
📢📢📢 Bestie, bom komentar sebanyak mungkin karena nanti sore emak mau crazy up. Oke 💜
***
"Selamat datang, Tuan Muda Bern dan Tuan Muda Karl!" sapa para karyawan Group Ma sembari menundukkan kepala mereka.
"Terima kasih," sahut Karl membalas sapaan para karyawan sambil tersenyum ramah. Dia kemudian melirik, mencebikkan bibir melihat sikap dingin sang kakak yang sama sekali tak mau membalas sapaan semua orang. Benar-benar beruang kutub abadi. Bahkan untuk tersenyum pun dia enggan. Dasar.
"Jangan salahkan aku kalau kau sampai menabrak tembok, Karl!" tegur Bern.
"Ck, tolong jangan mengalihkan perhatianku ya, Kak. Aku tahu benar kalau kau itu sebenarnya sadar penyebab mengapa aku terus menatapmu. Iya 'kan?" sahut Karl sambil mengerucutkan bibir. Dia kesal sekali melihat tanggapan kakaknya yang begitu cuek meski sebenarnya tahu kalau Karl bermaksud menegurnya.
"Hmmm,"
"Ham hem ham hem. Jawab, Kak!"
Bern dengan sengaja menghentikan langkahnya sesaat sebelum mereka berbelok ke arah lift. Setelah itu Bern melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. "Waktu sangatlah berharga asal kau tahu, Karl. Dan aku tidak akan membuang waktuku hanya untuk mereka yang tidak penting. Paham kau?"
"Meskipun mereka hanya karyawan, tapi mereka itu sudah berbaik hati dengan menyapa dan menyambut kedatangan kita, Kak. Memang apa salahnya sih kalau kita membalas kebaikan mereka?"
__ADS_1
"Salah, tentu saja sangat salah. Mereka bersikap baik dan sopan kepada kita karena itu memang sudah tugas mereka untuk menghormati orang yang membayar gaji mereka di sini. Jadi ke depannya nanti kau jangan pernah lagi meributkan hal ini karena aku tidak menyukainya. Paham?"
Karl hanya bisa membuang nafas kasar melihat kekeras-kepalaan sang kakak. Tanpa terasa sepuluh tahun kini telah terlewat, tapi sikap kakaknya sama sekali tak berubah. Malah kini kakaknya bertambah semakin dingin dan arogan saja setelah ayah mereka mengumumkan Bern Wufien Ma sebagai direktur utama di Group Ma. Sedangkan Karl sendiri kini menjabat sebagai wakil direktur, yang artinya kalau posisi Karl sekarang berada di bawah kepemimpinan sang kakak. Untuk Karl sendiri posisi ini sudah lebih dari cukup karena sebenarnya Karl sama sekali tak berminat bekerja di perusahaan. Dia jauh lebih tertarik untuk melakukan penelitian di laboratorium yang di hadiahkan khusus oleh sang nenek saat ulang tahunnya yang ke tujuh belas.
Oya, sedikit penjelasan untuk kalian semua. Kini usia Karl, Bern dan juga Flowrence adalah dua puluh lima tahun. Dalam sepuluh tahun waktu yang terlewat, ada banyak sekali kejadian yang di alami oleh ketiganya. Mulai dari Flowrence yang mencoba bunuh diri dengan cara menyerahkan tubuhnya agar dimakan oleh cicitnya Sulli hanya karena ditinggal naik kelas oleh Sisil, ada juga Karl yang hampir saja mati gosong gara-gara labolatoriumnya meledak setelah dia salah meracik ramuan. Juga ada Bern yang sehari-harinya selalu di penuhi dengan sesuatu yang misterius. Pokoknya selama sepuluh tahun terakhir ada banyak sekali kejadian yang menguras tawa dan air mata. Termasuk rencananya Bern yang ingin kembali menyingkirkan Flowrence. Namun untungnya kejahatan Bern tak bisa terlaksana berkat pengamanan dari mutan Grisi yang diminta Gabrielle untuk mengawasi si gadis bantat itu. Dan lagi-lagi Elea meminta semua orang untuk tidak menghakimi Bern. Setelah semua badai itu berlalu, Gabrielle memutuskan untuk menjadikan Bern sebagai direktur utama di Group Ma. Sedangkan Flowrence, berkat kebodohannya yang terus saja tinggal kelas, gadis itu kini ikut membantu di butik milik Elea. Ya meskipun hanya duduk dan menemani Elea mengobrol, pundi-pundi uang tetap mengalir ke rekeningnya. Dan orang yang paling beruntung di sini adalah Levita, pelakor yang dengan begitu serakahnya terus mengorek harta kekayaan milik calon menantunya. Untuk bagian yang ini dimohon kalian semua untuk maklum ya? 🤣🤣🤣🤣
Ceklek
"Oh, kalian sudah datang. Ayo masuk, ada yang ingin Ayah bicarakan dengan kalian berdua!" ucap Gabrielle sembari tersenyum ke arah kedua putranya yang baru saja datang.
