
Elea dengan penuh semangat memeriksa hasil kiriman buah mangga setengah matang yang di petik langsung oleh suaminya. Sejak semalam entah kenapa Elea begitu ingin memakan buah mangga dalam usia seperti ini. Aneh bukan?
"Ah, ternyata Kak Iel benar-benar mencintaiku. Aku pikir dia akan mengirim buah secara asal, rupanya tidak. Hehehe," ujar Elea sambil memandangi enam belahan mangga yang tertata rapi di hadapannya. Dia begitu bahagia sekarang.
Tapi sayang, kebahagiaan itu hanya lewat sebentar saja. Tiba-tiba saja Elea terpikir bagaimana caranya Gabrielle bisa mengetahui kalau mangga yang di petiknya adalah mangga setengah matang. Di pikir dengan logika sekalipun rasanya pasti akan sangat sulit untuk membedakan tiga dari ratusan buah yang bergelantungan di pohon. Lalu bagaimana caranya suaminya bisa menemukan ketiga buah ini? Ada yang tidak beres.
"Pak Nun?" panggil Elea.
"Iya, Nyonya. Ada apa?" sahut Nun yang langsung mendekat ke samping sang nyonya. Dia sudah ketar-ketir sendiri sejak tadi.
"Apa benar Kak Iel yang memetik ketiga mangga setengah matang ini?" tanya Elea. Dia menatap galak ke arah Nun yang terus saja menundukkan kepala.
"Benar, Nyonya. Saya menyaksikan sendiri bagaimana Tuan Muda memanjat pohon mangga itu," jawab Nun jujur. "Jika Nyonya tidak percaya, Nyonya bisa memutar alat penyadap yang Nyonya pasang di dekat telinga saya. Dan saya jamin perkataan saya sangat akurat dengan yang terekam di sana!"
Elea mengangguk-anggukkan kepala. Pak Nun tidak mungkin bohong, jadi dia putuskan untuk percaya padanya.
"Em, Kak Jackson pergi kemana ya? Sejak tadi aku sama sekali belum melihat batang hidungnya," ucap Elea bertanya pada dirinya sendiri.
Nun sebenarnya ingin sekali menjawab, tapi tidak dia lakukan karena takut akan menerima imbas dari sang nyonya. Cukup bagi Nun dengan di tanam hidup-hidup semalam, jadi dia tidak mau mengalami nasib sial lagi. Tidak mau.
"Pak Nun, tolong kau habiskan mangga-mangga ini ya. Aku sudah puas," ucap Elea sembari mendorong enam potongan mangga ke arah Nun. Dan Elea melakukan semua itu tanpa merasa dosa sedikit pun.
"Nyonya, bukankah pagi tadi Nyonya begitu menginginkan mangga ini? Kenapa tidak dimakan saja?" tanya Nun kaget melihat buah mangga setengah matang tersebut hanya teronggok begitu saja. Dia mutan, jadi tidak mungkin untuk Nun memakan buah tersebut.
"Pak Nun, aku beritahu satu hal padamu ya. Kata orang, jika wanita hamil menginginkan sesuatu itu belum tentu akan dimakan. Kadang mereka sudah merasa puas hanya dengan melihat bentuknya saja. Sedangkan aku, aku sudah bahagia setelah mencium aroma wangi mangga ini. Jadi sekarang aku tidak menginginkannya lagi. Begitu!" jawab Elea dengan sabar memberi penjelasan.
__ADS_1
Apa benar ada filosofi seperti ini dalam dunia ibu hamil? Kalau memang begitu lalu apa gunanya para wanita hamil yang merengek meminta agar keinginannya segera terpenuhi? Bukankah itu lebih terkesan sedang mempermainkan para suami ya? Kasihan sekali Tuan Muda. Beliau sudah bersusah payah memilih mangga-mangga itu tapi usahanya harus berakhir begitu saja. Hmmm, untung aku adalah mutan. Kalau aku manusia, aku pasti akan mengalami nasib yang sama seperti para pria lainnya!
"Nyonya, apakah Nyonya sudah sarapan?" tanya Nun mengalihkan pembicaraan.
"Belum, Pak Nun. Makanya sekarang aku mencari Kak Jackson. Aku ingin dia yang membuatkan sarapan untukku," jawab Elea sembari menggerak-gerakkan kaki membuat pola di lantai. Dia bosan.
"Dokter Jackson ada di kamarnya, Nyonya. Dia demam!"
Elea langsung terdiam. Dia lalu menatap ke arah Nun dengan pandangan yang sedikit aneh.
"Kak Jackson demam?"
"Benar, Nyonya."
Dokter juga tetaplah seorang manusia, Nyonya. Astaga.
"Ya sudah kalau begitu Pak Nun saja yang membuatkan sarapan untukku. Tapi tolong buatkan spageti yang bumbunya banyak sekali. Jangan lupa campurkan daging dan juga wortel yang banyak ya, Pak. Wortelnya harus berbentuk bunga-bunga, tidak boleh berbentuk kotak apalagi bulat. Bisa kan, Pak Nun?" tanya Elea sambil berdecak kecil. Air liurnya seakan ingin menetes keluar membayangkan betapa enaknya makanan itu.
