Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Ritual Cicilan


__ADS_3

Setelah makan siang bersama, Gabrielle membawa Elea pergi ke perusahaannya. Ada pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan karena Ares sedang tidak bisa menggantikannya. Asisten kepercayaannya itu tengah pulang ke rumah setelah menerima kabar kalau Cira kembali muntah-muntah dan ingin melihat wajahnya detik itu juga. Paham jika mood wanita hamil sangat berbahaya, Gabrielle pun mempersilahkan Ares untuk segera pergi. Dia tidak mau menerima kutukan seperti yang di beritahukan Elea kepadanya.


"Kak Iel, kalau kau melarang Ares untuk pulang menemui Kak Cira, percaya tidak! Bayi mereka pasti akan langsung mengutukmu menjadi katak jelek begitu dia lahir."


"Sedang melamunkan apa sih, Kak? Serius sekali," tanya Elea sembari menatap wajah suaminya.


"Hmm, aku tidak sedang melamunkan apa-apa, sayang," jawab Gabrielle berkilah.


"Benarkah? Tapi kenapa aku merasa kalau Kakak sedang berkata bohong ya? Ingat, Kak. Bohong itu dosa, nanti Tuhan marah."


Gabrielle tertawa mendengar perkataan Elea. Setelah itu dia melihat keluar jendela, baru sadar kalau ternyata mobilnya sudah berada di depan pintu masuk perusahaan.


"Kita sudah sampai sejak tadi kalau Kakak mau tahu."


"Hehe, maaf ya. Aku sampai tidak sadar kalau kita sudah sampai," sahut Gabrielle. "Ya sudah, ayo kita keluar."


"Baiklah."


Seperti biasa, Gabrielle akan keluar dari mobil terlebih dahulu sebelum akhirnya berlari memutar membukakan pintu samping untuk istri tercinta. Bak seorang pangeran yang menyambut permaisuri, Gabrielle mengulurkan tangan ke arah istrinya. Dia tersenyum lebar saat uluran tangannya di sambut sebuah genggaman yang sangat erat dari tangan lembut milik Elea.


"Jangan tersenyum manis begitu, Kak Iel. Nanti aku terkena diabetes," kelakar Elea sesaat sebelum melangkah masuk ke dalam perusahaan. Dia kemudian tersenyum sambil menganggukkan kepala saat para penjaga menyapa.


Untuk sesaat Gabrielle tidak fokus akan perkataan Elea. Dia sibuk mengawasi mata para penjaga, khawatir kalau-kalau mereka mencuri pandang ke arah istrinya yang sedang memakai gaun terbuka. Tunggu-tunggu ... gaun terbuka? Oh sialan, sepertinya Gabrielle melupakan sesuatu yang sangat penting di sini.


Sh*ttt. Kenapa kau bisa seceroboh ini, Gabrielle? Ini sih namanya sedekah gratis, mana bahu Elea putih sekali. Arrgghhhh, para penjaga sialan ini pasti sudah mengambil keuntungan secara diam-diam. Tidak bisa di biarkan. Huh!


"Kau!" panggil Gabrielle sembari menunjuk salah satu penjaga yang tengah menundukan kepala di sebelahnya.


"Iya, Tuan Muda."


"Apa kau ketua dari para penjaga yang bekerja di sini?"


"Benar, Tuan Muda. Saya adalah orang yang bertanggung jawab mengawasi pekerjaan para penjaga di Group Ma."

__ADS_1


Gabrielle berdehem. Sebelum lanjut bicara, dia melepas jasnya terlebih dahulu kemudian memakaikannya ke tubuh Elea. Sambil memeluknya posesif, Gabrielle kembali mencecar ketua para penjaga ini untuk memastikan apakah mereka ada yang melihat kemolekan tubuh istrinya atau tidak.


"Sekarang jawab pertanyaanku dengan jujur. Apa warna kulit bahu istriku?" tanya Gabrielle dengan songongnya.


"Ya?"


Meskipun bingung dengan jenis pertanyaan yang di ucapkan oleh Tuan Muda-nya, penjaga tersebut tetap tidak berani mengangkat wajahnya. Dia lebih memilih untuk dimaki dengan kata-kata mengerikan daripada harus menerima hukuman aneh yang mematikan. Kalian semua tentu tahu bukan hukuman seperti apa yang akan di terima oleh mereka jika berani menatap sang nyonya lebih dari tiga detik? Biji mata mereka akan di donorkan, lalu di ganti dengan biji mata buaya. Ihhh, membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk berdiri semua. Menyeramkan.


"Kak Iel, kau ini aneh sekali. Di mana-mana bahu manusia itu kalau bukan berwarna putih pasti berwarna hitam eksotis. Nah, kalau berwarna biru ataupun pucat itu baru warna bahunya mayat. Kakak ada-ada saja," celetuk Elea.


Dan tanpa di sangka-sangka celetukan Elea membuat para penjaga kelepasan tertawa. Gabrielle yang melihat hal itu pun langsung naik pitam. Ingin rasanya dia membuat peraturan di mana para lelaki di larang untuk menikmati suara istrinya yang merdu ini. Dia tidak terima para penjaga terlihat bahagia setelah mendengar suara Elea. Gabrielle cemburu.


"Coba saja jika kalian masih berani tertawa. Detik ini juga kalian akan langsung berpindah alam!" ancam Gabrielle dongkol.


