
📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE BIAR NANTI SORE EMAK CRAZY-UP 💜
***
Andreas, Oliver, Cio, Reiden, Karl dan juga Bern berjalan masuk ke dalam rumah sakit sambil sesekali saling melempar candaan. Terkecuali Bern. Beruang kutub itu hanya diam mendengarkan dan juga memperhatikan apa yang dilakukan oleh para sepupu dan juga adiknya. Sesekali ekor matanya tampak melirik ke arah Oliver, remaja yang telah di jodohkan dengan adik bungsunya sejak masih berbentuk embrio.
Apa mungkin Ibu sengaja memilih Oliver karena ada sesuatu yang tersembunyi padanya? Tapi apa?
"Hei, siapa yang akan kita kunjungi lebih dulu. Russel atau Flowrence?" tanya Reiden. Dia berhenti melangkah lalu bergantian menatap para sepupunya.
"Russel saja. Keadaannya jauh lebih baik jika di bandingkan dengan adikku," jawab Karl asal.
Semua orang langsung mendelikkan mata ke arah Karl yang dengan begitu santai menjawab seperti itu. Bahkan Bern saja sampai menaikkan satu alisnya ke atas saking kagetnya dia mendengar jawaban Karl.
"Lalu jika seandainya Russel dan Flowrence sama-sama meninggal dalam tragedi kemarin, apa kau akan lebih memilih untuk ikut memakamkan Russel ketimbang membantu di pemakaman adikmu sendiri?" tanya Oliver jengkel. Sulit di percaya.
"Oliver, jaga ucapanmu. Jangan bicara yang tidak-tidak tentang adikku. Flowrence tidak boleh mati!" sentak Bern tak terima.
Oliver menoleh. Agak kaget dia melihat reaksi Bern. "Aku kan bilang jika seandainya Flowrence mati. Kenapa reaksimu sampai seperti itu, Bern?"
"Aku tidak suka mendengarnya. Entah itu hanya berandai-andai atau bukan, jangan pernah bicara seperti itu lagi. Paham kau?" sahut Bern sembari melayangkan tatapan tajam ke arah Oliver. Emosinya langsung tersulut. Bern akan rugi besar jika adiknya meninggal sebelum dia mengambil alih semua harta yang dimilikinya. Dia tidak rela.
Melihat suasana yang mulai memanas membuat Andreas langsung turun tangan. Dia menepuk pelan punggungnya Bern sebelum berpindah ke samping Oliver. Andreas tentu tahu kalau Oliver tidak bermaksud bicara kasar seperti itu tentang Flowrence. Sepupunya ini hanya sedikit salah saja dalam mengungkapkan kejengkelannya terhadap apa yang di ucapkan oleh Karl. Namun hal ini salah diartikan oleh Bern. Beruang kutub itu tiba-tiba menunjukan reaksi keras terhadap apa yang Oliver lontarkan barusan.
"Yas, kau tahu sendirilah betapa aku sangat menyayangi Flowrence. Aku hanya kesal saja melihat sikapnya Karl yang terkesan tidak peduli padanya. Karl adalah kakak kandungnya Flowrence, jadi dia tidak seharusnya bicara seperti itu!" ucap Oliver menjelaskan maksud di balik perkataannya.
"Aku tahu, tapi ada baiknya lain kali kau pikirkan dulu apakah ucapanmu itu akan menyakiti perasaan orang lain atau tidak. Kau mungkin kesal pada Karl, lalu membalasnya dengan kata-kata yang sedikit kasar. Wajarlah jika Bern merasa tak terima kemudian menegurmu. Jadi kau tidak boleh marah padanya," sahut Andreas. Setelah itu dia menatap lekat ke arah Karl yang tengah menggigit ujung kukunya. "Dan kau, Karl. Percaya tidak kalau ucapanmu tadi bisa mengantarkanmu masuk ke lubang kubur lebih cepat. Untung saja hanya kita yang mendengar. Jika Bibi Levita dan juga Nenek Liona ada di sini, apa kau yakin masih bisa bernafas dengan normal? Jadi tolong berhati-hatilah dalam berucap karena tidak semua orang bisa menerima ucapanmu dengan hati terbuka. Paham?"
"Kenapa nama Bibi disebut, Yas?"
Glukkkkk
__ADS_1
"Hei, kenapa kalian diam saja? Iyas, kenapa nama Bibi dibawa-bawa? Kalian sedang merencanakan apa?" cecar Levita sambil menatap heran ke arah enam remaja yang tengah berdiri di hadapannya.
Kecuali Bern, semua orang terlihat menelan ludah begitu wanita yang menganggap dirinya sebagai pelakor terhormat tiba-tiba muncul dan bertanya pada mereka. Terutama Karl. Dia merasa kalau nyawanya seperti berada di ujung tanduk saat membayangkan kemungkinan kalau ibunya Oliver mendengar apa yang dia ucapkan tentang Flowrence. Bisa mati jadi kodok dia.
"Kami tidak sedang merencanakan apa-apa, Bibi Levita," jawab Andreas seraya tersenyum kecil. "Kami hanya sedang memutuskan kamar mana yang akan kami datangi lebih dulu. Russel atau Flowrence. Begitu."
"Benarkah?"
Levita memicingkan mata. Dia merasa kalau para remaja ini sedang menutupi sesuatu darinya. Setelah itu pandangan Levita terkunci kepada Bern yang terlihat begitu tenang di saat para sepupunya yang lain menunjukkan gelagat mencurigakan.
