Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Hidup Dan Mati


__ADS_3

"Ugghhhh Sisil, kenapa tubuhmu berat sekali. Tanganku sudah hampir putus!" rintih Flowrence sambil menahan sakit.


"Akhh, kau ini buta atau bagaimana, Flow. Yang harusnya mengeluh itu aku, bukan kau!" sahut Sisil dengan bibir gemetaran.


"Owh, benarkah?"


Setelah jatuh bergulingan dari atas, kini posisi Flowrence tengah terkatung-katung di pinggiran jurang yang menjorok ke dalam lubang yang di bawahnya terdapat banyak sekali anak ular. Untungnya tadi tangan Sisil sempat berpegangan pada akar pohon. Karena jika tidak, dia dan Flowrence akan sama-sama terperosok jatuh ke sarang ular tersebut. Namun anehnya, Flowrence malah menjadi orang yang mengeluh di detik-detik tangan Sisil hampir putus karena menahan berat tubuhnya. Sebenarnya di sini Flowrence lah yang memiliki luka paling banyak karena sekujur tubuhnya habis tergores jalanan aspal saat Flowrence tidak sengaja ikut tertarik Sisil yang ingin di culik. Sisil juga memiliki luka yang lumayan parah, tapi wajah dan sebelah tangannya masih utuh karena terselamatkan saat si penculik mencoba menariknya masuk ke dalam mobil.


"Flow, kau tidak ingin menangis apa?" tanya Sisil semakin kesakitan. Tulang kakinya seperti patah karena tadi dia memeluk tubuh Flowrence ketika akan jatuh ke dalam jurang hingga membuat tulang kakinya menabrak beberapa bebatuan besar yang ada di tempat ini.


"Aku sudah menangis sejak tadi, Sil. Dan sekarang air mataku mengering," jawab Flowrence dengan mata berkaca-kaca. Di detik selanjutnya Flowrence benar-benar menangis, dan kali ini suara tangisannya sangat kencang. "Huwaaaaaa, IBUUUUU! Tolong aku, Bu. Aku dan Sisil akan menjadi siluman ular jika Ibu tidak segera datang menolong kami. TOLAAAAAA, kau kemana? Tolong aku. Huhuhuuuu," ....


Kalau saja posisi Sisil tidak sedang berjuang antara hidup dan mati, dia pasti akan langsung mendepak kepala anak satu ini yang dengan gilanya meratap kalau mereka akan berubah menjadi siluman ular. Jika pun benar, itu masih mending karena setidaknya mereka masih hidup. Tapi ini? Astaga. Sudah bisa di pastikan kalau mereka akan langsung mati dengan mulut berbusa saat ular-ular itu mematuk tubuh mereka satu-persatu. Aneh.


Srraaakkk srrraaakkkk


"Eh, ada yang datang!" pekik Flowrence. Tangisnya terhenti seketika begitu mendengar suara langkah kaki seseorang.


"Jangan mengada-ada, Flow. Suara yang kau dengar itu mungkin adalah suara langkah malaikat maut yang ingin menjemput kita," sahut Sisil. "Flow, aku tidak kuat lagi. Kau jangan takut ya. Aku pasti akan menemanimu masuk ke sarang ular itu!"


"Jadi kita akan mati ya, Sil?" tanya Flowrence sambil mendesis kesakitan saat luka di kakinya tidak sengaja menabrak dinding jurang.


"Iya,"


"Ya ampun, kasihan sekali!"

__ADS_1


Tepat ketika pegangan tangan Sisil hampir terlepas, dari arah belakang muncul Russel yang langsung menggantikan tangan Sisil untuk memegang tangan Flowrence. Keadaan Russel sendiri tidak bisa di katakan baik karena wajahnya di penuhi darah segar yang masih mengalir deras dari luka di pinggiran kepalanya.


"Bantu aku menarik Flowrence ke atas!" ucap Russel sambil menatap temannya Flowrence yang tengah terbengang di sampingnya.


"Y-ya?"


"Bantu aku!"


Sisil seperti hilang kesadaran saat Russel tiba-tiba muncul di sebelahnya. Dia yang sebenarnya sedang sangat kesakitan mendadak seperti baik-baik saja ketika bertatapan dengan pangeran hatinya ini. Aneh, padahal dia masih kecil. Tapi dadanya bisa begitu berdebar berada di dekat seorang anak laki-laki yang begitu tampan.


"Russel, aku belum mau mati," cicit Flowrence mulai melemas. Luka-luka yang ada di sekujur tubuh Flowrence membuat darahnya banyak menetes keluar yang menyebabkan kepalanya menjadi pusing dan tatapannya menjadi berkunang-kunang.


