
"Woaaahhh, ada Elea!" teriak Nania begitu keluar dari dalam mobil.
Sebelum sempat Lusi mengingatkan adiknya agar jangan memanggil Elea hanya dengan sebutan nama saja, gadis itu sudah lebih dulu lenyap dari pandangannya. Dia lalu menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan sambil menatap pasrah ke arah Gleen.
Baru permulaan saja mereka sudah begini. Apalagi nanti setelah Levita ikut bergabung. Aku berani jamin tempat yang akan mereka datangi pasti akan hancur lebur, batin Gleen.
"Jangan di paksakan kalau kau tidak ingin pergi, sweety," ucap Gleen masih berusaha mencari cara untuk menyelamatkan Lusi dari triple kill, si tiga wanita pembunuh tanpa menyentuh.
"Apanya yang di paksakan sih, Gleen? Memangnya aku terlihat tidak senang ya ingin pergi bersama mereka?" tanya Lusi yang mulai kesal akan sikapnya Gleen. Sejak di rumah tadi suaminya ini terus saja mencari celah agar dia tidak bisa pergi quality time bersama dengan para generasi ibu hamil. Menjengkelkan sekali bukan?
"Bukan sweety, bukan seperti itu maksudku," jawab Gleen yang kembali di buat panik melihat aura galak di wajah Lusi.
"Kalau bukan seperti itu lalu apa?"
Kesal dengan ulahnya Gleen, Lusi pun bergegas menyusul Nania setelah meninggalkan satu kecupan di pipinya. Dia kemudian tersenyum ke arah melihat Bibi Liona yang baru saja keluar dari dalam rumah bersama dengan Levita.
"Halo Bibi Liona, Kak Levi!" sapa Lusi.
"Halo, sayang. Siapa yang mengantarkanmu kemari?" sahut Liona sambil melirik ke arah gadis cantik yang tengah asik menggibah dengan menantunya.
Hmmm, kembaran Elea sudah datang rupanya. Sebaiknya aku tidak usah ikut pergi bersama mereka saja. Terlalu mengerikan melihat wanita-wanita bermulut racun ini berkumpul menjadi satu. Bisa mati berdiri aku nanti.
"Gleen yang mengantarkan aku dan Nania, Bibi," jawab Lusi.
"Lalu di mana suamimu itu, Lus? Kenapa batang hidungnya tidak kelihatan?" timpal Levi.
__ADS_1
"Dia langsung pergi ke perusahaan, Kak. Kak Junio absen lagi, jadi Gleen yang harus mengambil alih semua pekerjaan yang ada."
Levi mencebikkan bibir begitu tahu kalau sekarang Junio telah menjadi seorang pemalas. Andai saja dia yang berada di posisinya Gleen, Levi pasti akan merubah kepemilikan perusahaan itu menjadi atas namanya sendiri. Biar saja, siapa suruh tidak mempedulikan urusan kantor. Jadi jangan menyalahkan orang lain jika mengambil kesempatan itu untuk kepentingan pribadi.
"Kak Lusi, Elea bilang dia sedang hamil. Kembar tiga!" teriak Nania dengan raut wajah yang terlihat aneh.
"Dia memang sedang hamil, Nania. Bukannya Kakak sudah memberitahumu ya?" sahut Lusi mulai merasa was-was. Dia khawatir Nania akan melontarkan kata yang bisa membuat semua orang syok jantung.
"Memang sudah, tapi aku tidak menyangka kalau itu adalah benar, Kak. Lihat, tubuh Elea berukuran mini. Aku rasa bayi-bayinya akan saling terjepit di dalam sana. Kasihan sekali bukan?"
Lusi menggigit bibir bawahnya ketika mendapati kalau Levi dan Bibi Liona tercengang kaget setelah mendengar ucapan adiknya. Belum hilang kekhawatiran di diri Lusi, dia sudah di buat syok saat mendengar celetukan Elea.
"Walaupun bentuk tubuhku mini, tapi belut listriknya Kak Iel bisa masuk kok. Dan untuk masalah bayi-bayiku kau tidak usah khawatir, Nania. Di dalam sana mereka sudah menerima pembagian posisi dengan sangat adil. Jadi kalaupun kepala mereka saling tergencet, mereka akan tetap baik-baik saja."
"Elea, kau tahu darimana kalau bayi-bayimu akan baik-baik saja? Memangnya kau pernah mengobrol dengan mereka?" tanya Nania penasaran.
Krriiikkk krriikkk krriiikkk
Mungkin menurut Nania ucapan Elea adalah sesuatu yang biasa saja. Akan tetapi tanggapan berbeda muncul di dalam pikiran Liona, Levi, dan juga Lusi. Kata-kata menjenguk yang di maksud oleh Elea adalah bercinta di mana sepasang anak Adam melakukan penyatuan berkala dalam gelora birahi. Atau bahasa gaulnya adalah olahraga ranjang di mana hal itu sering menimbulkan suara-suara aneh di tengah malam. Sungguh, percakapan kedua orang ini benar-benar sangat absurd. Yang satu polosnya tak ada lawan, sedangkan yang satunya lagi bodohnya kelewatan. Entahlah, mereka tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Nania dan Elea tinggal dalam satu rumah. Mereka yakin sekali kalau orang-orang yang ada di sana pasti tidak akan mampu bertahan menghadapi sikap mereka.
