
Setelah pesta selesai, Reinhard dan Levita langsung pergi ke kamar yang akan mereka gunakan untuk menginap. Wajah mereka terlihat sangat kelelahan, tapi tak menutupi rasa kebahagiaan yang menyelimuti hati keduanya.
Ceklek
"Wowww!!"
Reinhard dan Levita sama-sama ternganga kaget begitu melihat kamar mereka yang telah di dekor dengan begitu indah. Di atas ranjang yang berselimutkan sprei putih, tertata kelopak mawar bermacam warna yang menbentuk simbol hati. Ada juga sepasang angsa putih yang di bentuk dengan sedemikian rupa hingga mampu menambah suasana romantis di dalam kamar tersebut.
"Waahhh, keren. Tapi sayang," ....
Ucapan Levi terjeda. Dia kemudian menoleh ke arah Reinhard sembari menampilkan satu senyum yang aneh.
"Apa?" tanya Reinhard lesu. Dia tentu saja ingat kalau pasukan merah masih belum pergi dari tubuh istrinya.
"Hehehehe ... sabar ya, sayang. Tidak apa-apa malam ini kita belum bisa bercinta. Mau bagaimana lagi, ini adalah cobaan pertama untukmu. Siapa suruh kita menikah tepat di tanggal masaku datang. Jadi tersiksa kan kau sekarang," jawab Levi sambil mengelus-ngelus punggung suaminya. Sebenarnya kasihan, tapi lucu juga melihat ketidakberdayaan di wajah suaminya ini.
"Harusnya kau itu menghiburku, bukan malah meledekku seperti ini, sayang."
"Iya-iya maaf."
Dengan lesu Reinhard berjalan masuk ke dalam kamar. Dia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan kuat melihat betapa cantiknya dekorasi ranjang yang di siapkan untuk malam pertamanya dengan Levita. Benar-benar sayang sekali. Hiasan seindah ini hanya akan di anggurkan begitu saja tanpa ada sentuhan manis dari mereka. Memikirkan belah durennya yang lagi-lagi harus tertunda membuat Reinhard sesak nafas. Dia lalu melangkah menuju kamar mandi sambil melucuti jas putih yang di pakainya.
Sialan. Sampai kapan kalian akan terus bersembunyi di tubuh istriku? Tahu tidak kalau juniorku sudah demam tinggi gara-gara kalian yang tidak kunjung pergi. Tolonglah, aku mohon jangan menyiksaku seperti ini. Aku bisa gila jika kebutuhan ini tidak segera di tuntaskan. Astaga ....
Levita terus memperhatikan suaminya yang terlihat marah saat membanting bajunya ke atas lantai. Ingin tertawa, tapi tidak tega. Levita juga tidak bodoh kalau suaminya itu sedang sangat tersiksa karena menahan birahinya sejak mereka resmi menikah.
"Maafkan aku, Rein. Ini semua di luar kehendakku. Sudah kodratnya sebagai seorang wanita untuk mengalami datang bulan. Kau harus maklum akan hal ini," gumam Levita pelan.
__ADS_1
Sebar-barnya seorang Levita Foster, dia tetaplah sadar tugasnya sebagai seorang istri. Dia dengan telaten memunguti pakaian suaminya lalu memindahkannya ke dalam kotak pakaian kotor. Setelah itu Levita mulai melepaskan satu-persatu hiasan di kepalanya. Meletakkannya dengan sangat hati-hati di atas meja rias yang sudah di penuhi peralatan make-up miliknya.
"Hufftt, coba saja aku tidak sedang datang bulan, saat ini aku pasti sedang ketakutan di dalam kamar mandi. Reinhard sepertinya lumayan buas, aku yakin dia pasti tidak akan membiarkan aku tidur. Hiiii."
Karena membayangkan sesuatu yang cukup mesum, membuat wajah Levita memanas dengan sendirinya. Dia kemudian terkikik pelan saat iseng membayangkan seberapa besar ukuran belut hidup milik suaminya itu.
"Kira-kira ukurannya lebih besar mana ya antara jari kelingkingku dengan belutnya Reinhard? Kalau lebih besar miliknya, apa akan muat kalau di masukkan ke sini?" ucap Levi bermonolog dengan pikirannya sendiri sambil menunduk melihat ke area terlarangnya. "Waahhhh, sepertinya saat malam pertama nanti akan ada operasi dadakan ini. Di sana kan celahnya sangat kecil, pasti robek kalau di masuki benda tumpul. Ngeri juga ya!"
