
Liona dan Greg saling berpandangan bingung ketika mendapati putra mereka yang sedang duduk di tengah-tengah rerumputan dengan di temani oleh Lan dan juga Cuwee. Mereka yang baru saja kembali dari pantai merasa sangat heran dengan pemandangan tersebut.
"Hon, apa mungkin Elea kembali mual saat mencium aroma tubuh Gabrielle?" tanya Greg lirih. Kasihan juga dia melihat keadaan putranya yang terlihat seperti seorang gelandangan.
"Sepertinya memang begitu, Greg. Kalau tidak mustahil Gabrielle mau berjauhan dengan istri kesayangannya itu. Hmmm, malang sekali nasibnya. Sekalinya Elea hamil dia langsung di asingkan seperti ini oleh calon anak-anaknya. Aku jadi khawatir kalau dia akan mengalami sesuatu hal yang jauh lebih buruk daripada ini, Greg," jawab Liona seraya men*esah pelan.
"Itu sudah resiko yang harus Gabrielle tanggung karena sudah menghamili Elea, Hon. Dulu kau juga begitu saat sedang mengandung Gabrielle dan Grizelle."
"Tapi kan tidak separah seperti yang sedang di rasakan oleh Gabrielle sekarang. Iya kan?"
Greg mengangguk. Setelah itu dia mengajak istrinya untuk datang menghampiri Gabrielle. Meski hati dan tubuh mereka sudah cukup lelah, tapi mereka tetap tak tega membiarkan Gabrielle sendirian melewati ujian hidupnya. Greg dan Liona tidak sekejam itu.
Puk
"Santai saja. Nanti setelah masa ngidamnya lewat Elea pasti akan membaik dengan sendirinya."
Gabrielle menghela nafas panjang kemudian mendongak. Dia menatap wajah kedua orangtuanya dengan tatapan yang begitu menderita. "Elea melarangku masuk ke dalam kamar karena aku bau. Dia juga mengatakan pada pelayan kalau wajahku terlihat sangat jelek seperti monster. Elea takut hal ini akan menurun pada anak-anak kami nanti."
Nun yang saat itu masih dengan setia menemani Tuan Muda-nya meratapi nasib hanya diam saja ketika nyonya dan tuan pemilik rumah saling menahan tawa di bibir masing-masing. Dia tahu kalau perkataan Tuan Muda-nya barusan memang terkesan lucu dan konyol. Akan tetapi Nun merasa sangat kasihan, dia tidak tega melihat majikannya sesedih ini gara-gara tidak di izinkan masuk oleh sang nyonya yang tengah hamil muda.
"Yang sabar saja. Bukankah selama ini kau sangat menantikan kehamilan Elea? Dan sekarang Tuhan sudah mengabulkannya. Kau harus bisa melewati semua ini dengan hati yang tegar meski Elea menganggapmu seperti monster sekalipun. Jangan sedih ya?" hibur Liona sembari mendudukan diri di samping Gabrielle. Dia lalu mengelus kepala Cuwee yang tiba-tiba saja sudah berkawan dekat dengan majikan yang selama ini begitu kejam padanya.
"Aku tidak sedih, Bu. Aku hanya menderita saja karena Elea tidak mau berdekatan denganku. Rasanya aku seperti akan mati, Bu. Aku tidak kuat jika terus seperti ini," sahut Gabrielle pasrah.
__ADS_1
"Ibu tahu, Gab. Tapi mau bagaimana lagi. Bukan Elea yang tidak mau berdekatan denganmu, melainkan anak-anak kalian. Kalau kau berani coba saja protes pada mereka. Kita lihat apakah mereka akan memaklumi atau malah semakin gila memisahkanmu dari Elea."
Mendengar kata-kata ibunya membuat Gabrielle kian melemah. Kini dia sadar kalau calon ketiga anak-anaknya itu akan menjadi musuh terbesar dalam memperebutkan perhatian Elea kelak. Memikirkan hal itu membuat Gabrielle terpikirkan akan sikapnya terhadap Cuwee. Binatang satu ini sudah cukup sering dia nistakan, membuatnya jadi merasa sangat berdosa.
"Apa jangan-jangan yang dilakukan Elea sekarang adalah karma karena aku yang selalu melarang semua laki-laki agar jangan menatap dan mendekatinya? Tuhan marah akan sikap serakahku, jadi mengutus baby BKF untuk membalas dosa-dosa itu. Menurut Ayah dan Ibu ini masuk akal tidak?" tanya Gabrielle berusaha untuk intropeksi diri. Dia bicara sambil mengelus ekornya Cuwee, dan tentu saja dengan kondisi tangan yang terbungkus rapat.
"Cukup masuk akal," jawab Greg. " Tapi ngomong-ngomong, Gab. Baby BKF itu baby yang bagaimana?"
