
Sreeetttt
"Apalagi ini?" tanya Bern kaget saat tangannya tiba-tiba di tarik oleh Karl. Dia yang baru saja keluar dari ruangan tempat pengambilan darah hanya diam mengikuti ketika Karl membawanya pergi dari sana.
"Sssttt, diamlah. Ada hal penting yang ingin aku bahas denganmu, Kak," jawab Karl.
"Tentang?"
Karl diam tak menjawab. Dia buru-buru mengunci pintu begitu masuk ke dalam ruangan yang kosong. Setelah itu Karl mengajak kakaknya untuk berdiri di dekat jendela. Dia lalu menghela nafas.
"Sorry. Aku tahu sikapku tadi sedikit keterlaluan padamu, Kak. Tapi itu aku lakukan karena ada alasannya,"
Sebelah alis Bern terangkat ke atas. Jujur, dia sebenarnya merasa sedikit pusing setelah darahnya banyak di ambil untuk di transfusikan ke tubuh Flowrence. Kendati demikian, Bern tetap meladeni keinginan Karl yang kekeh ingin berbicara padanya. Dan baru saja ... baru saja Bern mendengar adiknya meminta maaf. Cukup mengejutkan.
"Kak, jangan diam saja. Ayolah, berikan aku maafmu. Aku benar-benar harus bersandiwara seperti itu agar kita semua tidak di hukum oleh Nenek Liona. Sungguh!" rengek Karl saat kakaknya hanya diam tak merespon permintaan maafnya. "Apa kau tahu, Kak. Sejak aku melihat Flowrence menggelinding ke dalam jurang, sejak saat itu aku seperti sedang menyaksikan tubuhku yang dilempar masuk ke dalam lubang kubur. Aku takut sekali, Kak. Kau tahu sendiri kan betapa para orangtua akan langsung menyalahkan kita semua jika Flowrence sampai mengalami sesuatu yang buruk?"
"Apa maumu sebenarnya?" tanya Bern pusing mendengar ucapan Karl yang terkesan berputar-putar.
"Begini. Aku sengaja membuat drama seakan kita bertengkar hebat gara-gara kau yang tidak melakukan apapun untuk membantuku dan menyelamatkan Flowrence. Dengan begitu Nenek Liona dan Kakek Greg akan lupa untuk menghukum kita semua. Fokus mereka pasti teralihkan kalau kita terlihat tidak akur seperti tadi," jawab Karl dengan semangat.
"Benarkah?"
Bern menyeringai. "Tapi kenapa aku merasa kalau kau sedang mempermainkan aku ya? Tadi saat kita semua sedang berada di pinggir jurang, kau dengan santainya berkata padaku untuk tetap tenang. Kau bahkan memintaku untuk tidak melakukan tindakan apa-apa. Tapi di hadapan Nenek, kenapa kau memperlakukan aku seakan aku adalah seorang kakak yang menginginkan kematian adiknya? Aku tahu kau tidak bodoh, Karl. Kau licik, kau menjebakku dengan dalih ingin menyelamatkan semua orang dari hukuman Nenek Liona!"
Awalnya Karl memang terlihat polos saat meminta maaf pada kakaknya, tapi sedetik kemudian raut wajahnya langsung berubah drastis setelah kakaknya mengetahui niat Karl yang sesungguhnya.
"Oh, jadi sekarang kau sudah tahu ya, Kak? Hmmmm, sayang sekali," ucap Karl dengan santai.
"Kau ....
Euuuggggghhhhhhgg
Perlahan-lahan mata Flowrence terbuka saat dia merasa sesak nafas setelah memimpikan kedua kakaknya yang sedang bertengkar hebat. Tak berapa lama kemudian Flowrence menangis, dia merasa sekujur tubuhnya seperti sedang di kuliti dengan brutal.
"Hikssss, Ibu. Sakiiitt,"
"Nona Muda, anda sudah sadar?" tanya dokter sambil menghela nafas lega. Segera dia melakukan pemeriksaan.
__ADS_1
"Paman, sakiittt. Kenapa tubuhku sakit sekali," rengek Flowrence sambil menangis sesenggukan. Dia lalu memekik kesakitan saat ingin menggerakkan kakinya.
Melihat Nona kecilnya sudah bisa berteriak dengan suara yang cukup kuat, dokter pun segera memanggil perawat dan memintanya untuk mengabarkan pada semua orang tentang kabar baik ini. Tadi para dokter hampir di buat kehilangan profesi saat dokter Jackson mengancam akan meminta Tuan Gabrielle untuk memecat mereka semua jika Nona Muda Flowrence sampai tidak selamat. Namun untungnya hal buruk tersebut tidak sampai terjadi karena si gadis emas ini sudah lebih dulu siuman.
Sementara itu di luar ruangan, semua orang langsung berucap syukur setelah di beritahu perawat kalau Flowrence sudah sadar. Tak sabar ingin segera melihat keadaan cucunya, Liona pun meminta untuk ikut masuk ke dalam. Perawat yang mendengarnya pun tak kuasa untuk menolak. Dia lalu mengambil pakaian khusus sebelum mengajaknya masuk ke dalam ruangan ICU.
"Hiksss, sakiiitt Paman, sakit sekali. Tolong aku," ucap Flowrence kesakitan.
"Sayang, cucu Nenek. Mana yang sakit, hm?" tanya Liona sambil menahan tangis. Hatinya seperti di iris-iris melihat keadaan Flowrence yang di bungkus perban hampir di sekujur tubuhnya.
Mendengar suara sang Nenek membuat tangis Flowrence langsung terhenti. Dia kemudian menoleh, tersenyum manis melihat kedatangan wanita cantik yang begitu menyayanginya.
