Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Welcome ( Oliver Dishi )


__ADS_3


📢 Jangan lupa bom komentarnya bestiiee 💜


Reinhard diam terpaku sambil menatap bayi mungil yang sedang tidur lelap di dalam kotak inkubator. Lama-kelamaan mata Reinhard memerah kemudian tergenangi cairan putih. Dia menangis, tapi tidak bersuara.


"Nak, maafkan Ayah ya. Ayah tidak tahu kalau kau akan lahir secepat ini. Tolong nanti kau jangan marah pada Ayah ya? Ayah tidak sengaja membiarkan Ibumu berjuang sendirian. Sungguh," ucap Reinhard merasa sangat bersalah karena tidak berada di samping Levita ketika sedang berjuang melahirkan anak pertama mereka.


Tadi setelah Elea di pindahkan ke ruang rawat, Reinhard seperti tersambar petir saat di beritahu kalau Levita telah melahirkan. Dia yang masih kelelahan tanpa pikir panjang langsung berlari pergi menuju ruangan tempat Levi berada. Sayangnya saat Reinhard sampai Levita belum sadar karena tadi istrinya terpaksa di bius total setelah mengalami pendarahan hebat akibat jatuh terpeleset di lantai.


"Karena anakmu lahir sebelum waktunya, dokter membawanya pergi ke tempat khusus untuk para bayi yang lahir prematur. Pergilah jenguk anakmu. Levi biar Ayah dan Ibu yang menjaganya."


Segera Reinhard datang ke ruangan ini untuk melihat seperti apa rupa dari Reinhard junior. Lucu, dan juga mungil. Walaupun masih bayi, tapi Reinhard bisa melihat kalau nanti putranya akan tumbuh menjadi sosok anak laki-laki yang sangat tampan.


"Anakmu cukup tampan untuk putriku, Rein. Elea pasti akan sangat menyukai anakmu!"


Reinhard yang saat itu masih terjebak dalam khayalannya sampai berlonjak kaget saat Gabrielle tiba-tiba bicara di sebelahnya. Dia yang masih teringat akan kengerian Gabrielle sampai mundur menjauh saking takutnya Reinhard akan di panggang oleh monster gila ini. Reinhard parno.


"Kau dan timmu berhasil menyelamatkan Elea, jadi sekarang kau aman. Aku tidak akan membunuhmu," seloroh Gabrielle saat menyadari kalau Reinhard takut padanya.


"Gab, kau sudah kembali normal 'kan?" tanya Reinhard menyelidik.


"Menurutmu?"

__ADS_1


"Belum,"


Gabrielle tersenyum samar. Dia lalu menatap bayi mungil yang tengah menggerak-gerakkan tangannya di dalam box kaca. Menggemaskan. Dan gara-gara bayi inilah Elea sampai membuatnya gila. Hanya karena ingin Flow lahir bersamaan dengan anak si pelakor peliharaannya, Elea sampai harus menghentikan nafasnya. Jika di pikir-pikir, Gabrielle sungguh tidak mengerti kenapa dia bisa menikahi dan jatuh cinta pada wanita sekonyol dan sebodoh Elea. Bayangkan! Elea dengan gilanya bermain-main dengan nyawa banyak orang hanya agar keinginannya terpenuhi. Menurut kalian orang gila mana yang mentalnya mampu menyeimbangi kelakuan istrinya itu? Jika ada, tolong komen di sini. Gabrielle ingin tahu. 😅


"Apa kau sudah menyiapkan nama untuk putramu?" tanya Gabrielle. Dia kemudian berbalik, menatap Reinhard yang ternyata juga tengah menatapnya. "Tenanglah. Aku tidak akan membunuhmu dan juga anakmu. Aku sudah sadar sekarang!"


"Cihhh, sadar apanya. Jelas-jelas tadi kau hampir membuatku berpindah ke alam lain," sungut Reinhard. Dia kemudian menyender, tersenyum ke arah putranya yang terlihat seperti anak tikus. "Karena dia laki-laki, aku dan Levita sudah menyiapkan nama yang sangat indah untuknya. Oliver Dishi, nama ini sangat gagah bukan?"


"Oliver Dishi?"


Gabrielle membeo. Dia lalu menganggukkan kepala tanda kalau dia juga menyukai nama tersebut.


"Kau sendiri. Apa kau dan Elea sudah menyiapkan nama untuk ketiga anakmu?" ucap Reinhard gantian bertanya.


"Bern, Karl, Flowrence. Kenapa nama-nama anakmu terkesan memakai nama orang barat, Gab? Apa ada alasan tersendiri mengapa Elea membuat nama seperti itu untuk anak-anak kalian?"


