
"Elea, aku langsung pulang saja ya. Tolong katakan pada Grandmamu aku minta maaf karena tidak bisa mampir. Dan sampaikan padanya aku mendoakan agar beliau lekas sembuh," ucap Lusi sambil tersenyum ke arah Elea yang sudah berada di luar mobil.
"Baiklah, Kak. Nanti akan aku sampaikan pada Grandma," sahut Elea.
"Ya sudah kalau begitu aku pergi ya."
"Iya, Kak. Hati-hati."
Elea melambaikan tangan ke arah Lusi saat mobil mulai bergerak pergi. Setelah itu dia segera melangkah masuk ke dalam rumah. Saat ini Elea sedang berada di kediaman orangtuanya. Neneknya tiba-tiba jatuh sakit, yang mana membuat Elea memutuskan untuk langsung datang kemari begitu pulang dari kampus.
Saat Elea hampir sampai di depan pintu utama, dari dalam rumah muncul seorang wanita cantik dengan perut besar. Dia tersenyum mendapati kakaknya yang terlihat kesulitan berjalan karena usia kandungannya yang sudah memasuki bulan lahiran.
"Wahh Kak Cia, apa kau terkena busung lapar? Perutmu besar sekali," ledek Elea sambil berjalan menghampiri kakaknya.
Patricia langsung menggeplak pelan lengan Elea begitu mendengar ucapannya. Bisa-bisanya dia di katai terkena busung lapar karena sedang hamil besar. Untung saja Junio tidak ada di sini. Kalau ada, pasti akan terjadi perang dunia ketiga di rumah ini. Pria gila itu pasti akan langsung mengomel kesana kemari karena tidak terima biji kecambahnya di ejek oleh orang lain.
"Kau ini ada-ada saja, Elea. Jangan bicara seperti itu kalau ada Junio di sini. Nanti dia kesurupan," omel Patricia sambil terkekeh.
"Hehehe. Ngomong-ngomong kapan keponakanku ini akan lahir, Kak? Aku sudah tidak sabar ingin mengajaknya naik mobil," tanya Elea sambil mengusap-usap perut sang kakak. Ada segurat rasa iri di benak Elea saat menyadari kalau sampai sekarang dia masih belum hamil.
"Memangnya kau bisa mengendarai mobil sendiri?"
"Tidak bisa."
"Lalu?"
"Ya, beli saja. Yang penting aku ingin mengajak keponakanku naik mobil. Dia harus tahu kalau dia mempunyai rich aunty yang punya banyak uang."
Patricia menatap lekat wajah adiknya. Dia merasa ada yang salah dengan ekspresi wajah Elea ketika bicara. Hambar dan kosong.
"Elea, kau baik-baik saja?" tanya Patricia memastikan.
__ADS_1
"Tidak, Kak," jawab Elea jujur. "Aku ingin hamil sepertimu. Tapi sampai sekarang perutku masih datar-datar saja seperti papan. Menyedihkan bukan?"
"Apa dokter sudah mengizinkanmu untuk berhubungan dengan Gabrielle?"
Pipi Elea sedikit merona saat sang kakak membahas tentang hal tersebut. Patricia yang melihatnya pun langsung tahu kalau waktunya untuk Gabrielle berbuka puasa sudah tiba. Penasaran dengan jawaban adiknya, dengan tidak sabaran Patricia mengajak Elea untuk duduk. Dia ingin mengajaknya menggibah.
"Kapan?"
"Rencananya setelah aku selesai datang bulan, Kak. Mungkin besok malam," jawab Elea malu-malu.
Hampir satu tahun tidak pernah wik-wik dengan suaminya membuat Elea merasa sedikit canggung. Kebetulan dia bertemu kakaknya di sini, jadi Elea bisa meminta saran untuk memberi kejutan pada suaminya yang sudah bersabar menanti selama hampir satu tahun lamanya. Awalnya Elea ingin meminta saran dari Levi, tapi dia urungkan karena pelakor itu sedang sibuk mengurus pernikahannya dengan dokter Reinhard. Kalau Lusi, saudaranya yang satu itu terlalu kalem dan sederhana. Elea butuh saran bar-bar yang hot dan panas supaya bisa memuaskan dahaga suaminya yang sudah tertahan selama ini. Dan Elea rasa kakaknya cukup hot karena buktinya Paman Junio sekarang menjadi sangat tergila-gila pada kakaknya ini. Mungkin servis ranjang sang kakak begitu memuaskan sampai-sampai membuat pria itu menjadi bucin setengah mati.
"Gabrielle tahu masalah ini tidak?" tanya Patricia penasaran.
"Aku meminta Kak Jackson dan dokter Reinhard untuk merahasiakannya. Kira-kira Kakak punya saran tidak kejutan seperti apa yang harus aku berikan pada Kak Iel? Kasihan dia, Kak. Anak didiknya menganggur hampir satu tahun. Aku perlu tenaga ektra untuk menyadarkannya dari mati suri."
