Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Karma Dari Masa Lalu


__ADS_3


πŸ“’JANGAN LUPA BOM KOMENTAR DI NOVEL


- My Destiny (Clara & Eland)


- Pesona Si Gadis Desa


- Ma Queen Rose


- Marriage Contract With My Secretari


BOM KOMENTAR BESTIE BIAR EMAK SEMANGAT UP SEMUA NOVELNYA πŸ’œ


πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—


"Selamat datang, Tuan Gabrielle!"


Gabrielle mengangguk ke arah wanita yang baru saja menyapanya. Dia kemudian melangkah masuk ke dalam sebuah butik baju pengantin milik istrinya. Ya, setelah baby BKF berumur empat tahun, Elea kembali melanjutkan pendidikan kuliahnya sampai selesai. Dan kini Elea berhasil masuk dalam jajaran desainer yang namanya selalu di perhitungkan. Sementara Lusi, sahabat istrinya itu kini juga memiliki bisnis pakaian sendiri. Bedanya Elea fokus ke desain gaun pengantin, Lusi lebih ke pakaian bayi dan anak-anak. Dan karir mereka pun sama besarnya, hanya saja butik Elea jauh lebih terkenal berkat karir gemilang yang di tinggalkan oleh mendiang Grandma Clarissa Wu.


Tok tok tok


"Sayang, apa aku mengganggu?"


Elea yang kala itu sedang sibuk membuat desain gaun pesanan seorang putri konglomerat langsung menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara suaminya. Dia lalu mengangguk sambil mengerlingkan mata pada pria tampan yang tengah tersenyum sambil menyender di daun pintu.


"Lain kali kau tidak perlu meminta izin seperti itu, Kak Iel. Langsung masuk saja kemudian peluk aku," goda Elea.


"Hmmm, aku mana boleh bersikap seperti itu, sayang. Aku mungkin adalah seorang bos di Group Ma, tapi di sini aku hanyalah seorang tamu," sahut Gabrielle sembari berjalan mendekat ke arah Elea. "Sibuk sekali kah?"

__ADS_1


"Hanya sedang menyelesaikan desain gaun milik seseorang yang akan memberiku uang yang sangat banyak, Kak. Biasalah, putri konglomerat. Dan mereka ingin aku membuatkan gaun eksklusif yang hanya dimiliki oleh putri mereka saja. Dan ya, ini sedikit menguras pikiranku,"


"Hmmm, benarkah? Jadi sekarang istriku diam-diam telah menjadi langganan para konglomerat ya?"


Elea tertawa. Dia meletakkan pensil ke atas meja kemudian pergi mencuci tangan di wastafel. Setelah bersih, barulah Elea menghampiri Gabrielle kemudian memeluknya dengan erat.


"Aku rindu,"


"Hei, sudah berapa kali aku katakan padamu kalau harus aku yang pertama kali mengatakan kata tersebut. Kenapa sekarang tidak patuh, hem?" tanya Gabrielle gemas ketika mendengar Elea mengatakan kata rindu padanya.


"Karena aku memang benar-benar sangat merindukanmu, Kak Iel. Bagaimana sih,"


"Baiklah-baiklah, sayangku. Kali ini aku akan mengalah. Oke?"


"Hmmm,"


Tak ingin melihat Elea merajuk, Gabrielle dengan penuh kelembutan mengangkat tubuh Elea lalu membawanya menuju sofa. Gabrielle kemudian mendudukkan Elea di atas pangkuannya, menatapnya dalam seraya merapihkan anak rambut yang beterbangan.


"Kak, anak-anak sudah semakin besar sekarang. Akan tetapi tidak ada satupun dari mereka yang menuruni kemampuan yang kita miliki. Aku takut. Aku takut mereka sebenarnya sudah menyadari kelebihan itu tapi memilih untuk diam karena berpikir hal tersebut bisa membawa keuntungan pribadi untuknya," jawab Elea tak menutupi apa yang memang sedang sangat amat mengganggu pikirannya.


"Hmmm, aku juga sebenarnya sangat heran, sayang. Tapi selama ini apakah kau bisa melihat tentang ketiganya? Siapa tahu di antara mereka ada yang sama seperti Rose. Iya 'kan?"


"Rose?"


Elea mengerutkan kening. "Oh ya ya. Aku kan tak pernah bisa melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi pada Rose. Tapi ... apa hubungannya Rose dengan ketiga anak-anak kita, Kak?"


"Tidak tahu apakah ini benar atau tidak, tapi firasatku mengatakan kalau kau dan Rose itu memiliki kemampuan yang sama. Makanya kau tidak bisa melihat jelas gambaran tentang keberadaannya Rose," sahut Gabrielle menerka-nerka. "Kemungkinan seperti ini bisa saja terjadi, sayang. Ya walaupun ini hanya terkaan semata, tapi setidaknya alasan inilah yang paling masuk di akal untuk sekarang ini. Benar tidak?"


Bukan tanpa alasan mengapa Gabrielle memiliki pemikiran seperti itu. Baik Bern, Karl, maupun Flow, ketiga anaknya itu tak pernah sekalipun menunjukkan kalau mereka memiliki kelebihan. Bahkan Elea saja bisa mengetahui hal buruk yang akan menimpa anak-anak mereka. Namun naluri seorang ayah mengatakan kalau di antara ketiga anak itu ada yang menyembunyikan satu rahasia besar. Entah itu Bern dengan sikap serakah dan arogannya, atau malah Flowrence yang memiliki sikap sama persis seperti Elea. Ah, membayangkan peri mini itu membuat Gabrielle jadi merindukannya.

__ADS_1


"Sayang, apa Flow masih sering merengek agar dinikahkan dengan Oliver?"