"Karena dia ingin agar Mama Sandara dan Grandma Clarissa tak hilang dari hidupnya. Kau tahu kan seperti apa history mendiang mama mertuaku itu? Sangat menyedihkan. Akan tetapi tanpa kesedihan itu aku dan Elea tidak akan mungkin bersama seperti sekarang. Nama anak-anakku memang terkesan seperti orang barat, dan menurutku itu sama sekali bukan masalah karena Mama Sandara dan Grandma Clarissa sendiri memang mempunyai darah seperti itu. Yang terpenting marga keluargaku masih tetap ada dan Elea bahagia. Itu yang paling utama menurutku, Rein," jawab Gabrielle.


"Oh, begitu ya. Tapi Gab, kalau tidak salah Bern ini memiliki arti yang sedikit kurang baik. Kau jangan tersinggung ya, ini hanya sekedar pemahamanku saja!" ucap Reinhard langsung waspada. Dia takut kalau Gabrielle akan menggila jika kata-katanya tidak berkenan untuk dia dengar.


"Santai. Aman-aman,"


"Dengar. Bern memiliki arti seorang laki-laki yang pemberani. Akan tetapi dari segi sifat, Bern tergolong sebagai orang yang tingkat emosionalnya sangat tinggi. Dia arogan dan juga serakah. Itu menurut pandanganku, Gab. Tapi aku yakin kau dan Elea pasti akan mendidik Bern dengan cara yang tepat, anakmu pasti akan tumbuh menjadi laki-laki yang berbudi baik!"

__ADS_1


Gabrielle terdiam lama begitu Reinhard menjabarkan artian dari nama putranya. Dia langsung teringat dengan ucapan Elea yang menyebutkan kalau dalam mimpinya, Elea melihat ketiga anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang angkuh dan juga arogan. Lalu apakah mungkin nama Bern adalah satu pertanda kalau di antara ketiga anak mereka nanti Bern lah yang akan memangku sikap-sikap buruk tersebut? Entahlah, ini terlalu rumit.


"Jangan terlalu di pikirkan, Gab. Apa yang aku katakan barusan hanya sekedar asumsi biasa dan belum tentu anakmu akan benar-benar seperti itu. Yakinlah, cerminan anak adalah bagaimana cara orangtua mendidik mereka. Dan untuk masalah sikap yang buruk aku rasa tidak hanya anakmu saja, tapi hampir semua manusia memilikinya. Jadi tenanglah, tidak perlu risau memikirkan omonganku tadi. Anggap saja sebagai angin lalu. Oke?" ucap Reinhard sembari menepuk pundak Gabrielle yang sedang melamun.


Kau tidak tahu Rein kalau Elea telah melihat gambaran tentang anak-anakku. Juga tidak menutup kemungkinan kalau kata-katamu tadi akan menjadi kenyataan mengingat kalau aku menyimpan sisi gelap yang tidak di ketahui oleh semua orang. Anak adalah cerminan orangtua, dan sepertinya Bern adalah titik balik dari sikap burukku selama ini. Hmmm, Tuhan. Tolong bantu aku dan Elea agar kami bisa mendidik ketiga anak-anak kami dengan benar.


"Tumbuh seperti apapun nanti Bern, Karl, dan juga Flow tetaplah anak-anakku dan Elea, Rein. Terlepas apakah mereka akan menjadi bajingan atau tidak, kami akan tetap menyayanginya. Bukankah ini yang akan dilakukan oleh kita ke depannya nanti, hem?" tanya Gabrielle berusaha tenang meski hatinya sendiri merasa ragu.


"Tentu saja. Aku juga tidak akan mempermasalahkan apakah nanti Oliver akan menjadi dokter atau bukan. Yang terpenting dia nyaman pada apa yang dia lakukan," jawab Reinhard. "Kita memang orangtua, tapi anak-anak memiliki hak penuh untuk menata masa depan mereka sendiri. Anggaplah kalau kita ini hanya sebagai perantara. Karena selebihnya mereka lah yang akan menjalani kehidupan masing-masing. Benar tidak?"


"Kenapa kau tiba-tiba jadi bijak begini, Rein? Otakmu tidak geser karena ketakutan 'kan?"


"Sialan. Otakku tidak hanya geser setelah melihat kegilaanmu tadi, Gab. Tapi nyawaku sudah akan berpindah ke alam lain gara-gara sikapmu yang berubah seperti monster. Dasar brengsek kau!"


"Kenapa mengumpat?" ledek Gabrielle.


"Karena kau memang pantas mendapatkannya!"


"Mau yang lebih ekstrem lagi tidak?"


"Mati saja kau sana!"


Setelah itu Gabrielle dan Reinhard saling memeluk. Mereka tertawa, merasa konyol akan pembicaraan mereka. Hingga tak menyadari kalau garis takdir sudah mulai di bentuk oleh Tuhan.

__ADS_1


*****


__ADS_2