
Sementara itu Gabrielle yang baru saja sampai di rumah langsung berlari menuju lift tanpa menghiraukan sapaan dari para penjaga dan pelayan. Hanya satu di pikirannya, Elea. Dia dengan tidak sabaran terus memaki lift yang tidak kunjung sampai di lantai tempat kamarnya berada.
"Sialan. Apa kau tidak bisa bergerak lebih cepat daripada ini, hah!" teriak Gabrielle penuh emosi.
"Sabar, Tuan. Sebentar lagi kita juga akan segera sampai," ucap Ares berusaha menenangkan hati majikannya yang sedang kalut.
"Sabar apanya. Aku tidak mau tahu, besok lift ini harus sudah kau ganti dengan yang terbaru. Barang ini sudah tidak bisa di andalkan!"
"Baik, Tuan. Akan segera dilaksanakan!"
Ares dengan tenang menyanggupi keinginan majikannya. Jangan kalian pikir dia akan benar-benar mengganti lift ini ya, itu tidak akan mungkin Ares lakukan. Karena apa? Karena lift ini adalah keluaran terbaru yang mana masih belum terlalu lama terpasang di rumah ini. Jadi Ares sengaja hanya mengiyakan saja demi untuk membuat majikannya tidak marah. Dia pengertian sekali bukan?
Ting
Pintu lift terbuka. Dengan langkah lebar Gabrielle segera keluar dari sana kemudian segera berjalan menuju kamarnya. Namun saat Gabrielle hendak memutar knop pintu, dia mendengar suara teriakan dari dalam kamar dan juga suara isak tangis dari dalam sana. Gabrielle diam terpaku.
"Tuan, masuklah. Nyonya sedang sangat membutuhkan anda sekarang!" ucap Ares pelan.
"Apakah benar-benar tidak ada obat yang bisa menyembuhkan sakitnya Elea, Res? Aku tidak tahan setiap kali melihatnya harus melukai diri sendiri saat batinnya merasa tertekan. Aku sakit melihatnya seperti itu," tanya Gabrielle dengan mata memerah.
"Orang-orangnya Nyonya Liona dan dokter Jackson sudah berusaha semaksimal mungkin untuk meracik obatnya, Tuan. Akan tetapi itu semua tidak ada gunanya karena luka yang di alami Nyonya Elea dulu terlalu membekas di ingatannya. Juga dengan kelebihan beliau. Saya rasa dengan membuat Nyonya Elea kembali tenang adalah jalan satu-satunya yang bisa kita lakukan, Tuan!" jawab Ares prihatin.
"Cihh, aku benar-benar mengutuk wanita sialan itu, Res. Gara-gara dia Elea-ku jadi seperti ini. Dasar brengsek!"
Tanpa membuang waktu lagi, Gabrielle segera membuka pintu kamar untuk menenangkan Elea. Dan begitu dia masuk, Gabrielle langsung di kejutkan oleh keadaan kamar yang sudah seperti kapal pecah. Juga dengan Reinhard yang sedang mengobati tangan Levita yang berdarah-darah.
"Kak Iel, kenapa kau mengurungku di sini! Apa maksudmu!" teriak Elea dengan mata berkilat marah.
Gabrielle terperanjat kaget mendengar teriakan Elea. Setelah itu dia menghela nafas, merasa sangat sakit mendapati tangan Elea yang terluka sambil memegang pecahan kaca.
"Nun?"
"Ya, Tuan!" sahut Nun. Dia lalu berjalan mendekat.
"Bukankah aku sudah memerintahkanmu untuk membuang semua benda yang bisa menyakiti Elea?" tanya Gabrielle jengkel. "Kau sebenarnya mendengarkan aku tidak, hah! Lihat sekarang. Tangan istriku terluka. Lihat!"
"Maafkan saya, Tuan. Saya lupa menyingkirkan bingkai foto pernikahan anda dengan Nyonya Elea," jawab Nun jujur.
"Sialan!"
__ADS_1
Elea yang melihat Gabrielle berbicara dengan Nun dengan cepat segera berlari ke arahnya. Elea kalut, dia sangat ingin bertemu putrinya.