Saat Levi sedang sibuk berandai-andai, Reinhard yang sudah menyelesaikan mandinya nampak keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk sebatas paha atas. Dia mengerutkan kening saat mendapati Levita yang sedang bicara sendirian.
Istriku tidak gila kan?
"Sayang, kau bicara dengan siapa?" tanya Reinhard sambil berjalan mendekat ke meja rias. Alisnya terangkat ke atas melihat wajah Levi yang memerah seperti orang kepanasan. "Kau kenapa, hm? Kenapa wajahmu merah sekali? Demam?"
"Hah?"
"Eh, tidak panas. Tapi kenapa wajahmu merah sekali, sayang? Kau kenapa sebenarnya?" cecar Reinhard bingung dengan apa yang terjadi.
"M-m-mungkin darah di tubuhku sedang di rebus ulang setelah kelelahan di pesta tadi. Makanya wajahku memerah. Sudahlah, jangan di anggap serius. Lagipula aku juga tidak apa-apa," jawab Levita gugup.
Untuk menghindari pertanyaan susulan dari suaminya, Levi pun bergegas membersihkan make-up di wajahnya. Sesekali dia juga melirik ke arah suaminya yang masih belum bergeming dari tempatnya berdiri sekarang.
"Sayang, kau menutupi sesuatu dariku. Aku yakin, iya kan?" tanya Reinhard sambil menatap lekat ke arah istrinya yang terkesan sengaja mencari kesibukan untuk menutupi sesuatu darinya.
"Kau ini kenapa sih, Rein. Memangnya apa yang mau aku tutupi darimu, hm? Buah dadaku. Ya kalau kau mau, kau boleh membuka gaun ini kemudian memandanginya sampai puas," jawab Levita yang malah menantang suaminya. Levita yakin sekali kalau Reinhard tidak akan pernah mau melakukan hal itu.
Entah nasib apa yang sedang datang di diri Levita malam ini. Kalau tadi dia salah presepsi yang ingin menghilangkan warna merah di wajahnya dengan cara terus menepuknya kuat, kini tebakannya kembali salah. Awalnya Levita berpikir kalau Reinhard tidak akan mungkin berani melakukan tantangan yang dia beri. Tapi tanpa di sangka-sangka, Reinhard tanpa ragu melakukan hal tersebut. Dia dengan santai membuka resleting gaun yang di pakai oleh Levita kemudian menariknya turun. Ekpresi Levita, jangan di tanya. Dia hanya bisa tercengang sambil melihat apa yang terjadi melalui pantulan cermin.
__ADS_1
"R-Rein, k-kau mau apa?"
"Aku?"
Reinhard bertanya sambil menunjuk hidung. Satu tangannya sudah bertengger di gundukan kenyal milik istrinya yang kini sudah tidak tertutup apapun lagi.
"I-iya, kau. Dan ... dan sedang apa tanganmu di dadaku? T-tolong singkirkan."
"Singkirkan ya?" ledek Reinhard sambil meremas pelan gundukan kenyal tersebut. "Aku tidak mau, sayang. Kan tadi kau sendiri yang menantangku untuk memandanginya."
"T-tapi bukan meremas, Rein. K-kau kebablasan," sahut Levita sambil menahan d*sahan agar tidak keluar dari dalam mulutnya. Gerakan tangan Reinhard membuat sesuatu di dalam tubuhnya menjadi berdesir hebat. Ini gila.
Bukannya melepaskan, Reinhard malah semakin semangat menambah tekanan tangannya. Sengaja dia lakukan untuk menghukum istrinya yang tadi berani menertawainya.
"Tidak bisa!" teriak Levita sambil menghempaskan tangan Reinhard dari dadanya.
Takut akan kembali di serang, Levita langsung mengangkat gaun pengantinnya kemudian berjalan cepat ke arah kamar mandi. Sebelum menutup pintu, dia berbalik kemudian menatap sengit ke arah Reinhard yang sedang menahan tawa.
"Awas kau, Rein. Lihat pembalasanku nanti!" geram Levita emosi saat sadar kalau dia baru saja di kerjai oleh suaminya. Setelah itu dia menutup pintu kamar sambil bersungut-sungut tidak jelas antara kesal dan juga ter*ngsang. π
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
__ADS_1
...πFb: Rifani...