"Baik, Nyonya," jawab Nun pasrah.
Setelah itu Elea pamit pergi ke kamar kakaknya. Dia merasa perlu untuk menjenguk mantan penjahat itu untuk memastikan apakah benar kakaknya demam atau tidak. Sembari berjalan menuju kamar, Elea memperhatikan dengan seksama setiap sudut bangunan rumah ini. Rumah yang dulu pernah akan menjadi sangkar emas untuknya tanpa terasa kini telah menjadi rumah kedua bagi Elea. Hanya saja sekarang dia datang dalam kondisi berbeda, yaitu sebagai adiknya Jack-Gal, bukan sebagai gadis yang di incar oleh Jack-Gal. Mengingat kejadian mengerikan itu tanpa sadar membuat bulu kuduk Elea meremang. Dia tentu belum lupa sepenuhnya akan rasa trauma yang pernah di berikan oleh kakaknya dulu.
"Kalau takut jangan dilihat, Elea. Aku tahu kau tidak sepenuhnya nyaman berada di sini!"
Jackson yang berniat menemui adiknya nampak berdiri diam di balik tembok ketika melihat Elea tengah memperhatikan setiap bagian rumahnya. Jackson tahu, sangat-sangat tahu kalau adiknya ini sedikit terflasback ke kejadian kelam itu. Karenanya Jackson segera menegur Elea karena khawatir itu akan mempengaruhi moodnya.
__ADS_1
"Aih, Kak Jackson. Membuat orang kaget saja," ucap Elea seraya mengelus dada.
"Yang aku katakan benar 'kan?" tanya Jackson sambil berjalan mendekat.
Elea mengangguk. Dia lalu menatap lekat wajah sang kakak yang kini sudah berdiri di depannya.
"Bohong kalau aku bilang sudah lupa sepenuhnya dengan kejadian kelam itu, Kak. Ya, kau benar. Aku memang belum terlalu nyaman berada di rumah ini. Tapi bukan berarti aku tidak ingin tinggal. Aku sangat ingin malah. Masa lalu di ciptakan untuk menjadi sebuah kenangan dan juga pembelajaran untuk masing-masing orang, tak terkecuali kita. Jadi biarkan aku menyesuaikan dengan semua itu dulu ya. Aku janji aku tidak akan berubah pikiran kemudian membencimu, Kak. Sungguh!"
"Hmmm, membenciku juga tidak masalah, Elea. Karena memang sudah sewajarnya untuk aku terima," sahut Jackson sambil mengusap lembut puncak kepala adiknya. "Kau adikku, dan aku sangat menyayangimu. Tidak apa jika kau benci, tapi aku selamanya tidak akan pernah membenci ataupun meninggalkanmu. Kau hidupku sekarang, dan aku bertahan hidup hanya untukmu dan untuk calon anak-anakmu!"
"Lalu Kayo? Apa kau tidak takut di tinggal pergi olehnya karena dia tidak menjadi tujuan hidupmu, Kak?" goda Elea sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
Jackson terkekeh di goda seperti itu oleh Elea. Dia lalu memegang kedua bahu Elea dengan lembut kemudian menjelaskan siapa Kayo dalam hidupnya.
"Kau tahu, selain kau dan Bibi Liona, Kayo adalah salah satu wanita yang telah berhasil membuatku menatap dunia dengan cara yang berbeda. Dia wanita yang sangat hebat, dan sudah sepantasnya untuk aku sandingkan dia di sisiku. Kayo berbeda denganmu, Elea. Dia ada setelah aku dan dirimu melewati badai besar sebelum ini. Aku memang mencintainya, tapi rasa sayangku padamu melebihi segalanya. Dan Kayo pun sangat paham akan hal ini!"
"Kak, jika suatu hari nanti Kayo merasa cemburu akan kasih sayangmu padaku bagaimana? Apa kau akan menceraikannya?" tanya Elea merasa tak enak hati.
"Tidak akan pernah hal itu terjadi dalam rumah tanggaku dengan Kayo, Elea. Ibu Abigail memilihkan Kayo sebagai jodohku tentunya sudah mempertimbangkan semua masalah dengan matang-matang. Dan aku sangat yakin kalau Kayo bukanlah tipe wanita yang seperti itu. Dia memiliki pemikiran yang sangat luas, yang artinya akan sangat memahami hubungan di antara kita. Aku kakakmu, dan Kayo akan menjadi kakakmu juga. Kita adalah keluarga," jawab Jackson dengan bijak.
"Ya, kita adalah keluarga."
Andai saja Gabrielle ada di sana, dia pasti akan langsung kerasukan jin dari lima benua ketika melihat Elea yang tanpa ragu memberi pelukan pada Jackson. Kalian tentu paham sendiri bukan betapa cemburunya seorang Gabrielle pada Elea? 😅
*****
__ADS_1