
📢 JANGAN LUPA BOM KOMENTAR YA BESTIE
- My Destiny (Clara & Eland)
- Pesona Si Gadis Desa
- Ma Queen Rose ( TAYANG JAM 12 SIANG)
- Marriage Contract With My Secretary ( TAYANG JAM 12 SIANG)
BOM KOMENTAR SEBANYAK-BANYAKNYA BIAR EMAK RAJIN UP. OKE BESTIE 💜
🎗🎗🎗🎗🎗🎗🎗
Levi diam mematung sambil memandang bocah cilik yang tengah berdiri dengan di apit oleh dua bocah laki-laki yang raut wajah keduanya terlihat sangat datar. Sungguh, sore ini adalah sore yang cukup sial untuk seorang Levita Foster. Bagaimana tidak! Tadinya Levi bermaksud mengundang tukang salon langganannya agar datang ke rumah. Dia sudah lama tidak melakukan perawatan meni-pedi setelah musibah kegugurannya beberapa bulan lalu. Patah hati, anggaplah begitu. Dan ketika dia sudah mulai mendapatkan semangat untuk mempercantik diri, tiba-tiba saja Levi di datengi oleh tiga kembar bocah ini. Sial sekali bukan?
"Apa Ibu terlalu senang bertemu denganku sampai-sampai Ibu tidak bisa bicara?" tanya Flow malu-malu. Dia memang memanggil ibunya Oliver dengan sebutan ibu agar mereka bisa sehati. Maklumlah, Oliver adalah calon suaminya. Jadi hukumnya sah-sah saja bukan kalau Flow memanggil ibu?
Astaga, kumat lagi bocah ini.
"Ekhmmm, Flow. Kau mau apa datang ke sini? Oliver sedang tidak ada di rumah. Dia bersama Cio dan Reiden pergi ke kelas bela diri," tanya Levi yang memang tak bisa jahat pada gadis pemberi syok terapi ini. Mau bagaimana lagi, Flow adalah tambang uang terbesar yang Levi miliki. Jadi akan sangat bodoh sekali jika dia sampai menyia-nyiakannya meski sebagai imbalan Levi harus kuat iman agar tidak terseret bujuk rayu iblis yang memintanya untuk menenggelamkan bocah tersebut.
"Benarkah?"
__ADS_1
Begitu tahu kalau kekasih hatinya tidak ada di rumah, Flow langsung berbalik menatap kedua kakaknya. Dia memberi kode agar kedua kakaknya itu segera mencari tahu apakah benar Oliver sedang tidak ada di rumah atau tidak. Karena bukan sekali dua kali Ibu Levita membohonginya, jadi Flow sudah sedikit hafal pada tabiat buruknya itu.
"E-eh, siapa yang akan kau telfon, Bern?" tanya Levi panik melihat Bern merogoh ponsel dari saku celananya.
"Oliver," jawab Bern singkat.
Sedangkan Karl, dia hanya tersenyum saja melihat gelagat Bibi Levi yang jelas-jelas sedang membohongi adiknya. Karl boleh saja merasa kesal dan dongkol melihat kelakuan Flow yang hobi membuat onar, tapi bukan berarti Karl akan diam saja jika ada orang yang berani membuat adik kecilnya itu menangis. Begitu juga dengan sang kakak. Mereka berdua akan langsung berubah menjadi reog setiap kali mendapat aduan dari Flow kalau di sekolah ada siswa yang rutin membully-nya. Pernah suatu kali Karl dan Bern membolos saat adiknya mengirim foto keningnya yang memar karena dilempar batu oleh salah seorang gengster di sekolahnya. Tak terima, diam-diam Karl dan Bern meminta penjaga untuk menculik gengster cilik tersebut kemudian menyekap dan sedikit memberikan syok mental kepadanya. Dan hasilnya, kalian bisa bayangkan sendiri bukan? Flow kembali mendapat benjolan-benjolan lain di kepalanya karena ternyata bukan dia yang di bully, melainkan dialah yang membully teman-temannya. Namun tetap saja Karl dan Bern tak terima jika adik mereka terluka. Karena sanksi yang akan mereka dapat sangatlah mengerikan jika gadis mini ini sampai lecet sedikit. Kalian ingin tahu sanksi apa saja itu? Sanksi dari Nenek Liona, Kakek Greg, Paman Jackson, Ayah Greg, Bibi Levita, Kakek dan Nenek Young, dan masih banyak yang lainnya. Dan sanksi tersebut tidak hanya berlaku untuk Karl dan Bern saja. Akan tetapi Oliver, Reiden, Cio, dan juga Andreas. Sepupu mereka juga akan mendapatkannya jika si pembuat onar ini sampai kenapa-napa.
"Halo, Bern. Ada apa?"
"Istrimu mencarimu," jawab Bern tanpa ragu menyebut adiknya seperti itu pada Oliver.
Pipi Flow merona. Dia lalu tersenyum malu-malu sambil memainkan jari-jari tangannya. Levi yang melihat gelagat gatal ulat bulu di hadapannya ini tak tahan untuk tidak bergidik geli. Tapi tetap saja, ada rasa bangga di hati Levi menyaksikan putranya yang di cintai dengan begitu besar oleh seorang gadis.