"Nek, lihat aku. Sekarang aku terlihat seperti mummi bertubuh pendek 'kan? Benar-benar jelek,"
"Siapa bilang cucu Nenek jelek. Kau tetap yang paling cantik dan menggemaskan, sayang. Iya kan Paman dokter dan kakak perawat?"
"Benar, Nona Muda. Anda tetaplah seorang bidadari kecil yang sangat cantik dan juga menggemaskan," jawab dokter dan perawat berbarengan.
"Benarkah?"
"Kenapa Kak Bern dan Kak Karl bertengkar ya? Dan kenapa juga aku melihat bibi mengerikan yang waktu itu ada di dekat Ibu bisa berada di antara mereka? Aneh," gumam Flowrence lirih.
Liona segera berjalan mendekat ke arah cucunya saat melihatnya berbicara sendiri. Khawatir terjadi sesuatu, dia memberi kode pada dokter agar kembali memeriksa Flowrence. Dia sungguh takut otak cucunya yang bodoh ini akan bertambah semakin bodoh karena syok setelah terjatuh ke dalam jurang.
"Awwww sakiit, Paman. Kenapa kau mencubit lukaku!" tanya Flowrence kaget saat luka di dadanya tiba-tiba di tekan benda keras.
"Maaf, Nona Muda. Saya bukan sedang mencubit anda, tapi saya sedang melakukan pemeriksaan. Tolong tahan sebentar ya. Ini mungkin akan sedikit sakit karena sekujur tubuh bagian depan anda terluka parah," jawab dokter sambil menahan tawa. Benar-benar gadis yang sangat menggemaskan.
"Oh, begitu ya. Aku pikir Paman sedang mencubitku tadi."
"Bukan. Saya mana mungkin tega melakukan hal seperti itu kepada anda, Nona Muda. Anda terlalu imut untuk di sakiti!"
Dalam suasana hati yang sedih, Liona tak kuasa menahan senyumnya melihat kelakuan Flowrence yang sedang bercanda dengan dokter. Dia lalu menggeram marah melihat perban yang membungkus tubuh Flowrence basah terkena rembesan darah.
K*parat. Lihat saja, kalian telah lancang menyakiti cucuku sampai seperti ini. Bersiaplah. Di tangan cicitnya Sulli, aku pastikan kalian semua akan mengalami hal yang sama seperti yang di alami oleh cucuku. Seluruh kulit yang ada di tubuh kalian akan di kelupas habis oleh mereka. Tunggu saja.
"Hiksss, sakit lagi, Paman. Kepalaku juga pusing," keluh Flowrence tiba-tiba melemah.
__ADS_1
"Cucuku kenapa? Kalian sudah memeriksanya belum?" cecar Liona langsung panik mendengar Flowrence mengeluh kesakitan.
"Nyonya, keadaan Nona Muda masih sangat lemah. Tekanan darahnya juga belum stabil. Tanpa mengurangi rasa hormat saya, bisakah Nyonya keluar dari ruangan ini? Nona Muda sebaiknya jangan di ajak banyak bicara dulu karena hal itu akan mempengaruhi kesehatannya!" sahut dokter sambil terus melakukan pemeriksaan.
"Oh, baiklah. Aku akan keluar!"
Sebelum pergi dari sana, Liona menatap sedih ke arah Flowrence yang sedang mengerjap-ngerjapkan mata sambil terus mengeluh kesakitan. Tak ingin keberadaannya membuat keadaan sang cucu semakin bertambah parah, Liona pun bergegas pergi dari sana. Dia lalu memeluk Greg dengan sangat erat begitu sampai di luar kamar.
"Nenek, Flowrence baik-baik saja 'kan?" tanya Bern, Karl dan juga Oliver berbarengan. Mereka lalu saling menatap, kemudian sama-sama membuang muka ke arah lain.
"Dia terus mengeluh kesakitan dan sekujur tubuhnya di bungkus perban. Aku tidak tega sekali melihatnya seperti ini, Greg. Hatiku sakit," jawab Liona dengan suara tercekat.
"Sssttttt, tenanglah. Yang terpenting Flowrence sudah sadar," sahut Greg ikut merasakan sakit atas penderitaan yang tengah di tanggung oleh cucu perempuannya.
"Jackson dan Kayo mana?"
"Mereka sedang menemani Russel. Dia baru saja sadar,"
Liona mendongak. "Syukurlah kalau Russel juga sudah sadar. Apakah Abigail dan Mattheo akan datang kemari?"
"Mereka sedang dalam perjalanan, Hon. Mungkin beberapa menit lagi baru akan sampai di rumah sakit!"
"Haruskah aku kembali berbagi para bedebah itu dengan Abigail dan Mattheo?" tanya Liona.
Greg tersenyum. "Kau yang berhak memutuskan apakah akan berbagi dengan mereka atau tidak. Kalau aku, aku cukup menjadi penonton saja"
"Nek, aku minta satu!" timpal Karl dengan berani.
Greg dan Liona sama-sama menoleh ke arah Karl. Mereka terdiam, bingung harus bersikap bagaimana pada anak ini.
"Tunggu usiamu dua puluh tahun, baru Nenek akan mengizinkanmu untuk menghilangkan nyawa orang. Paham?"
Karl mendengus. Lima tahun lagi dia baru akan berusia dua puluh tahun. Menyebalkan. Tapi ...
Hehehe. Sepertinya Nenek lupa kalau larangan di buat adalah untuk dilanggar. Kalau lima belas tahun sudah mempunyai keberanian untuk membunuh orang, kenapa aku harus menunggu sampai dua puluh tahun? Ah, biar sajalah kalau nanti Nenek akan menghukumku habis-habisan. Yang terpenting bajingan yang telah menyeret Flowrence harus mendapat ganjaran yang setimpal. Harus.
*******
__ADS_1