
Levi dengan begitu semringah menyambut para tamu yang khusus dia undang ke restoran ini. Tawa berseri tak pernah luntur dari bibirnya, yang mana membuat kedua orangtuanya merasa begitu penasaran. Ya, baik Levi maupun Reinhard, mereka berdua sepakat untuk tetap tutup mulut dengan tidak memberitahukan kabar kehamilan Levi pada kedua orangtuanya. Biar saja, rasanya tidak afdol jika mereka tahu lebih dulu.
"Kak Levi!"
Semua mata langsung tertuju pada seorang wanita cantik yang datang bersama dengan satu keluarga paling berpengaruh di negara ini. Mereka semua balas melayangkan sapaan, terkecuali Levita. Pelakor satu ini terlihat acuh, bahkan tak peduli ketika Elea berjalan menghampirinya.
"Ckckck, ibu hamil itu tidak boleh berada dalam suasana hati yang buruk, Kak Levita. Nanti bayimu bisa lahir dengan bibir mengkerut seperti bokong ayam," bisik Elea. Dia lalu tersenyum saat mendapati mata Levi yang membelalak sebesar jengkol.
Whaaaattt? Darimana makhluk kecil ini tahu kalau aku sedang hamil? Apa jangan-jangan dokter itu yang memberitahunya? Ah, itu mustahil. Dia tidak akan berani melakukannya tanpa seizin Reinhard. Tapi kenapa Elea bisa tahu?
Gabrielle langsung menoleh ke arah ibunya begitu mendengar apa yang di pikirkan oleh Levita. Kaget, itu tentu saja. Gabrielle rupanya telah melewatkan sesuatu yang begitu penting dari diri istrinya. Ya, dia lupa kalau istri kesayangannya ini memiliki kemampuan untuk melihat masa depan. Dan besar kemungkinan maksud di balik perkataan Elea waktu itu adalah untuk memanas-manasi Levita agar segera pergi memeriksakan diri ke dokter lalu mengetahui kabar bahagia ini. Sungguh, ini benar-benar sangat mengejutkan. Ada kalanya Elea terlihat sangat menderita dengan kelebihan yang dimilikinya, tapi ada kalanya juga dia terlihat begitu senang setelah menerima penglihatan tentang kebahagiaan orang-orang di sekelilingnya. Luar biasa sekali bukan?
"Eih, biasa saja kali, Kak. Kau tidak sadar ya kalau biji matamu itu sudah mau meletus?" ledek Elea sambil menyentuh pelan perut pelakor peliharaannya. "Hai bayi. Tumbuhlah dengan sehat lalu jadilah menantu Bibi. Oke?"
Plaakkk
"Kau ... kau jangan sembarangan bicara ya, Elea. A-aku tidak akan mau berbesan denganmu," protes Levita dengan suara kecil. Dia kemudian maju mendekat, berbisik untuk menanyakan pada Elea darimana dia mengetahui tentang kehamilannya. "Sttt, jawab jujur. Mulut ember mana yang sudah memberitahumu kalau aku sedang hamil? Cepat beritahu aku!"
"Ya ampun, Kak Levi. Kau itu sedang berbicara atau sedang meniup lubang telingaku sih. Geli sekali," sahut Elea sambil mengusap-usap telinganya. Dia sama sekali tidak mempedulikan raut wajah Levita yang sudah merah padam karena Elea bicara dengan suara yang cukup keras.
Melihat ada yang tidak beres dengan istrinya, Reinhard pun datang mendekat. Dia kemudian menyapa Gabrielle dan kedua orangtuanya terlebih dahulu, setelah itu dia menatap Elea yang sedang tersenyum aneh kepadanya.
"Ada apa, Elea? Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Hehee. Aura seorang calon ayah itu benar-benar berbeda ya, Kak Iel. Lihat, wajah dokter Reinhard begitu berseri-seri. Sepertinya matahari tidak lagi bersinar dari langit, tapi dari wajahnya," jawab Elea usil.
__ADS_1
Haaaaa?? Ini ... apa yang terjadi?
Levita langsung menggelengkan kepala saat Reinhard menatapnya. Dia tahu kalau suaminya ini merasa curiga padanya karena Elea sudah mengetahui kehamilannya. Tak mau ada kesalah-pahaman, Levita segera menjelaskan pada Reinhard bahwa dia tidak membocorkan rahasia mereka pada Elea. Makhluk kecil ini tahu dari orang lain.
"Aku tidak mengatakan apa-apa pada plankton satu ini, Rein."
"Lalu darimana Elea tahu?" bisik Reinhard keheranan.
"Entahlah, mungkin malaikat yang memberitahunya. Secara, Elea itu kan berteman dengan semua jenis benda yang bernyawa. Itu bisa saja terjadi, bukan?" jawab Levita asal.
"Sembarangan."
