayi belatung di rahim istrimu. Dan kau, Gleen. Istrimu itu hanya mengandung satu bayi, sedangkan istriku? Kau tahu kan kalau di tubuh mungil Elea ada tiga bayi yang kini sedang bergelantungan di dalam rahimnya? Dengan beban seberat itu aku mana mungkin tidak mengkhawatirkan mereka? Sebenarnya kalian berdua berpikir dulu tidak sih saat akan bicara. Seenaknya saja kalian menghujat orang!" amuk Gabrielle. Dia kemudian menunduk menatap wajah Elea yang hanya diam ketika dia sedang mengamuk. "Sayang, jangan dengarkan apa kata dua iblis sesat itu ya. Mereka berdua hanya iri saja melihatku yang begitu siaga menjaga keselamatanmu dan juga bayi-bayi kita. Aku sangat mencintai kalian berempat, aku hanya tidak mau kalian sampai kenapa-napa."
"Tenang saja, Kak Iel. Sekalipun kau bersalah aku akan tetap berada di pihakmu dan mempercayai semua kata-katamu. Dokter Reinhard dan Paman Gleen bicara seperti itu mungkin karena mereka tidak sungguh-sungguh dalam mencintai Kak Levi dan Kak Lusi. Makanya mereka merasa risih melihat Kak Iel yang begitu bucin padaku. Iya kan?" sahut Elea yang dengan sengaja memantik kekesalan di diri dua wanita yang kini sudah menatap bengis ke arah suami masing-masing.
Ares sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun ketika dokter Reinhard dan Gleen menjadi korban kejahilan mulut nyonya kecilnya. Bagi Ares dia sudah cukup gila dengan perintah Tuan Muda-nya tadi, tidak dengan sang nyonya. Jadi sebisa mungkin Ares menjauhi kematian berulang dengan cara berkamuflase menjadi batu yang bisa bernafas.
"Astaga, Sweety. Aku sangat mencintaimu, kau jangan percaya dengan perkataannya Elea karena itu sangat tidak benar. Kalau aku tidak menyayangimu, mana mungkin aku membuatmu hamil seperti sekarang. Bayi yang ada di dalam rahimmu adalah buah cinta kita, itu tanda kalau aku begitu mencintai kalian berdua. Tolong jangan salah paham ya?" jawab Gleen panik melihat istrinya yang termakan perkataan Elea.
"Benarkah?"
"Kau boleh membunuhku kalau tidak percaya, Sweety."
Elea tersenyum.
"Kak Lusi, di dalam mobilku ada samurai milik Kak Iel. Kau ambillah kemudian tebaskan ke lehernya Paman Gleen. Dengan begitu kita semua akan tahu apakah Paman Gleen benar-benar mencintaimu atau tidak."
"A-apa????"
Biji mata Gleen hampir terbang keluar saat Elea kembali meracuni pikiran istrinya dengan hal-hal yang sangat luar biasa sesat. Tak mau Lusi benar-benar menghabisinya, Gleen dengan cepat membawanya masuk menuju kelas. Dia tidak akan membiarkan Elea merusak hubungannya dengan Lusi. Tidak akan.
__ADS_1
"Kau yang terbaik, sayang," puji Gabrielle penuh bangga.
"Tentu saja. Siapa dulu suaminya? Gabrielle," sahut Elea sambil tersenyum lebar.
Setelah Gleen di buat kocar kacir oleh Elea, kini tiba giliran Reinhard yang harus menghadapi Levita. Dia sejak tadi sudah menelan ludah karena istrinya ini terus saja menatapnya dengan sangat tajam. Reinhard yakin sekali kalau Levi akan bereaksi seribu kali lebih parah ketimbang Lusi.
"Kalau bulan ini aku masih belum hamil, itu tandanya yang di ucapkan oleh Elea memang benar kalau kau itu tidak mencintaiku, Reinhard," ucap Levita.
"Sayang, tolong jangan beginilah. Kau tahu benar kalau aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku sangat mencintaimu, Levita," sahut Reinhard putus asa.
"Maaf, Reinhard. Aku lebih mempercayai ucapan Elea daripada ucapanmu. Pokoknya kalau aku masih belum hamil juga, aku akan kabur dengan laki-laki lain. Titik!"
Setelah berkata seperti itu Levita bergegas masuk ke mobil. Sedangkan Reinhard, dia hanya bisa menarik nafas dalam-dalam sambil menatap bergantian ke arah dua ekor manusia yang bersikap seolah tidak melakukan apa-apa.
"Kak Iel, kau jangan sampai membenci dokter Reinhard ya. Ingat kata Ibu Liona kalau anak kita bisa terlahir mirip dengan orang yang kita benci. Oke?" ucap Elea dengan santai.
Gabrielle mengangguk. Setelah itu dia mengantarkan Elea menuju kelasnya. Mengabaikan tatapan aneh di wajah para mahasiswa yang berpapasan dengan mereka.
Res, inilah yang aku khawatirkan dari doa yang kau panjatkan tadi. Terima kasih banyak ya, aku sangat menderita sekarang.π
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...
__ADS_1