"Bukan sering lagi, Kak. Bahkan Kak Levi bilang setiap kali dia mendengar nama Flow, sensasinya langsung terasa seperti sedang menonton film horor. Mencekam, mengerikan, dan juga menegangkan. Apalagi jika Flow datang ke rumah mereka kemudian mulai mengekori Oliver kemana-mana. Kak Levi dan Kak Reinhard seperti sedang uji nyali di rumah mereka sendiri," jawab Elea sambil tersenyum mengenang kenakalan dan keagresifan putri bungsunya.


"Tapi Oliver tidak bersikap semena-mena pada putri kita 'kan?" tanya Gabrielle memastikan. Semenjak si tiga kurcaci lahir, semua usaha milik Gabrielle menjadi maju sepuluh kali lebih pesat. Hal ini mengharuskan Gabrielle banyak menghabiskan waktunya di kantor. Paling hanya di akhir pekan saja dia baru akan berada di rumah, dan itupun banyak Gabrielle habiskan untuk bermesraan dengan Elea. Makanya Gabrielle tidak mengetahui terlalu banyak hal-hal apa saja yang dilakukan oleh ketiga anaknya. Bukan tidak sayang, tapi ini sudah menjadi kewajibannya terhadap pekerjaan yang menjadi sumber mata pencaharian dari ratusan ribu karyawannya. Meski adalah seorang bos besar, tetap saja Gabrielle harus mengutamakan kerja keras para bawahannya bukan? Tapi tetap saja, Gabrielle menyebar puluhan mata-mata untuk mengawasi ketiga anak-anaknya. Dia tidak lepas tangan begitu saja kok.


"Oliver selalu tersenyum melihat apa yang dilakukan Flow padanya, Kak. Calon menantu kita itu sangat sabar dan juga penyayang. Terkadang aku sampai tidak yakin kalau Oliver itu terlahir dari seorang ibu mata duitan seperti Kak Levi. Sungguh," jawab Elea.


"Kau ini ya,"


Gabrielle mencium kening Elea lama sambil tengannya meraih tangan Elea kemudian menyatukannya.


"Apa ini alasanmu kekeh menjadikan Oliver sebagai calon suaminya Flow?"


"Ya. Dan itu juga yang menjadi alasan kenapa aku memberikan hampir sebagian uangku atas nama Oliver. Aku khawatir, Kak. Aku yakin kalau Karl atau Bern, ada salah satu di antara mereka yang terlahir dengan membawa karma yang sangat buruk. Di tambah lagi Flow adalah satu-satunya perempuan, bisa di pastikan kalau dia menjadi yang terlemah. Ini bukan karena apa, tapi karena sudah begitu takdirnya kalau setiap bayi yang terlahir kembar pasti ada satu yang mengalami kekurangan. Flow, dia yang paling lemah dan juga paling bodoh di antara kedua kakaknya. Dengan aku menabung banyak uang lewat Oliver, masa depan Flow tidak akan terancam bahaya jika seandainya Bern ataupun Karl memiliki sisi yang jahat. Dia harapan terakhirku, Kak!" jelas Elea dengan mata berkaca-kaca.


"Sudah sejauh ini kau mengatur masa depan mereka?" kaget Gabrielle. Ini apalagi, kenapa nasib ketiga anaknya bagaikan rollcoster yang menukik dan menanjaki pinggiran jurang yang terjal. Ada apa sebenarnya? Karma siapa yang menyasar pada anak-anak tidak bersalah itu?


"Bukan aku yang mengatur, tapi ini adalah sebait perjalanan menyakitkan tentang sebuah karma yang mengikuti takdir salah satu leluhur kita. Darah yang berceceran, mayat bergeletakan, air mata para istri dan juga anak-anak yang kelaparan. Karma kebencian ini datang dari sana, Kak. Dan-dan dari sekian banyak keturunan anak kitalah yang terpilih untuk menebus dosa-dosa yang telah dilakukannya itu," sahut Elea dengan suara tercekat.


"Semengerikan itu? Atau kau hanya terbawa pearsaan saja, sayang? Bisa saja kan penglihatan itu muncul karena kau terlalu panik?" tanya Gabrielle syok mendengar penuturan Elea. Kakinya lemas seketika.


"Dua hari lalu seorang tua dengan pakaian kuno mendatangiku, Kak. Waktu kelahiran anak kita ada yang sama persis dengan waktu kelahiran leluhur itu. Di masa lalu, tepat ketika bulan purnama berada di atas kepala, seseorang terlahir dengan membawa takdir kekuatan yang begitu besar. Seseorang ini sebenarnya baik, hanya terkendali oleh satu perintah di mana dia terpaksa membantai banyak manusia di dalam alur peperangan. Yang di bunuh olehnya adalah musuh, tapi tetap saja mereka mempunyai anak dan istri yang menunggu di rumah. Dan kesedihan inilah yang akan di tebus oleh anak-anak kita nanti," jawab Elea sendu.


"A-apa kau melihat wajah seseorang tersebut?"


"Tidak jelas. Dia berdiri tepat di antara cahaya purnama dengan mengenakan pakaian seperti seorang panglima, di tangannya ada sebuah pedang berkilat yang masih berlumuran darah. Dan ... auranya begitu mengerikan. Aku takut,"


Segera Gabrielle mendekap Elea dengan sangat erat ketika merasakan tubuhnya yang mulai gemetaran. Sungguh, bagaimana bisa ada kutukan mengerikan seperti ini terjadi pada anaknya? Dan siapa sebenarnya bajingan kejam yang telah meninggalkan karma seseram itu?

__ADS_1


K*parat. Kenapa harus anak-anakku?


*****


__ADS_2