Di saat Reinhard dan Levita sedang sibuk menerka-nerka, di hadapan mereka Gabrielle tengah menatap dalam ke arah Elea. Entahlah, rasa ini benar-benar sangat sulit untuk di jelaskan oleh Gabrielle. Dia terlalu dan terlalu mencintai wanita yang tengah mengandung ketiga penerusnya ini.
"Maaf ya, Kak. Aku memang sengaja tidak memberitahumu tentang kehamilan Kak Levi. Dia itu kan orang yang sedikit spesial di hatiku, jadi aku tidak mau merusak kebahagiaannya. Kak Iel tidak marah kan?" tanya Elea dengan suara kecil.
"I love you more, Kak Iel."
Liona dan Greg tersenyum melihat anak dan menantu mereka saling berbalas kata cinta. Setelah itu mereka semua fokus melihat ke arah Reinhard dan Levita yang masih belum menyelesaikan bisik-bisiknya.
"Ekhmmm, Rein. Mau sampai kapan kau membiarkan kami berdiri di sini?" tanya Gabrielle penuh nada sindiran.
"O-oh, maaf-maaf. Aku sampai lupa mempersilahkan kalian untuk masuk," jawab Reinhard tergagap.
"Oh, lupa. Aku pikir kalian memang sengaja tidak membiarkan kami untuk masuk. Huftt, pelit sekali," celetuk Elea.
__ADS_1
Lubang hidung Levita kembang kempis mendengar celetukan Elea. Tak tahan dengan rasa penasaran di hatinya, Levi memutuskan untuk kembali bertanya pada Elea tentang siapa yang sudah memberitahu tentang kehamilannya.
"Hei kau ibu hamil generasi ketiga. Kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi!" ucap Levita sambil menatap Elea penuh selidik. "Katakan dengan jujur darimana kau mengetahui tentang kehamilanku, atau aku tidak akan memberikan kue telinga merah yang tadi kau minta. Mau?"
Gleeekkkk
Elea langsung menelan ludah begitu mendengar kata kue telinga merah yang memang sedang dia idam-idamkan sejak masih dalam perjalanan kemari. Setelah itu Elea mendongak, menatap tak berdaya ke arah suaminya.
Kak Iel, posisiku sedang terjepit. Aku mau kue telinga merah itu, tapi aku tidak mau memberitahu Kak Levi tentang kebenarannya. Tolong aku, Kak Iel. Nanti aku akan memberimu satu ciuman setelahnya.
"Ekhmm, Levita. Elea sedang hamil, kau tidak boleh membuatnya merasa tertekan!" ucap Gabrielle sambil menahan perasaannya yang membuncah. Sungguh senang dia membayangkan imbalan yang akan di berikan oleh istrinya nanti. Hehehe.
"Yakkk, siapa juga yang sedang menekan Elea, Gabrielle. Aku itu hanya bertanya saja padanya. Hanya bertanya!" kesal Levita tak terima di tuduh sedang mengintimidasi Elea. Ingin rasanya dia mencabut semua bulu yang ada di hidungnya Gabrielle. Menjengkelkan.
"Mengancam tidak akan memberikan kue telinga merah yang di inginkan oleh Elea, kau pikir itu apa kalau bukan sedang menekan mentalnya? Awas saja ya kalau anak-anakku sampai kelaparan gara-gara kekejamanmu, akan ku potong semua uang jajan yang biasa kau pakai untuk bersenang-senang. Paham!"
Dengan cepat Levita menarik nafas kemudian menghembuskannya perlahan. Dia sedang hamil, jadi harus bisa mengontrol emosinya jika sedang berada di dekat dua manusia gila ini.
"Gabrielle, baiklah. Aku akan meminta pelayan untuk membawakan semua kue yang diinginkan oleh Elea. Akan tetapi sekarang tolong biarkan Elea menjawab terlebih dahulu darimana dia mengetahui kehamilanku. Karena selain dokter kandungan yang tadi kami datangi, tidak ada orang lain lagi yang mengetahui kabar ini. Jadi tolong kerjasamanya dengan baik ya?" ucap Levi berusaha setengah mati bicara dengan nada rendah. Padahal emosinya sedang sangat bergemuruh sekarang. Tapi demi bayinya, Levita rela mengalah. Huh.
Reinhard, Gabrielle, Levita, Liona dan juga Greg kini menatap seksama ke arah Elea. Sedangkan yang di tatap oleh mereka, nampak menyunggingkan senyum aneh di bibirnya. Sedetik kemudian semua orang ini di buat syok ketika jari Elea bergerak menunjuk ke arah bagian bawah tubuh Levita.
"Bokongmu menunggit ke atas, Kak Levita. Itu artinya kau sedang mengandung sesuatu di dalam rahimmu. Lihat, posisi bokongku juga sama sepertimu. Iya kan?"
Ya Tuhan, kuatkan aku.
__ADS_1
*****