"Selama ada aku, kau tidak akan kubiarkan mati begitu saja, Flow. Sabar ya, aku pasti akan menyelamatkanmu!" sahut Russel sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Kegilaan Russel yang nekad menyusul Flowrence terjun ke jurang membuatnya hampir mati konyol saat tubuhnya menghantam batu besar yang ada di tempat ini. Sebenarnya tadi Russel sudah hampir pingsan karena luka di kepalanya, tapi dia terus berusaha menguatkan diri dengan memikirkan kalau Flowrence sedang sangat membutuhkan pertolongannya. Dan benar saja. Begitu Russel sampai di sini, dia melihat tubuh Flowrence tengah bergelantungan di atas sarang ular yang baru saja menetas. Tanpa memikirkan keadaannya yang juga sedang terluka, Russel langsung berlari mendekat kemudian mengambil alih tugas temannya Flowrence yang sejak tadi sudah berusaha untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke bawah.


"Tahan sebentar ya, Flow. Aku akan pelan-pelan saat menarikmu ke atas. Oke?" hibur Russel tak tega mendengar suara rintihan Flowrence.


"It-itu ... emm, Russel. Kulit di tangannya Flow terkelupas banyak, kau tidak boleh terlalu kuat menyentuhnya. Dia kesakitan," ucap Sisil memberanikan diri untuk bicara. Tubuhnya sudah kaku antara gugup dan juga mati rasa.


"Aku tahu," sahut Russel dingin.


Sisil menelan ludah. Dia lalu melihat ke arah Flowrence yang sedang menangis dengan mata terpejam. Tak tega, sekuat mungkin Sisil mencoba membantu Russel menarik tubuh Flowrence ke atas. Namun karena keadannya yang lemah, juga karena posisi medan yang terlalu menjorok ke dalam, tanpa sadar tubuh Sisil mulai merosot ke bawah. Russel yang melihat hal itupun menjadi dilema antara ingin menarik kaki temannya Flowrence atau tidak.


"Uugghhh, sedikit lagi, Flow. Ayo!" ucap Sisil sambil meraih akar pohon di sampingnya. Kepalanya mulai terasa pening karena tubuhnya seperti di gantung terbalik.

__ADS_1


"Kau, diamlah. Jangan banyak bergerak, nanti kau malah jatuh ke bawah!" teriak Russel panik.


"Tidak apa-apa. Tubuhku tidak seberat Flowrence, aku pasti bisa menahannya," sahut Sisil seraya tersenyum polos.


Pada akhirnya Russel dan Sisil saling bahu-membahu untuk menyelamatkan Flowrence. Sedangkan gadis itu sendiri, kini benar-benar sudah kehilangan kesadarannya akibat terlalu banyak mengeluarkan darah. Dan tepat ketika Flowrence berhasil ditarik ke atas, Sisil malah tidak sengaja tergelincir jatuh ke bawah.


"AAAAAAAAA!!!!"


"S*iittttt!"


Sebisa mungkin Russel mendorong tubuh Flowrence agar tidak jatuh lagi sebelum dia memutuskan untuk menolong gadis bodoh itu. Namun karena luka di kepalanya cukup serius, begitu Russel melongok ke bawah dia langsung merasa pusing. Dan sebelum sempat Russel mengambil tindakan tubuhnya sudah lebih dulu terjatuh ke sarang ular.


"Aaaaa, RUSSEEELLLL!" teriak Sisil yang kala itu tergantung terbalik karena kakinya yang terlilit akar pohon. Karena terkejut, Sisil akhirnya jatuh pingsan. Dia sudah tidak ingat apa-apa lagi setelahnya.


Di saat yang bersamaan, Oliver akhirnya tiba di sana. Matanya langsung melotot lebar melihat keadaan Flowrence yang terbaring pingsan dengan sekujur tubuh penuh luka. Sambil terus berpegangan pada batang pohon yang ada, Oliver menghubungi saudara-saudaranya yang sedang menunggu di atas jurang.


"Oliver, kau sudah gila atau bagaimana hah. Kenapa kau turun ke bawah tanpa pengamanan!" teriak Cio dari dalam telepon.


"Jangan banyak bicara. Kalian sebaiknya segera turun saja ke sini. Flowrence pingsan dan tubuhnya luka semua. Cepatlah!" sahut Oliver kemudian memutuskan panggilan.


Begitu sampai, Oliver langsung memangku kepala Flowrence. Dadanya terasa sangat sesak melihat gadis yang biasanya selalu ceria kini berada dalam kondisi yang memperihatinkan. Saat itu Oliver tak sengaja melihat ada sepatunya Russel dan juga sepasang sepatu perempuan berada tak jauh dari posisinya sekarang. Dan di detik itu barulah Oliver tersadar kalau saudaranya dan juga temannya Flowrence terjatuh ke dalam jurang.


"Sial. Bagaimana ini? Argghhh, kenapa Russel bisa sampai ada di sini. Bukankah tadi dia sedang bersama Karl di atas!" teriak Oliver frustasi.


Tak mau saudaranya sampai kenapa-napa, sambil memangku Flowrence Oliver kembali menghubungi nomor saudaranya yang lain. Dia lalu memberitahukan pada mereka kalau Russel jatuh ke dalam jurang bersama dengan temannya Flowrence. Tak lupa juga Oliver meminta semua orang agar segera datang membawa bala bantuan.

__ADS_1


Ya Tuhan, tolong selamatkan Russel dan juga temannya Flowrence. Aku mohon ....


*******


__ADS_2