"Maafkan kelancangan kami, Tuan Muda. Kami tidak akan melakukan hal ini lagi," sahut para penjaga panik.


"Huh. Dengar ya kalian semua, jika nanti kalian kedapatan tertawa setelah mendengar istriku bicara, maka aku akan ....


"Kak Iel?"


Perhatian Gabrielle langsung teralih saat mendengar suara lembut Elea. Dia menunduk, menatap lekat wajah istrinya yang sedang tersenyum.


"Jangan marah-marah. Kau harus menghemat tenaga karena nanti malam aku akan meminta jatah," ucap Elea lirih sambil mengerlingkan mata.


Jurus yang sangat mematikan. Kemarahan Gabrielle lenyap entah kemana begitu Elea menyebut kata meminta jatah. Tanpa mempedulikan para penjaga yang tadi di marahinya, Gabrielle mengajak Elea untuk masuk ke dalam. Dia ingin melakukan ritual cicilan di dalam lift sebelum menunaikan jatah untuk istrinya ini.


Saking semangatnya Gabrielle ingin mencicil, dia sampai tidak mengindahkan sapaan dari para karyawan. Sedangkan Elea, dia yang sudah hapal dengan kebiasaan mesum suaminya terlihat santai-santai saja meskipun sadar kalau bibir dan bagian tubuhnya yang lain akan segera menjadi korban. Wajarlah, bagaimana mungkin Elea tidak bersikap sesantai ini. La wong dia saja menyukainya. Hehehe.


Ting


"Uggghhh, pelan-pelan, Kak Iel. Nanti gaunku robek!" protes Elea kaget saat tangan suaminya menurunkan gaun yang dia pakai dengan cara sedikit kasar. Dia kemudian tertawa melihat bibir suaminya mengerucut. "Ya ya ya, lakukan apa yang Kak Iel mau. Aku milikmu, termasuk melon-melon itu juga. Silahkan."


"Ck, selalu saja seperti ini jika sedang bersamamu, sayang. Maaf ya kalau tindakanku membuatmu tidak nyaman. Aku kecanduan, dan sulit untuk mengendalikan," sahut Gabrielle dengan wajah memelas dan tidak berdaya.

__ADS_1


"Jangan meminta maaf padaku, Kak. Aku tidak marah, aku hanya sayang jika gaun ini sampai rusak. Aku sama sekali tidak keberatan dengan cara Kak Iel menyentuhku, semuanya aku suka. Jadi jangan sedih ya. Aku inikan istrinya Kak Iel, Kakak berhak melakukan apapun padaku dan juga pada tubuhku. Apa Kak Iel ingin tahu alasannya, hm?" tanya Elea sembari menangkup kedua pipi suaminya yang terlihat murung.


Gabrielle mengangguk pelan. Dia mati-matian menahan diri agar tidak membenamkan wajah di belahan dada istrinya yang sudah tidak tertutup apapun lagi. Mendadak air liurnya seperti akan menetes keluar. Junior Gabrielle kebakaran hebat.


"Karena setelah menikah, perasaan dan tubuhku sudah menjadi milik Kak Iel seutuhnya."


Setelah berkata seperti itu Elea langsung mencium bibir suaminya. Dia tersenyum saat tangan suaminya menekan tombol untuk menahan pintu lift agar tidak terbuka.


"Aku bisa kelepasan kalau kita berpindah ruangan. Di sini saja ya?" bisik Gabrielle di depan bibir Elea.


"Lakukan saja. Aku tahu Kak Iel menginginkanku," sahut Elea dengan mata terpejam menikmati pijatan lembut di dadanya.


"Tapi bukankah kau memintanya untuk nanti malam? Hm?"


Ya Tuhan, aku bisa mati kering jika tidak mengeluarkannya sekarang. Sekarang baru jam dua, masih ada beberapa jam lagi sebelum hari berganti malam. Apa aku kuat menahannya?


"Sekarang atau nanti malam bagiku sama saja karena orang yang melakukannya adalah kita. Tidak apa-apa, kita lakukan saja sekarang. Tapi jangan lama-lama ya, Kak. Karena Kak Iel tidak boleh membuat orang lain menunggu. Oke?"


Tanpa babibu lagi, Gabrielle langsung membopong Elea keluar dari dalam lift. Untunglah di sana tidak ada orang lain selain mereka berdua, jadi Gabrielle bisa leluasa berkelana menikmati leher jenjang dan juga daging kenyal di dada istrinya.


Dan pada akhirnya, para klien yang sedang berada di ruang meeting menunggu hingga hampir satu jam lamanya. Meski ingin marah dan melakukan protes, mereka hanya bisa pasrah menerima karena bagaimana pun bisa bekerja sama dengan Group Ma adalah sesuatu yang sangat hebat. Group Ma telah membuat mereka kaya raya, jadi mana mungkin mereka rela melepaskan tambang uang ini hanya gara-gara di biarkan menunggu selama satu jam? Oh no, uang jauh lebih penting jika di bandingkan dengan waktu yang tidak seberapa ini. Dan hal tersebut adalah fakta yang tidak bisa di tolak.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


GENGSS.. JANGAN LUPA MAMPIR KE NOVEL BARU PUNYA EMAK YA. ADA GIVEAWAY-NYA JUGA LHO πŸ’œπŸ’œπŸ’œ



...πŸ€Jangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...

__ADS_1


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2