"Kau vampir setengah matang, apa yang sedang mereka bicarakan tadi?" tanya Levita penuh selidik.
"Bibi, pergilah ke salon untuk memotong rambut agar telinga Bibi tidak tuli," jawab Bern sarkas.
"YAAKKKKKK!!!!"
Bern menghela nafas. Panjang urusannya jika ibunya Oliver sudah mengeluarkan tanduk. Tak mau keributan ini terus berlanjut, Bern segera memikirkan cara agar dia bisa segera pergi dari sana. Dia lalu menatap rantang makanan yang tengah dijinjing oleh ibunya Oliver.
"Apa Bibi ingin memberi makan Ayah dan Ibuku?"
"Kalau begitu tunggu apalagi. Cepat antarkan makanan itu supaya Ayah dan Ibuku bisa segera mencicipi masakan Bibi yang sangat enak itu!" ucap Bern.
"Tahu darimana kau kalau masakan Bibi enak?" Levita bertanya dengan sayap hidung bergerak kembang kempis. Dia merasa sangat tersanjung setelah dipuji oleh vampir setengah matang ini.
"Kalau Bibi tidak cantik dan tidak pandai memasak, Ayah dan Ibu tidak mungkin bukan membiarkan Bibi menjadi pelakor selama bertahun-tahun?"
Mulut Levita langsung terkunci rapat begitu mendengar perkataan Bern. Ternyata memang benar yang di katakan oleh pepatah kalau buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dan Bern adalah titisan dari sarkasnya Gabrielle dan mulut beracunnya Elea. Dia tidak bohong.
"Bu, lebih baik Ibu segera antarkan makanan itu untuk Paman Gabrielle dan Bibi Elea saja. Nanti makanannya menjadi dingin kalau Ibu terlalu lama mengobrol dengan Bern!" ucap Oliver berusaha membujuk sang ibu agar segera pergi. Bisa gawat jika kedua orang itu sampai adu mulut.
"Ini Ibu juga sudah mau pergi!" sahut Levita setengah sewot. "Eh, Oliver. Ayo ikut Ibu. Calon istrimu pasti akan langsung sembuh begitu tahu kau datang menjenguknya!"
__ADS_1
"Ck, Bu. Aku datang ke rumah sakit ini tidak sendiri. Jadi nanti aku baru akan menjenguk Flowrence bersama dengan mereka. Ibu pergi sendiri saja ya? Dan katakan pada Flowrence aku pasti akan datang menjenguknya. Oke?" sahut Oliver menolak ajakan sang ibu.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Ibu pergi dulu ya? Dan kalian, jangan sampai Bibi mendengar kalian membuat keributan ya. Jika itu sampai terjadi, Bibi akan memanggang kalian satu persatu. Paham?"
"Paham?"
Karl, Cio, Reiden, Andreas, Oliver dan juga Bern menatap kepergian ibunya Oliver sambil menarik nafas panjang. Akhirnya wanita mengerikan itu pergi juga. Huhh.
"Oliv, kau merasa tertekan tidak mempunyai Ibu segalak Bibi Levita?" tanya Cio penasaran.
"Terkadang aku merasa tertekan sih. Tapi mau bagaimana lagi, wanita galak itu adalah cinta pertamaku. Jadi mau segalak apapun dia, aku akan tetap mencintai dan juga menyayanginya," jawab Oliver sambil tersenyum lebar. Dia tentu bangga mempunyai Ibu sehebat Levita Foster.
"Aku juga begitu. Walaupun keselamatanku selalu terancam, aku sangatlah mencintai Ibuku. Seandainya bisa, aku pasti sudah menjadikan Ibuku sebagai kekasih. Sayang, hambatannya terlalu besar karena aku terhalang restu Tuhan dan kemurkaan Ayahku!" ucap Cio penuh sesal.
Buggghhhh
"Yakkkkkk! Kau kenapa memukulku, brengsek!" umpat Cio sambil memelototkan mata ke arah Reiden. Ulu hatinya perih sekali.
"Aku hanya ingin mengembalikan otakmu yang tersesat di dalam perut!" sahut Reiden dengan entengnya. "Cio, kau itu sebenarnya waras atau tidak sih. Bibi Patricia adalah Ibu kandungmu, bagaimana bisa kau berpikir ingin menjadikan beliau sebagai kekasihmu. Kau sakit jiwa atau bagaimana hah!"
"Ck, itu kan hanya seandainya, Rei!"
"Biarpun seandainya tetap saja kau pernah memikirkannya. Dasar anak setan!"
"Mana ada anak setan setampan diriku!"
"Hih, najis!"
Karl yang teringat dengan pesan Bibi Patricia segera berjalan ke arah Cio lalu meninju perutnya. Dia lalu tersenyum seperti orang tak berdosa saat Cio memelototkan mata sambil membungkuk menahan sakit di perutnya.
"Bibi Patricia tadi berpesan agar aku membunuhmu, Cio. Beliau bilang kau sudah sangat kurang ajar karena berani menggoda teman arisannya. Jadi maaf ya kalau aku meninju perutmu. Aku hanya menjalankan amanah dari Ibumu saja!" ucap Karl dengan sangat santai.
__ADS_1
Bibir Bern, Oliver, Reiden dan juga Andreas langsung berkedut setelah mereka mendengar perkataan Karl. Sungguh, bukan hal yang baru lagi kalau Cio ketahuan menggoda wanita yang jauh lebih tua darinya. Termasuk juga dengan teman-teman dari ibunya sendiri. Cio benar-benar pecinta wanita tua. Hahahaha.
***