"Aku sedang istirahat di kamar. Minta Flow untuk datang kemari saja, aku masih mengantuk!"
Klik. Panggilan terputus. Bern membungkukkan sedikit tubuhnya agar bisa sejajar dengan Flow. Dia lalu memberitahu kalau Oliver sedang tidur di kamarnya.
"Oliver memintamu naik ke atas. Dia sedang tidur saat aku menelponnya,"
"Benarkah?" sahut Flow dengan mata berbinar. Dia lalu menyeringai ke arah Ibu Levita yang tengah berdehem sambil melihat ke arah lain. "Ibu Levita pembohong. Ibuku bilang orang yang gemar berkata bohong saat meninggal nanti tubuhnya akan terjepit bumi. Hati-hati, Ibu Levita. Ibu mau tinggal di mana nanti kalau bumi saja tidak mau menerima mayat Ibu, hem?"
Bern diam tak bereaksi apapun ketika Flow mengejek Bibi Levita secara terang-terangan. Sedangkan Karl, dia memilih pergi melarikan diri karena takut di pukul sapu oleh Bibi Levita jika ketahuan menertawakannya.
"A-apa kau bilang, Flow? Mati tak di terima bumi?" syok Levita. Benar-benar, ini tidak salah lagi. Flowrence adalah duplikatnya Elea. Sungguh sial sekali nasibnya karena akan memiliki menantu dan besan dengan lidah beracun seperti mereka ini. Astaga.
__ADS_1
"Iya. Ibu Elea yang memberitahuku, makanya aku mengingatkan Ibu Levita agar jangan suka berkata bohong. Aku sangat baik sekali bukan?" jawab Flow dengan jujurnya.
Whaattttt? Baik? Hahahhaaa, meski aku bereinkarnasi sampai sepuluh kalipun aku tidak akan pernah menganggap hal ini sebagai suatu kebaikan. Sabar-sabar. Untung Flow kaya raya, kalau tidak, aku pasti akan langsung menggantungnya di tiang jemuran. Dasar gadis nakal. Huhhh.
"Kak Bern, sebaiknya kau pulang saja. Aku sudah tidak membutuhkan bantuanmu lagi sekarang!" usir Flow tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Kau membawa ponselmu 'kan?" tanya Bern memastikan.
"Tentu saja aku membawanya, Kak. Ini," jawab Flow sembari menunjukkan ponsel yang terselip di pinggangnya. Kenapa di pinggang? Karena itu adalah Flowrence. Hukumnya sah-sah saja kalau dia yang melakukan.
"Ya sudah kalau begitu masuklah!"
"Oke,"
Sambil berlari kecil Flow akhirnya masuk ke dalam rumah Oliver. Sementara Bern, dia masih berdiri di depan pintu menunggui adiknya sampai benar-benar tak terdengara suara senandungnya yang seperti kapal rombeng. Bern akan selalu memastikan kalau adiknya tidak akan di telan hidup-hidup oleh singa pemarah yang tengah berdiri di hadapannya.
Teruslah bahagia, Flow. Karena dengan kau yang bahagia, maka rencanaku tidak akan ada yang mengganggu. Maaf, aku sebenarnya menyayangimu. Tapi di genggaman tanganmu kau menyimpan satu kunci menuju kekayaan yang sangat aku impikan. Jadi terpaksa aku harus tetap memastikanmu hidup dengan sangat bahagia sebelum waktunya tiba untuk kau menyerahkan segalanya padaku. Kau tenang saja, aku tidak akan setega itu untuk menyakitimu karena bagaimana pun kita adalah saudara sedarah. Aku menyayangimu, adikku sayang.
"Hei, Bern. Kenapa ekpresimu mengerikan sekali? Kau tidak sedang memikirkan rencana untuk merampok rumah Bibi 'kan?" tanya Levi penuh selidik.
"Memangnya seberapa banyak harta yang Bibi miliki? Jika jumlah kekayaannya sudah melebihi kekayaan keluargaku, mungkin aku baru akan terpikir untuk merampok di sini," jawab Bern dengan gamblangnya. Dia lalu meringis saat telinganya menjadi korban kebar-baran ibunya Oliver.
"Yakkk, belajar dari siapa kau berani bicara seperti itu pada Bibi, hah? Ingin Bibi adukan pada Ayah dan Ibumu ya?" kesal Levi yang lagi-lagi di kejutkan oleh jawaban Bern. Luar biasa. Bagaimana bisa Gabrielle dan Elea memiliki tiga anak yang mulutnya sama-sama mematikan? Wahh, bisa gila dia lama-lama.
"Ck, jangan sedikit-sedikit mengadu lah, Bi. Aku tadi hanya sedang melawak saja. Just kidding. Oke?"
__ADS_1
Bern langsung melarikan diri begitu Bibi Levita melepaskan jeweran di telinganya. Bern heran sekali mengapa Tuhan mau menciptakan manusia sebar-bar Bibi Levita. Karena wanita itu selalu saja melakukan serangan fisik setiap kali Bern dan Karl membuat ulah. Sangat berbeda dengan Flow yang paling hanya akan di tatap sinis dan cetus saja. Sangat menyebalkan sekali bukan circle pertemanan ibunya? Haih.
*****