"Kak Iel, tolong bawa aku menemui Flowrence ya. Aku ... aku ingin melihat sendiri bagaimana keadaannya sekarang. Tolong antarkan aku ya. Aku mohon," ucap Elea memohon sambil menggosok-gosokkan kedua tangan di depan dada. Dia sama sekali tidak merasakan rasa sakit ketika kulit telapak tangannya terus tergores pinggiran kaca yang sedang di pegangnya.
Tes tes tes
"Gab, cepat singkirkan pecahan kaca dari tangan Elea. Luka di tangannya bisa semakin parah nanti!" ucap Levita panik melihat tetesan darah yang berasal dari tangan Elea.
"Tidak. Jangan mengambilnya dariku!" teriak Elea emosi. Dia lalu menatap tajam ke arah Levita, merasa marah karena wanita ini sejak tadi terus menghalanginya untuk keluar dari dalam kamar.
"Sayang," ....
"Tidak, Kak Iel. Tolong jangan!"
Gabrielle menengadahkan wajahnya ke atas. Hancurlah hidupnya melihat Elea seperti ini. Gabrielle gelisah, bingung apakah harus membiarkan Elea melihat putri mereka atau tidak. Dia takut Elea akan semakin menggila jika melihat keadaan Flowrence yang begitu mengerikan. Akan tetapi jika tidak di biarkan bertemu, Gabrielle tak tahan melihatnya terus memohon seperti ini.
Brruuukkkk
"Sayang, apa yang kau lakukan?" pekik Gabrielle terkejut saat Elea tiba-tiba duduk bersimpuh di lantai sambil menatapnya dengan pandangan kosong.
"Kak Iel, Flowrence adalah putriku. Tolong biarkan aku melihat keadaannya ya? Aku bisa gila kalau tidak segera melihatnya, Kak. Tadi Kak Levi bilang putri kita selamat, jadi aku mohon tolong antarkan aku untuk menemuinya sekarang juga. Aku mohon, Kak Iel. Aku ingin bertemu Flowrence. Aku mohon!" ucap Elea memelas.
Kesempatan ini di gunakan oleh Reinhard untuk menyuntikkan obat tidur pada Elea. Sambil mengendap-endap, Reinhard memberi kode pada Gabrielle untuk terus mengajak Elea bicara. Sedangkan Levita, dia hanya bisa menutup mulutnya sambil menahan tangis ketika melihat banyak darah berceceran di lantai. Elea-nya terluka, dia tidak suka itu.
"Itu benar sekali, Nyonya. Kita pasti tidak akan di biarkan masuk jika anda masih dalam kondisi seperti ini," jawab Ares terenyuh melihat keadaan Nyonya-nya yang begitu menyedihkan. Memohon demi agar bisa bertemu dengan putrinya sendiri. Jujur, ini adalah pemandangan yang sangat menyakitkan di mata Ares. Sungguh.
"Tapi aku sudah sangat tenang Res, Kak Iel. Lihat, aku tidak menangis, aku baik-baik saja," sahut Elea dengan cepat. Bola matanya terus bergerak gelisah, menandakan kalau kejiwaannya sedang tidak baik-baik saja.
"Baiklah, aku percaya padamu," ucap Gabrielle kemudian perlahan-lahan ikut bersimpuh di lantai. Sambil menelan ludah, Gabrielle berusaha mengambil pecahan kaca dari tangan Elea. Tengkuknya sampai meremang ketika dia melihat ada banyak sekali luka menganga di telapak tangan istrinya.
Ya Tuhan Elea, inilah yang paling aku takutkan. Setiap kali kau merasa tertekan, kau pasti akan selalu menyakiti dirimu seperti ini. Tidakkah kau tahu kalau aku merasa sangat tidak berguna karena tidak bisa melindungimu? Tolong jangan lakukan ini lagi, sayang. Aku mohon.
"Akhhhh!" teriak Elea. Dia kemudian menoleh ke belakang. "Kak Reinhard, apa yang kau lakukan padaku!!"
"Elea tenang, jangan marah. Oke?" sahut Reinhard sambil terus menyuntikkan obat tidur ke tubuh Elea. "Kau ingin bertemu Flowrence bukan?"