Hening. Untuk beberapa detik otak Patricia seperti tidak bisa bekerja. Dia sedikit bingung mencerna ucapan Elea yang sangat nyeleneh itu. Dan ketika lengannya di tepuk dia baru tersadar dari lamunan.
"Aih, kau ini bicara apa, Elea. M-memangnya ada berapa banyak macam pose yang bisa kita lakukan sih? Kan-kan posenya hanya begitu-begitu saja," jawab Patricia gugup. Junio adalah pemain ranjang yang sangat handal. Dan pose-pose yang sering mereka mainkan terkadang membuat Patricia tak habis pikir. Aneh, tapi sulit untuk di lupakan. π
"Mana ada hanya begitu-begitu saja. Tahu tidak, Kak. Kak Iel dan aku sering bercinta dengan pose-pose yang sangat ekstreme. Kami ....
Alhasil, Patricia dan Elea larut dalam pembicaraan yang sangat panas tentang aktifitas ranjang mereka. Patricia yang awalnya merasa malu tanpa sadar bercerita dengan sangat menggebu-gebu. Saking asiknya mereka menggibah, mereka sampai tidak sadar kalau di pintu masuk ada wanita paruh baya yang tengah tersenyum sambil menguping pembicaraan panas mereka.
"Ekhmm ekhmmm, apa Ibu boleh ikut bergabung?"
"Aaaaa ... Ibu!" pekik Elea kaget. Setelah itu dia langsung menghambur ke pelukan sang ibu. "Bu, tahu tidak. Kak Cia baru saja mencekoki pikiranku dengan hal-hal yang mesum. Dia bilang padaku kalau Paman Junio itu sangat ganas ketika di ranjang."
"Yakkk Elea, apa-apaan kau? Mana ada aku berbuat seperti itu padamu!" protes Patricia kelabakan sendiri ketika di fitnah oleh Elea. Harusnya tadi itu dia jangan bercerita terlalu banyak pada adiknya ini. Patricia lupa kalau Elea itu sangat tengil dan jahil. Kena batunya kan dia sekarang.
"Tapi memang benar kan tadi Kakak bicara seperti itu padaku?"
__ADS_1
"I-iya sih. Tapi ....
"Nah. Berarti benar kan Bu kalau Kak Cia memang sedang mengatakan hal-hal mesum padaku. Marahi dia, Bu. Kalau tidak cubit saja bokongnya yang besar itu."
"Elea ... Ibuuuu!" rengek Patricia kehabisan kata-kata untuk menyangkal fitnah Elea. Dia semakin merengek ketika adiknya itu malah tersenyum penuh kemenangan.
Yura hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan kedua putrinya. Yang satu nakal dan manja, dan yang satunya lagi mendadak jadi pemalu dan selalu menjadi korban. Sungguh, dia benar-benar sangat beruntung memiliki dua putri yang membuat hari-harinya menjadi sangat berwarna.
"Bu, Grandma dimana? Apa dokter sudah memeriksa keadaannya?" tanya Elea setelah puas mengerjai kakaknya. Hal itu sengaja dia lakukan untuk menutupi kekhawatirannya akan kesehatan sang nenek. Elea sedang mencari cara agar hatinya kuat jika seandainya ada hal buruk yang terjadi.
"Grandma sekarang sedang istirahat di kamarnya, sayang. Tadi Ayah kalian sudah meminta dokter untuk datang memeriksa," jawab Yura dengan suara sendu. Dia sedih melihat mertuanya jatuh sakit.
"Lalu apa kata dokter, Bu? Grandma tidak mengidap penyakit yang serius kan?"
"Tidak, sayang. Grandma itu sudah tua, daya tahan tubuhnya sudah tidak sekuat kita lagi. Penyakit yang di derita Grandma sangat lumrah di alami oleh para lansia sepertinya. Kita do'akan saja semoga Grandma bisa lekas sembuh seperti semula. Ya?"
Tapi Bu, bayangan yang aku lihat tidak seperti yang kita harapkan. Grandma tidak akan lama berkumpul bersama kita lagi, dia akan segera pergi menemui Mama Sandara di surga. Kita semua akan di tinggalkan.
"Ya sudah, sambil menunggu Grandma bangun bagaimana kalau kita makan cemilan saja. Kebetulan kemarin Ibu membuat banyak makanan di rumah. Ayo!" ajak Yura.
Patricia yang sedang hamil besar sedikit kesulitan saat akan bangun dari duduknya. Elea yang melihatnya pun segera memberi pertolongan. Namun bukan Elea namanya jika hanya memberikan bantuan cuma-cuma. Dia kembali menggoda sang kakak hingga membuat wajahnya merah padam karena menahan malu. Sementara ibunya, wanita cantik itu hanya tertawa saja melihat apa yang sedang Elea lakukan.
Kau kuat, Elea. Ayo tersenyum, jangan sedih.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
__ADS_1
...πFb: Rifani...