"Baby BKF itu adalah singkatan nama depan untuk calon anak-anak kami, Ayah. Si sulung akan kami beri nama Bern Wufien Ma, lalu si tengah Karl Wufien Ma. Kemudian si bungsu kami beri nama Florence Wufien Ma. Dan ketiga nama-nama ini Elea sendiri yang merangkainya. Sebelum mengesahkan ketiga nama tersebut, Elea sudah meminta izin dulu padaku untuk meletakkan marga keluarga dari pihak Mama Sandara dengan tujuan agar nama almarhum Mama dan Grandma Clarissa akan selalu kami ingat. Juga sebagai tanda kalau Elea tak pernah lupa akan kehadiran mereka."
Greg dan Liona mengangguk-anggukkan kepala. Mereka cukup puas akan rangkaian nama yang akan di pakai oleh ketiga cucu mereka.
"Oh ya, Gab. Kapan kalian akan mengadakan resepsi pernikahan? Kasihan Elea. Dia pasti sedih karena tidak memiliki kenangan saat kalian menikah," tanya Liona.
"Itu mudah untuk di atasi, Gabrielle. Lagipula semua orang kan sudah tahu kalau Elea adalah istrimu dan sekarang dia sedang mengandung calon penerus untuk keluarga Ma. Ibu yakin para tamu undangan pasti akan maklum jika Elea lebih banyak duduk ketimbang berjabat tangan dengan mereka."
Gabrielle diam memikirkan saran dari sang ibu. Dia sebenarnya juga sangat ingin mengadakan pesta resepsi. Gabrielle masih mengingat dengan sangat jelas keinginan Elea yang ingin mengenakan gaun rancangannya sendiri di pesta resepsi pernikahan mereka. Waktu itu dia tanpa pikir panjang langsung mengiyakan. Namun setelah tahu kalau Elea hamil dan kembar tiga, perasaan Gabrielle mulai goyah. Dia takut Elea patah pinggang yang mana akan membuat anak-anak mereka terjepit di dalam sana. Kan tidak lucu kalau pewaris dari keluarga Ma lahir dengan kepala penyok.
"Istrimu sedang hamil, Gabrielle. Kau jangan membatin yang tidak-tidak karena hal tersebut bisa berwujud pada salah satu anakmu. Paham!" tegur Liona ketika Gabrielle ketahuan sedang membayangkan yang tidak-tidak tentang bayinya.
"Apakah pemikiran seperti itu bisa berpengaruh pada anak-anakku, Bu?" tanya Gabrielle kaget.
"Tentu saja bisa, sayang. Dan satu hal lagi. Jangan membenci orang lain ketika istrimu sedang hamil. Orang bilang entah dari sifat ataupun rupa, anak kita nantinya bisa menyerupai sesuatu yang kita benci. Kau harus hati-hati, Gabrielle!"
__ADS_1
"Benarkah?"
Gabrielle kemudian melirik ke arah Cuwee. "Bu, apa nanti salah satu dari anakku akan terlahir seperti Cuwee juga? Sebelum dia di boyong kemari, aku sempat sangat membencinya. Kemungkinan seperti ini bisa terjadi tidak, Bu?"
Bugghhhh
Liona reflek meninju pipinya Gabrielle karena kaget mendengar pertanyaannya. Setelah itu Liona menarik nafas panjang melihat putranya yang tengah meringis kesakitan.
"Lain kali kalau kau masih berani bicara sembarangan seperti tadi Ibu tidak hanya akan meninju pipimu saja, Gab. Tapi Ibu akan langsung merontokkan semua gigi yang ada di dalam mulutmu!" ancam Liona jengkel. "Bisa-bisanya ya kau berharap Elea melahirkan seekor kuda hanya karena kau sempat membenci Cuwee. Kau pikir Elea itu apa hah? Binatang?"
"Maafkan aku, Ibu. Aku tidak sengaja berpikir seperti itu karena Ibu bilang kalau anakku bisa terlahir menyerupai sesuatu yang aku benci. Dan kebetulan tadi aku membenci Cuwee. Aku hanya takut, Ibu!" sahut Gabrielle tak berdaya.
"Ya tapi kan tidak binatang juga, Gabrielle. Astaga!" keluh Liona frustasi. "Ibu sungguh heran padamu. Kau begitu pintar dalam urusan bisnis dan yang lainnya. Tapi kenapa kau bisa menjadi sangat bodoh dalam hal seperti ini?"
Gabrielle tak bisa menjawab. Sedangkan Greg, dia pura-pura acuh dengan cara melihat ke arah lain. Greg sangat takut kalau Liona akan menyebutnya sebagai orang yang harus bertanggung jawab atas kebodohan yang terjadi di diri putra mereka. Dia tidak mau itu
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
__ADS_1
...πFb: Rifani...