"Ekhemm, Elea. Kau sudah selesai menggibah belum? Kalau sudah, ayo kita berangkat. Aku ingin melakukan perawatan ke salon dulu sebelum kita pergi ke baby shop," tanya Levi berusaha menghentikan percakapan gila antara Elea dengan Nania. Bisa sinting dia lama-lama kalau kedua makhluk astral ini tidak segera di pisahkan.
"Sebenarnya belum sih, Kak. Tapi ya sudahlah, nanti aku dan Nania bisa melanjutkan obrolan sambil menikmati perawatan di salon. Iya kan, Nania?" jawab Elea kemudian balik bertanya pada Nania. Elea merasa satu hati mengobrol dengan gadis belia ini.
"Tentu saja iya, Elea," sahut Nania dengan begitu semangat. Nania merasa sangat nyaman mengobrol dengan Elea. Dia seperti menemukan tulang rusuknya yang sudah lama hilang. (Maaf gengs, di part ini emak bengek ampe ngik-ngik 😅)
__ADS_1
"La-lagi?" beo Levi. Dia syok, karena ternyata gibahan dua makhluk ini akan kembali di lanjutkan. Yang artinya kalau Levi akan kembali mendengar omongan sesat yang membuatnya seperti mengalami mati suri.
Nania dan Elea kompak mengangguk. Setelah itu sambil bergandengan tangan mereka berjalan menuju mobil. Meninggalkan Lusi, Levi, dan juga ibunya Gabrielle yang tengah menatap mereka dengan tatapan yang cukup aneh.
Namun ketika Elea hendak melangkah masuk ke dalam mobil, Nania baru tersadar kalau di antara ke empat orang yang akan pergi hanya dia saja yang tidak hamil. Merasa tak sama, Nania pun menanyakan saran pada Elea.
"Elea, yang akan pergi kan semuanya adalah wanita yang sedang hamil. Lalu bagaimana denganku? Aku kan belum punya suami, jadi aku tidak bisa hamil. Bagaimana ini? Orang-orang pasti akan membicarakan aku nanti."
"Oh, kalau hanya masalah kecil begini kau tidak perlu cemas, Nania. Tenang saja, aku selalu memiliki cara untuk menyelesaikan masalah. Sekarang kau masuk dulu ke mobil, aku akan mengambil sesuatu dulu di dalam rumah. Oke?" ucap Elea kemudian berbalik pergi dari sana.
Liona yang melihat menantunya kembali pun merasa heran. Apalagi sekarang Elea meminta sepotong pakaian beserta tali pengikat pada pelayan. Tapi belum sempat Liona bertanya untuk apa, Elea sudah lebih dulu kembali ke mobil untuk menemui Nania sambil membawa barang di tangannya.
"Sebenarnya mereka itu ingin melakukan apa sih? Heran!" keluh Levi cemburu. Dia iri melihat kedekatan antara Nania dengan Elea.
"Entahlah. Kita berdoa saja supaya Elea dan Nania tidak sedang berbuat macam-macam di dalam sana, Kak!" sahut Lusi merasa sangat tidak enak melihat situasi yang sedang terjadi.
Dengan sabar Levi, Lusi, dan juga Liona menunggu pintu mobil di buka. Dan tak lama kemudian, Elea keluar dari sana lalu merentangkan kedua tangannya.
"Tara!!!"
Rahang Levi dan Liona hampir terjatuh ke tanah begitu Nania keluar dari mobil. Mereka begitu syok menyaksikan perubahan bentuk di tubuh Nania. Bayangkan! Gadis belia itu keluar dalam kondisi perut membuncit besar seperti orang yang sedang hamil enam bulan. Gila bukan?
"Hehehe, Kak Lusi. Ini adalah hasil karya tangan Elea. Dia bilang dengan memakai ini maka aku akan terlihat sama seperti kalian. Keren kan?" ucap Nania begitu gembira dengan penampilannya yang sekarang.
Sadar kalau sebentar lagi kejiwaannya akan terganggu, dengan cepat Liona mendorong Levi dan Lusi agar segera masuk ke dalam mobil. Dia sudah tidak sanggup lagi menyaksikan kegilaan Elea yang semakin parah setelah bertemu dengan Nania. Harus pergi, pokoknya mereka semua harus segera pergi dari sana sebelum Liona benar-benar kehilangan kewarasannya.
__ADS_1
Nania, kenapa kau mau-mau saja menuruti saran sesat dari Elea? Astaga, aku bisa gila.
*****