Dengan langkah tegap Bern berjalan menuju sofa di mana ayahnya telah duduk menunggu. Sementara Karl, pria ini malah terlihat malas-malas saat akan menghampiri ayahnya. Sungguh dua sikap yang sangat bertolak belakang sekali bukan?
"Ayah, bisa tidak sih aku jangan di pekerjakan di kantor ini? Kan masih ada Andreas yang bisa menggantikan posisiku. Rasanya aku seperti di penjara paksa karena setiap hari harus bangun pagi-pagi buta!" ucap Karl langsung mengeluh pada ayahnya. Sungguh, dia benar-benar sangat muak dengan pekerjaannya yang sekarang. Dia rindu pada semua barang kuno hasil dari penelitiannya.
"Justru karena baru sebulan itulah aku memilih untuk mengundurkan diri. Selain karena aku tidak sepandai Kak Bern, aku juga sangat tidak cocok berurusan dengan berkas pekerjaan yang tidak ada habisnya itu. Setiap detiknya aku seperti akan mati rasanya, Ayah. Tolong pecat aku saja ya?"
Tok tok tok
"Selamat siang, Tuan!" sapa Ares. Di belakangnya muncul Andreas yang datang dengan pakaian rapi.
__ADS_1
Oya, satu pemberitahuan lagi. Andreas kini mengikuti jejak sang ayah dengan menjadi sekertarisnya Bern dan Karl. Namun dikarenakan Bern lebih suka melakukan semuanya seorang diri, Andreas lebih sering menemani Karl. Kendati demikian, Ares tetap meminta Andreas untuk memprioritaskan keduanya tanpa pilih kasih karena Bern dan Karl terlahir dari wanita yang sama. Ares tak mau putranya di cap sebagai orang yang tidak tahu balas budi. Dia tak mau itu.
"Nah, ini dia orangnya datang. Sekarang tolong Ayah minta Andreas untuk menggantikan posisiku sebagai wakil direktur ya? Ayolah, Ayah. Tolong pahami penderitaan putramu ini!" rengek Karl sambil menatap sang ayah dengan pandangan memelas.
"Omong kosong. Kau dengan tidak tahu dirinya mengaku kalau kepintaranmu itu kalah jauh dariku. Lalu apa kabar dengan piagam-piagam yang berjejer di lemari kamarmu, Karl? Sebulan kau menjadi bawahanku, banyak idemu yang berhasil mengantarkan aku menjadi pembisnis baru yang sukses. Awas kau ya. Sekali lagi aku mendengar omong kosongmu, percayalah. Aku akan langsung memerintahkan orang untuk mengebom labolatoriummu yang jelek itu. Mau kau?" ancam Bern dengan begitu kejam. Dia muak karena setiap waktu harus mendengar omong kosong dari mulut adiknya.
Ruangan langsung berubah sunyi setelah Bern mengancam akan meledakkan labolatorium milik Karl. Dan tak lama kemudian terdengar suara gelak tawa yang cukup keras di mana Gabrielle tertawa sambil memegangi perutnya yang kaku.
"Hahahaha, rasakan itu, Karl!" ejek Gabrielle puas melihat putra keduanya yang tidak berani lagi merengek padanya.
"Ck, Ayah ini bagaimana sih. Seharusnya Ayah itu membelaku, bukan malah menertawakan aku seperti ini. Jahat sekali!" sahut Karl bersungut-sungut tak terima melihat ayahnya yang terkesan lebih membela kakaknya ketimbang membelanya. Setelah itu Karl menatap jengkel ke arah Andreas dan Paman Ares yang masih belum berhenti menertawakannya. "Kau juga, Yas. Bukankah kau itu ada di pihakku ya? Kenapa sekarang kau malah ikut-ikutan tertawa seperti itu? Suka ya melihatku ditindas oleh Kak Bern. Hah!"
"Karl?" panggil Bern dengan nada suara yang begitu rendah. Kepalanya sakit melihat Karl yang terus saja bersikap kekanakan.
"Iya-iya, Kak. Aku diam dan tidak akan protes lagi," sahut Karl ketar-ketir sendiri. Dia lalu menggerutu pelan."Dasar beruang kutub. Bisanya hanya mengancam orang yang lemah saja. Huh!"
"Aku mendengar gumamanmu, bodoh."
Bern menoleh. Dia menatap datar ke arah Karl hingga membuat adiknya itu diam tak berkutik. Setelah memastikan keadaan tenang, Bern segera meminta sang ayah mengatakan perihal yang ingin di sampaikan. Tak lupa juga Bern mempersilahkan Andreas dan ayahnya untuk duduk terlebih dahulu sebelum akhirnya mereka semua terhanyut dengan pembicaraan yang serius.
__ADS_1
Huh, lama-lama aku bisa mati stress kalau terus berkumpul dengan orang-orang yang gila kerja ini. Aaa, aku rindu dengan gucci-gucci temuanku. Kapan ya aku bisa kembali ke labolatorium? Haihhh ....
***