Tatapan Elea menyendu. Dia kemudian mengangguk.
"Kalau begitu kau istirahat dulu ya. Nanti setelah bangun kami semua akan langsung membawamu pergi ke rumah sakit. Oke?"
__ADS_1
"Apakah benar?"
"Tentu saja. Flowrence adalah putriku juga, jadi nanti kita akan pergi bersama-sama untuk menjenguknya. Sekarang kau tidur dulu ya? Tenang saja. Aku, Levita, Gabrielle dan juga Ares tidak akan meninggalkanmu sendirian!"
Setelah itu Reinhard meminta Gabrielle untuk memindahkan Elea ke atas kasur. Dia lalu meminta Nun untuk mengambilkan handuk dan air hangat untuk membersihkan luka di telapak tangan Elea.
"Hati-hati, Gab. Tadi Elea sempat terjatuh dan kepalanya terbentur lantai!" ucap Levita dengan penuh perhatian membantu menata bantal untuk Elea.
"Kepalanya terbentur lantai?"
Gabrielle syok. Dia lalu menatap Elea yang hanya terdiam di dalam gendongannya.
"Dia mengamuk saat aku ingin merebut kaca itu darinya. Itulah kenapa tanganku bisa sampai terluka. Kami berebut kaca itu tadi,"
"Tolong maafkan Elea. Dia tidak sadar telah melukaimu," ucap Gabrielle berbesar hati mewakilkan Elea meminta maaf pada Levita.
"Jangan meminta maaf padaku, Gab. Elea sudah seperti adikku, aku tahu dia tidak akan mungkin tega menyakitiku," sahut Levita maklum.
"Flowrence," ....
Pandangan Gabrielle, Levita dan juga Reinhard langsung tertuju ke arah Elea yang baru saja menggumam. Mereka menatap seksama ke arah matanya yang perlahan-lahan mulai terpejam. Sepertinya pengaruh obat tidur itu mulai bekerja.
"Gabrielle, bagaimana kondisi Flowrence?" tanya Reinhard.
"Sangat buruk, Rein. Hampir sekujur kulit di bagian tubuh depannya terkelupas karena terseret di atas aspal. Dia, Russel dan juga temannya sama-sama tidak sadar saat akan di bawa ke rumah sakit. Luka ketiganya sama parahnya, dan Russel juga sempat di patuk ular tadi. Semuanya kacau, Rein!" jawab Gabrielle lirih.
"Ya Tuhannnnn,"
"Gabrielle, tapi Oliver baik-baik saja, kan? Dia tidak ikut jatuh ke dalam jurang 'kan?" cecar Levi sambil menyeka air mata di wajahnya. Tak bisa dia bayangkan seperti apa kondisi calon menantunya sekarang.
"Justru Oliver lah yang telah membawa Flowrence keluar dari dalam jurang. Dia benar-benar calon suami yang baik untuk putriku," sahut Gabrielle sedikit berkelakar di tengah-tengah kesedihannya.
"Tentu saja Oliver sangat baik. Siapa dulu ibunya. Levita Foster," ucap Levita kemudian menangis sesenggukan.
Reinhard tersenyum. Dia kemudian memeluk Levita, menciumi puncak kepalanya dengan penuh sayang.
"Gab, bagaimana dengan para penjahatnya? Mereka tidak dilepas begitu saja 'kan?" tanya Reinhard yang baru teringat akan nasib dari sekelompok orang yang telah berani memancing keributan.
"Nasib? Kau pikir mereka bisa apa jika Ibuku sudah turun tangan langsung? Bahkan Lan ikut andil dalam masalah ini," jawab Gabrielle sembari menyeringai lebar.
__ADS_1
Whaaatttt? Lan juga di bawa oleh Bibi Liona? Woaahhhh, kalian benar-benar tamat sekarang. Induk semang dari segala kengerian di keluarga Ma sudah turun tangan, kalian semua pasti akan segera merasakan apa yang di sebut neraka dunia. Dasar bodoh. Kalian sudah mencari masalah dengan orang yang salah. Haihhhh.
*******